Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 66.


__ADS_3

Seorang pria tampan baru saja turun dari sebuah pesawat. Pria itu menggendong seorang anak laki-laki berusia kurang lebih 1 tahun. Seorang wanita cantik ikut menyusulnya dari belakang.


Di depan bandara, seorang sopir sudah menunggu kedatangan mereka sejak setengah jam yang lalu. Sopir itu membukakan pintu dan mempersilahkan ketiga orang itu duduk di bangku belakang, kemudian memasukkan koper mereka ke dalam bagasi.


Mobil itu melaju meninggalkan bandara. Sekitar kurang lebih satu jam, mobil itu berkelok ke dalam sebuah gerbang perumahan mewah. Semua orang turun dan melangkah masuk ke dalam rumah.



"Selamat datang Nyonya, Tuan, Tuan muda," sapa Jeny, seorang pelayan yang menyambut kedatangan mereka.


"Terima kasih Jeny, apa kamar kami sudah selesai direnovasi?" tanya wanita yang bernama Adila.


"Sudah Nyonya, kalian sudah bisa menempatinya untuk beristirahat." jawab Jeny.


"Baguslah, kebetulan kami sangat lelah. Tolong siapkan keperluan Adnan!"


Adila menggenggam tangan suaminya dan membawanya menuju kamar. Sementara putranya ikut bersama Jeny ke kamar lain.


Di dalam kamar, Adila merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sementara suaminya memilih berbaring di atas sofa.


"Mas, kenapa berbaring di sana? Sini dong!" pinta Adila manja.


"Tidak perlu, aku di sini saja!" jawab suaminya.


"Mas, apa yang terjadi denganmu? Kenapa selalu menghindar dariku?" bentak Adila kesal.


"Jangan membentak ku! Selama kau masih berbohong padaku, jangan harap aku akan menyentuhmu!" bentak pria itu tak kalah kesalnya.


"Siapa yang berbohong padamu? Semua sudah aku ceritakan padamu, apa masih kurang?" Adila merendahkan nada bicaranya.


"Sudahlah, aku capek. Jangan ganggu aku lagi!" Pria itu membelakangi Adila, lalu memejamkan matanya perlahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di waktu yang bersamaan, Maura tengah bersandar pada tampuk ranjang. Dia membuka galeri ponselnya dan memandangi satu persatu foto kenangan dirinya bersama Dion. Tak terasa air matanya jatuh begitu saja.


"Sayang, aku berharap semua ini hanyalah mimpi belaka. Saat aku terjaga, aku ingin memandangi wajahmu untuk pertama kalinya. Apa aku salah mengharapkan itu?" gumam Maura sembari menyentuh gambar Dion dengan jemarinya.


Maura tak kuasa membendung rasa rindunya, rasa yang semakin hari semakin membelenggu di dalam hatinya. Entah kemana rasa itu harus dia curahkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Di tempat lain, suami Adila bangkit dari pembaringannya. Dia melangkah meninggalkan kamar dan berjalan menuju kolam renang.


Di sana dia termenung memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Meskipun Adila sudah sering meyakinkan dirinya, tapi pengakuan Adila membuatnya semakin kebingungan. Dia seperti berjalan di atas kaki orang lain.


"Malam Tuan, apa yang Tuan lakukan di sini?" tanya Jeny, dia tak sengaja melihat Tuannya termenung sendirian.


"Tidak ada, hanya mencari udara segar. Kau sendiri ngapain di sini?" jawab pria itu dengan pertanyaan pula.


"Sama dengan Tuan, menikmati hembusan angin yang tak tau kemana arah tujuannya." sahut Jeny.


"Hahahaha, kau bisa saja." Pria itu terkekeh.


Jeny menatap Tuannya itu dengan intim, entah kenapa hatinya merasa iba melihat tatapan pria itu. Kosong, namun mengandung banyak pertanyaan.


"Apa Tuan bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Jeny ingin tau.


"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya pria itu balik.


"Tidak ada, sekedar bertanya saja." jawab Jeny.


Pria itu tak bisa menyembunyikan perasaannya. Hati kecilnya menentang semua yang berlaku pada dirinya. Entah sebab apa, dia juga tidak tau.


"Cukup lama, kurang lebih 6 tahun lah." jawab Jeny.


