Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 45.


__ADS_3

Tepat pukul 7 malam, Doni sudah standby di meja makan. Dia mengerutkan keningnya mendapati meja yang masih kosong, sang anak dan menantu tak kunjung turun dari kamar mereka.


"Maura sama Dion kemana Bik, kenapa mereka tidak turun?" tanya Doni mencari tau.


"Mereka ada di atas Tuan, mungkin tertidur." jawab Bik Sam sedikit gugup.


Doni menatap wajah Bik Sam dengan intim, dia menangkap sesuatu yang mencurigakan di sana. Entah apa Doni tidak tau, bahkan semenjak tadi siang jantungnya berdegup kencang seakan terjadi sesuatu dengan putrinya.


"Rasanya sedikit aneh, apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Doni dengan tatapan yang tak biasa.


"Ma, maaf Tuan. Hanya pertengkaran kecil, nanti juga baikan." jawab Bik Sam jujur.


Mendengar itu, Doni pun menggangguk-anggukkan kepalanya. Baru tadi pagi dia melihat sang anak begitu bahagia bersama sang menantu, kini ada-ada saja yang membuat pikirannya terganggu.


Di atas sana, Maura dan Dion baru saja keluar dari kamar mandi. Keduanya saling melempar senyum meskipun wajah mereka masih sembab satu sama lain. Usai mengenakan pakaian, keduanya turun sembari bergandengan tangan.


"Malam Ayah," sapa keduanya bersamaan, kemudian duduk di bangku masing-masing.


Doni mengangguk pelan, dari raut wajah Maura dan Dion dia bisa merasakan ada yang tidak beres dengan keduanya. Namun dia mencoba menahan diri untuk tidak bertanya.


Usai makan malam, mereka bertiga duduk di ruang tengah sembari menonton televisi. Bik Sam juga sudah menyediakan cemilan beserta teh hangat di atas meja.


"Kenapa wajah kalian sembab begitu, apa kalian baru selesai nonton film India?" tanya Doni mencairkan suasana.


Mendengar itu, Dion dan Maura pun terkekeh. Hal itu membuat Doni menghela nafas panjang, kemudian membuangnya kasar. Namun tatapannya masih penasaran ingin tau apa yang terjadi sebenarnya.


"Kenapa tertawa? Dulu ayah juga begitu bersama Ibunya Maura. Kami selalu menangis sehabis nonton film India." ucap Doni, dia bermaksud memancing keduanya agar mau buka suara.


"Tidak Ayah, kami tidak nonton apa-apa. Tadi ada sedikit salah paham diantara kami, tapi semuanya sudah berlalu. Ayah tidak perlu khawatir, Dion janji tidak akan pernah menyakiti Maura." jawab Dion mengakui kebenarannya.


"Benar Maura?" tanya Doni kepada sang anak.


"Iya Ayah, yang dikatakan Kak Dion itu benar. Hanya salah paham sedikit." sahut Maura sembari menyatukan jari telunjuk dengan ibu jarinya.

__ADS_1


Melihat itu, mereka bertiga terkekeh bersamaan. Akhirnya Doni bisa bernafas lega melihat sang anak dan menantu baik-baik saja.


"Ya sudah, lanjutkan kebersamaan kalian. Ayah mau ke kamar dulu menyelesaikan sedikit pekerjaan yang tadi sempat tertunda." ucap Doni, dia pun berlalu meninggalkan ruang tengah.


Setelah Doni menghilang dari pandangan Maura dan Dion, keduanya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mereka.


"Aku mau ke bar sebentar, kamu tidak apa-apa kan aku tinggal?" tanya Dion sembari mengganti baju di tubuhnya.


Maura menekuk wajahnya sembari memanyunkan bibirnya, dia kemudian memeluk Dion dan membenamkan wajahnya di belahan ketiak suaminya.


"Aku ikut!" rengek Maura, dia tidak ingin jauh-jauh dari suaminya meskipun hanya sesaat.


"Yakin mau ikut, di sana banyak gadis cantik loh. Apa kamu kuat melihat suamimu di kelilingi gadis-gadis itu?" goda Dion.


Kesal mendengar candaan itu, Maura dengan cepat menautkan giginya di dada bidang sang suami. Dia menekannya kuat hingga Dion pun meringis menahan sakit yang berdenyut hingga ulu hatinya.


"Sakit sayang," rintih Dion.


