Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 59.


__ADS_3

Usai menikmati sarapan pagi, Dion dan Maura keluar meninggalkan bar. Saat hendak masuk ke dalam mobil, keduanya tidak sengaja melihat mobil Miko memasuki gerbang.


"Tunggu sebentar sayang, aku mau bicara dengan anak itu dulu!" ucap Dion, kemudian menutup pintu mobilnya kembali.


Setelah Miko memarkirkan mobilnya, dia turun dan menghampiri kedua kakaknya yang masih berdiri di samping mobil.


"Pagi Kak Dion, Kak Maura. Kalian mau kemana?" tanya Miko yang sudah berdiri di hadapan keduanya.


"Pagi Miko," jawab Maura sembari tersenyum.


"Dari mana kau?" tanya Dion dingin.


"Apa Kak Dion sudah mulai amnesia?" Miko menautkan alisnya.


"Bukankah semalam Kak Dion menyuruhku mengantar Dira pulang? Kenapa masih bertanya?" sahut Miko dengan pertanyaan pula, wajahnya tampak bingung.


Dion menghela nafas, raut wajahnya berubah aneh. Dia nyaris lupa apa yang dia perintahkan kepada Miko semalam.


"Kalau begitu masuklah! Kami pergi dulu," Dion menjeda ucapannya.


"Oh ya, nanti malam kamu nginap di rumah saja! Kami mungkin tidak pulang."


"Memangnya kalian mau kemana?" tanya Miko penasaran.


Dion mendekati Miko, lalu membisikkan sesuatu di telinga adik angkatnya itu.


"Aku menyuruhmu nginap di rumah bukan berarti mengizinkanmu mendekati Dira. Jaga dia selama kami tidak ada!" Dion menepuk pundak Miko pelan.


Miko menelan ludahnya kasar, lalu mengangguk kecil.


"Aku janji akan menjaganya sesuai keinginanmu, tapi aku tidak bisa janji untuk hal lainnya." tegas Miko.


"Apa maksudmu?" tanya Dion dengan tatapan membunuhnya.


"Kak Dion pasti mengerti, Kak Dion sudah lebih dulu merasakannya." jawab Miko sembari tersenyum miring.


"Jangan berharap lebih! Dira tidak akan menyukai pria sepertimu. Jadi sebelum kamu kecewa, lebih baik jaga hatimu dengan baik!" jelas Dion.


Dion meninggalkan Miko dan melangkah menghampiri Maura, lalu membuka pintu mobilnya. Setelah keduanya duduk, mobil mewah itu mulai menghilang dari pandangan Miko.


"Kak Dion benar, Dira tidak mungkin menyukai pria sepertiku." Miko menghela nafas berat, lalu membuangnya kasar.


Di perusahaan, Dira tengah berdiskusi dengan Samuel dan Silvi. Ketiganya sibuk membahas laporan yang datang dari perusahaan cabang.

__ADS_1


Bima mengirim email kepada Samuel, proyek mereka mengalami sedikit kendala. Distributor perangkat lunak mengirimkan barang yang tidak sesuai dengan permintaan. Sebab itu proyek mereka terhenti di tengah jalan.


Samuel sudah mengirim semua rinciannya kepada Dion, namun hingga saat ini Dion belum membalas pesan yang dia kirim. Dia juga mencoba menghubungi ponsel Dion, nomor Dion malah di luar jangkauan.


Pukul 6 sore, Dion dan Maura baru saja tiba di sebuah resort. Dia sengaja mematikan ponselnya, termasuk ponsel Maura. Dion tidak mau terusik dengan apapun, dia ingin menghabiskan waktunya bersama istri tercinta.


"Sayang, kenapa kita ke sini?" tanya Maura sembari menatap Dion yang masih duduk di bangku kemudi.


"Seperti yang pernah aku katakan. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu. Hanya ada kita berdua saja." jawab Dion sembari tersenyum sumringah.


Dion turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Maura. Kemudian membopong tubuh istrinya memasuki resort itu.


"Sayang, apa yang kamu lakukan? Cepat turunkan aku!" pinta Maura dengan wajah memerah.


"Sssttt, jangan banyak bicara!" selang Dion dan meneruskan langkahnya.


Maura terpana saat Dion menginjakkan kakinya di dalam resort tersebut. Sederhana, namun sangat indah dipandang mata.


"Tempat yang bagus, pemandangan di sini juga indah?" kagum Maura, matanya membulat dengan mulut sedikit ternganga.


"Seperti yang kamu lihat." Tatapan Dion terlihat begitu intim.


"Iya, aku melihatnya. Tapi kenapa membawaku ke sini?" tanya Maura bingung.


Maura menyembunyikan wajahnya di belahan ketiak Dion. Selain malu, dia juga terharu. Dion tidak pernah mengatakan apa-apa sebelumnya, semua bagaikan mimpi baginya.


