Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 11.


__ADS_3

Setibanya di kebun, semua orang mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Miko sedang menyiangi rerumputan bersama Nek Ida. Sementara Dion, dia tengah sibuk memasang plastik mulsa pada gondokan tanah yang akan ditanami bibit.


Berbeda dengan Maura, dia justru tengah asik berlarian mengejar kupu-kupu yang berterbangan dengan bebas di alam liar.


Meskipun sebelumnya dia hanya beberapa kali saja berkunjung ke tempat neneknya, tapi suasana di sini terasa begitu damai di hatinya. Dia tidak ingin melewati momentum indah ini sebelum dirinya kembali ke Jakarta.


"Miko, kemari lah, bantu aku menangkap kupu-kupu ini!" teriak Maura meminta bantuan.


Suara Maura yang terdengar sangat lantang, membuat semua orang menoleh ke arahnya bersamaan. Tak terkecuali dengan Dion yang saat ini masih fokus menyelesaikan pekerjaannya.


"Aku sibuk, minta tolong sama Kak Dion saja!" sahut Miko, dia tentunya memiliki rencana lain dibalik ini.


Mendengar itu, raut wajah Maura berubah dalam sekejap. Dia ingin sekali menangkap kupu-kupu itu, tapi mana mungkin dia minta bantuan pada pria yang tidak dia kenal sama sekali.


"Dion, pergilah. Bantu gadis bodoh itu!" pinta Nek Ida.


Dion membelalakkan matanya, tak disangka Nek Ida akan menyuruhnya membantu gadis itu. Tapi bagaimana caranya, gadis itu saja sangat takut berhadapan dengannya.


"Tapi Nek...,"


"Tidak apa-apa, pergilah!" tambah Nek Ida.


Mengingat rasa hormatnya yang begitu besar terhadap Nek Ida, Dion akhirnya menyetujui permintaan nenek itu. Kakinya mulai melangkah menghampiri Maura yang berdiri cukup jauh dari tempatnya bekerja.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Maura gugup, kakinya mulai bergetar.


Lagi-lagi, Dion jadi serba salah dibuatnya. Niat hati ingin membantu, justru hanya muka masam yang dia dapat dari Maura.


"Aku ke sini semata-mata hanya karena permintaan Nek Ida. Jangan takut, aku tidak akan memakan mu!" jawab Dion dengan dinginnya.


Tak ingin membuat Maura semakin takut melihatnya, Dion langsung saja mencari kupu-kupu yang diinginkan Maura.


Butuh waktu yang lama dan tenaga yang cukup ekstra baginya untuk mendapatkan apa yang Maura inginkan.


Kini titik peluh dan keringat mengucur deras di dahi dan tubuh Dion. Dia sampai jatuh bangun berkali-kali hanya untuk mewujudkan keinginan Maura.


Bahkan baju yang dikenakannya sudah basah dengan keringat, hal itu membuat Dion tidak nyaman. Dia melepaskan bajunya hingga memperlihatkan dada bidang dan perut kotaknya nan menggoda.


"Hei, apa yang kau lakukan? Pakai bajumu kembali, jangan kurang ajar!" bentak Maura yang mulai ketakutan, lalu menutup matanya.


"Menurutmu apa yang ingin aku lakukan hah?" jawab Dion dengan senyuman miringnya.

__ADS_1


"Jangan macam-macam di sini atau aku akan berteriak!" tambah Maura yang kini mulai membuka matanya kembali.


"Tenang saja! Aku tidak tertarik pada gadis tepos sepertimu. Kosong, apa enaknya?" ejek Dion sembari berlalu pergi.


Hal itu sontak saja membuat Maura mendengus kesal.


"Aku juga tidak tertarik padamu." batin Maura menggerutu.


Dion melanjutkan perjuangannya yang sempat tertunda. Hingga pada akhirnya, dia berhasil menangkap seekor kupu-kupu berwarna kuning dengan bercak hitam, merah, putih, yang sangat cantik.


Dion kemudian memasukkan kupu-kupu itu ke dalam sebuah botol kosong bening. Tak lupa juga dia membuat lubang udara agar kupu-kupu itu bisa bertahan lebih lama.


"Ini, ambillah!" ucap Dion sembari mengulurkan botol itu ke tangan Maura.


Maura yang tadinya cemberut, kini mengukir sedikit senyum di wajahnya.


"Ini untukku?" tanya Maura seakan tak percaya.


"Tidak, itu untuk Nek Ida!" goda Dion.