"Berarti kau tau semua tentang aku kan?" tanya pria itu.


Jeny terdiam mendapatkan pertanyaan itu. Dia tidak tau harus menjawab apa. Salah sedikit saja, bisa-bisa dia dipecat oleh Adila. Sementara dia sangat membutuhkan pekerjaan ini.


"Kenapa diam saja? Aku yakin kau tau sesuatu tentang aku, katakan saja kebenarannya padaku! Entah kenapa, aku merasa menjadi orang lain di sini, bukan diriku sendiri." jelas pria itu.


"Maaf Tuan, aku tidak bisa mengatakan apa-apa padamu. Aku sudah berjanji pada Nyonya," jawab Jeny.


"Berarti dugaan ku benar kan? Ada yang tidak beres dengan semua ini." ucap pria itu.


"Hanya waktu yang bisa menjawabnya, aku tau Tuan orang baik. Semoga kelak Tuan bisa menemukan jawaban untuk semua pertanyaan yang mengganggu pikiran Tuan. Yakinlah dengan diri Tuan sendiri!"


Jeny bangkit dari duduknya, kemudian meninggalkan Tuannya begitu saja. Dia takut Adila melihatnya dan salah paham terhadap dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi hari, Adila sudah rapi dengan pakaian kantornya. Dia bersiap-siap untuk pergi, ada rapat penting dengan klien bisnis barunya di perusahaan.

__ADS_1


"Aku pergi dulu, ada pertemuan dengan pimpinan Star Group pagi ini."


"Oh ya, nanti malam kamu bisa kan menemaniku ke sebuah acara?" ucap Adila.


"Star Group?"


"Ok, baiklah. Aku akan datang bersamamu."


Setelah Adila pergi, pria itu bangkit dari duduknya. Kepalanya tiba-tiba pusing dan kembali terduduk di bangkunya.


"Apa yang terjadi denganku?" gumamnya.


"Ahhhhhhhh,"


Teriakan pria itu membuat Jeny terkejut bukan main. Dia berlari menuju ruang makan dan membantu pria itu memperbaiki posisi duduknya.


"Tuan, apa yang terjadi dengan anda?" tanya Jeny panik.


"Jeny, tolong aku! Kepalaku rasanya mau pecah." pinta pria itu.


Jeny kelimpungan melihat Tuannya tersiksa menahan sakit, dia tidak tau harus berbuat apa. Adila juga sudah pergi, kepada siapa dia harus meminta tolong.


"Tuan yang sabar ya, aku keluar dulu mencari bantuan."


Jeny berlari menuju pos satpam, sementara Tuannya itu sudah tersungkur di lantai sembari memegangi kepalanya yang tak berhenti berdenyut, seperti dihujam ribuan paku.


"Pak Din, tolong bantu aku! Tuan mengerang kesakitan, kita harus membawanya ke rumah sakit." ucap Jeny meminta bantuan.


Keduanya berlari ke dalam rumah, pria itu sudah tak kuasa lagi membendung rasa sakitnya. Pak Din dan Jeny membantunya berdiri dan memapahnya menuju mobil.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pria itu tengah ditangani oleh seorang Dokter, Pak Din dan Jeny menunggu di luar dengan wajah paniknya.


"Apa ingatan pria itu akan pulih sekarang, lalu bagaimana dengan Nyonya? Dia pasti akan terpukul kembali saat pria itu mengetahui jati dirinya." ucap Jeny kepada Pak Din.


"Entahlah, berharap saja yang terbaik! Apapun alasannya, tindakan Nyonya itu tetap salah. Masa' orang lain dikiranya suaminya sendiri? Itu tidak wajar, bagaimana kalau pria itu sudah memiliki keluarga? Bagaimana perasaan istrinya jika mengetahui semua ini?" gerutu Pak Din.


"Aku juga kasihan melihatnya, semalam kami sempat ngobrol. Dia sangat yakin kalau dirinya yang sebenarnya bukanlah dirinya yang sekarang. Dia merasakan itu, tapi tidak mampu mengingat apa-apa." jelas Jeny.


"Berdoa saja! Semoga ada keajaiban yang datang dari Tuhan untuknya. Bagaimanapun dia tidak seharusnya berada di sini." ucap Pak Din.

__ADS_1


__ADS_2