
Sesampainya di rumah, mata Dion menggelinding liar menyaksikan setiap sudut, mulai dari halaman hingga setiap ruangan. Dia bergeming, tak menyangka bahwa rumah mewah itu adalah miliknya.
Sementara itu, Maura tampak sedih setelah sekian lama tak menginjakkan kaki di rumah itu. Sejak Dion dinyatakan meninggal, Maura tak pernah lagi ke sana. Bayangan kebersamaannya dengan Dion selalu menghantuinya kala itu.
"Kak Dion, ini rumah Kakak. Rumah yang Kakak bangun dengan keringat dan air mata. Rumah dimana keluarga kecil Kakak dibangun hingga menghadirkan Diona diantara kalian." ungkap Miko, dia berharap Dion bisa mengingat kembali kenangannya di rumah itu. Untuk itulah dia sengaja membawa Dion pulang ke kediamannya.
"Apa yang kamu katakan Miko? Mana mungkin ini rumahku?" tanya Dion sembari menautkan alisnya, dia belum bisa mempercayai itu.
"Benar Kak, ini rumah Kakak. Dira sendiri yang jadi saksi saat Kak Dion membangun rumah ini." tambah Dira menjelaskan.
Dion mengusap wajahnya kasar, kemudian menatap Maura untuk mencari pembenaran. "Maura, apa semua ini benar?"
Maura mengangguk kecil, kemudian menatap Dion dengan intim. "Benar, ini adalah rumahmu. Kalau begitu aku dan Diona pamit dulu, kami harus pulang! Semoga setelah ini kamu bisa mengingat semuanya seperti semula!"
Maura mengambil Diona dari tangan Dion, lalu mengayunkan kakinya menuju pintu utama dan disusul oleh Tuti di belakangnya.
"Tunggu Maura!" teriak Dion sembari berlari kecil, kemudian memeluk Maura dari belakang.
"Jangan pergi! Bukankah aku ini suamimu? Tinggallah di sini bersamaku! Aku butuh kamu Maura, mana mungkin ingatanku akan kembali jika kamu tidak membantuku?" pinta Dion memohon, dia tidak mau Maura pergi meninggalkannya begitu saja. Dia sudah terlanjur nyaman bersama Maura.
Mendengar itu, mata Maura berbinar menahan bongkahan bening yang sudah tergenang di kelopak matanya. Dia bingung harus berbuat apa. Di satu sisi, dia bahagia karena Dion masih menginginkannya. Tapi di sisi lain, dia merasa bersalah telah menjadi orang ketiga diantara Dion dan istrinya Adila.
"A, aku...," Bibir Maura tak sanggup berkata-kata.
Miko menyusul mereka. "Kak Maura, benar kata Kak Dion. Kakak jangan pergi ya! Bagaimanapun rumah ini kan rumah Kakak juga, tinggallah di sini bersama kami!" tambah Miko, kemudian mengambil Diona dari gendongan Maura.
"Diona ikut ke dalam sama Om ya, biarkan Mami sama Papi bicara dulu!" ucap Miko kepada keponakannya.
"Iya sayang, Diona ikut Aunty ya! Kita main di dalam saja!" tambah Dira, kemudian membawa Tuti juga bersama mereka.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kini Maura dan Dion sudah berada di kamar mereka, kamar yang memiliki sejuta kenangan indah saat mereka bersama.
Maura duduk di sisi ranjang sembari menyentuh permukaan kasur. Matanya berkaca-kaca mengingat semua kenangan yang pernah mereka lalui. Terlebih saat dirinya menolak Dion sebagai suaminya.
Setelah mengunci pintu, Dion menghampiri Maura dan duduk di sampingnya. Meski tidak satupun yang dia ingat, tapi hatinya mengatakan kalau dia sudah berada di tempat yang benar.
"Aku tau kamu masih ragu padaku, aku bisa membuktikan semua ucapan ku padamu. Aku benar-benar tidak pernah menyentuh Adila selama ini, aku bersumpah! Bila perlu aku akan melakukan tes DNA dengan Adnan." ungkap Dion, lalu memeluk Maura dari samping.
"Kenapa harus melakukan tes DNA? Anak itu tidak bersalah." jawab Maura.
