Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 48.


__ADS_3

Tak kunjung ada jawaban dari Maura, Dion pun menyalakan mesin mobilnya. Kini mobil mewah itu melaju meninggalkan restoran dan masuk menyusuri jalan raya.


Berkali-kali Dion melirik ke arah Maura, namun reaksi sang istri masih tetap sama. Maura masih cemberut menatap jendela kaca yang ada di sisinya.


Tidak lama, mata Maura menangkap beberapa gerobak yang berjejeran di pinggir jalan. Saat itu juga bibirnya kembali mengeluarkan suara.


"Berhenti di sini!" pinta Maura tanpa menoleh ke arah suaminya sedikitpun.


Mendengar itu, Dion pun mengurangi laju mobilnya dan menepi di tempat yang cukup lapang. Dia kembali menatap Maura sesaat setelah mematikan mesin mobilnya.


"Kenapa berhenti di sini?" tanya Dion penasaran.


"Perutku lapar, aku ingin makan di sini saja!" jawab Maura ketus lengkap dengan muka masamnya.


Maura turun lebih dulu tanpa mempedulikan Dion, lalu mendekat ke arah gerobak bakso. Hal itu membuat Dion semakin bingung mengingat tadi sang istri bilang selera makannya sudah hilang. Dion menghela nafas panjang dan membuangnya kasar, kemudian ikut turun menyusul istrinya.


"Bang, baksonya 1 ya!" pinta Maura, dia pun duduk di sebuah bangku plastik dengan wajah datarnya.


Mendengar itu, Dion kembali menghela nafas. Namun kali ini nafasnya lebih berat dari sebelumnya. Bisa-bisanya Maura memesan bakso hanya untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan perut suaminya yang juga kelaparan.


"Bang, bukan 1 tapi 2 ya!" tambah Dion, dia pun duduk di samping Maura.


"Ok, tunggu sebentar ya!" jawab kang bakso.


Maura lagi-lagi bersikap cuek bebek terhadap suaminya. Bahkan sampai bakso di mangkoknya habis sekalipun, Maura tak bersuara sama sekali.


Setelah Dion membayar baksonya, kini Maura berpindah ke gerobak di sebelahnya. Kali ini ada sate Padang dengan aroma yang begitu menggoda. Seketika, rasa kesal Maura berubah menjadi rasa lapar hingga dia pun ingin mencicipi semuanya. Hal itu membuat Dion mengernyitkan keningnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Uda, satenya 1 ya!" pinta Maura, dia pun duduk di bangku kayu yang tersedia di sana.


"2 Uda, bukan 1!" sambung Dion, dia tentunya tak mau kalah dengan istrinya.

__ADS_1


Meskipun sebenarnya Dion masih bingung melihat perubahan sikap Maura, namun dia mencoba memahaminya. Lebih baik mengikuti kemauan istrinya daripada harus berdebat dan menimbulkan pertengkaran.


Usai melahap habis sate yang ada di dalam piringnya, kini Maura bangkit dan meninggalkan Dion sendirian. Dia masuk ke dalam mobil mengingat perutnya sudah sangat kenyang hingga matanya pun mulai mengantuk.


Dion menghela nafas berat. Setelah membayar sate tersebut, dia pun menyusul Maura masuk ke dalam mobil. Seketika, senyumannya mengambang mendapati istrinya yang sudah terlelap di bangkunya. Tanpa berpikir panjang, Dion pun menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya menuju arah pulang.


Setibanya di depan rumah, Maura terbangun dan turun lebih dulu. Lagi-lagi, Dion hanya bisa menghela nafas dan membuangnya dengan kasar.


Kini Maura sudah berada di dalam kamar. Setelah mengganti pakaiannya, dia pun menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Rasa kesal dan kantuknya sudah membaur menjadi satu, hingga dia pun tak tahan untuk melanjutkan tidurnya kembali.


"Sayang, apa yang terjadi denganmu sebenarnya? Bicaralah kalau aku salah, tapi jangan diamkan aku seperti ini!" keluh Dion, dia pun berbaring di samping Maura. Tangannya mengelus lembut kepala istrinya dengan sayang.


"Pergilah dari sini, tidak perlu sok peduli padaku, pacarmu sedang menunggumu! Apa kamu tidak kasihan dengannya yang sudah hampir gila memikirkan mu?" jawab Maura dengan mata tertutup rapat.


