
Esok paginya, Maura terbangun saat telinganya mendengar nada ponsel yang tengah berdering. Maura menggeliat, kemudian membuka matanya perlahan.
Maura meraih ponselnya, senyuman di wajahnya mengambang saat mendapati nama suaminya terpampang pada layar ponsel itu.
"Pagi sayang," sapa Maura dengan wajah bantalnya, keduanya saling tersenyum lewat video call itu.
"Pagi istriku yang paling cantik, bagaimana tidurnya semalam?" tanya Dion, dia tampak rapi dengan setelan jas yang dikenakannya.
"Lumayan nyenyak, tapi aku rindu Kak Dion. Kapan Kak Dion kembali?" jawab Maura dengan pertanyaan pula, dia tak sanggup membendung rasa rindunya yang begitu dalam.
"Aku juga rindu sayang, kamu yang sabar ya. Setelah urusan di sini selesai, aku pasti kembali secepatnya!" ucap Dion.
"Aku menunggumu, jangan nakal ya di sana!" jawab Maura.
"Hahahaha, kamu tidak perlu takut. Tidak ada yang dapat menggantikan mu di hati ini!" balas Dion terkekeh.
Setelah berbicara cukup lama, Dion menutup sambungan video call nya. Dia dan Samuel sudah siap untuk berangkat ke perusahaan.
Maura bangkit dari kasur, dia berjalan menuju kamar mandi dengan wajah full senyum. Percakapan dengan Dion tadi membuat rasa rindunya sedikit terobati.
Usai mandi dan mengenakan pakaiannya, Maura turun untuk sarapan. Perutnya mulai terasa perih sebab semalaman tidak makan.
"Pagi Kak Maura," sapa Miko dan Dira bersamaan.
"Pagi Miko, Dira," sahut Maura, lalu duduk di kursinya.
Ketiganya mulai menikmati sarapan yang sudah tersedia di atas meja. Pagi ini Ela dan Nisa menyiapkan nasi goreng kesukaan Maura.
Maura menikmati makanannya seperti biasa. Saat mengambil telur ceplok dan memakannya, dia tiba-tiba merasa eneg. Bau amis dari telur itu membuatnya mual, dia berlari ke belakang dan memuntahkan semua isi perutnya.
Ela tampak panik melihat keadaan Maura, dia berlari menyusulnya dan mengusap punggung Maura pelan.
"Nyonya kenapa?" tanya Ela cemas.
"Entahlah Ela, perutku rasanya mual sekali. Apa karena semalam aku tidak makan, jadi sedikit masuk angin." ucap Maura dengan wajah lesunya.
"Mungkin saja Nyonya, sini aku bantu kembali ke meja makan. Biar aku buatkan teh hangat dan sup,"
Saat hendak melangkahkan kakinya, Miko datang bersama Dira. Keduanya saling melirik saat mendapati wajah Maura yang terlihat sangat pucat.
"Kak Maura, apa yang terjadi?" tanya Miko khawatir.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Miko. Hanya masuk angin biasa, nanti juga sembuh." jawab Maura.
"Kak Maura yakin hanya masuk angin? Kita ke Dokter saja ya! Takutnya ada apa-apa, wajah Kak Maura pucat sekali." sambung Dira.
"Tidak perlu Dira, aku tidak apa-apa." sahut Maura yakin.
Miko dan Dira membantu Maura kembali ke meja makan, sementara Ela kembali ke dapur dan menyiapkan sup dan teh hangat untuk Maura.
"Aku tidak mau duduk di sini, aroma makanan ini membuatku eneg. Aku duduk di ruang tengah saja, kalian lanjutkan saja sarapannya, aku bisa sendiri!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langkah Maura terhuyung saat menuju ruang tengah, kepalanya sangat pusing. Kakinya tidak kuat menopang tubuhnya, dia akhirnya terjatuh sebelum berhasil mencapai sofa.
"BRUUUK"
Suara benturan yang cukup keras membuat Miko dan Dira terlonjak kaget. Keduanya bangkit dari duduknya dan berlari menuju ruang tengah.
"Kak Maura...," Miko dan Dira berteriak bersamaan.
Miko bergegas mengangkat tubuh Maura yang sudah tergeletak di lantai. Dia membopongnya menuju kamar dan membaringkannya di atas kasur. Dira pun ikut menemani.
"Kak Maura, Kak, bangun Kak." Miko menepuk pipi Maura pelan, berniat menyadarkan Maura secepatnya. Sayangnya tak ada reaksi apa-apa dari Maura.
