
Pukul 7 malam, pria yang mengaku bernama Andra itu meninggalkan rumah secara diam-diam. Bukan tanpa alasan dia melakukan itu.
Raganya hidup, namun terasa mati. Dia bagai terpenjara di dalam diri orang lain. Kebebasannya hilang begitu saja, semua yang diceritakan istrinya tidak satupun bisa dia cerna.
Andra keluar melalui pintu belakang, dia harus berjibaku melewati pagar beton yang cukup tinggi.
Setelah berhasil melewati aral yang melintang, dia berlari kecil meninggalkan komplek perumahan elit itu.
Sesampainya di jalan besar, dia menyetop sebuah taksi yang tengah melaju. Meminta sang sopir mengantarnya ke alamat yang Miko kirimkan.
Di dalam rumah, Adila sudah kelimpungan mencari Andra. Semua pekerja menggeleng karena tak satupun dari mereka mengetahui keberadaannya, bahkan satpam di depan juga tak melihat batang hidung Andra keluar dari gerbang.
"Mas, kemana kau?" gumam Adila sembari memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing, dia sudah berjanji menghadiri acara seorang sahabatnya malam ini.
Taksi yang ditumpangi Andra menepi tepat di depan gerbang sebuah bar. Setelah membayar ongkos, Andra mengayunkan kakinya perlahan.
Bola matanya menggelinding liar memandangi sekelilingnya. Langkahnya mulai goyah saat menapakkan kakinya di depan pintu masuk.
"Tempat ini, aku pernah memimpikan tempat ini." batin Andra mengingat sesuatu, kemudian melanjutkan langkahnya.
Andra terus berjalan, sesekali dia menahan langkahnya dan memutar tubuhnya menyisir setiap sudut yang penuh dengan pengunjung.
Semakin ke dalam, pandangan Andra terasa semakin kabur. Alunan musik yang menggema membuat kepalanya terasa pusing.
Andra tak kuat lagi menahan rasa sakit yang menusuk di kepalanya. Bayangan demi bayangan aneh perlahan datang mengganggu ingatannya.
Rasanya sangat sakit bak ditancap seribu paku, lalu diketok dengan palu. Saking sakitnya, membuatnya mengerang dengan dahsyat.
"Akhh...,"
"Seseorang, tolong bantu aku!" pinta Andra sembari menarik rambutnya kuat, isi di kepalanya seakan ingin meledak.
Di sofa sana, Miko masih deg-degan menunggu kedatangan Andra. Dia sama sekali tak ngeh dengan kejadian yang terjadi tak jauh dari tempatnya duduk.
Sembari memandangi jam tangan yang melingkar di pergelangannya, Miko meneguk segelas bir hingga raib tak bersisa.
"Dimana pria itu?" batin Miko yang kini mulai gelisah, lalu mengetok permukaan meja dengan ujung kukunya.
"Bruuuk"
__ADS_1
Andra tersungkur diantara ramainya pengunjung bar malam ini. Beberapa orang berlari ke arahnya dan membantu membopong tubuhnya.
Seorang pelayan ikut membantu, kemudian meminta yang lainnya membawa Andra ke belakang. Di sana ada sofa kosong yang tak terpakai.
Setelah membaringkan tubuh Andra di atas sofa, pelayan itu berlari ke dapur. Sorot mata Miko tak sengaja menangkapnya.
Miko bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu dapur. Di pikirannya, entah apa yang dilakukan pelayan itu di tengah keramaian seperti ini.
"Hei, apa yang kau lakukan? Kenapa berlarian di sini? Ini bukan lapangan bola." ketus Miko.
"Maaf Tuan, saya tau ini bukan lapangan bola. Tapi ini darurat," jawab pelayan itu, lalu meninggalkan Miko begitu saja dengan segelas air yang dia bawa.
Miko merungut kesal mendengar itu, apa lagi hatinya memang sudah jengkel sedari tadi. Pria yang ditunggunya tak menampakkan batang hidungnya sama sekali, bahkan mengirim pesan pun tidak.
"Kenapa hari ini aku harus menghadapi orang-orang aneh seperti kalian?" gumam Miko sembari mengangkat bahunya dengan bibir sedikit maju.
