Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 24.


__ADS_3

Fajar mulai menyingsing pertanda pagi sudah datang. Maura terbangun lebih dulu saat bias-bias mentari menyorot matanya. Namun seketika, dia pun tergugu menatap lekat wajah sang suami yang tengah tertidur lelap, bahkan tangan kekar itu masih melingkar di pinggangnya.


Maura mengangkat tangan Dion dari pinggangnya, tapi sentuhannya itu malah membuat Dion semakin mengencangkan pelukannya. Hal itu membuatnya terkunci dan tak bisa berkutik sama sekali.


"Kak Dion, Kak, lepaskan aku!" pinta Maura dengan suara yang terdengar pelan.


"Emmm...," Dion bergumam, tapi dia tak membuka matanya sedikitpun.


"Kak Dion, cepat lepaskan aku!" pinta Maura sedikit kesal.


"Sebentar saja Maura, biarkan aku memelukmu untuk sesaat!" gumam Dion, kali ini wajahnya semakin mendekat hingga membuat tubuh Maura kembali bergetar.


Maura menelan ludahnya kasar, hembusan nafas Dion terasa hangat menyentuh daun telinganya. Dia benar-benar takut hingga titik peluh pun mengucur deras di pelipis dahinya. Tak sanggup menunggu lagi, dia pun mendorong tubuh Dion dengan kasar hingga pelukan itu terlepas seketika.


"Maafkan aku," ucap Maura, lalu dia berlari masuk ke dalam kamar mandi.


Dion menghela nafas dan membuangnya kasar, lagi-lagi Maura mendorongnya untuk yang kedua kali. Entah apa yang harus dia lakukan untuk meluluhkan hati sang istri, semua ini membuatnya benar-benar bingung.


Tidak lama, Maura keluar dari kamar mandi. Kali ini giliran Dion yang masuk untuk membersihkan tubuhnya. Namun saat mereka berdua berpapasan, tiba-tiba langkah Dion terhenti dengan mata terbuka lebar. Dion pun menelan ludahnya kasar.


Entah Maura sengaja atau memang dia lupa mengaitkan kancing kemejanya. Hingga sepasang gunung kembar yang ditutupi kacamata berwarna merah maroon, seketika membuat tubuh Dion berdenyut, bahkan ada yang mengganjal dari bawah sana.


"Kak Dion, kamu kenapa?" tanya Maura bingung.


"Ti, tidak ada," sahut Dion terbata-bata, dia pun mengusap wajahnya kasar sambil menelan ludahnya kembali.


Maura saat itu tidak menyadari apa-apa, dia pun berjalan ke arah meja rias dan mengacuhkan sang suami begitu saja. Sementara Dion, dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi saat menyadari Meriam Belanda nya ingin berperang.


"Ya Tuhan, apa yang aku pikirkan?" gumam Dion, dia pun membuka pakaiannya dan berendam di dalam bathtup untuk menjinakkan senjatanya.

__ADS_1


Sementara di luar, Maura baru saja duduk di depan cermin dan melotot kan matanya seketika. Alangkah malunya dia saat itu, hingga dia pun dengan cepat mengaitkan kancing kemejanya kembali.


"Ya Tuhan, apa ini yang membuat Kak Dion menatapku seperti tadi?" gumam Maura dengan wajah merah merona menahan malu.


Sudah cukup lama Dion berada di dalam kamar mandi, tapi belum ada tanda-tanda dia akan keluar. Membuat Maura bingung hingga menautkan sepasang alisnya.


"Ayo, jangan membangkang. Cepat tidur!" gumam Dion yang masih sibuk menjinakkan senjatanya.


Dion benar-benar kesal, bagaimana mungkin hanya dengan menatap dada sang istri saja, Meriam itu langsung bereaksi. Apakah karena tubuh sang istri yang menggoda, ataukah senjatanya yang terlalu sensitif? Dia pun mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


Hampir satu jam Dion berada di dalam kamar mandi, namun akhirnya dia keluar juga meskipun wajahnya tampak kusut. Berendam terlalu lama, membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Mau bagaimana lagi, tak mungkin dia melepaskannya pada sang istri.