"Kamu benar, kalau begitu tunggu di sini sebentar. Aku ke bawah dulu, Ela pasti punya nomor telepon seorang Dokter."
Miko berlari kecil meninggalkan kamar, dia takut terjadi sesuatu pada Maura. Dion tidak akan mengampuninya jika hal buruk terjadi pada istrinya.
"Ela, apa kamu punya nomor telepon seorang Dokter?" tanya Miko saat tiba di dapur.
"Ada Tuan, untuk apa Tuan menanyakan itu?" jawab Ela dengan pertanyaan pula.
"Hubungi Dokter itu, suruh dia kemari secepatnya! Kak Maura pingsan," jelas Miko.
Ela melotot kan matanya lebar, dia terkejut dan bergegas mengambil ponselnya yang ada di rak.
Setelah menghubungi Dokter, Ela memberikan secangkir teh jahe yang sudah dia buat kepada Miko.
"Kalau Nyonya sadar, tolong minum kan teh ini padanya. Nanti setelah sup nya matang, aku akan menyusul ke atas." ucap Ela.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Setengah jam berlalu, seorang Dokter sudah berada di kamar Maura. Sementara Dokter itu memeriksa kondisi pasiennya, yang lain menunggu di luar dengan wajah cemas satu sama lain.
"Semoga tidak ada yang serius, aku takut menghadapi kemarahan Kak Dion jika mengetahui ini." ucap Miko kepada Dira yang tengah berdiri di sampingnya.
"Berdoa saja, aku juga takut." jawab Dira cemas.
Tidak lama, Dokter itu keluar dari kamar. Wajah Miko dan Dira tampak semakin gelisah, mereka berharap tidak ada yang serius dengan keadaan Maura saat ini.
"Bagaimana Dok, apa yang terjadi dengan Kakak saya?" tanya Miko penasaran.
Dokter itu tersenyum, membuat Miko dan Dira heran. Keduanya saling melirik sembari menautkan alis masing-masing.
"Tidak apa-apa, Nyonya Maura baik-baik saja. Selain faktor kelelahan, dia juga tengah hamil saat ini. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, kalian bisa membawanya ke klinik atau rumah sakit terdekat." ucap Dokter itu.
Miko membulatkan matanya lebar, begitupun dengan Dira. Keduanya tertegun untuk sesaat.
"Baiklah, ini resep obat dan vitamin untuk Nyonya Maura. Kalau begitu saya permisi dulu."
Setelah saling berjabat tangan, Miko mengantarkan Dokter itu sampai pintu.
"Terima kasih Dok," ucap Miko melepas kepergian Dokter itu.
Saat hendak menaiki anak tangga, Miko berpapasan dengan Ela yang tengah membawa sebuah nampan. Ada sup, nasi, roti, dan juga air mineral di atas nampan tersebut.
"Ela, biar aku saja." pinta Miko.
"Baik Tuan, bagaimana keadaan Nyonya?" tanya Ela ingin tau.
Setelah mengambil nampan itu dari tangan Ela, Miko tersenyum kecil hingga membuat Ela kebingungan.
"Tidak apa-apa, ada malaikat kecil di dalam perutnya." ucap Miko, kemudian melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.
Ela terpaku di tempatnya berdiri, dia masih belum bisa mempercayai itu. Namun dalam hati kecilnya, dia sangat bahagia mendengar itu. Dia berlari menemui Nisa yang masih sibuk mencuci pakaian di belakang.
Di dalam kamar, Dira tengah menyuapi sup tadi kepada Maura. Miko ikut menemani dan duduk di samping Dira. Wajah keduanya mengisyaratkan sesuatu yang aneh, membuat Maura bingung dan menautkan alisnya.
"Selamat ya Kak, aku ikut bahagia untuk Kakak." ucap Miko dengan mata berkaca-kaca.
"Selamat untuk apa?" tanya Maura bingung.
Dira menaruh mangkok yang sudah kosong itu di tangan Miko, kemudian mengusap perut Maura lembut.
__ADS_1
"Selamat datang keponakan Aunty, sehat-sehat ya di dalam perut Mama."
Ucapan Dira itu membuat Maura membulatkan matanya lebar, dia tergugu tanpa kata. Tak terasa air matanya jatuh begitu saja, penantiannya selama 6 bulan ini akhirnya membuahkan hasil yang sangat manis.