Miko kembali ke tempat duduknya, kemudian menyalakan ponsel dan mencoba menghubungi nomor Andra. Namun sayang, pria itu tak mengangkatnya sama sekali.
"Kurang ajar! Apa kau sedang mempermainkan aku?" umpat Miko, raut wajahnya memerah menahan kesal.
Tak ingin berlarut-larut dengan kekesalannya, Miko mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Dia duduk di bangku bartender dan melayani pengunjung seperti biasanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maura membelai rambut Diona dengan lembut, lalu menyanyikan lagu pengantar tidur untuk buah hatinya itu.
Tatapan Maura tampak sendu, dia terenyuh mengingat ayah dari putrinya itu. Dalam keadaan apapun dan dimana pun, tak sekalipun dia sanggup melupakan suaminya.
Rasa cintanya justru semakin dalam, Dion pergi meninggalkan anugerah yang begitu indah untuknya. Hadiah yang tak ternilai harganya dibanding emas permata.
"Aku rindu sayang," gumam Maura lirih, kemudian mengecup kening Diona penuh cinta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Andra mulai sadar, dia merebahkan punggungnya pada tampuk sofa yang tengah dia duduki. Meskipun kepalanya masih pusing, dia mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Andra kembali menatap sekelilingnya, dia berusaha keras mengingat semuanya dengan jelas. Namun hal itu malah membuat kepalanya semakin sakit.
"Tuhan, tolong bantu aku! Aku ingin sekali mengingat semuanya, siapa aku?" gerutu Andra, sulit sekali baginya mengingat memori yang telah tersapu habis di dalam ingatannya.
__ADS_1
Saat Andra hendak bangkit, tiba-tiba Adila sudah berdiri di hadapannya. Tanpa sepengetahuan Andra, ternyata Adila sudah mengaktifkan GPS di ponsel miliknya. Andra tak bisa berbuat apa-apa di depan istrinya itu.
"Mas, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Adila dengan tatapan tajamnya, lalu meraih tangan Andra dan menggenggamnya erat.
"Jangan sentuh aku!" Andra menepis tangan Adila kasar.
"Mas, cukup bersikap kekanak-kanakan seperti ini! Ingat, aku ini istrimu." bentak Adila yang mulai tersulut emosi.
"Istri? Hahahaha,"
"Istri yang bagaimana hah?"
"Apa ada seorang istri yang tega membiarkan suaminya kehilangan ingatannya begitu saja?"
"Tidak ada, wanita mana yang sanggup membiarkan suaminya tersiksa menanggung penderitaan sebesar ini?"
"Bukannya membantu mengembalikan ingatanku, kau justru membuatku terbelenggu di dalam ketidakpastian ini."
"Kau pikir aku tidak tau kelakuan licik mu di belakangku, menukar obatku dan menggantinya dengan obat lain. Apa kau ingin membuatku gila?"
Andra kehabisan kata-kata mengungkap kekesalannya. Jika tak memikirkan keadaan di sekitarnya yang begitu ramai, mungkin sudah diseret nya wanita itu keluar.
Andra lebih memilih untuk menghindar dan meninggalkan Adila yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
Sesampainya di luar, Andra memanggil taksi dan meminta sang sopir mengantarnya pulang. Dia merasa dunia ini begitu kejam, bagaimana bisa dia menjalani hidup yang tak jelas duduk tegaknya seperti ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di waktu yang bersamaan, Diona tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Gadis cilik itu kembali rewel tak tentu sebab. Dia terus saja menangis meskipun Maura sudah menggendongnya.
"Sayang, cantik Mami kenapa Nak? Jangan nangis ya! Ada Mami di sini,"
Maura mengayun Diona di gendongannya, dia khawatir memikirkan keadaan putrinya yang selalu rewel pada jam tertentu. Setelah diperiksa, Diona bahkan tak mengalami demam sedikitpun.
"Ada apa dengan kamu Nak? Jangan membuat Mami takut!" gumam Maura sembari memeluk putrinya erat.
Maura duduk di sisi ranjang, kemudian meraih ponsel yang terletak di atas kasur.
Saat menyalakan ponsel tersebut, Diona tiba-tiba terdiam. Dan saat Maura mematikannya kembali, Diona pun melanjutkan tangisannya. Hal itu membuat Maura menatapnya bingung.
__ADS_1