Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 56.


__ADS_3

Tak terasa sudah 1 jam mereka berempat duduk di sana. Dion kemudian mengajak Miko ke ruangan billiard mengisi waktu mereka.


Karena ruangan yang ada di lantai satu penuh, mereka akhirnya naik ke lantai dua, di sana ada ruang billiard pribadi milik Dion.


Terakhir kali Dion menginjakkan kaki di sana saat Diki masih bekerja dengannya. Dua bulan lalu Diki minta cuti karena harus mengurus ibunya yang tengah sakit di kampung.


Maura dan Dira ikut menemani, keduanya sangat antusias. Maura tentu saja mendukung suaminya, mau tidak mau Dira terpaksa mendukung Miko.


"Ayo sayang! Kamu pasti menang." ucap Maura.


"Jangan terlalu berharap Kak!" jawab Miko, dia tentu saja tak ingin kalah dengan kakaknya itu.


"Kita lihat saja nanti." tambah Dion, dia tersenyum miring.


"Ayo Miko! Kamu pasti bisa." sambung Dira menyemangati Miko.


Kini Dion dan Miko sudah memegang stik di tangan masing-masing. Saat Dion menyodok bola pertamanya, Maura tak henti-hentinya menyuarakan dukungannya. Dia sangat yakin Dion bisa memenangkan permainan. Begitupun dengan Dira, dia tampak bersemangat mendukung Miko.


Setelah bola terakhir berguling ke dalam lobang, Maura harus menelan kekecewaan karena Miko lah yang jadi pemenangnya. Hal itu membuat Dira meloncat kegirangan sembari berteriak kecil.


"Yuhu, kamu memang yang terbaik Miko." sanjung Dira, hal itu membuat Miko jadi salah tingkah.


"Jangan senang dulu! Ini baru ronde pertama." ucap Dion.


"Tidak usah dilanjutkan! Malu-maluin aja." geram Maura dengan wajah cemberut nya.


"Sayang, ini hanya permainan. Kenapa jadi cemberut gini?" tanya Dion, dia meraih tangan Maura dan membawanya ke dalam dekapannya.


"Ehemm, tolong dikondisikan ya! Hargai perasaan para jomblo yang ada di sini!"


Miko berdeham, membuat wajah Maura memerah menahan malu. Dia mendorong dada Dion lalu mencubit lengan suaminya geram.


"Aduh, sakit sayang. Kenapa mencubit ku?" rintih Dion menahan sakit.


Melihat wajah Dion yang begitu, Maura terkekeh. Tak terkecuali dengan Dira dan juga Miko, keduanya ikut terkekeh memecah kesunyian di dalam ruangan itu. Dion akhirnya tersenyum dan mengacak rambut istrinya gemas.


"Ayo ikut aku!" ajak Dion, dia menggenggam tangan Maura dan menariknya menuju pintu.


"Hei, kalian mau kemana? Kenapa meninggalkan kami di sini?" teriak Miko.

__ADS_1


"Anak kecil tidak perlu tau! Jaga Dira sebentar, jangan macam-macam dengannya!" ucap Dion, kemudian menghilang dari pandangan keduanya.


Kini Dira dan Miko tinggal berdua saja di ruangan itu, keduanya tampak canggung sebab belum terlalu mengenal satu sama lain.


"A, aku...," Dira terbata-bata.


"Kamu mau di sini atau turun ke bawah?" tanya Miko gugup.


"Terserah saja, aku ikut!" jawab Dira, dia menghela nafas dan membuangnya pelan.


"Kalau begitu kita duduk di balkon depan saja ya. Ruangan ini tidak baik untuk kita, aku tidak ingin keberadaan kita berdua menimbulkan fitnah yang nantinya akan merugikan mu." ucap Miko.


Dira mengangguk pelan, dia mengerti maksud ucapan Miko. Keduanya berjalan meninggalkan ruangan itu dan duduk di sebuah sofa yang tak jauh dari pintu.


Di sana pemandangan terlihat begitu lepas, tampak cahaya lampu yang berkerlipan menerangi kegelapan malam, banyak mobil yang lalu lalang melintasi jalan raya.


"Sejak kapan kamu mengenal Kak Dion?" tanya Miko memulai percakapan.


"Lumayan lama, kamu sendiri?" tanya Dira balik.