"Maura sayang, apa kamu ingin membunuhku secara perlahan. Ini benar-benar sakit loh." ucap Dion, dia pun menghela nafas berat sembari menggeliat menahan dadanya yang mulai terasa panas.


Mendengar itu, Maura pun melepaskan tautan giginya. Dia berlalu dari hadapan Dion dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur, lalu memejamkan matanya perlahan.


"Katanya mau ikut, kenapa malah tidur?" tanya Dion, dia pun mendekat dan mengusap punggung istrinya dengan sayang.


"Pergi saja sendiri, bila perlu tidur saja di sana bersama para gadis itu!" ketus Maura.


Dion terkekeh mendengar ucapan istrinya, senang rasanya membuat sang istri cemburu seperti itu. Itu menandakan kalau Maura benar-benar mencintainya dan takut kehilangan dirinya.


"Sudah, jangan marah lagi! Aku hanya bercanda, mana mungkin aku tertarik dengan gadis lain. Istriku saja sudah lebih dari segalanya bagiku." ucap Dion, hal itu membuat Maura tersenyum bahagia.


Maura bangkit dan bergegas mengganti pakaiannya. Setelah keduanya siap, mereka turun dari kamar dan masuk ke dalam mobil.


Setibanya di bar, Miko melotot kan matanya menangkap kedatangan Dion dan Maura yang begitu tiba-tiba. Dia tampak bahagia dengan senyum yang mengambang di wajahnya.

__ADS_1


"Kak Dion, Kak Maura, kalian datang?" sapa Miko sangat antusias.


Miko menyalami keduanya secara bergantian, kemudian mengajak keduanya duduk di sofa.


Malam ini suasana bar sangat berisik, para pengunjung tengah bergoyang mengikuti musik yang dimainkan salah seorang DJ. Meskipun canggung, Maura berusaha terlihat santai mengingat ada sang suami bersamanya.


Setelah memeriksa pembukuan yang diberikan Miko, Dion mulai meneguk minuman yang sudah tersedia di atas meja. Namun untuk sang istri, Miko sudah menyediakan jus di atas meja tersebut. Dion tidak ingin istrinya meminum minuman beralkohol.


"Kak Dion, jangan minum terlalu banyak! Aku tidak suka." ucap Maura mewanti-wanti suaminya agar tidak mabuk.


"Tidak sayang, mana mungkin aku berani minum banyak di depanmu. Ini hanya untuk menghangatkan tubuhku saja." jelas Dion.


Kesempatan kali ini mereka manfaatkan sembari bercengkrama. Miko begitu antusias, dia sangat penasaran dengan kelanjutan hubungan Dion dan Maura saat ini. Apakah ada perkembangan atau malah begitu-begitu saja.


"Tumben Kak Maura ikut ke sini, mulai takut ya." goda Miko yang membuat wajah Maura memerah dalam sekejap.


"Tidak, untuk apa takut?" bantah Maura.


Mendengar jawaban sang istri, Dion pun menggulingkan senyumannya. Dia melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Maura dan menariknya hingga tubuh mereka saling menempel satu sama lain.


"Benar tidak takut, di sini banyak gadis cantik yang nganggur loh." goda Dion.


"Awas saja kalau berani!" ancam Maura dengan tatapan membunuhnya, hal itu membuat Dion dan Miko terkekeh seketika.


Miko tak kuasa menahan dirinya, gelak tawanya pecah mengiringi musik yang menemani kebersamaan mereka malam ini. Dia benar-benar senang melihat Maura yang sudah bisa menerima Dion sebagai suaminya. Dia pun menuang minuman ke dalam gelas untuk dirinya dan sang kakak.


"Ayo bersulang, ada yang sedang jatuh cinta di sini." teriak Miko, kemudian meneguk minumannya bersama Dion. Maura pun tersipu malu mendengar ucapan adiknya itu.


"Dasar gila!" umpat Maura sembari mengulum senyumannya.


Dion tak henti-hentinya mengukir senyum di wajahnya, dia tak melepaskan kalungan tangannya dari tubuh sang istri. Bahkan tanpa malu dia mengulum bibir merekah Maura di hadapan Miko. Hal itu membuat Miko melotot kan matanya dengan mulut sedikit ternganga.


"Ehemm, tolong dikondisikan. Di sini masih ada jomblo lapuk." ucap Miko, mereka pun terkekeh mendengar pengakuan pria berlesung pipit itu.

__ADS_1


__ADS_2