
Sesuai permintaan dan penjelasan Maura, petugas itu memperlihatkan rekaman CCTV. Maura menelan tangisannya menatap layar monitor yang menyala di depan matanya.
Benar saja, pria itu sangat mirip dengan Dion suaminya. Bukan hanya mirip, tapi sama persis.
Ada asa yang membuat Maura menarik garis wajahnya, namun senyuman itu tiba-tiba luntur saat melihat seorang anak kecil di gendongan Dion. Tak hanya itu, ada wanita cantik juga bersama mereka.
"Siapa wanita itu?" batin Maura sembari menitikkan air matanya.
Setelah menyalin rekaman tersebut, Maura bangkit dari duduknya. Menyalip kan beberapa lembar uang ratusan kepada petugas itu dan meninggalkannya setelah mengucapkan terima kasih.
Sesampainya di dalam mobil, Maura mengusap wajahnya kasar. Mencoba meredam kesedihannya dan menatap Diona yang tengah tertidur di pangkuan Tuti.
"Bagaimana Bu?" tanya Tuti mengkhawatirkan keadaan Maura.
"Tidak apa-apa, kalau begitu kita pulang saja!"
Maura berusaha menenangkan hatinya, tidak ada gunanya menyikapi ini dengan emosi. Ujung-ujungnya dia sendiri yang akan terluka.
Sepanjang perjalanan, Maura tak bersuara sama kali. Dia terus saja memikirkan wanita yang ada di dalam rekaman tadi. Jika mereka sepasang suami istri, lalu bagaimana dengan dirinya. Pikiran itu membelenggu di dalam hatinya.
Setibanya di rumah, Maura meminta Tuti membawa Diona ke kamar. Dia masuk ke kamar Doni, Maura membutuhkan sosok ayahnya untuk menenangkan dirinya.
"Ayah,"
Setelah membuka pintu, Maura berlari menghampiri Doni dan memeluknya erat. Air matanya kembali jatuh tak terbendung di dalam dekapan pria paruh baya itu. Selain Dion, hanya Doni lah satu-satunya tempat Maura bersandar dan mencurahkan isi hatinya.
"Maura, ada apa Nak?" tanya Doni bingung, kemudian mengusap kepala Maura dengan sayang.
Maura tak menyahut, apa yang bisa dia katakan. Tubuhnya terasa lelah dan rapuh.
Selama 9 bulan dia berjuang mempertahankan Diona yang mulai tumbuh di dalam rahimnya. Capek, letih, bahkan sakitnya dia tanggung sendiri.
Dua tahun dia memendam rasa itu, memendam rindunya yang teramat dalam terhadap pria yang sangat dicintainya.
Kini sosok itu kembali muncul, sosok yang membuatnya merasakan bagaimana rasanya dicintai, disayangi, dikasihi, dimanjakan dengan berbagai macam cara. Membuatnya bangkit dari keterpurukan masa lalunya.
__ADS_1
"Ayah," isak Maura sedu sedan.
Maura melepaskan pelukannya, membuka resleting tasnya dan mengisai isi di dalamnya.
"Apa yang kamu cari Nak?" tanya Doni bingung.
Maura semakin gusar dengan isak yang tak terbendung. Saat menemukan sebuah flashdisk, dia bergegas duduk di depan laptop ayahnya.
Doni mendekat dan berdiri di sampingnya. Saat sebuah rekaman muncul pada layar laptopnya, Doni membulatkan matanya lebar.
"Apa ini Nak? Bukankah ini Dion?" tanya Doni menautkan alisnya.
"Ayah benar. Ini Kak Dion, Dion Adriano. Maura tidak salah kan Yah? Ini benar-benar Kak Dion kan Yah?" Tangisan Maura pecah memandangi rekaman suaminya.
Doni mengusap wajahnya kasar, dia berbalik sembari mengacak rambutnya sendiri. Aneh tapi nyata, bagaimana bisa ada orang yang sangat mirip dengan menantunya. Seperti pinang dibelah dua.
"Maura, kapan kamu mendapatkan rekaman ini Nak?" tanya Doni penasaran.
"Baru saja Yah. Kami berada di tempat yang sama, tapi kenapa Maura tak bisa menemukannya? Maura sudah berkeliling mencarinya, tapi dia sudah tak ada lagi di sana." lirih Maura yang masih terisak di bangkunya.
