Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 6.


__ADS_3

Lama tak bertemu, Maura semakin lengket dengan nenek kesayangannya. Bahkan saat makan malam pun, gadis itu hanya mau makan dari tangan Nek Ida yang tinggal kulit pembalut tulang.


Meskipun usia Nek Ida sudah mulai renta, tapi fisiknya terlihat masih sangat kuat. Tak ada tongkat yang membantu menopang tubuhnya, bahkan kacamata pun tidak ada. Semua masih alami, berbeda dengan wanita lain seusianya.


Usai makan malam, Maura mengantarkan Nek Ida masuk ke dalam kamar. Dibantunya wanita tua itu berbaring di atas tempat tidur. Kemudian meraih selimut dan menutupi tubuh Nek Ida agar tidak kedinginan.


"Tidur yang nyenyak ya Nek!"


Maura membelai rambut Nek Ida yang mulai putih sempurna dan mengecup keningnya dengan lembut.


***************


Denting jam berbunyi, sebuah alarm kecil pun ikut berdering tepat di atas kepalanya.


Maura masih tertidur, namun telinganya mulai pekak ulah alarm yang tak kunjung henti. Diraihnya alarm tersebut dan ditatapnya dengan mata separuh terbuka.


Seketika, Maura terperanjat kaget dengan mata melotot tajam.


"Bukankah semalam aku mengaturnya di angka 6, kenapa tiba-tiba berubah?" batin Maura mempertanyakan keanehan yang terjadi.


Maura melompat turun dari tempat tidur, diraihnya sebuah handuk yang sudah tertata rapi di atas meja. Bunyi gesekan terdengar jelas saat dia membuka pintu kamar mandi dan menutupnya kembali.


Selesai membersihkan tubuhnya, Maura duduk di depan cermin memoles wajahnya seadanya. Tidak ada yang berlebihan, hanya merapikan alis dan memberikan sedikit warna pada bibirnya agar tidak pucat.


"Ini pasti kerjaan Nenek, siapa lagi? Awas ya Nek, gara-gara Nenek aku jadi bangun kesiangan!" batin Maura menggerutu.


Maura merapikan kembali pakaian yang dia kenakan. Matanya menatap lurus ke arah cermin memandangi pantulan tubuhnya yang kini sudah berpakaian rapi.


"Kreeek,"


Pintu kamar Maura terbuka lebar. Seorang pelayan berdiri tepat di depan pintu, menatap kagum cucu majikannya yang terlihat begitu cantik.


"Pagi Non Maura, sarapan sudah siap. Apa Non mau keluar sekarang?"


Maura menganggukkan kepalanya, diraihnya ponsel yang ada di atas kasur lalu keluar meninggalkan kamarnya dan melangkah menuju meja makan.

__ADS_1


"Nenek mana Bik?" tanya Maura kepada Bik An.


"Nenek sudah ke kebun dari tadi, hari ini sudah waktunya memanen anggur. Apa Non mau ke sana? Nanti Bibik antar!" jawab janda beranak satu itu.


"Tidak usah Bik, Maura bisa sendiri!" jawab Maura menolak tawaran Bik An.


Usai menikmati sarapan, Maura berlalu meninggalkan meja makan. Kakinya melangkah dengan cepat meninggalkan rumah dan berjalan menyusuri perkebunan yang terbentang luas di pelupuk matanya.


Jarak antara rumah dan kebun anggur memang lumayan jauh. Maura harus berjibaku melawan rasa letih di kakinya. Sesekali gadis itu berhenti mengambil nafas, pinggangnya pun sudah mulai pegal.


"Hahhh, huftt,"


Maura menghela nafas panjang dan membuangnya secara perlahan.


Kini jarak yang ditempuh kakinya sudah sangat jauh, namun dia belum melihat kebun neneknya sama sekali.


"Harusnya aku sudah sampai di kebun Nenek, tapi kenapa aku tidak melihatnya sama sekali. Apa aku salah jalan?" batin Maura.


Maura menghentikan langkahnya sejenak, dia memandangi sekelilingnya dengan seksama. Bahkan rumah Nek Ida yang besar sudah tak tampak lagi di pelupuk matanya.


Tak kunjung menemukan kebun anggur milik neneknya, Maura memutuskan kembali ke rumah. Tubuhnya yang sudah basah bermandikan keringat, harus putar balik ke arah semula.


