Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 14.


__ADS_3

Semua persiapan sudah selesai 100%, beberapa kamera sudah on di setiap sudut, para tamu juga sudah berdatangan. Bahkan Darma dan istrinya juga sudah ada di rumah itu untuk menyaksikan pertunangan anaknya yang sebentar lagi akan dilangsungkan.


Doni tampak begitu bahagia, dia tak henti-hentinya menebar senyum kepada setiap tamu yang sudah menyempatkan diri untuk hadir di pesta putrinya itu.


Tak berselang lama, Maura turun didampingi Bik An dan Bik Sam bersamanya. Semua mata tertuju padanya yang terlihat sangat cantik malam ini.


Tak terkecuali David, seorang pria tampan berkulit sawo matang yang begitu terpesona melihat kecantikan calon tunangannya itu. Tatapan matanya berbinar tak berkedip sama sekali.


Disaat semua orang terlihat bahagia, Maura justru merasakan kesedihan yang amat dalam dan tidak bisa dia ungkapkan kepada siapapun. Jangankan untuk tersenyum, menatap mata orang-orang di sana saja dia tidak sanggup.


Acara sudah dimulai, Doni mendampingi putrinya berdiri di altar pertunangan. Begitupun dengan David, dia juga didampingi oleh ayahnya Darma dan ibunya yang bernama Mia.


Suara tepuk tangan bergemuruh kencang di dalam ruangan itu saat cincin pertunangan sudah melingkar di jari manis Maura dan David.


Tak ada lagi yang tersisa di hati Maura, yang ada hanya tangisan pilu dan kekecewaan yang menusuk hingga relung hatinya yang terdalam.


Kini acara pertunangan sudah selesai, satu persatu dari tamu undangan mulai menghilang meninggalkan rumah mewah itu. David dan keluarganya juga sudah pulang ke rumahnya setelah berpamitan dengan keluarga besar Maura.


Maura tak kuasa lagi membendung air matanya yang sedari tadi dia tahan, bongkahan cairan bening itu akhirnya meluap membanjiri permukaan wajah cantiknya.


Isak tangisnya menggelegar hingga semua mata terkejut memandanginya, tak terkecuali Doni yang saat ini masih berdiri di sampingnya.


"Maura, kamu kenapa Nak?" tanya Doni mengkhawatirkan keadaan putrinya.


Maura membuang mukanya, dia tak ingin melihat wajah ayahnya itu. Dengan langkah tertatih-tatih, Maura berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Hal itu membuat semua orang kebingungan, termasuk Nek Ida.


Saat Doni hendak mengejar putrinya, tiba-tiba langkahnya terhenti mendengar suara seseorang dari depan pintu utama. Dia pun menoleh dan membalikkan badannya dengan cepat.


"Tidak perlu Om, biar Miko saja!"


Miko akhirnya memberanikan diri masuk ke dalam rumah itu setelah cukup lama berdiri di depan pintu menyaksikan pertunangan Maura yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Miko...," gumam Doni dengan mata melotot tajam, Nek Ida dan Bik An pun ikut terkejut melihat kehadiran Miko di sana.


"Iya Om, ini Miko." jawab pria tampan murah senyum itu.


Miko semakin mendekat, raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Doni. Menurutnya, Doni terlalu egois dan tidak bisa memahami keinginan anaknya sendiri.


Miko melewati Doni dan semua orang yang masih berdiri di sana, kemudian menyusul Maura ke kamarnya.


"Tok, tok, tok,"


"Kak Maura, buka pintunya! Ini Miko," teriak Miko sembari mengetuk pintu kamar dengan pelan.


Maura terperanjat kaget ketika mendengar suara Miko dari arah luar. Dia bangkit untuk membukakan pintu, namun seketika langkahnya terhenti dan mengurungkan niatnya kembali.


Kedatangan Miko sudah tidak ada gunanya lagi, semua sudah terlambat. Pertunangan sudah terjadi dan tak ada yang bisa mengubahnya. Hanya tangisan lirihnya yang bisa menggambarkan perasaannya saat ini.