Usai mengenakan pakaiannya, Dion mengajak Maura turun untuk sarapan. Dia pun menggenggam tangan sang istri dan melenggang bersamaan menuju meja makan.


"Selamat pagi Tuan, pagi Nyonya." sapa Ela yang saat itu sedang menyiapkan sarapan di atas meja.


"Pagi," sahut Maura, dia pun mengukir senyum di wajahnya.


Usai sarapan, Maura memutuskan untuk tetap di lantai bawah. Dia mulai merasa jenuh di dalam kamar dan ingin menikmati udara pagi sambil melihat-lihat pemandangan di sekitar rumah sang suami.


Sementara Dion, dia kembali ke kamar dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor karena ada urusan yang harus dia selesaikan. Meskipun sebenarnya dia ingin sekali Maura melayani keperluannya, tapi dia belajar untuk ikhlas menerima keadaan sang istri yang belum siap menerimanya.


Sekitar pukul 9 pagi, Dion turun dari kamar dengan tampilan yang sudah rapi. Matanya menggelinding menyisir setiap sudut ruangan mencari keberadaan sang istri yang tak tau entah dimana.


"Nisa, apa kau melihat istriku?" tanya Dion saat berpapasan dengan pelayan cantik itu.


"Nyonya Maura di taman samping Tuan." sahut Nisa sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah pintu samping.


Setelah mengetahui keberadaan Maura, Dion pun segera menyusul dan mendapati sang istri tengah berjalan-jalan di taman menikmati keindahan. Dia pun mendekat dan memeluk tubuh sang istri dari belakang.

__ADS_1


"Kak Dion, apa yang kamu lakukan? Cepat lepaskan aku!" ketus Maura, tangannya pun mulai bergetar saking kagetnya mendapatkan pelukan dari sang suami yang begitu tiba-tiba.


"Sssttt, jangan berisik. Biarkan aku memelukmu sebentar!" bisik Dion tepat di daun telinga Maura.


"Tapi Kak, kita saat ini di luar. Aku malu dilihat orang." balas Maura gelagapan.


"Oh, jadi kalau di kamar boleh?" goda Dion, dia pun menenggelamkan wajahnya di tengkuk sang istri.


"Bukan, maksudku bukan begitu." balas Maura yang mulai kelimpungan menjawab pertanyaan sang suami.


Dion melangkah sedikit maju, kini posisinya sudah berada di depan Maura. Dia pun mengukir senyum di wajahnya sambil menatap lekat wajah sang istri.


"Aku ke kantor dulu ya, kamu baik-baik di rumah. Kalau butuh sesuatu minta tolong saja sama Ela atau Nisa!" ucap Dion.


Maura mengangguk pelan, dia pun mengerti maksud ucapan sang suami.


"Ya sudah, kalau begitu cium dulu dong!" pinta Dion sembari mengarahkan pipinya ke bibir mungil sang istri.


Maura melotot kan matanya, dia tak tau harus berbuat apa. Mana mungkin dia sanggup melakukan itu semua, apalagi di ruangan terbuka seperti itu.


"Kenapa diam saja?" tanya Dion yang mulai pegal menahan lehernya.


"Kak Dion pergi saja, jangan aneh-aneh!" ketus Maura sembari mendorong pipi Dion dengan tangannya.


Seketika Dion pun terkekeh, dia tau istrinya tak kan mau melakukan itu. Tapi setidaknya dia merasa senang melihat wajah sang istri yang memerah menahan malu.


"Kalau dibalik bagaimana?" tanya Dion yang yang tak henti-hentinya menggoda Maura.


"Apa maksud Kak Dion?" tanya balik Maura, dia benar-benar tak mengerti maksud ucapan suaminya.

__ADS_1


Tanpa menunggu lagi, Dion kemudian melayangkan sebuah kecupan hangat di pipi istrinya. Hal itu membuat Maura seketika membatu, hening tak bergerak, bahkan jantungnya pun rasanya berhenti berdetak untuk sesaat.


"Sudah jangan bengong, itu hanya permulaan. Setelah ini, mungkin akan sedikit berbeda. Bersiaplah!" goda Dion yang kembali membuat wajah Maura memerah.


__ADS_2