Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 57.


__ADS_3

Dion tak sanggup lagi menahan has-rat yang bergejolak di dirinya. Dia mengangkat tubuh Maura dan membopongnya menuju ranjang.


Sesaat setelah membaringkan Maura di atas kasur, Dion langsung naik dan menindihnya.


"Jangan harap aku akan mengampuni mu kali ini!" ucap Dion, dia membuka semua pakaian yang menempel di tubuhnya tanpa tersisa sehelai benang pun.


Maura mengulum senyumannya, matanya mengarah pada tongkat sakti Dion yang sudah mengeras. Kemudian bangkit dan ikut melucuti semua pakaiannya, termasuk penutup inti tubuhnya.


Bibir keduanya kembali bertemu, Maura mengalungkan tangannya di leher Dion. Dia benar-benar menikmati pagutan mereka hingga keduanya masuk semakin dalam dan saling membelit lidah.


Setelah puas bermain di atas sana, Dion turun mengecup leher jenjang Maura, menjilatinya dan menggigitnya hingga meninggalkan banyak tanda merah di sana.


Hembusan nafas Dion kian memburu saat matanya menangkap keberadaan dua benda kenyal yang menggantung indah di tengah sana.


Tangannya dengan sigap meremas kedua benda kenyal itu dan melahap nya satu persatu. Pipinya menggembung, deru nafasnya berpacu dengan detak jantungnya yang berdegup semakin kencang.


Dion menjilati dan menghisap biji kelengkeng itu dengan rakus. Sesekali dia menggigitnya gemas, membuat Maura menggeliat menikmati rasa yang entah. Bibirnya mengeluarkan desa-han yang terdengar serak namun sangat menggoda.


"Ah, sayang." Maura menggigit ujung bibir bawahnya.


Dion melepaskan satu tangannya dari benda kenyal itu, kemudian turun memainkan inti istrinya.


Tangan yang lain masih menguasai benda kenyal satunya. Sementara yang lain, dia mainkan dengan lidahnya.


Tak ada yang luput dari penguasanya. Hal itu membuat Maura menjerit kecil menikmati pencapaiannya, tubuhnya mengejang dan lemas seketika.


Melihat Maura yang sudah tak berdaya, Dion kembali melu-mat bibir merekah itu. Lalu turun dan membenamkan lidahnya di V Maura yang sudah basah.


Dia bahkan tak segan menjilati inti itu dan menelan cairan istrinya. Hal itu kembali membuat tubuh Maura mengejang seiring desa-hannya yang tiada henti.


"Ah, sayang. Aku tidak kuat lagi."


Maura bangkit dan mengambil alih kepemimpinan. Kini gilirannya bermain dengan junior Dion yang semakin mengeras.


Dia mengecup pelan benda keras itu, lalu mengulumnya dengan lembut. Hal itu membuat Dion mengerang hebat, lembutnya hisapan Maura membuat tubuh Dion benar-benar ngilu.


Maura bangkit dan menuntun junior Dion masuk ke dalam sarangnya.


"Jleb,"


Keduanya mengerang, goyangan Maura membuat Dion melayang setinggi-tingginya. Maka nikmat apalagi yang engkau dustakan.

__ADS_1


Maura semakin leluasa dengan goyangannya. Semua posisi sudah dia coba. Mulai dari berhadapan, memunggungi, bertumpu pada perut dan paha suaminya, menyamping, telentang, bahkan menyungging sekalipun. Tidak ada posisi yang mereka lewatkan.


Maura kembali menjerit kecil, tubuhnya bergetar hebat saat menikmati pencapaiannya.


"Ah, sudah sayang. Aku tidak kuat lagi."


Maura tumbang di atas tubuh Dion, kakinya bergetar mengguncang tubuh kekar suaminya.


Dion membalikkan tubuhnya, kini Maura sudah ada di bawah kungkungan nya. Juniornya kembali masuk dan menghantam V Maura bertubi-tubi.


"Ah, ah, ya,"


Maura mende-sah tiada henti, dia menggigit bibirnya menikmati pencapaiannya yang entah ke berapa kali. Tidak lama, Dion akhirnya tumbang setelah mempercepat tempo permainannya.


Dion tersungkur di atas tubuh Maura, suara erangan keduanya menyatu memenuhi seisi kamar.