Doni melingkarkan tangannya di leher Maura, kemudian mengecup ujung kepala putrinya itu dari belakang.
"Tidak Yah, Maura yakin itu Kak Dion. Itu suami Maura Yah, bukan orang lain." Maura menyeka hidungnya yang sudah basah.
"Bahkan Diona sendiri bisa merasakannya, mereka berdua bertemu Yah."
"Kata Tuti, Diona memeluknya, dia duduk di pangkuannya. Diona pasti tau kalau itu Papinya."
"Ayah tau sendiri kan, Diona tidak mudah berbaur dengan orang asing. Kenapa anak itu langsung menurut, pasti dia merasakan ikatan batin dengan pria itu." jelas Maura panjang lebar, kemudian mengusap wajahnya yang sudah sembab.
"Baiklah, sekarang kamu tenang dulu! Kembalilah ke kamar, Diona pasti membutuhkan kamu!"
"Ayah akan mencari pria itu. Bagaimanapun caranya, Ayah akan menemukannya!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Malam hari, Doni menelepon seseorang. Setelah berbicara cukup lama, Doni mengirimkan rekaman itu kepadanya. Meminta orang itu menyelidiki pria yang ada di rekaman dan wanita yang ada bersamanya.
Di tempat lain, Andra baru saja tiba di bar. Meskipun Miko sudah menolak bertemu dengannya, dia tak mau menyerah begitu saja.
Dengan langkah sedikit goyah, Andra memberanikan diri masuk ke dalam. Seperti sebelumnya, dia mulai merasa pusing saat berada di dalam sana.
"Kuat Andra, kamu tidak boleh lemah! Jika ingin mengetahui jati dirimu, lawan lah rasa sakit itu!" Andra berusaha keras menguatkan dirinya sendiri.
Sesampainya di dalam, Andra duduk di depan seorang bartender. Saat meminta minuman, pria itu terlonjak kaget. Botol yang ada di tangannya terlepas begitu saja.
"Tuan Dion," gumam pria itu dengan tatapan tak biasa.
"Maaf, siapa Dion?" tanya Andra menautkan alisnya.
"Anda Tuan, bukankah anda Tuan Dion?" Pria itu tak bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini. Kaget, bingung, sedih, bahagia, semuanya membaur jadi satu.
"Siapa Dion? Kemaren Miko juga memanggilku Dion, apa ini ada hubungannya dengan masa laluku?" batin Andra larut dalam pemikirannya sendiri.
"Tunggu, tunggu! Apa wajahku sangat mirip dengan pria yang bernama Dion?" tanya Andra penasaran.
"Tuan jangan bercanda, aku tau anda adalah Tuan Dion! Mana mungkin ada orang yang sama persis di dunia ini, kecuali mereka kembar. Dan setau saya, Tuan Dion tidak punya kembaran."
Pernyataan bartender itu membuat Andra terdiam untuk sesaat. Dia memegangi kepalanya dan mencoba mengingat semuanya, tapi hasilnya nihil. Dia tak mengingat apa-apa sama sekali.
"Maaf, tapi anda salah orang. Kenyataannya saya adalah Andra, bukan Dion." tegas Andra, pria itu tampak murung mendengar pengakuan Andra.
"Kalau begitu maafkan saya Tuan, tapi wajah kalian berdua benar-benar mirip." ucap pria itu.
Andra semakin penasaran, dia tak hentinya bertanya perihal Dion. Pria itupun menjawab semua pertanyaan Andra sesuai apa yang diketahuinya.
"Apa anda mengenal Miko?" tanya Andra.
"Kenal Tuan, dia adiknya Tuan Dion. Pemilik bar ini,"
Andra semakin bingung. Jika Miko adalah adiknya Dion, berarti Star Group adalah perusahaan Dion. Dia semakin tak mengerti dengan kemelut yang bersarang di benaknya.
__ADS_1
Karena tak bisa menemui Miko, Andra memutuskan meninggalkan tempat itu. Dia kembali ke rumah dengan pikiran yang kacau bak benang kusut.
Sesampainya di rumah, Andra memilih masuk ke kamar putranya. Untuk saat ini, dia tidak ingin bertemu Adila dulu. Emosinya selalu naik saat melihat wajah wanita itu.