Dion merebahkan tubuh Maura di atas kasur. Ruangan itu tertata dengan rapi, ada mawar merah berbentuk hati di atas sana. Kolam renangnya juga dihias sedemikian cantik. Pemandangan di sekitar tampak jelas dari balik dinding kaca.


"Terima kasih untuk semuanya. Sebenarnya Kak Dion tidak perlu melakukan ini untukku, berada di sisi Kak Dion saja sudah cukup membuatku bahagia."


Maura mengalungkan tangannya di leher Dion, matanya berkaca-kaca saking terharunya.


Dion merebahkan tubuhnya di samping Maura, tatapan keduanya sangat intim. Saat Maura menutup matanya perlahan, Dion mengecup kelopak matanya penuh perasaan.


"Tidak boleh ada air mata yang jatuh di sini!" ucap Dion, kemudian memeluk Maura erat.


Maura tersenyum mendengar itu, dia sudah kehabisan kata-kata. Digenggamnya tangan Dion erat dan diciumnya punggung tangan suaminya. Dion pun mengecup dahi Maura dengan sayang.


Puas berbagi kehangatan, Dion bangkit dari pembaringannya. Dia membuka satu persatu pakaiannya dan menyisakan ****** ***** saja.


Dia mengangkat tubuh Maura dan membopongnya ke arah kolam renang. Keduanya duduk di sisi kolam, kaki mereka saling menjuntai ke dalam air.


Maura melingkarkan tangannya di pinggang Dion, kemudian merebahkan kepalanya di lengan Dion. Dia tak henti-hentinya tersenyum saking bahagianya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu," ucap Maura.


"Aku juga mencintaimu sayang," jawab Dion.


Sesaat, tatapan keduanya saling bertemu. Maura menatap mata Dion penuh cinta, begitupun dengan Dion. Wajah keduanya semakin dekat, deru nafas mereka pun terdengar kian memburu.


Maura menutup matanya perlahan, membuat Dion gemas dan mengesap bibir ranum Maura lembut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kediaman Dion, Dira tengah duduk di ruang tengah sembari menonton televisi. Rumah itu terasa sepi, hanya ada Nisa dan Ela yang sibuk di belakang.


Dira sudah berkali-kali menghubungi ponsel Dion. Jangankan diangkat, aktif saja tidak. Dia sedikit gelisah memikirkan keberadaan Dion dan Maura yang tak tau entah dimana.


Pada saat yang bersamaan, Miko turun setelah memarkirkan mobilnya di depan kediaman mewah itu. Dia meninggalkan bar lebih awal karena takut terjadi sesuatu pada Dira.


"Malam Dira," sapa Miko sesampainya di ruang tengah.


Dira terperanjat kaget, dia terkejut mendengar suara Miko yang datang begitu tiba-tiba. Dadanya hampir saja tumpah sebab takut sendirian di ruangan itu.


"Miko," Dira memegangi dadanya, kemudian menghela nafas berat dan membuangnya kasar.


Miko terkekeh melihat ekspresi Dira, entah kenapa bola mata gadis itu membuatnya terpana. Ada sesuatu yang dia tangkap dari tatapan itu.


"Miko, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Dira sembari menautkan alisnya.


Miko menghampiri Dira dan duduk di sebelahnya. Hal itu membuat Dira terlihat sedikit canggung.


"Aku ke sini untuk menemanimu. Kak Dion dan Kak Maura katanya tidak pulang malam ini." jawab Miko dengan tatapan tak biasa.


Dira kembali menautkan alisnya, dia sama sekali tidak tau tentang itu. Dion tak memberitahunya apalagi menghubunginya.


"Apa kamu tau mereka kemana?" tanya Dira penasaran.


Miko mengangkat bahunya sembari memajukan bibirnya. Dia juga tidak tau kemana mereka berdua pergi. Hal itu membuat raut wajah Dira berubah seketika.


"Dira, ada apa denganmu?" tanya Miko saat menyadarinya ekspresi Dira yang tak biasa.


"Ada sedikit masalah di perusahaan cabang, aku sudah menghubungi Kak Dion sejak siang tadi. Tapi nomornya tidak aktif, Kak Maura juga begitu. Apa terjadi sesuatu dengan mereka?" jawab Dira sedikit gelisah.


"Husst, jangan bicara seperti itu! Mereka pasti baik-baik saja, mungkin mereka ada urusan." balas Miko.


"Semoga saja begitu, tapi perusahaan cabang sedang membutuhkannya. Aku jadi bingung," sahut Dira.

__ADS_1


"Biarkan saja, tidak usah memikirkan itu! Aku yakin besok mereka pasti kembali!" ucap Miko, dia berusaha meyakinkan Dira.


__ADS_2