Diwaktu yang bersamaan, seorang pria tampan bertubuh tinggi dan berkulit kuning langsat sedang duduk di sebuah batu besar. Pria itu tengah termenung sendirian, tatapan matanya kosong dengan wajah terlihat sendu.


Dibalik batu besar itu terdapat sebuah air terjun yang tidak terlalu tinggi. Sumber airnya berasal dari kaki gunung yang tidak jauh dari rumah Nek Ida.


Saat Maura berjalan menuju arah pulang, tiba-tiba langkahnya terhenti di tengah jalan. Ada yang mengganggu pendengarannya saat itu. Telinganya mendengar suara air yang mengalir dengan deras.


Kepalanya menoleh ke arah barat, perlahan kakinya mulai melangkah mengikuti arah suara yang semakin lama semakin jelas di telinganya.


Langkah demi langkah dia ayunkan, hingga akhirnya langkah itu terhenti saat menangkap air terjun yang indah di depan matanya. Mulutnya ternganga dengan mata terbuka lebar, tak disangka ada pemandangan yang begitu indah menyambut kedatangan dirinya.


"Wow, cantik sekali."


Maura berdecak kagum, dia benar-benar terpesona melihat keindahan yang sementara ciptakan.

__ADS_1


Mengingat tubuhnya yang sudah basah bermandikan keringat, Maura memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah sana. Dia tak ingin melewatkan kesempatan yang jarang sekali dia temui. Dengan cepat di mengeluarkan ponsel di kantongnya dan mengabadikan momen indah itu.


Kini Maura merentangkan tangannya lebar, menikmati setiap percikan air yang jatuh membasahi wajah cantiknya. Suhu air yang dingin membuat tubuhnya kembali merasa segar.


"Ye, huuuuuuu," teriak Maura lepas, selepas mata memandang.


Pantulan suara Maura terdengar begitu lantang, hal itu membuat pria yang masih duduk di atas batu tadi tersadar dari lamunannya.


Seketika pria itu merasa gamang, bulu kuduknya berdiri tegak hingga membuat tubuhnya merinding. Entah apa yang dia pikirkan, mungkinkah setan penunggu tempat itu sudah berkeliaran di pagi hari seperti ini.


"Huuuuuuu,"


Suara itu kembali terdengar untuk yang kedua kalinya. Namun kali ini suara itu terdengar sangat nyata hingga dia pun menoleh ke arah belakang, tapi tak melihat siapapun di sana.


"Apa yang aku pikirkan, apa aku sedang berhalusinasi?" batinnya bingung.


Pria itu melompat turun dari batu yang dia duduki. Tangannya meraih sebuah ranting kayu dan mematahkannya untuk berjaga-jaga. Kakinya sedikit gemetar, dia memberanikan diri melangkah mendekati air terjun tempat suara itu berasal.


"Deg, deg,"


Langkahnya terhenti seketika, matanya melotot tajam tak berkedip sekalipun. Senyum gadis cantik itu membuatnya terpesona hingga tak henti-hentinya memandangi keindahan itu.


"Cantik sekali, apa aku sedang bermimpi?" batinnya mengagumi keindahan yang semesta ciptakan.


Matahari semakin naik, Maura tak bisa berlama-lama di sana mengingat kekhawatiran nya memikirkan sang nenek yang tidak mengetahui keberadaannya saat ini.


Sesampainya diantara bebatuan besar yang tertanam disekitarnya, Maura malah kebingungan memilih jalan menuju arah pulang. Semua jalan terlihat sama, dia pun merungut dengan kesal.


"Tidak ada siapa-siapa di sini, lalu bagaimana caranya bisa sampai di rumah sebelum sore? Nenek pasti khawatir." batin Maura penuh kebimbangan.


"Ehemmm,"


Di tengah kemelut yang bersarang di hatinya, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang mendeham dari arah belakang. Maura terperanjat kaget dan membalikkan tubuhnya dengan cepat.


Seketika, kelopak matanya mengerinyam hebat, tangannya mulai bergetar hingga menjalar ke sekujur tubuhnya. Tatapan pria itu membuatnya benar-benar takut, apalagi langkah pria itu semakin dekat menghampiri dirinya.

__ADS_1


__ADS_2