Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 30.


__ADS_3

Sekitar pukul 7 malam, Samuel tiba di rumah Dion bersama Silvi. Dia membawa beberapa dokumen penting yang harus Dion tandatangani sebelum bos nya itu berangkat ke Bandung. Sementara Silvi, dia sengaja datang untuk mengantarkan Dion ke bandara.


Dion turun lebih dulu setelah Ela memberitahukan kedatangan Samuel dan Silvi padanya.


Dan saat melihat Dion turun dengan sebuah koper di tangannya, Silvi pun tampak kegirangan. Apalagi sudah beberapa hari ini Dion tidak datang ke kantor, hal itu membuat rasa rindunya terobati seketika.


"Malam Tuan," sapa Samuel dan Silvi bersamaan.


"Ya, malam." sahut Dion.


Mereka duduk di sofa ruang tengah sembari menunggu Dion menandatangani semua dokumen tersebut. Pada saat yang bersamaan, Maura pun turun dari kamar dan duduk tepat di samping suaminya.


Seketika, Samuel dan Silvi tampak kebingungan dan saling menatap satu sama lain. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengenali wanita cantik itu.


"Maaf Tuan. Kalau saya boleh tau, ini siapa?" tanya Samuel memberanikan diri.


Dion menyunggingkan senyumannya sesaat setelah dokumen tersebut selesai dia tandatangani. Setelah itu, dia melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Maura yang masih duduk di sampingnya.


"Kenalkan, ini Maura. Istriku," ucap Dion memperkenalkan sang istri kepada bawahannya itu.


Seketika, Silvi pun membulatkan matanya. Dia tak menyangka, bos yang selama ini dia kagumi ternyata sudah menjadi suami orang. Hancur sudah harapannya saat itu juga.


Sementara Samuel, dia terlihat lebih tenang. Namun tetap saja dia terkejut karena selama ini sang bos tidak pernah menceritakan masalah pribadinya kepada siapa pun.


Karena Dion sudah memperkenalkan dirinya kepada Samuel dan Silvi, Maura pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan keduanya.


"Maaf Tuan, apa Tuan ingin pergi...,"


"Ya, aku pergi bersama Istriku. Kalian pulang saja, biar sopir saja yang mengantar kami ke bandara!" ucap Dion memotong pembicaraan Samuel.


"Baiklah, kalau begitu kami mohon pamit!" jawab Samuel dan berlalu meninggalkan rumah Dion bersama Silvi.


Sebelum berangkat, Dion dan Maura memutuskan untuk mengisi perut mereka terlebih dahulu. Setelah itu mereka keluar dari rumah bersama Ela dan Nisa yang ikut mengantarkan mereka sampai halaman depan.


"Tuan dan Nyonya hati-hati ya. Jangan lupa bawa oleh-oleh untuk kami!" ucap Ela kepada majikannya itu.


"Iya, kalian juga hati-hati ya di rumah!" sahut Maura.


Setelah majikannya duduk di dalam mobil, Pak Asep pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah dan masuk menyusuri jalan raya.


Sepanjang perjalanan menuju bandara, Maura tak banyak bicara. Dia hanya diam menatap ke arah jalanan sambil menggenggam tangan suaminya dengan erat.

__ADS_1


Setibanya di bandara, Pak Asep turun lebih dulu dan membukakan pintu belakang untuk majikannya. Kemudian dia berpindah ke arah bagasi dan menurunkan sebuah koper dari dalam sana.


Setelah Pak Asep meninggalkan bandara, mereka berdua melangkah masuk karena pesawat yang akan membawa mereka ke Bandung sudah take-off.


Setibanya di dalam pesawat, Maura kembali menggenggam tangan Dion dan merebahkan kepalanya di bahu sang suami sembari menunggu pesawat lepas landas beberapa menit lagi.


"Kenapa, kamu takut?" tanya Dion sambil mengusap ujung kepala istrinya.


"Tidak, untuk apa takut?" jawab Maura.


"Lalu kenapa menggenggam tanganku seerat ini?" tanya Dion menggoda sang istri.


"Ya sudah kalau tidak boleh." ketus Maura, dia pun menarik tangannya kembali hingga terlepas dari tangan sang suami.


Setelah genggaman tangan mereka terlepas, Maura memalingkan wajahnya dan menatap ke arah jendela sambil memangku kedua tangannya di atas perutnya. Hal itu membuat Dion menghela nafas kasar.


"Kamu marah?" tanya Dion mencari tau.


"Tidak, untuk apa marah?" ketus Maura.