Mendengar itu, Maura menekuk wajahnya lesu. Senyuman yang tadi terukir indah di wajahnya langsung memudar tak bersisa.


"Gadis bodoh! Tentu saja ini untukmu, untuk siapa lagi?" ucap Dion.


"Terima kasih," ucap Maura.


"Tidak perlu berterima kasih! Melihat senyuman di wajahmu saja sudah lebih dari cukup." jawab Dion, kemudian berlalu pergi meninggalkan Maura begitu saja.


"Apa maksudnya?" batin Maura bingung.


Dion kembali melanjutkan pekerjaannya yang sudah separo jalan, rasa lapar dan lelah sudah tak terasa lagi setelah melihat senyuman di wajah Maura barusan.


***************


Hari semakin petang, mereka berempat pulang ke rumah Nek Ida setelah seharian berjibaku menguras tenaga.


"Nek, Dion pulang dulu ya." ucap Dion berpamitan.


Wajah Dion tampak begitu lelah, tatapan matanya terlihat sayu. Ingin sekali dia merebahkan tubuhnya di rumah Nek Ida. Tapi itu tidak mungkin mengingat ada cucu perempuan Nek Ida di rumah itu.


"Kenapa terburu-buru? Istirahat saja dulu di sini! Nenek akan menyuruh Bik An membuatkan minuman untuk kalian semua." ucap Nek Ida menahan Dion.

__ADS_1


"Tidak usah Nek, lain kali saja! Dion harus segera berkemas, besok pagi Dion harus kembali ke Jakarta." sahut Dion menolak tawaran Nek Ida.


Mendengar itu, semua orang terdiam. Termasuk Maura yang saat ini sudah bisa menerima Dion di tengah-tengah mereka.


"Oh iya Nek, Miko hampir saja lupa memberitahu Nenek. Sepertinya Miko tidak bisa membantu Nenek di sini, Miko ingin ikut bersama Kak Dion ke Jakarta. Nenek tidak keberatan kan?" sambung Miko menyampaikan keinginannya.


Seketika raut wajah Nek Ida berubah lesu, ada bening kaca yang tergenang di kelopak matanya. Baru saja dia merasakan kebahagiaan di kelilingi cucu-cucunya, kini kebahagiaan itu harus sirna dalam sekejap mata.


"Nenek jangan sedih! Jika kami tidak sibuk, kami akan sering berkunjung ke sini menemui Nenek. Bila perlu, Dion akan menginap di sini seperti sebelumnya!" ucap Dion menghibur hati Nek Ida.


"Apa itu benar?" tanya Nek Ida memastikan.


"Iya, Dion janji!" sahut Dion meyakinkan Nek Ida.


***************


Malam harinya, Miko dan Maura tiba di rumah Dion membawakan serantang makanan titipan Nek Ida. Hal itu tentu saja membuat Dion sangat senang.


Di tengah dinginnya angin malam yang berhembus kencang, mereka bertiga duduk di beranda rumah setelah melahap abis makanan dari Nek Ida.


"Kring, kring,"


Suasana malam ini menjadi hening saat ponsel Maura berdering di dalam saku celananya.


Maura menjauh dari Dion dan Miko, dia mengeluarkan ponselnya lalu mengangkatnya setelah mengetahui panggilan itu dari ayah tercintanya.


"Halo Yah," sapa Maura sesaat setelah panggilan itu tersambung.


"Halo sayang, bagaimana kabar kamu di sana?" tanya Doni dari balik telepon.


"Maura baik-baik saja Yah, bagaimana dengan Ayah?" sahut Maura menanyakan kabar ayahnya.


"Ayah juga baik. Oh iya, kapan kamu berencana untuk pulang?" tanya Doni mencari tau.


"Belum tau Yah, Maura masih betah di sini. Memangnya kenapa Yah?" sahut Maura.


"Lusa, kamu sudah harus berada di Jakarta. Pak Darma ingin mempercepat acara pertunangan kamu dengan David. Kamu mengerti kan maksud Ayah." jelas Doni.


"Kenapa begitu cepat? Maura bahkan belum pernah melihat pria itu." sahut Maura.


"Ayah sudah mengatur semuanya untukmu, jadi kamu tidak perlu khawatir. Persiapkan saja dirimu untuk itu, Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu." ucap Doni.

__ADS_1


Maura terduduk lesu dengan ponsel yang masih terhubung di dalam genggamannya. Keputusan sepihak dari Doni, membuatnya benar-benar kecewa hingga tak sanggup lagi berkata-kata.


__ADS_2