Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 36.


__ADS_3

Pukul 7 malam, Dion terbangun saat telinganya sayup-sayup mendengar suara bel dari arah pintu. Dia keluar dari selimut dan meraih celananya yang masih berserakan di atas lantai.


Setelah memasang celananya, Dion berjalan ke arah pintu dan membukanya sedikit saja. Dia tidak ingin orang lain melihat keadaan kasurnya yang masih berantakan, apalagi keadaan sang istri masih polos di dalam selimut.


"Malam Tuan, maaf mengganggu waktu istirahatnya. Ini makan malam sesuai pesanan anda tadi!" ucap seorang pelayan hotel yang berdiri di depan pintu.


"Baiklah, terima kasih. Biar aku saja yang membawanya ke dalam!" jawab Dion, dia pun memberi tips kepada pelayan tersebut.


Setelah pelayan itu berlalu dari hadapannya, Dion menutup pintu kamar dan mendorong troli berisi makanan tersebut ke dalam, lalu meletakkannya di samping sofa.


"Siapa yang datang?" tanya Maura yang masih nyaman bergulung di dalam selimut.


"Bukan siapa-siapa, hanya pelayan yang mengantarkan makanan untuk kita." jawab Dion.


Dia kemudian mendekati Maura dan duduk di sisi ranjang. Dia mengusap ujung kepala sang istri dengan sayang, lalu memberikan sebuah kecupan lembut di sana.


"Cukup tidurnya, ayo bangunlah! Nanti makanannya keburu dingin." ajak Dion.


Maura menggeliat dengan mata yang masih tertutup rapat. Saat ini, dia sangat enggan untuk bangun mengingat pinggangnya yang masih menyisakan rasa nyeri ulah keganasan suaminya sore tadi.


"Aku masih lelah, biarkan aku tidur sebentar lagi!" jawab Maura.


Dion menggulingkan senyumannya, jawaban sang istri membuatnya tersentuh. Dia sadar betul keadaan istrinya saat ini tidak sebaik sebelumnya.


"Bangunlah! Kamu tidak mau mandi bersamaku?" ajak Dion lagi.


"Tapi aku benar-benar lelah, pinggang ku rasanya sakit sekali." rengek Maura.

__ADS_1


"Aku tau, maka dari itu mandilah bersamaku! Berendam dengan air hangat bisa membantu mengurangi rasa sakit. Aku akan membantumu meregangkan kembali otot-otot pinggul mu yang masih kaku." bujuk Dion.


Mendengar itu, Maura pun membuka matanya perlahan. Dia menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan saran suaminya.


Setelah Maura bangkit dari pembaringannya, Dion pun membuka selimut yang masih setia menutupi tubuh istrinya. Dia kemudian mengangkat tubuh Maura dan membopong tubuh polos itu ke dalam kamar mandi.


Di dalam sana, Dion masuk ke dalam bathtub dan mendudukkan sang istri di hadapannya. Tangannya kemudian meraih kran dan menyalakan air hangat untuk mereka berendam.


Setelah air di dalam bathtub terisi penuh, Dion pun membantu Maura menggosok tubuhnya dari arah belakang. Pelan-pelan, tangannya mulai bergerak ke area pinggang istrinya dan mengurut nya dengan lembut. Hal itu membuat senyum Maura mengambang seketika di wajah cantiknya.


Setelah hampir setengah jam berendam, Dion pun membantu Maura membilas tubuhnya. Kini, Maura tak lagi canggung berhadapan dengan suaminya meski dalam keadaan polos sekalipun. Perlakuan Dion terhadap dirinya, perlahan membuatnya merasa nyaman meskipun dia tidak tau perasaan apa yang dia miliki untuk suaminya saat ini.


Usai membilas tubuhnya dan juga istrinya, Dion pun melingkarkan handuk di tubuh Maura. Dia kembali membopong tubuh istrinya keluar dari kamar mandi dan mendudukkannya di sisi ranjang. Dion bahkan tak keberatan sedikitpun membantu sang istri mengenakan pakaiannya.


"Cukup Kak Dion, aku bisa sendiri!" ucap Maura saat sang suami membantunya mengenakan pakaian.


Setelah keduanya selesai mengenakan pakaian, Dion kembali membopong tubuh Maura dan membawanya duduk di sofa. Sudah saatnya bagi mereka berdua mengisi kampung tengahnya setelah beberapa jam lalu menguras tenaga bersama.


Dion bahkan tak membiarkan Maura makan sendiri dengan tangannya, dia pun menyuapkan sang istri dengan penuh kesabaran. Lagi-lagi, Maura tersentuh mendapat perlakuan istimewa dari suaminya. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca menatap lekat wajah sang suami.


