
Maura mengusap perutnya perlahan, dia masih belum percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Semua seperti mimpi yang datang begitu saja.
"Selamat ya Kak, aku turut bahagia." ucap Miko penuh haru.
"Miko, Dira, apa aku sedang bermimpi?" tanya Maura memastikan.
"Tidak Kak, ini nyata. Kakak akan menjadi seorang Ibu." Dira mengusap perut Maura lembut.
"Jika Kakak belum percaya, mari kita ke rumah sakit. Kata Dokter tadi, Kakak bisa memeriksakan diri lebih lanjut di sana." ajak Miko.
Maura tak sanggup lagi membendung air matanya, air mata kebahagiaan yang tidak ada tandingannya. Dia berucap syukur berulang kali dengan derai air mata yang terus berjatuhan membasahi wajah cantiknya.
"Apa kalian sudah memberitahukan ini pada Kak Dion?" tanya Maura.
"Belum, apa kita harus meneleponnya sekarang?" tanya Miko balik.
"Tidak perlu, nanti saja setelah semuanya pasti. Aku ingin memberikan kejutan pada Kakak kalian itu." larang Maura.
"Ide yang bagus," tambah Dira.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Bandung, Dion tengah mengadakan rapat dadakan dengan staf inti di kantor. Sesuai pengakuan Bima, perusahaan mereka membayar sesuai harga pasar kepada distributor.
Namun entah dimana salahnya, distributor malah mengirim barang yang memiliki kualitas rendah, tidak sama dengan barang yang dikirim sebelumnya.
"Siapa yang bertanggung jawab untuk semua ini?" tanya Dion menginterogasi semua staf intinya.
"Saya Tuan," jawab seorang pria.
"Bawa rinciannya padaku!" pinta Dion dengan tatapan menyelidik.
Pria itu memberikan sebuah dokumen penting kepada Dion, raut wajahnya tampak gelisah seperti menyembunyikan sesuatu. Dion bisa membaca bahasa tubuhnya dengan gampang.
"Yang lain keluarlah! Bima, Samuel, kalian tetap di sini!" perintah Dion.
Kini di ruangan itu hanya tersisa mereka berempat, Dion meminta Bima mencocokkan data yang tertulis di dalam dokumen tersebut dengan data yang dipegang oleh Bima.
Setengah jam berlalu, Bima menguraikan kecocokan data tersebut. Ada banyak kejanggalan yang dia temukan di sana.
Sebelumnya Bima sudah pernah melakukan hal yang sama, namun hasilnya juga sama. Bima semakin bingung, sepertinya ada yang tengah mempermainkan dirinya dan perusahaan.
__ADS_1
"Kalian keluarlah, tinggalkan kami berdua!" perintah Dion, tatapannya sudah tak bisa ditebak lagi.
Setelah Samuel dan Bima keluar, Dion menatap pria itu tajam. Tangannya mengepal erat dengan rahang mengerat kuat. Pria itu hanya bisa menundukkan pandangannya, kakinya mulai bergetar ketakutan.
"Katakan apa yang ingin kau katakan!" ucap Dion sembari tersenyum miring.
"Ma, maaf Tuan." Pria itu semakin gugup.
"Braaakk,"
Dion memukul meja sekuat tenaganya, benda yang ada di atas sana berserakan sebab mendapatkan guncangan yang cukup keras.
"Aku tidak ingin mendengar kata maaf dari mulutmu itu!" bentak Dion meninggikan suaranya.
Pria itu semakin bergetar ketakutan, dia sadar perbuatannya salah. Namun apa lagi yang bisa dia lakukan, keadaan mengharuskannya memilih jalan itu.
Dengan tubuh yang bergetar hebat, pria itu terpaksa mengakui kesalahannya. Seseorang memintanya melakukan itu, dia tak bisa menolaknya.
Orang itu menjanjikan imbalan yang cukup besar, dia membutuhkannya untuk pengobatan istrinya yang tengah terbaring di rumah sakit.
"Sebenarnya kerugian sebesar ini tidak menjadi masalah untukku, tapi kejujuran mu sebagai seorang pekerja harus dipertanyakan. Apa layak kau melakukan ini pada perusahaan yang sudah menjamin hidupmu?" ucap Dion, meskipun marah dia juga mengerti keadaan pria itu.
Dion bangkit dari duduknya, kemudian meninggalkan pria itu sendirian. Dia harus membereskan seseorang yang sudah diketahuinya sebagai dalang dibalik semua ini. Informasi dari pria itu sudah cukup menjadi acuan untuknya.
