
Keesokan harinya, Dion tengah menikmati makan siangnya bersama Miko. Sedang asik menyuap makanan, tiba-tiba ponsel Miko berdering di atas meja. Matanya pun melirik dan mendapati nama Maura yang terpajang pada layar ponselnya. Karena tidak ingin mengganggu selera makan Dion, dia pun menjauh dari meja makan dan menerima panggilan itu.
Lama berbincang dengan Maura dari balik telepon, akhirnya Miko kembali ke meja makan setelah sambungan telepon mereka terputus. Dia pun melanjutkan makannya yang tadi sempat tertunda. Tapi, kali ini raut wajahnya terlihat berbeda dari sebelumnya hingga membuat Dion mengernyitkan keningnya.
"Apa yang terjadi, siapa yang menelepon?" tanya Dion penasaran.
"Jika aku bilang telepon itu dari Kak Maura bagaimana, apa peduli Kakak padanya?" ketus Miko sambil meninggikan suaranya hingga membuat Dion tersentak kaget.
"Apa yang dia katakan?" tanya Dion lagi.
"Apa itu penting untuk Kakak, bahkan jika dia mati sekalipun apa urusannya dengan Kakak?" ketus Miko yang membuat ubun-ubun Dion menggelegak.
"Bruuuuk...,"
Seketika, sebuah pukulan keras pun melayang bebas ke wajah Miko hingga membuat tubuhnya terpelanting dari kursi.
"Bajingan, beraninya kau berkata seperti itu tentangnya!" bentak Dion sambil memutar kerah kemeja Miko hingga nyaris saja mencekik leher pria malang itu.
"Kenapa harus marah, bukankah dia tidak penting bagimu?" tambah Miko yang membuat Dion semakin naik pitam.
"Cukup Miko, jangan menguji kesabaran ku! Atau...,"
"Atau apa hah, kau ingin memukul ku lagi? Pukul saja jika itu yang kau inginkan!" gertak Miko yang membuat darah Dion semakin mendidih.
__ADS_1
Tangan Dion sudah mengepal kuat, ingin sekali rasanya Dion menghabisi Miko saat itu juga, tapi seketika dia kembali sadar kalau dia takkan sanggup melakukan itu semua.
"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu!" ucap Dion, dia pun membalikkan tubuhnya dan melangkah menjauhi Miko yang masih tergeletak di lantai.
"Aku tau kau mencintainya, tidak tidak, kau bahkan sangat mencintainya. Tapi kau itu tak lebih dari seorang pengecut yang tak mau mengakui perasaanmu sendiri. Tunggu saja, sebentar lagi kau akan menyesal karena sudah membiarkannya jatuh ke tangan orang lain. Dan pada saat itu tiba, akulah orang pertama yang akan menertawakan dirimu. Ingat itu!" teriak Miko sekencang-kencangnya yang membuat seisi rumah menggelegar.
Dion mengepalkan tangannya, ucapan Miko yang dia dengar membuat hatinya teriris, perih bak disayat sembilu tajam. Namun, dia tetap melanjutkan langkahnya karena tak ingin sesuatu yang buruk terjadi diantara mereka berdua. Jika saja Dion menuruti ego nya, mungkin salah satu diantara mereka akan berakhir pada saat itu juga.
Dion membanting pintu kamarnya, suasana hatinya benar-benar kacau hingga sulit baginya untuk berpikir dengan jernih. Dalam kemarahannya itu, sebuah cermin yang tak tau apa-apa bahkan menjadi korbannya. Hingga darah segar pun mengalir deras dari punggung tangannya.
Entah kenapa dadanya terasa sangat sesak, ucapan Miko tadi benar-benar menusuk hingga relung hatinya yang terdalam. Bahkan luka yang ada di tangannya saat ini, tidak sebanding dengan luka yang tengah mencabik-cabik jantungnya.
***************
Esok paginya, Dion sudah berada di ruangan kantornya. Wajahnya tampak menggebu-gebu saking semangatnya ingin berjumpa dengan seseorang yang sudah membuat janji dengan dirinya. Segala daya dan upaya selama ini sudah dia coba. Hingga pada akhirnya, tikus itupun masuk dengan sendirinya ke kandang singa.
Dion tersenyum sinis, matanya menilik tajam. Bahkan rahangnya mengerat kuat dengan tangan mengepal erat.
