
Maura membawa Andra ke kamar hotel yang ditempati Diona saat ini. Selain untuk meyakinkan dirinya, dia juga ingin putrinya bertemu dengan Andra. Ikatan batin diantara keduanya pasti ada, Maura ingin melihat itu.
"Kenapa membawaku ke kamar ini?" tanya Andra bingung.
"Tidak perlu takut, aku hanya ingin mempertemukan mu dengan seseorang!" jawab Maura.
Sesampainya di dalam kamar, Maura meminta Tuti meninggalkan mereka sebentar. Dia memberikan kartu kamar lain kepada baby sister itu dan memintanya beristirahat di sana.
Maura duduk di sisi ranjang menatap wajah Diona yang tertidur dengan lelap, lalu menarik tangan Andra agar duduk di sampingnya.
"Diona?" gumam Andra, dia ingat sebulan lalu pernah bertemu gadis kecil itu.
"Kamu tau namanya?" tanya Maura.
"Kami pernah bertemu kira-kira sebulan lalu di tempat bermain anak." jawab Andra, dia kemudian menyentuh pipi Diona gemas.
Maura ikut menyentuh pipi putrinya, kemudian mengecupnya dengan sayang. Tak terasa air matanya kembali tumpah melihat Diona yang harus kehilangan kasih sayang dari ayahnya.
"Hei, kenapa menangis lagi?" tanya Andra bingung.
Maura mengalihkan pandangannya ke arah Andra, kemudian memeluknya dengan erat. Luka hati yang dia rasakan selama ini, tidak sebanding dengan luka yang harus ditanggung putrinya yang tak berdosa itu.
"Dia putrimu, buah cinta kita. Anak yang lahir tanpa sosok seorang Ayah. Kamu meninggalkan kami saat dia baru saja berkembang di dalam rahim ku. Kamu bahkan tidak tau kalau aku sedang mengandung saat itu." isak Maura pecah, pelukannya semakin erat menekan tubuh Andra.
"Apa yang terjadi denganku waktu itu?" tanya Andra penasaran.
"Mobilmu masuk jurang. Kata polisi, kamu ikut terbakar bersama mobil itu. Semua orang meyakini itu, tapi aku tidak begitu yakin. Aku meyakini kalau kamu masih hidup, kamu sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkanku. Aku tau kamu tidak akan melakukan itu padaku." lirih Maura sedu sedan.
Andra memegangi kepalanya, ada sedikit tekanan yang menusuk otaknya setelah mendengar penjelasan Maura. Tekanan itu berubah menjadi rasa sakit yang tak tertahankan.
"Au, akhh...," Erangan Andra membuat Maura terperanjat kaget, kemudian melepaskan pelukannya.
"Kamu kenapa?" tanya Maura cemas.
"Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu khawatir, ini sudah biasa. Setiap kali aku berusaha mengingat sesuatu, kepalaku seakan mau pecah." rintih Andra.
Maura bangkit dari duduknya, kemudian mengambil sebotol air mineral. Setelah membantu Andra meneguk minuman itu, Maura mengusap kepala Andra penuh kelembutan.
__ADS_1
Andra merasakan getaran yang aneh di hatinya, sentuhan tangan Maura membuatnya merasa nyaman. Berbeda saat dia sedang berada bersama Adila.
"Maukah kamu membantuku mengembalikan ingatan ini? Aku tersiksa dengan diriku yang sekarang." pinta Andra dengan tatapan tak biasa.
Maura mengangguk kecil, dengan senang hati dia mau membantu Andra memulihkan ingatannya. Jika pria itu benar-benar suaminya, tentu saja hal itu sangat menguntungkan bagi dirinya dan juga Diona. Gadis malang itu tidak akan kehilangan kasih sayang dari ayahnya.
"Aku yakin kamu adalah suamiku, ayah dari putriku. Hati ini mengatakan itu, jangan pergi lagi dari kami!" pinta Maura, hal itu membuat hati Andra terenyuh.
"Aku tidak akan kemana-mana, aku janji." tekan Andra.
Saat keduanya tengah asik berbincang, Diona terbangun dari tidurnya. Tangisannya membuat Maura tergelinjang dan bergegas membawa gadis kecil itu ke dalam gendongannya.
"Sayang, jangan nangis Nak! Mami di sini," ucap Maura menenangkan putrinya, sayangnya Diona tak merespon sama sekali. Tangisannya malah semakin kencang.