"Kalau tidak marah, kenapa tangannya dilepas?" tanya Dion lagi.


Melihat itu, Dion hanya bisa tersenyum. Dia kemudian meraih tangan Maura dan menariknya ke dalam pelukannya.


"Jangan marah, aku cuma bercanda!" bujuk Dion, dia pun menenggelamkan wajah Maura di dadanya sembari mengecup ujung kepala istrinya dengan sayang. Hal itu membuat Maura kembali tersenyum lebar.


Setelah menikmati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya pesawat itu mendarat dengan selamat. Bahkan mereka berdua sudah ditunggu di depan bandara oleh salah seorang karyawan kantor kepercayaan Dion.


"Selamat datang Tuan," sapa Bima menyambut kedatangan bos nya.


"Terima kasih," sahut Dion.


Dion dan Maura masuk ke dalam mobil yang dikendarai Bima dan berlalu menuju sebuah hotel yang sudah di pesan sebelumnya.


Setelah tiba di hotel mewah tersebut, Bima pun mohon izin dan meninggalkan mereka berdua di sana.


Sesampainya di dalam kamar, Maura menghela nafas panjang dan bergegas membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tubuhnya terasa sangat lelah hingga dia pun tak sabar ingin masuk ke alam mimpinya sesegera mungkin.


"Kenapa langsung tidur?" tanya Dion sambil membuka pakaian yang masih menempel di tubuhnya.


"Aku ngantuk," sahut Maura dengan mata yang sudah mulai terpejam.

__ADS_1


"Jangan tidur dulu, tidak sopan tau. Masa' aku ditinggal sendirian." pinta Dion.


Kali ini Maura tak menyahut lagi, sepertinya dia benar-benar sudah tertidur. Membuat Dion menelan ludahnya kasar sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


Sebelum naik ke atas tempat tidur, Dion lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi. Dia pun menyalakan kran air dan membasuh mukanya, lalu menggosok gigi agar nafasnya kembali segar.


Dion keluar dari kamar mandi hanya menggunakan boxer berwarna kuning. Dia kemudian naik ke atas kasur dan memperbaiki posisi sang istri yang tidur seenak jidatnya.


Setelah posisi Maura sejajar dengan ranjang, Dion pun berbaring di samping istrinya dan memeluk tubuh sang istri layaknya sebuah guling.


"Kak Dion, menjauh lah dariku! Tubuhmu berat sekali." gumam Maura dengan mata yang masih terpejam.


Mendengar itu, Dion pun terkekeh dengan sendirinya. Dia kembali memperbaiki posisi tidurnya dan membawa Maura ke dalam dekapannya.


"Kalau begini gimana?" tanya Dion.


"Sama saja, aku tidak bisa bernafas." gumam Maura.


Kesal dengan jawaban Maura, Dion pun kembali merebahkan kepala sang istri di atas bantal. Dia kemudian naik dan menindih tubuh istrinya dari atas.


"Kalau begini bagaimana?" tanya Dion lagi.


"Semakin sesak," gumam Maura.


Tak ingin menunggu lagi, Dion pun mengesap bibir Maura dan melu-matnya tanpa ampun. Membuat Maura terkejut dan membulatkan matanya seketika.


Namun saking nikmatnya sentuhan bibir sang suami, Maura hanya terdiam dan pasrah menerimanya.


Tak kunjung ada perlawanan dari Maura, Dion pun kembali melepaskan luma-tannya dan menatap lekat wajah sang istri.


"Kenapa, kamu tidak suka?" tanya Dion ingin tau.


"Suka," jawab Maura malu-malu.


"Kalau suka, jangan diam saja. Belajarlah membalas ku!" pinta Dion, dia ingin istrinya ikut andil dalam pergulatan itu.


Maura mengangguk pelan yang membuat Dion tersenyum dan kembali melayangkan aksinya. Bibir mereka kembali bertautan dan Maura pun mulai belajar mengulum bibir sang suami.


Kali ini, Dion benar-benar menggila. Isapan Maura ternyata tak seburuk yang dia duga. Dia pun melu-mat habis bibir istrinya hingga tak ada seinci pun bagian bibir sang istri yang dia lewati. Bahkan Maura sudah mulai berani melawan sang suami hingga mereka berdua masuk semakin dalam dan saling memainkan lidah menerobos rongga mulut masing-masing.


Dion tersenyum sesaat setelah melepaskan isapan nya, dia kemudian mengecup kening sang istri dengan sayang. Membuat Maura menutup mata saking malunya terhadap sang suami.

__ADS_1


__ADS_2