"Aku sejak kecil bersamanya. Saat dia merantau ke sini, kami putus komunikasi beberapa tahun. Empat bulan lalu kita bertemu kembali di desa, lalu Kak Dion membawaku ke sini." jelas Miko.


"Iya," jawab Miko singkat.


Diwaktu yang bersamaan, Dion dan Maura juga duduk di balkon menikmati suasana malam. Namun keduanya berada di lantai tiga, di sana ada kamar pribadi milik Dion, di beranda kamar itulah mereka duduk saat ini.


"Kenapa membawaku ke sini?" tanya Maura yang kini sudah duduk di pangkuan Dion.


Dion mengeratkan pelukannya, wajahnya tenggelam di leher jenjang Maura sembari memainkan lidahnya. Dia begitu menikmati aroma tubuh istrinya yang wangi dan sangat menggoda.


"Kak Dion, apa yang kamu lakukan? Jangan begini!" gumam Maura, tubuhnya bergetar menahan geli yang menggelitik di lehernya.


"Malam ini kita menginap di sini ya!" ucap Dion, tarikan nafasnya terdengar berat.


"Kenapa menginap di sini? Lalu bagaimana dengan Dira?" tanya Maura heran.


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Dira! Aku akan menyuruh Miko mengantarnya pulang, biar Miko nginap di rumah saja malam ini. Aku ingin menghabiskan waktuku bersamamu, berdua saja." jelas Dion.


Dion merogoh kantong celananya, dia mengeluarkan ponsel dan segera menghubungi Miko.

__ADS_1


Miko yang masih duduk bersama Dira terkejut saat ponselnya bergetar di dalam saku celananya.


"Ada apa Kak?" jawab Miko setelah panggilan mereka tersambung.


"Kalian dimana?" tanya Dion dari atas sana.


"Kami di balkon, ada apa?" jawab Miko dengan pertanyaan pula.


"Malam ini aku dan kakakmu tidak pulang, kami nginap di sini. Tolong antar Dira dan tidur saja di rumah. Tapi jangan macam-macam dengannya, awas kalau kamu sampai menyakitinya. Jangan harap aku akan memaafkan mu!" ucap Dion.


"Yaelah Kak, mana mungkin aku menyakitinya. Aku bukan pria brengsek sepertimu, hahaha." jawab Miko terkekeh.


Mendengar itu, Dion langsung mematikan sambungan teleponnya. Tatapan matanya berubah bak singa kelaparan. Berani sekali anak itu mengatai dirinya brengsek. Kalau saja tidak ada Maura di pangkuannya, mungkin dia sudah turun dan melempar pria itu dari balkon.


"Ada apa sayang?" tanya Maura manja.


"Tidak ada, aku sedikit kesal. Beraninya dia mengatai aku brengsek." jawab Dion.


"Hahahaha, kenapa harus marah? Apa kamu merasa kalau dirimu brengsek?" tanya Maura terkekeh.


"Cukup sayang, jangan membuatku semakin marah!" balas Dion.


"Loh, kenapa jadi melampiaskan amarahmu padaku?" tanya Maura bingung.


"Tidak sayang, aku tidak marah padamu." jawab Dion, kemudian mengecup bibir Maura dengan lembut.


Maura membalas kecupan Dion dengan luma-tan, hal itu membuat Dion terpancing. Dia membalas luma-tan itu dan memasuki rongga mulut Maura, keduanya saling membelit lidah.


Kerakusan Dion membuat Maura sesak dan segera melepaskan hisapan nya. Dia tersenyum, lalu membenamkan wajahnya di leher Dion.


Maura meniup leher suaminya, lalu mengecupnya dan menggigitnya gemas. Dia sengaja memancing gai-rah Dion dan membuat banyak tanda merah di sana.


Dion merinding mendapatkan sentuhan lembut dari bibir Maura, tongkat saktinya berdiri dalam sekejap mata, membuat dadanya sesak.


"Sayang, jangan menggodaku seperti ini!" Suara Dion terdengar berat.


Maura tak menghiraukan ucapan Dion, dia terus saja memainkan lidahnya menggelitik leher suaminya. Bahkan tangannya mulai bergerak menyentuh dada bidang Dion yang terlukis jelas di balik kaos putih yang dia kenakan.


Jemarinya bergerak memutar biji pepaya yang menyembul di dalam sana. Membuat Dion ngilu hingga menjalar ke sekujur tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2