Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 38.


__ADS_3

Siang harinya, Maura dan Dion keluar dari kamar hotel dengan tangan saling menggenggam erat. Keduanya berencana menghabiskan waktu mereka menjelajahi kota Bandung sembari mencari oleh-oleh untuk dibawa pulang.


Namun sebelum menjalankan rencana tersebut, Dion menyempatkan diri mampir ke kantornya melihat keadaan di sana sebelum mereka kembali ke Jakarta.


Selama ini Dion memang tidak terlalu sering menampakkan batang hidungnya di kantor pusat maupun kantor cabang miliknya. Dia lebih suka bekerja dari rumah dan berkomunikasi dengan orang-orang kepercayaannya melalui internet dan telepon genggam. Hal itu membuat beberapa karyawan di kantor tidak mengenalinya sebagai pemilik perusahaan.


Dion malah lebih sering mengunjungi bar dan dikenali para pelanggannya sebagai orang biasa, tak ada yang tau kalau dia adalah seorang CEO dari perusahaan besar.


Setibanya di kantor, keduanya disambut oleh Bima yang tak lain adalah orang kepercayaannya, lebih tepatnya Direktur perusahaan. Segala sesuatu yang menyangkut pekerjaannya, sudah dia serahkan kepada Bima. Dia sangat yakin Bima mampu mengembangkan perusahaan yang baru dia rintis itu dengan baik.


"Siang Tuan, tumben mampir ke sini?" sapa Bima penuh rasa hormat.


"Siang Bim, kebetulan lewat tadi. Bagaimana keadaan kantor?" tanya Dion ingin tau perkembangan perusahaannya.


Sebelum mereka berbicara panjang lebar, Bima mengajak Dion dan istrinya masuk ke sebuah ruangan khusus untuk orang-orang tertentu. Mereka bertiga duduk sembari menikmati teh hangat yang sudah tersedia di atas meja.


Bima mulai membuka pembicaraan, dia mengatakan kalau saat ini perusahaan mereka tengah berkembang cukup pesat. Saat ini banyak tawaran kerja sama berdatangan sejak mereka merilis produk baru beberapa hari yang lalu. Apalagi setelah launching kemarin, Bima jadi sedikit kewalahan meng-handle pekerjaannya. Untung saja dia memiliki tim yang solid, jadi semua masalah bisa teratasi dengan mudah.


"Bagus kalau begitu, usahakan produk kita mendapat rating tertinggi, jadi kita akan lebih mudah menguasai pasar. Dan jangan lupa 10% dari keuntungan, sumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan!" ucap Dion, dia pun mengukir senyum di wajahnya.


Meskipun wajahnya terlihat garang, tapi Dion memiliki hati yang sangat lembut. Semua dia pelajari dari pengalaman hidupnya sendiri. Sukses tidak selalu bermodalkan uang, namun kegigihan dan kerja kerasnya lah yang membawanya sampai ke titik ini.

__ADS_1


Puas membahas perusahaan, Dion kemudian pamit. Malam ini dia akan kembali ke Jakarta bersama sang istri. Namun sebelum meninggalkan kantor, dia menyempatkan diri membawa istrinya berkeliling menjelajahi gedung yang tidak terlalu besar itu.


Usai berkeliling, Bima ikut mengantar keduanya menuju parkiran. Dia sangat senang mendapat kunjungan dari bos besarnya meskipun hanya sebentar. Kepercayaan yang diberikan Dion sangat berharga baginya, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas itu.


Kini mobil yang dikendarai Dion sudah melaju menyusuri jalan raya. Dimana ada keramaian, maka di situlah Dion berhenti. Tidak hanya mampir menikmati keindahan kota, mereka juga mampir ke pusat oleh-oleh. Bahkan keduanya berkali-kali berhenti di pinggir jalan hanya untuk memanjakan lidah mereka.


Hari semakin sore, wajah keduanya tampak begitu lelah. Apalagi perut mereka sudah sangat kenyang usai mencicipi berbagai macam makanan yang berserakan di pinggir jalan. Sudah saatnya mereka kembali ke hotel untuk beristirahat menjelang keberangkatan mereka ke bandara.


Keduanya turun dari mobil, sepasang tangan Dion menjinjing beberapa paper bag yang berisikan oleh-oleh. Sementara Maura melenggang dengan tangan kosong. Dion tidak mengizinkan sang istri membawa barang-barang tersebut.


Setibanya di dalam kamar, Dion menaruh barang bawaannya di atas sofa. Dia kemudian masuk ke kamar mandi mencuci wajahnya. Begitu pula dengan Maura yang ikut bersamanya.


Kini mereka berdua berbaring di atas tempat tidur. Dion mulai memejamkan matanya, sementara Maura asik memainkan layar ponselnya. Dia menelepon Doni memberitahu kepulangannya malam ini. Besok pagi mereka berdua sudah ada di Jakarta.


Sadar akan tingkah konyol Maura, Dion kembali membuka matanya. Seketika dia pun tersenyum menatap lekat wajah sang istri, lalu melabuhkan kecupan sayang di kening istrinya. Kemudian turun dan mengulum bibir merekah itu dengan lembut.


Sekitar pukul 6 sore, Maura dan Dion bangkit dari pembaringannya. Keduanya masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuh mereka bersamaan.


Usai mandi, Maura mulai memberesi barang bawaan dan menyusunnya di dalam koper. Sementara Dion, dia sibuk memberesi oleh-oleh yang tadi dia beli dan memasukkannya ke dalam satu tempat.


Setelah makan malam, mereka check out dan keluar meninggalkan hotel. Bima pun sudah menunggu di depan untuk mengantarkan mereka berdua ke bandara.

__ADS_1


"Tuan dan Nyonya hati-hati ya, sering-sering lah berkunjung ke sini!" ucap Bima setelah mereka bertiga tiba di bandara.


Maura dan Dion mengukir senyum di wajahnya masing-masing. Setelah berjabat tangan dengan Bima, mereka masuk ke dalam bandara sesaat setelah nama mereka dipanggil. Bima tersenyum dan melambaikan tangannya melepas kepergian mereka berdua.


Kini Maura dan Dion sudah duduk di bangku pesawat. Saking lelahnya, Maura tertidur sembari bersandar di dada suaminya. Hal itu membuat Dion menggulingkan senyumannya, dia benar-benar bahagia melihat sang istri semakin menempel dengan dirinya. Dia pun mengusap ujung kepala Maura dan melabuhkan kecupan sayang di sana.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, pesawat yang mereka tumpangi mendarat di Bandara Soekarno-Hatta dengan selamat. Dion kemudian membangunkan sang istri yang masih terlelap di dadanya.


Setelah Maura sadar, keduanya turun dari pesawat dan duduk di kursi tunggu. Namun sesaat, Maura kembali memeluk tubuh Dion dan menyandarkan wajahnya di dada sang suami. