
Pagi sudah datang, Maura terbangun lebih dulu saat sinar matahari menyelinap masuk melalui sela-sela tirai kamar.
Melihat Dion yang masih tertidur pulas, Maura tersenyum sembari menatap lekat wajah suaminya. Kian hari rasa cinta itu kian bertambah hingga membuatnya semakin takut kehilangan suaminya.
Benar kata pepatah, TAK KENAL MAKA TAK SAYANG, TAK SAYANG MAKA TAK CINTA. Itulah yang dirasakan Maura saat ini. Meskipun pernikahan mereka terjadi bukan karena kehendaknya, tapi rasa itu semakin kuat mencengkram hatinya.
"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu."
Puas memandangi wajah Dion dengan begitu intim, Maura kemudian mencium kening Dion dengan sayang. Kini dia bangkit dari kasur dan bergegas masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Usai mengenakan pakaiannya, Maura meraih sebuah ikat rambut dan mengikat rambut panjangnya dengan rapi. Dia keluar meninggalkan kamar dan turun menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Pagi Nyonya, tumben pagi-pagi begini sudah ada di dapur?" sapa Ela sembari bertanya.
"Kenapa, apa aku tidak boleh membantu kalian di sini?" jawab Maura dengan pertanyaan pula.
"Bukan begitu Nyonya, maksud saya...,"
"Tidak apa-apa, sekali-sekali boleh dong menyiapkan sarapan untuk suami sendiri. Masa' suamiku makan masakan kalian terus, jadi fungsinya aku sebagai istri apa?"
Celetukan Maura itu tiba-tiba membuat Ela terkekeh, begitupun dengan Nisa yang berdiri di ujung sana. Ketiganya larut di dalam tawa masing-masing hingga menimbulkan kebisingan di dalam dapur.
Mendengar keributan yang berasal dari arah dapur, Dira pun keluar dari kamarnya. Namun saat matanya menangkap keberadaan Maura di sana, Dira dengan cepat balik badan. Dia masih canggung sebab kejadian semalam membuatnya tidak enak hati.
"Dira, kamu sudah bangun? Ayo kemari, bergabunglah bersama kami!" ajak Maura yang tak sengaja melihat keberadaan Dira di tengah-tengah mereka.
Mendengar itu, Dira kembali membalikkan tubuhnya. Dia menekuk wajahnya saat tatapannya dan Maura saling bertemu.
"Kamu kenapa, ayo kemari lah!" ucap Maura sembari mengukir senyum di wajahnya.
Dira mengayunkan kakinya perlahan, detak jantungnya berdegup kencang layaknya orang kejar-kejaran, wajahnya terlihat gelisah seperti memendam sesuatu. Hal itu membuat Maura tersentuh, dia mengerti perasaan Dira saat ini.
"Jangan takut! Aku tidak punya keahlian memakan orang." canda Maura mencairkan suasana.
Lagi-lagi Ela dan Nisa terkekeh mendengar candaan Maura. Dira ikut tersenyum meskipun terlihat sedikit pahit.
"Kak, maafkan aku. Tadi malam itu...,"
__ADS_1
"Tadi malam aku yang salah, aku terburu-buru mengambil kesimpulan tanpa bertanya terlebih dahulu. Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah." potong Maura menjelaskan kesalahpahaman semalam.
"Kakak tidak marah padaku?" tanya Dira sembari menatap lekat wajah Maura.
"Tidak, untuk apa aku marah padamu? Kamu adiknya suamiku kan, itu artinya kamu adikku juga mulai hari ini." ucap Maura sembari menyentuh pipi Dira.
Mendengar itu, mata Dira sedikit berkaca-kaca. Dia terenyuh mendengar kata-kata Maura barusan. Dia pikir Maura akan marah dan menolaknya di rumah itu, tapi pikirannya ternyata salah. Maura justru menerimanya di tengah-tengah mereka.
Tanpa ragu, Dira memeluk Maura dengan erat. Dia merasa beruntung memiliki orang-orang baik di sekitarnya. Meskipun kini hidupnya juga sebatang kara seperti Dion, dia sangat bersyukur masih ada yang peduli dengan dirinya.
"Kakak baik sekali, Kak Dion pasti sangat beruntung memiliki istri seperti Kakak." ucap Dira yang kini tenggelam di dalam dekapan Maura.
