Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 72.


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan sudah berganti bulan.


Kerja sama antara Star Group dengan perusahaan Adila berjalan lancar. Produk mereka mampu menembus pasar nasional hingga internasional. Pesanan demi pesanan membludak, smartphone pintar keluaran terbaru itu menjadi incaran para pebisnis. Termasuk masyarakat luas.


Malam ini Dira dan Miko mengadakan perjamuan penting bersama koleganya. Selain untuk mempererat tali silaturahmi, Dira juga ingin mengapresiasi kerja keras para pekerjanya.


Perjamuan yang diadakan di sebuah hotel berbintang itu dihadiri oleh banyaknya pebisnis muda nan handal dan kompeten.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maura, Dira dan Miko sudah berada di function room. Sementara Diona sedang tidur di kamar hotel bersama Tuti.


Mereka datang bersamaan, Dira dan Miko sengaja menjemput Maura ke rumahnya. Kedua adik angkat Dion itu ingin menghabiskan waktunya lebih banyak bersama Diona.


Akhir-akhir ini keduanya agak sedikit sibuk, jadi sudah lama tak bertemu dengan keponakan kesayangan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu persatu kolega dan karyawan Star Group sudah mulai berdatangan dan mengambil tempat duduk. Miko menyambut kedatangan mereka dengan sangat antusias.


Setelah semua berkumpul, Maura mulai membuka acara dan memberi kata sambutan. Sebagai istri sah dari Dion yang merupakan pemilik tunggal dari Star Group, dia yang lebih berhak menggantikan suaminya.


Usai memberikan kata sambutan, Maura kembali bergabung bersama Miko dan Dira. Acara dilanjutkan dengan perjamuan makan malam, kemudian memberikan apresiasi dan penghargaan kepada para pekerja.


Tidak lama, Adila datang dan menghampiri rekan kerjanya yang tak lain adalah Miko dan Dira.


Saat wanita itu mendekat, Maura terlonjak kaget. Matanya melotot tajam mengingat sesuatu. Ya, wanita itulah yang dilihatnya tempo hari pada rekaman CCTV yang diambilnya dari sebuah mall.


"Malam Miko, Dira. Maaf sedikit terlambat," ucap Adila sembari tersenyum sumringah, lalu mengulurkan tangannya.


"Tidak apa-apa Bu, acara juga baru dimulai." jawab Dira.


Setelah berjabat tangan dengan Dira dan Miko, Adila pun duduk diantara keduanya.


"Kenalkan Bu, ini Kakak saya. Pemilik dari Star Group," ucap Miko memperkenalkan Maura kepada Adila.

__ADS_1


"Wow, jadi anda pemilik Star Group. Tak disangka, masih muda dan cantik. Selamat ya, kenalkan saya Adila." Adila mengulurkan tangannya.


"Maura," jawab Maura singkat, lalu menjabat tangan Adila.


Maura tak bisa mengendalikan dirinya, melihat wajah wanita itu mengingatkannya kembali dengan sosok Dion.


"Ibu sendirian saja, mana suaminya?" tanya Miko.


"Ada di luar, lagi ke toilet. Sebentar lagi menyusul," jawab Adila.


Mendengar itu, Maura pun semakin gelisah. Apa benar suami wanita itu adalah Dion, ataukah hanya kebetulan saja wajah mereka mirip.


"Maaf saya tinggal dulu ya. Miko, Dira, Kakak ke toilet sebentar ya!"


Maura bangkit dari duduknya, kemudian meninggalkan meja dan berjalan menuju toilet.


Dengan langkah kaki yang mulai goyah, dia terus saja berjalan menyusuri lorong menuju toilet. Wajahnya tampak gusar, sepasang tangannya saling meremas saking inginnya bertemu pria itu.


Sesampainya di belakang, Maura berdiri tak jauh dari pintu toilet pria. Dia berjalan mondar mandir menunggu pria itu keluar dari dalam sana. Berharap keajaiban itu memang ada, berharap suami tercintanya masih bernafas hingga detik ini.


Andra keluar dari dalam sana. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, air mata Maura mengalir begitu saja. Dia tergugu tanpa kata, dadanya sesak melihat Dion di depan matanya. Aliran darahnya berpacu dengan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang.


Tidak hanya mirip, tapi sama persis. Dari wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya, bahkan tubuhnya sekalipun. Hal itu membuat Maura tak sanggup lagi menahan dirinya.