Dion menarik juniornya yang sudah mengecil, kemudian menjatuhkan tubuhnya di samping Maura. Dia merentangkan tangannya dan membawa Maura tidur di dadanya. Lalu mengecup dahi, mata, hidung, pipi, dagu dan berakhir di bibir Maura yang merah delima.


"Hatiku, sayangku, cintaku, duniaku, hidupku, nyawaku, nafasku semua untukmu. Hanya untukmu." ucap Dion, kemudian mempererat pelukannya.


Maura tersenyum mendengar gombalan Dion, dia merapatkan tubuhnya dan menenggelamkan wajahnya di belahan ketiak suaminya, menikmati aroma tubuh Dion yang sangat dia sukai meski belum mandi sekalipun.


"Aku mencintaimu sayang." ucap Maura, kemudian mengecup dada Dion dan memejamkan matanya perlahan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu jam sudah keduanya saling memeluk melepas penat setelah pertempuran sengit tadi.


Kini Dion bangkit dari pembaringannya dan membopong tubuh Maura ke dalam kamar mandi. Dia mencuci juniornya hingga bersih, lalu membantu Maura membasuh intinya.


"Aduh," rintih Maura.


"Kenapa sayang?" tanya Dion panik.


"Perih," rengek Maura.


Dion mendudukkan Maura di atas kloset dan menganga kan paha mulus istrinya itu. Sesaat dia terkejut melihat V Maura yang merah dan lecet.


Dia sadar kebuasannya telah menyakiti Maura tanpa disengaja. Apalagi sehari ini dia sudah tiga kali menghantam istrinya tanpa lelah sedikitpun.


"Maafkan aku sayang, aku terlalu memaksakan keinginanku padamu. Tanpa disengaja aku sudah menyakitimu sampai seperti ini." ucap Dion, lalu meniup V Maura perlahan.

__ADS_1


"Kenapa minta maaf sayang? Tidak ada yang salah di sini." jawab Maura, dia mengacak rambut Dion sembari tersenyum manis.


Dion kembali membopong Maura dan mendudukkannya di sisi ranjang. Dia melangkah menuju lemari dan mengambil pakaian tidur di dalam sana.


Beberapa hari yang lalu Dion sudah menyiapkan semuanya. Jadi jika mereka menginap di bar, tidak perlu membawa pakaian dari rumah.


Dion membantu Maura memakai pakaiannya, mulai dari pakaian dalam hingga setelan baju tidur pendek yang sudah dia siapkan.


Setelah mereka berdua berpakaian, Dion membaringkan Maura di atas kasur. Dia ikut berbaring di samping Maura dan mendekap tubuh istrinya penuh kehangatan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain, Miko dan Dira baru saja tiba di kediaman Dion. Keduanya melangkah masuk ke dalam rumah, lalu berpisah saat memasuki kamar masing-masing.


Hari sudah menunjukkan pukul 1 dinihari, Dira masuk ke dalam kamar mandi. Dia menggosok giginya dan mencuci wajahnya hingga bersih.


Setelah mengganti pakaiannya dengan baju tidur, Dira naik ke atas kasur dan mulai memejamkan matanya. Esok dia harus bangun pagi, dia tak ingin telat datang ke kantor.


Sementara di kamar lain, Miko duduk bersandar pada tampuk ranjang. Matanya belum bisa diajak tidur, pikirannya masih dibayang-bayangi dengan wajah cantik Dira.


"Sadar Miko, jangan berharap lebih dari pertemanan ini. Kamu tidak selevel dengannya. Dia cantik, pintar, berkelas. Sedangkan kau hanya seorang anak desa yang tidak punya apa-apa. Untuk kuliah saja harus menunggu bea siswa dulu."


Miko mengusap wajahnya kasar, dia bingung memikirkan perasaannya sendiri. Sejak pertama melihat Dira di bar tadi, dia seperti menemukan seseorang yang dia cari selama ini. Pandangan pertama membuat hatinya bergetar, namun dia juga sadar dengan keadaannya saat ini.


"Sama seperti Kak Dion, kamu juga harus menganggapnya seperti adikmu sendiri. Tidak boleh lebih! Hanya adik, adik dan adik."


Miko bersitegang dengan pemikirannya sendiri, dia tidak boleh menyukai Dira. Hanya itu yang dia yakinkan di dalam hatinya.


Dion👇



Maura👇



Miko👇



Dira👇

__ADS_1



__ADS_2