"Hahahaha, jangan memujiku seperti itu! Justru akulah yang beruntung memiliki suami seperti Kakakmu itu." jawab Maura terkekeh.
Maura mengusap ujung kepala Dira dengan lembut, dia sangat senang karena mulai hari ini dia memiliki seorang adik perempuan yang sangat cantik.
Setelah pelukan keduanya terlepas, Maura kembali melanjutkan pekerjaannya. Dira juga ikut membantu menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh kakak iparnya itu.
Kini di atas meja makan sudah terhidang berbagai macam makanan. Maura kembali ke kamar dan membangunkan suami tercintanya yang masih tertidur pulas.
"Sayang, ayo bangun! Sudah pagi." ucap Maura yang duduk di sisi ranjang sembari mengusap kepala suaminya.
"Sayang, lepaskan aku! Ayo bangunlah!" ucap Maura sembari menahan tubuhnya agar tidak membebani Dion.
Hembusan nafas Maura yang hangat, membuat Dion tak ingin melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang istrinya.
"Kenapa menggodaku pagi-pagi begini?" tanya Dion sembari membuka matanya perlahan.
"Loh, siapa yang menggoda? Orang cuma mau bangunin kamu doang. Jangan kegeeran!" ketus Maura dengan wajah cemberut nya.
Melihat wajah istrinya yang begitu, Dion menjadi gemas. Dia dengan sigap mendatangi bibir Maura dan mengesap nya dengan begitu lembut.
"Mmmm,"
"Kak Dion, apa-apaan kamu ini? Bau tau." ketus Maura setelah tautan bibir mereka terlepas.
Mendengar itu, Dion terkekeh dengan sendirinya. Tak disangka Maura bisa segitunya mengatai dirinya.
__ADS_1
"Meskipun bau, tapi kamu tetap suka kan?" goda Dion sembari menyentuh pipi Maura dengan lembut.
"Iya, iya, ayo bangunlah! Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu." ucap Maura, dia pun mencoba bangkit dari posisinya.
Dion menahan tangan Maura dan menariknya kembali hingga menindih tubuhnya yang bertelanjang dada.
"Pagi-pagi begini kamu sudah masak?" tanya Dion sembari menautkan sepasang alisnya.
"Kenapa, mau mengomeli aku lagi?" jawab Maura.
"Tidak sayang, jangan berprasangka buruk begitu. Aku hanya bertanya." jelas Dion.
"Kalau begitu bangunlah! Nanti makanannya keburu dingin." ucap Maura.
"Ok baiklah, tapi aku ingin mandi bersama. Mau ya?" goda Dion.
"Tidak mau, aku sudah mandi tadi." jawab Maura.
"Ya sudah, kalau begitu aku tidur lagi saja." ucap Dion, dia pun kembali memejamkan matanya.
Melihat tingkah kekanak-kanakan suaminya, Maura jadi geram. Dia menyelipkan tangannya di ketiak Dion dan menggelitik nya hingga Dion terkekeh menahan geli.
"Jangan sayang! Geli," ucap Dion sembari menggeliat ke sana kemari.
"Makanya bangun," sahut Maura dengan tangan yang masih terselip di belahan ketiak suaminya.
"Ok, ok, aku bangun. Tapi cium dulu dong." goda Dion dengan bibir sedikit maju.
Maura hanya bisa tersenyum melihat tingkah suaminya yang semakin hari semakin bucin terhadap dirinya. Karena Dion sudah memajukan bibirnya, Maura dengan cepat melu-matnya hingga membuat Dion terkekeh.
"Kenapa ketawa, apa ciuman ku terlalu buruk?" tanya Maura bingung.
"Tidak. Ciuman mu sangat manis, aku menyukainya." sahut Dion.
"Lalu kenapa ketawa, apa wajahku belepotan dengan tepung lagi?" tanya Maura penasaran.
"Tidak sayang, kenapa memikirkan banyak hal yang tidak penting?"
__ADS_1
"Kalau begitu bangunlah! Aku akan merapikan tempat tidur." ucap Maura, dia bangkit dari tubuh Dion dan menarik tangan suaminya.
Kini Dion sudah masuk ke dalam kamar mandi, Maura dengan sigap merapikan tempat tidur dan menyusun bantal yang sudah berserakan dimana-mana. Setelah itu, dia membuka pintu lemari dan menyiapkan pakaian untuk suaminya.