"Kak Maura, ayo buka pintunya! Miko mohon!" teriak Miko dengan lantangnya.


Miko tak menghiraukan ucapan Maura, dia terus saja mengetuk pintu tanpa henti. Bahkan kali ini dia menggedor nya dengan kencang, hal itu membuat Maura kesal dan akhirnya membukakan pintu itu untuknya.


Sesaat setelah pintu kamar itu terbuka, Miko menyelonong masuk dan menutupnya kembali dengan rapat.


Dilihatnya seisi kamar yang sudah hancur berantakan. Tak hanya itu saja, wajah Maura juga terlihat kusut, makeup yang tadi menghias wajahnya kini sudah melebar kemana-mana. Membuat Miko menggertakkan giginya kuat.


Maura memalingkan wajahnya, tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir indahnya. Bahkan Miko tidak bisa berkata apa-apa melihat Maura yang tampak begitu hancur.


Sejenak, suasana di dalam kamar itu terasa hening dan mencekam. Hanya desiran nafas keduanya saja yang mengalun memecah kesunyian malam ini.


Tanpa berucap apa-apa, Miko berlalu meninggalkan kamar itu. Langkah kakinya mengayun semakin cepat, dia bahkan tak menghiraukan ibunya yang sedang menunggu di teras rumah.


Tatapan matanya sangat tajam bak singa yang sudah siap menerkam mangsanya. Dalam kemarahannya itu, dia pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bik An hanya terdiam menatap kepergian putranya itu.

__ADS_1


Setibanya di bar, Miko menyisir setiap sudut ruangan mencari keberadaan Dion. Tangannya mengepal kuat hingga urat jarinya tampak menonjol. Marah, kecewa, sedih, hal itulah yang dia rasakan saat ini.


Tak kunjung menemukan Dion di tempat itu, Miko kembali masuk ke dalam mobil dan melajukan nya menuju arah pulang.


Saat mata Miko menangkap keberadaan Dion yang tengah duduk di samping kolam renang, tinjunya pun melayang bebas ke permukaan wajah Dion hingga tersungkur di lantai.


"Bajingan! Laki-laki pengecut!" umpat Miko, kemudian terduduk lesu di samping Dion.


Dion tak membalas sama sekali, dia terdiam sembari menyentuh sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.


Miko hanya bisa menangis sembari menatap kolam renang yang ada di depan sorot matanya.


***************


Pagi harinya, Dion keluar dari kamar dengan sebuah ponsel yang ada di dalam genggamannya. Namun kali ini tampilannya sedikit berbeda dari biasanya.


Pria yang biasanya senang mengenakan kaos dan celana jeans, kini terlihat sangat tampan dan rapi dengan setelan jas berwarna navy yang membaluti tubuh kekarnya.


Usai menikmati sarapan paginya, Dion pergi meninggalkan rumah tanpa meninggalkan pesan untuk Miko.


Sepanjang perjalanan, Dion mulai memikirkan kejadian semalam hingga membuatnya tidak fokus dalam menyetir.


Meskipun dia hanya menyaksikan pertunangan Maura melalui televisi, tapi dia tau persis kalau Maura tidak bahagia dengan pertunangan itu. Wajar saja kalau Miko sampai lepas kendali dibuatnya.


Bahkan rasa sakit yang dia tanggung sebab satu tonjokan semalam, tak akan sebanding dengan rasa sakit yang harus ditelan oleh Maura saat ini.


Tak hanya itu saja, pikiran Dion juga terganggu saat semalam tak sengaja menangkap wajah seseorang yang tampak tidak asing di matanya.


Sesampainya di tempat yang dia tuju, Dion kemudian turun dari mobil dan melemparkan kunci mobilnya itu ke arah dua orang pria bertubuh tinggi besar yang tengah berdiri menyambut kedatangannya.


Salah satu dari pria itu dengan sigap menangkapnya, kemudian memarkirkan mobil mewah itu pada tempat yang seharusnya.

__ADS_1


__ADS_2