Setelah makan malam itu selesai, Dion membawa sang istri duduk di teras kamar. Maura duduk di samping Dion sembari menunggu suaminya menghabiskan sebatang rokok yang masih menyala di ujung bibirnya.


Tidak tega melihat sang istri menunggunya begitu lama, Dion pun mematikan rokoknya yang baru separuh terhisap. Kali ini sang istri lebih berharga baginya dari apapun jua.


Dion meraih tangan Maura dan membawanya duduk di pangkuannya. Kini mereka berdua tampak begitu intim. Dion melingkarkan tangannya di pinggang Maura, sementara Maura melingkarkan tangannya di leher Dion. Tatapan mereka saling bertemu hingga keduanya saling melempar senyum di wajah masing-masing.


"Tetaplah seperti ini selama nafasku masih berhembus!" pinta Dion lirih, dia pun menenggelamkan wajahnya di dada Maura menahan kekhawatirannya yang takut kehilangan sang istri.

__ADS_1


"Sssttt, apa yang Kak Dion katakan?" jawab Maura, dia pun mengernyitkan keningnya sembari mengusap kepala suaminya dengan lembut.


Seketika, air mata Dion jatuh membasahi belahan dada Maura. Dia kembali teringat akan ibunya yang sudah tiada. Bagaimana perjuangan sang ibu menahan luka setelah kepergian ayahnya yang tak kunjung kembali ke sisinya.


Bahkan disaat terakhir pun, sang ibu masih mengharapkan kedatangan suaminya. Hal itu menorehkan luka yang begitu dalam di hati Dion hingga saat ini.


Pelajaran itulah yang dia ambil dalam hidupnya, dia tak ingin menyia-nyiakan wanita yang sangat dia cintai. Begitupun sebaliknya, dia ingin Maura melakukan hal yang sama kepada dirinya.


"Kak Dion kenapa, apa yang terjadi?" tanya Maura khawatir.


"Aku mencintaimu Maura, berjanjilah padaku. Apapun yang terjadi, kamu tidak boleh meninggalkan aku sendiri. Hanya kamu yang aku punya di dunia ini, aku tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu." pinta Dion lirih, dia mendongak dan menatap lekat wajah istrinya penuh harap.


"Cukup Kak Dion, apa yang kamu katakan? Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu setelah semua yang terjadi diantara kita sore ini?" ketus Maura, dia merasa kesal mendengar pernyataan Dion yang tidak masuk akal.


Mendengar itu, Dion pun tersenyum pelit tidak seperti biasanya, lalu menarik kepala istrinya hingga bibir mereka saling menempel satu sama lain.


Dengan cepat dia mengulum bibir Maura dan melu-matnya sampai habis. Kali ini dia sangat enggan melepaskan tautan bibirnya yang sudah menyatu, lidah mereka pun sudah saling menabrak satu sama lain. Bahkan Maura sudah sesak karena Dion tak memberinya celah untuk mencuri nafas.


Entah apa yang dipikirkan oleh Dion saat ini, dia pun melayangkan tangannya mengobrak-abrik kacamata pelindung yang dikenakan istrinya hingga kaitan besi kecil itupun terlepas seketika.


Dia kembali melahap habis sepasang roti O milik istrinya dengan rakus. Kedua tangannya tak berhenti meremas benda kenyal itu dan menjilati biji kismis yang menempel di ujung sana, sesekali dia pun menggigit benda kecil itu gemas. Sepertinya tubuh Maura sudah meracuni otaknya, racun yang membuatnya ingin lagi dan lagi tanpa bosan sedikitpun.


"Cukup Kak Dion, aku tidak sanggup lagi!" tahan Maura, dia pun mendorong kepala suaminya yang masih tenggelam di dadanya.


Seketika, Dion pun terkekeh mendengar pengakuan istrinya. Dia menutup kembali sepasang benda kenyal itu dan melabuhkan ciuman hangat di bibir sang istri.


"Hahahaha, aku pikir kamu masih sanggup." ledek Dion yang membuat Maura memanyunkan bibirnya kesal.

__ADS_1


Dion pun menggoda Maura dengan berbagai macam candaan yang membuat sang istri kembali tersenyum. Malam itu mereka habiskan bersenda gurau bersama tanpa beban sedikitpun. Bahkan Maura sampai terkekeh berulang-ulang kali karena tak sanggup menahan geli yang menggelitik di perutnya ulah kekonyolan sang suami.


__ADS_2