Dengan air mata yang terus berjatuhan, Maura berlari menghampiri Andra. Dipeluknya tubuh kekar itu dengan erat, wajahnya tenggelam di dada pria itu. Tangisannya pecah memenuhi lorong tersebut.


"Kak Dion, hiks, hiks," Maura terisak melepaskan kerinduannya yang begitu dalam. Aroma tubuh Andra membuatnya sangat yakin kalau itu benar-benar suaminya.


"Aku merindukanmu sayang, sangat merindukanmu." isak Maura menikmati aroma tubuh Dion yang selalu menjadi candu baginya.


Puas menikmati aroma tubuh Dion, Maura melepaskan pelukannya. Ditariknya kerah Andra, kemudian dipukulkannya kepalanya di dada pria itu.


"Sayang, kenapa meninggalkan aku sendirian? Kenapa tak kembali padaku? Kenapa menyakiti aku seperti ini? Kenapa? Apa salahku padamu? Kenapa tidak membunuhku saja?"


Maura meraung sejadi-jadinya sembari melontarkan pertanyaan bertubi-tubi. Membuat Andra bingung dan menautkan alisnya.

__ADS_1


"Maaf Nona, anda siapa?" tanya Andra.


"Seeer"


Bak dipecut seribu cambukan, tulang Maura remuk mendengar itu. Bagaimana mungkin Dion tak mengenali dirinya, istri yang sangat dicintainya melebihi apapun di dunia ini.


Maura menyeka wajahnya dengan kasar, lalu menyentuh pipi Andra dengan lembut.


"Sayang, aku Maura. Aku istrimu, satu-satunya wanita yang sangat kamu cintai. Apa kamu tidak mengingatku?" lirih Maura terisak.


Andra menatap wajah Maura dengan intim, dia merasakan sesuatu di hatinya saat memandangi wajah itu. Wajah yang tidak asing di matanya, tapi dia sama sekali tak bisa mengingat apa-apa.


"Sayang, aku istrimu. Wanita yang kamu curi dari David, bahkan kamu menghancurkan keluarganya saat itu." jelas Maura, Andra menggelengkan kepalanya.


"Kamu ingat kan pertemuan kita di bar pertama kali. Aku jijik karena melihatmu mencium wanita lain di tempat umum." Dion lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana saat di desa, kamu ingat kan? Waktu di aia terjun, di kebun Nek Ida, kamu menangkap kupu-kupu untukku." Maura berusaha keras mengingatkan Andra akan kenangan mereka, sayangnya pria itu terus saja menggelengkan kepalanya.


"Kak Dion, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu tidak mengingatku? Aku benar-benar istrimu."


Hati Maura hancur berkeping-keping, dadanya semakin sesak. Untuk pertama kalinya dia mencintai seorang pria, tapi pria itu malah melupakannya begitu saja.


Maura terduduk lesu di lantai, air matanya sudah tak bisa dibendung lagi. Sesakit-sakitnya dia saat mengetahui kematian Dion, lebih sakit lagi saat Dion tak mengenali dirinya seperti saat ini.


Andra menekuk kakinya, dia duduk di hadapan Maura dan memberanikan diri menyeka air mata wanita itu.


"Maafkan aku, jangan menangis lagi! Untuk saat ini, aku memang tidak tau siapa kamu. Aku bahkan tak mengenali diriku sendiri. Aku sedang berusaha memulihkan ingatanku." jelas Andra, dengan tatapan yang sulit diartikan.


Mendengar itu, Maura mendongakkan kepalanya. Dia sangat yakin kalau pria itu adalah suaminya.


Maura meraih tasnya yang tergeletak di lantai, kemudian mengeluarkan ponselnya. Sembari terisak dia bergegas membuka galeri ponselnya, memperlihatkan semua foto kenangan mereka saat bersama.


Andra menautkan alisnya, dia kaget saat mendapati banyaknya foto mereka di dalam sana. Kecurigaannya terhadap Adila semakin kuat, wanita itu bahkan tak memiliki foto mereka sama sekali.


"Bisakah kita berbicara di tempat lain? Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu." pinta Andra.

__ADS_1


Maura menganggukkan kepalanya, kemudian memasukkan ponselnya ke dalam tas. Andra membantunya berdiri, keduanya melangkah meninggalkan tempat itu.


__ADS_2