"Suruh dia masuk!" perintah Dion.
Tidak berselang lama, seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangannya bersama Silvi yang ikut mengantarkannya. Sesaat, pandangan mata Dion tampak lirih menyaksikan langkah demi langkah yang diayunkan pria tersebut.
"Kenalkan, saya Darma. Pemilik dari perusahaan Darma Grup. Tidak disangka, ternyata anda masih sangat muda." ucap Darma sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Dion kembali menyunggingkan senyumannya, tebakannya tidak salah lagi. Pria yang tengah berdiri di hadapannya itu ternyata adalah pria yang sama dengan yang dia lihat di televisi sebelumnya.
"Hahaha, anda bisa saja. Oh ya, perkenalkan, nama saya Dion. Kalau begitu, silahkan duduk!" sahut Dion sambil menjabat tangan Darma dan mempersilahkan pria itu duduk di hadapannya.
Setelah puas berbasa-basi, mereka pun mulai membahas rencana kerja sama yang diajukan oleh Darma Grup kepada Star Grup yang tak lain adalah perusahaan yang dipimpin oleh Dion, perusahaan yang bergerak di bidang teknologi. Bahkan saat ini Star Grup sedang menjadi perbincangan hangat di kalangan pengusaha sukses lainnya. Hanya saja tidak ada seorang pun yang tau siapa pemilik dari perusahaan itu.
Perusahaan Darma memang tidak terlalu besar, tapi beberapa waktu ke belakang perusahaannya berkembang cukup pesat. Beberapa hari yang lalu, Darma Grup baru saja memenangkan sebuah tender besar. Tentu saja dia membutuhkan investor yang besar pula untuk memuluskan jalannya tender tersebut. Hingga pada akhirnya dia pun mengajukan tawaran kerja sama ke beberapa perusahaan besar. Namun sepertinya Star Grup cukup tertarik untuk menerima tawaran tersebut.
Dion mulai mempelajari sebuah berkas yang ada di tangannya, sebuah kontrak kerja sama yang diajukan oleh Darma. Matanya menggelinding tajam mengikuti setiap kata yang dia baca. Cukup menarik, tapi Dion tentunya tidak akan semudah itu menerimanya. Dia bahkan mengajukan beberapa persyaratan yang harus disetujui oleh kedua pihak, dia pun menambahkan beberapa poin penting di dalam kontrak tersebut.
Satu Minggu Kemudian...
Rencana awal sepertinya berjalan dengan lancar, bahkan proyek besar yang sudah disepakati oleh Darma Grup dan Star Grup juga sudah dimulai. Dion bahkan sudah mengucurkan dana yang tak sedikit untuk memuluskan jalannya proyek tersebut. Hari berganti hari, semuanya berjalan sesuai keinginan. Bahkan keuntungan besar pun sudah nampak di depan mata Darma.
***************
Tiga hari menjelang pernikahan Maura dilangsungkan, sesuatu terjadi di gedung tersebut. Sebuah kebakaran besar membumihanguskan seisi gedung hingga tak bersisa sama sekali. Hal itu membuat Darma terkejut dan mengalami serangan jantung ringan yang membuatnya harus menginap di rumah sakit. Harapannya sirna dalam sesaat, semua yang dia bangun dari nol akhirnya lenyap dalam sekejap mata. Belum lagi memikirkan kerugian yang harus dia tanggung, semua itu membuatnya semakin terkulai lemah tak berdaya.
Kabar itu dengan cepat merebak sampai ke pelosok negeri, bahkan sudah sampai ke telinga Dion. Dia pun menyempatkan diri datang ke rumah sakit membesuk pria malang itu.
Sesampainya di depan pintu ruang inap Darma, Dion pun menyapa Mia dan David yang sedang menunggu di luar. Dion menatap sendu wajah David yang tampak gelisah memikirkan keadaan Ayahnya yang masih terkulai lemah di dalam sana.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Dion.
__ADS_1
David hanya menundukkan kepalanya sambil sesekali menyeka air matanya yang mulai berjatuhan. Dia bahkan tak sanggup berucap sepatah katapun.
"Jangan takut, dia pasti baik-baik saja!" tambah Dion, dia pun merangkul pundak David sambil menepuk-nepuk nya dengan pelan.