Di ruangan lain, Dion meminta Bima mengembalikan semua perangkat lunak yang dikirim distributor tempo hari dan menggantinya sesuai barang yang dibutuhkan. Dia juga sudah menghubungi penanggung jawab dari distributor tersebut.
Satu masalah sudah selesai, kini tinggal menyelesaikan masalah satunya. Setelah mencari informasi dari berbagai sumber, Dion memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
Sore itu juga, Dion meninggalkan perusahaan dan berpamitan dengan Bima. Dia yakin Bima bisa meng-handle semuanya dengan baik.
Di dalam perjalanan pulang, Dion merebahkan tubuhnya pada sandaran jok. Dia ingin beristirahat untuk sejenak dan meminta Samuel berhati-hati mengendarai mobilnya.
Di tengah-tengah perjalanan, laju kendaraan mereka diganggu oleh sebuah mobil yang tampak ugal-ugalan di jalan. Samuel sudah berusaha mengalah, namun mobil itu terus saja memepet mobilnya.
Saat memasuki jalanan yang cukup sempit, mobil itu menyerempet buntut mobil yang dikendarai Samuel. Untung saja Samuel bisa mengendalikan stir mobilnya.
Dion terbangun saat merasakan guncangan yang cukup kuat hingga tubuhnya bergeser.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Dion, dia belum menyadari apa yang terjadi sebenarnya.
"Maaf Tuan, aku tidak sengaja. Mobil dibelakang sepertinya ingin mencelakai kita." ucap Samuel sembari melirik kaca spion yang ada di atas kepalanya.
__ADS_1
Dion membulatkan matanya lebar, dia menoleh ke belakang. Benar saja yang dikatakan Samuel, sebuah mobil jimny berwarna hitam terus saja memepet mobilnya.
"Siapa mereka?" tanya Dion dengan tatapan tak biasa.
"Aku tidak tau Tuan. Jika kita berhenti, takutnya mobil itu menabrak kita dengan sengaja. Di sini banyak jurang." tegas Samuel, dia mulai resah memikirkan keadaan jalan yang sangat rawan.
"Jalan saja terus, usahakan menjauh dari mobil itu!" perintah Dion.
"Baik Tuan," sahut Samuel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, Maura baru saja keluar dari ruangan Dokter kandungan. Dira ikut menemaninya masuk ke dalam, sementara Miko menunggu di luar.
Maura tak hentinya menebar senyum, dia sangat bahagia setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh. Foto hasil USG bayinya kini sudah ada di tangannya.
Menurut hasil pemeriksaan, usia kehamilan Maura sudah memasuki 7 minggu. Di usia kehamilan ini, Dokter menyarankannya untuk banyak beristirahat. Tidak boleh capek, apa lagi melakukan pekerjaan berat.
Kini Maura, Dira dan Miko tengah berada di dalam perjalanan pulang. Maura tak hentinya mengusap perutnya, dia sudah tidak sabar menunggu kepulangan Dion dan menyampaikan berita bahagia ini.
"Apa Kak Maura menginginkan sesuatu?" tanya Miko yang tengah fokus menyetir mobilnya, setahunya wanita hamil itu biasanya banyak kemauan.
"Tidak, aku hanya ingin bertemu Kak Dion. Aku sangat merindukannya." jawab Maura, dia hanya ingin bersama suaminya dalam keadaan seperti ini.
"Ya ampun Kak, baru juga satu malam." sambung Dira terkekeh, Miko juga ikut terkekeh mendengar itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, Samuel sudah tak bisa lagi mengendalikan stir mobilnya. Bahkan Dion sudah membantunya menahan stir. Namun naas, hantaman yang sangat keras dari arah belakang membuat mobilnya terguling berulang kali.
Saat pintu sebelah kanan terbuka, Samuel terpental dalam jarak cukup jauh. Tubuhnya terhempas di aspal, darah segar mengucur deras dari belakang kepalanya.
Sementara itu, kaki Dion terjepit di bawah jok yang sudah remuk, dia tak bisa keluar menyelamatkan diri. Darah di pelipis dahinya mulai mengalir begitu saja.
Saat berteriak meminta pertolongan, mobil jimny tadi mendorong mobilnya yang sudah tergantung di ujung jurang.
Dion hanya bisa pasrah, dia mengingat kembali kenangannya bersama Maura.
"Maafkan aku Maura, aku mencintaimu."
Mobil itu terjun bebas ke dalam jurang membawa tubuh Dion bersamanya.
__ADS_1