"Sini, sama Om dulu!"
Andra mengambil Diona dari gendongan Maura, kemudian mendekap gadis kecil itu di dalam pelukannya. Tak disangka, Diona pun langsung terdiam dan memeluk Andra dengan tangan mungilnya. Tidak lama, dia pun kembali tertidur.
Bukan Diona saja yang merasakan ada ikatan batin yang kuat diantara keduanya, Andra pun merasakan hal yang sama. Rasa sayangnya melekat dengan cepat, berbeda saat dia bersama Adnan putranya.
"Iya, seperti ada ikatan batin diantara kami." ucap Andra, kemudian mengusap punggung Diona dengan sayang.
Maura melebarkan senyumannya bahagia. Meskipun Andra tak bisa mengingatnya, setidaknya Diona bisa merasakan kehangatan seorang ayah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di bawah sana, Adila sudah kelimpungan mencari keberadaan Andra. Dia sudah berusaha menghubunginya, namun ponselnya berada di luar jangkauan.
Karena acara perjamuan sudah selesai, dia memilih pulang dengan wajah merungut kesal.
Miko dan Dira melepas kepergian kolega dan karyawan mereka penuh suka cita. Setelah function room itu kosong, keduanya memutuskan menemui Diona di kamarnya.
Malam ini mereka sudah berencana untuk menginap di hotel itu. Besoknya dia ingin mengajak Diona pergi berlibur.
Sesampainya di depan pintu, Miko menekan bel. Maura dan Andra terkejut mendengar itu, tatapan keduanya saling bertemu untuk sesaat. Andra kemudian meletakkan Diona di atas kasur.
"Siapa itu?" tanya Andra cemas.
__ADS_1
"Aku lihat dulu!" jawab Maura.
Maura berjalan menuju pintu, wajahnya sedikit gugup. Takutnya ada orang lain yang mengetahui keberadaan mereka.
Saat mengintip pada lubang pintu, Maura menghela nafas lega. Kemudian membukanya dan membiarkan kedua adiknya itu masuk.
"Kenapa Kak Maura meninggalkan kami begitu saja?" tanya Miko dengan wajah cemberut nya, begitupun dengan Dira. Keduanya belum menyadari ada seseorang di dalam kamar itu.
Saat berjalan menuju sofa, langkah keduanya terhenti seketika. Wajah tampan yang tengah duduk di sofa itu, membuat keduanya tergugu tanpa kata.
Andra hanya bisa tersenyum menyambut kedatangan mereka. Dia sama sekali tak mengenali siapa keduanya.
"Kak Dion," gumam Dira, tas yang ada di genggamannya terlepas begitu saja.
"Kak Dion," gumam Miko sembari membulatkan matanya lebar.
Keduanya berlari dan memeluk Andra di sisi yang berbeda. Tangisan keduanya pecah memenuhi seisi kamar.
"Kak Dion, ini benar kamu Kak? Kakak masih hidup?"
"Kak Dion, Kakak kemana saja? Kenapa tidak kembali kepada kami? Kami pikir Kakak sudah pergi untuk selamanya."
Pertanyaan demi pertanyaan itu membuat Andra semakin kebingungan. Namun dia mencoba memahami, dia pun mengusap kepala keduanya dengan sayang.
Maura yang melihat itu tak bisa menahan rasa harunya, air matanya kembali tumpah. Jika saja pria itu bisa mengingat semuanya, alangkah bahagianya Maura bisa berkumpul seperti dulu lagi.
"Miko, Dira, jangan begitu! Lepaskan pelukan kalian!" titah Maura, dia takut hal itu membuat Andra kesakitan lagi.
"Tidak apa-apa Maura, biarkan saja! Mungkin mereka berdua sedang merindukan Kakaknya." ucap Andra.
Mendengar itu, Miko dan Dira bergegas melepaskan pelukannya. Keduanya merasa kecewa mendengar ucapan Andra.
"Apa maksud Kak Dion?" tanya keduanya kompak.
"Miko, Dira, dia bukan Kak Dion kita. Tapi dia Andra, Tuan Andra. Suami dari Adila yang kalian panggil Ibu tadi." jelas Maura.
"Apa?" Miko dan Dira kembali kompak dengan raut wajah sama-sama bingung, mana mungkin itu orang lain. Secara wajah, tubuh dan suaranya saja sama persis dengan Dion Kakak mereka.
__ADS_1