Mendengar itu, Dion pun melotot kan matanya kaget. Entah siapa yang Maura maksud, dia bahkan tidak punya wanita lain di dalam hidupnya selain sang istri yang sangat dia cintai.


"Sayang, apa kamu sudah gila? Pacar siapa?" tanya Dion bingung.


Dion menautkan sepasang alisnya, ada rasa kesal di hatinya mendengar ucapan sang istri yang seakan menyesal telah menikah dengannya. Namun dia juga ingin ketawa mendengar pengakuan istrinya yang ingin menghancurkan mulut seseorang.


Dion kemudian duduk dan mengangkat tubuh Maura dari pembaringannya. Kini keduanya saling berhadap-hadapan, namun Maura menekuk wajahnya sebab dia masih enggan menatap suaminya.


"Sayang, lihat aku dulu!" pinta Dion sembari mengangkat dagu istrinya hingga tatapan mereka saling bertemu.


"Aku capek, biarkan aku tidur!" ketus Maura sembari merebahkan tubuhnya kembali.


"Tunggu dulu!" Dion dengan cepat menahan tubuh istrinya dan membawanya ke dalam dekapannya.


Dion mengusap kepala istrinya lembut tanpa henti, kemudian mengecup ujung kepala Maura dengan sayang.


"Apa kamu menyesal menikah denganku?" tanya Dion menahan kekecewaan di hatinya.

__ADS_1


"Awalnya tidak, tapi sekarang iya." ketus Maura di dada bidang suaminya.


"Kalau begitu katakan padaku! Apa yang membuatmu menyesal menikah denganku?" tanya Dion mencari tau.


"Wanita itu mendatangiku, dia bahkan dengan beraninya menjambak rambutku. Enak saja, Ayahku saja tidak pernah melakukan itu padaku. Siapa dia? Kalau dia menginginkan mu, kenapa tidak mendekatimu saja. Kenapa harus aku yang jadi mangsanya?" jelas Maura menggerutu.


"Siapa wanita itu?" tanya Dion penasaran.


"Mana aku tau, pikir saja sendiri! Kalau bukan pacarmu, mana mungkin dia berani menyerang ku." ketus Maura semakin jadi.


Sejenak Dion terdiam menelaah kata-kata Maura barusan. Namun dia sangat yakin kalau wanita itu adalah Giska. Siapa lagi wanita gila yang sanggup melakukan itu kalau bukan dia.


"Jadi kamu percaya kalau dia itu pacarku?" tanya Dion.


"Entahlah, mana aku tau." jawab Maura sembari mengangkat bahunya.


"Sayang, dengarkan aku! Aku tidak punya wanita lain selain dirimu. Hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di dalam hidupku setelah ibuku. Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu pasti bisa merasakannya." jelas Dion.


"Bohong," kesal Maura.


"Harus berapa kali aku mengatakannya padamu. Apa kata-kataku belum cukup meyakinkan mu? Apa aku harus mati dulu biar kamu percaya padaku?" ucap Dion kehabisan kata-kata.


"Tidak, jangan bicara seperti itu!" jawab Maura, meskipun hatinya sangat kesal tapi mana mungkin dia menginginkan kematian suaminya.


"Kamu adalah wanita pertama dan terakhir yang aku cintai, selamanya akan tetap seperti itu. Jika dulu aku pernah menjalin hubungan dengan wanita lain, itu semata-mata hanya untuk mengobati kesepian ku saja. Tidak ada perasaan apa-apa." jelas Dion meyakinkan istrinya.


Mendengar penjelasan suaminya, Maura pun mengukir senyum di wajahnya. Kini hatinya sudah lega, lalu memeluknya erat.


"Kamu tenang saja, aku akan membuat perhitungan dengan wanita gila itu. Berani-beraninya dia menjambak rambut istri kesayanganku." ucap Dion sembari membelai rambut Maura dengan sayang.


Mendengar itu, Maura pun terkekeh. Dia menceritakan semuanya kepada Dion tanpa ada yang ditutupi. Seketika, Dion pun ikut terkekeh mendengar cerita istrinya. Dia tak menyangka sang istri begitu berani melawan wanita gila itu. Ternyata Maura tak selemah yang dia pikirkan selama ini.

__ADS_1


"Nah, gitu dong. Itu baru istrinya Dion Adriano, wanita kuat dan tangguh. Jangan pernah takut dengan wanita licik seperti itu! Satu hal lagi, jangan pernah meragukan kesetiaan ku padamu!" ucap Dion, dan Maura pun tersenyum sumringah.


__ADS_2