Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 51.


__ADS_3

Usai mandi dan mengenakan pakaiannya, Dion menghampiri Maura yang tengah duduk di sofa. Dia menatap lekat wajah istrinya yang kini sudah sangat dekat dengan dirinya.


"Hari ini aku mau ke kantor bersama Dira, kamu tidak marah kan?" tanya Dion sembari menekuk kakinya, kini lututnya bertumpu pada lantai dengan tangan yang melingkar di pinggang Maura.


"Tidak, untuk apa aku marah?" jawab Maura dengan pertanyaan pula, dia meletakkan tangannya di kepala Dion.


Dion menempelkan pipinya diantara kedua paha Maura. Dia takut Maura salah paham lagi terhadap dirinya.


"Aku tidak ingin kamu salah paham lagi, makanya aku minta izin terlebih dahulu. Rencananya Dira akan bekerja bersamaku. Kalau dia bisa, aku tidak perlu lagi sering-sering datang ke kantor. Dia bisa menggantikan posisiku dalam segala hal." ucap Dion menjelaskan maksudnya.


Maura mengukir senyum di wajahnya sembari mengusap kepala Dion dengan sayang. Dia sangat mengerti maksud ucapan suaminya.


"Terserah kamu saja! Aku akan mendukung jika itu yang terbaik untukmu." jawab Maura, dia tidak pernah menuntut apa-apa kepada Dion.


Dion merasa bahagia memiliki istri yang pengertian seperti Maura. Dia bangkit dan mengecup bibir Maura dengan sedikit ******* yang membuat Maura tersenyum sumringah.


"Lama-lama bibirku bisa habis karena ulah mu." canda Maura, kemudian terkekeh dengan sendirinya.


Melihat tawa yang begitu lepas di wajah Maura, Dion merasa lega hingga dia pun membawa Maura ke dalam dekapannya.


"Terima kasih sudah menerimaku dengan segala kekuranganku. Aku janji, setelah ini kita akan terus bersama setiap waktu." ucap Dion, dia mengecup ujung kepala Maura dengan sayang.


Setelah pelukan hangat mereka terlepas, keduanya saling berpegangan tangan dan melangkah meninggalkan kamar.


Setibanya di meja makan, Dira ternyata sudah duduk di sana. Dia tersenyum melihat kedatangan kedua kakaknya yang tampak begitu mesra.


"Pagi Kak Dion," sapa Dira dengan senyuman manisnya.


"Pagi Dira, tumben sudah keluar kamar jam segini. Ada angin apa?" jawab Dion dengan pertanyaan pula.


"Tidak ada. Tadi aku mendengar keributan dari arah dapur, aku penasaran lalu keluar. Eh ternyata itu suaranya Kak Maura yang lagi bercanda dengan Ela dan Nisa." sahut Dira menjelaskan.


"Oh, jadi kalian sudah bertemu pagi ini?" tanya Dion.

__ADS_1


"Sudah dong, aku tadi ikut bantuin Kak Maura menyiapkan makanan. Ternyata istri Kak Dion ini tidak hanya cantik, tapi juga cekatan loh. Kak Dion benar-benar beruntung punya istri seperti Kak Maura." sanjung Dira yang membuat Maura tersipu malu.


"Cukup Dira! Jangan memuji berlebihan seperti itu! Aku ini masih dalam tahap belajar." sambung Maura dengan wajah sedikit memerah.


"Hahahaha, kau benar sekali. Aku laki-laki paling beruntung memiliki istri seperti Kakakmu ini. Jika saja aku bertemu dengannya lebih awal, mungkin hari ini kami sudah memiliki banyak anak yang sangat lucu." tambah Dion yang membuat wajah Maura semakin memerah.


"Apaan sih, kok jadi bahas anak?" sambung Maura sembari mencubit perut Dion.


"Au, sakit sayang. Kalau mau mencubit ku, nanti saja di kamar. Sekarang kita makan dulu, aku sudah lapar." ucap Dion mengalihkan pembicaraan.


Kini suasana di ruang makan kembali hening, ketiganya asik menikmati makanan yang ada di piring masing-masing tanpa bersuara.


Usai sarapan, Dira meninggalkan meja makan terlebih dahulu. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di kantor Dion, dia ingin mempersiapkan diri lebih awal.


Setelah Dira menghilang dari pandangan Maura dan Dion. Keduanya juga berlalu meninggalkan meja makan.


Maura membantu suaminya mengenakan pakaian kantor, kemudian mengikatkan dasi di kerah kemeja Dion dengan telaten.


Dion terlihat sangat tampan dan rapi dengan setelan jas berwarna coklat muda yang dia kenakan. Sebelum berangkat, dia membawa Maura duduk di pangkuannya.


"Ucapan yang mana?" jawab Maura dengan pertanyaan pula.