"Aku tau, tapi semua ini untuk meyakinkan kita berdua, terutama aku. Aku ingin semua kekeliruan ini diselesaikan secepat mungkin. Aku sudah lama menantikan saat-saat seperti ini. Aku sudah muak dibohongi terus oleh wanita itu." jelas Dion.
"Terserah kamu saja! Kalau begitu istirahatlah di sini, aku keluar dulu melihat Diona!"
"Kamu mau kemana? Kuncinya ada di tanganku," ucap Dion sembari memperlihatkan kunci yang ada di tangannya.
Maura menghela nafas berat, lalu berbalik dan menatap Dion dengan intens. "Kemari kan kuncinya!"
"Ambil saja kalau kamu bisa!" ucap Dion sembari tersenyum miring.
"Kak Dion, jangan menguji kesabaran ku!" bentak Maura, lalu menghampiri Dion dan berusaha keras meraih kunci yang ada di dalam genggaman Dion. Namun pria itu malah mengelak hingga Maura kesulitan mengambil kunci tersebut.
Maura menggertakkan giginya kuat, kesal melihat tingkah Dion yang kekanak-kanakan. "Jangan bercanda Kak Dion!"
"Aku tidak bercanda. Katanya mau membantuku, ayo lakukan! Kira-kira dengan cara apa ingatanku akan pulih dengan cepat?" Dion mengedipkan sebelah matanya, membuat Maura semakin kesal hingga keduanya saling berebutan kunci.
Dion mengangkat tangannya setinggi mungkin, Maura sampai melompat meraih kunci itu, tapi dia tak berhasil. Keduanya justru tersungkur di atas kasur karena tak seorangpun yang mau mengalah.
__ADS_1
Saat tubuh Dion menimpa tubuh Maura, keduanya terdiam untuk sesaat. Deru nafas keduanya saling menerpa wajah masing-masing, Maura bahkan sampai terengah mengatur nafasnya.
"Menyingkir lah!" ucap Maura sembari mendorong dada Dion.
"Tidak mau," jawab Dion sembari tersenyum kecil, dia malah semakin menekan tubuh Maura hingga tak bisa bergerak.
"Jangan begini Kak Dion! Ingat, kamu itu masih suami orang!" geram Maura dengan tatapan mematikan.
"Kamu benar, aku memang suami orang. Dan istriku itu kamu, jadi apa yang salah dengan ini?" ucap Dion.
Maura tak bisa berkata-kata lagi, dia kehilangan akal berbicara dengan Dion yang hanya menuruti keinginannya saja. Maura memalingkan wajahnya karena tak sanggup menatap mata Dion.
"Tidak peduli aku mengingatmu atau tidak. Yang aku tau, hati ini sangat nyaman berada di sisimu. Apakah ini yang dinamakan cinta? Aku jatuh cinta untuk yang kedua kalinya terhadap orang yang sama." ungkap Dion dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat jantung Maura berdegup kencang dengan mata terbuka lebar.
"Apa yang Kak Dion katakan?" tanya Maura sembari menautkan alisnya.
"Aku mencintaimu Maura. Maukah kamu terbang bersamaku?" bisik Dion tepat di telinga Maura, lalu mengecupnya dan menggigit daun telinga Maura dengan pelan. Hembusan nafas Dion yang hangat membuat sekujur tubuh Maura bergetar hebat.
"Ja, jangan Kak Dion, jangan sekarang!" tolak Maura terbata.
"Kenapa? Apa kamu masih ragu padaku?" tanya Dion mencari tau.
"Bu, bukan, eh, iya. Tunggu ingatan Kak Dion kembali dulu ya!" jawab Maura ragu-ragu.
"Bagaimana jika ingatanku tidak kembali? Apa hubungan ini akan berakhir?" Dion bangkit dari tubuh Maura, kemudian melangkah menuju kamar mandi dengan wajah kesalnya.
Maura terpaku di tempatnya berbaring, dia tidak tau harus berbuat apa. Dia sendiri juga sangat merindukan Dion, tapi kenyataan membuatnya takut menerima keinginan suaminya.
"Maafkan aku Kak Dion, apa yang harus aku lakukan?" gumam Maura dengan mata berkaca-kaca, kemudian bangkit dan mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1