Dion menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Entah Maura benar-benar lupa, atau dia sengaja melupakannya. Hal itu membuat Dion merasa sedikit kecewa.


"Itu yang tadi, sebelum kamu mencubit ku." jelas Dion mengingatkan istrinya.


Maura memperbaiki posisi duduknya. Tubuhnya bertumpu pada paha Dion dengan tangan yang melingkar di leher suaminya.


"Oh itu, aku ingat. Memangnya kamu ingin memiliki baby secepat ini?" tanya Maura sembari memainkan bulu yang berserakan di wajah suaminya.


"Apa salahnya? Lebih cepat lebih baik. Memangnya kamu tidak ingin punya baby dariku?" jawab Dion menautkan sepasang alisnya.


"Kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja aku ingin." sahut Maura.

__ADS_1


"Kalau begitu kita harus sering-sering melakukannya, biar prosesnya semakin cepat dan aku bisa menjadi seorang ayah."


"Yeay, itu mah enak di kamu aja." sahut Maura.


"Kok gitu, emangnya selama ini kamu tidak enak. Apa servis ku masih kurang? Aku bisa melakukan hal yang lebih gila lagi kalau kamu mau." ucap Dion.


"Gak perlu, seperti biasa saja aku sudah kewalahan. Masih mau cara lain lagi, tidak, tidak, aku tidak mau." ketus Maura.


"Loh, tadi katanya enak di aku aja. Kalau kamu tidak enak katakan saja! Malam ini aku akan membuatmu merasakan apa itu yang namanya enak."


"Enak sayang, siapa bilang tidak enak? Sudah cukup seperti itu saja, jangan aneh-aneh!" ucap Maura.


"Nah, gitu dong. Kalau bicaranya jelas, aku bisa mencernanya dengan baik. Tapi aku ingin mencoba berbagai macam posisi. Kata orang-orang, kepuasan di ranjang adalah salah satu cara terbaik untuk mempererat ikatan pernikahan, juga membuat rumah tangga harmonis."


"Kamu tau tidak, kebanyakan pasangan yang berselingkuh itu karena hubungan ranjang mereka tidak hangat. Tidak bisa memuaskan satu sama lain. Aku tidak ingin seperti itu, cukup kamu saja. Yang penting kamu bisa memuaskan keinginan suamimu." ucap Dion panjang lebar.


"Oh, jadi kalau kamu tidak puas, kamu mau selingkuh dariku. Begitu maksudmu?" ketus Maura.


"Tidak sayang, bukan begitu. Kamu kebiasaan deh, belum apa-apa sudah berprasangka buruk terlebih dahulu."


"Cukup ibuku saja yang menderita karena keegoisan seorang laki-laki. Aku sangat membenci ayahku karena tak setia pada ibuku. Lalu bagaimana mungkin aku memiliki sifat seperti itu?" jelas Dion.


"Iya, iya, aku tau. Sudahlah! Kenapa jadi melebar kemana-mana sih?" Maura menautkan sepasang alisnya.


"Bukan melebar kemana-mana sayang, tapi ini semua fakta. Fakta yang membuatku belajar banyak dari pengalaman ibuku. Cukup ibuku saja yang menderita, aku tidak ingin wanita lain memiliki nasib yang sama seperti ibuku. Apalagi istriku sendiri, satu-satunya wanita yang aku cintai." ucap Dion, dia kemudian membawa Maura ke dalam dekapan dadanya.


Mendengar penjelasan dari mulut Dion, Maura terenyuh dengan mata berkaca-kaca. Dia melingkarkan tangannya di dada Dion dan memeluknya sangat erat.


Dia tau persis bagaimana perasaan suaminya saat ini. Dia pun pernah merasakan hal yang sama saat kehilangan ibunya di usia yang masih sangat muda.


"Cukup membahas hal menyedihkan seperti ini! Sudah saatnya kamu melupakan semuanya dan bahagia. Aku ingin melihatmu tersenyum setiap harinya bersamaku. Kita akan melalui semua ini berdua." ucap Maura.


"Jika kamu seperti ini terus, aku pasti bahagia. Tidak ada lagi yang aku harapkan selain ini. Aku ingin menjadi suami dan ayah yang baik untuk anak-anak kita kelak. Intinya, kamu harus percaya padaku. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan mu sepanjang sisa hidupku."

__ADS_1


Dion mengusap ujung kepala istrinya dan mengecupnya dengan sayang. Benar kata Maura, dia harus melupakan masa lalunya seiring berjalannya waktu. Sama seperti Maura yang kini sudah melupakan trauma masa lalunya.


Puas berbagi cerita dan kehangatan, Maura dan Dion bangkit dari duduknya. Dion harus ke kantor menyelesaikan pekerjaannya sekaligus mengajari Dira banyak hal.


__ADS_2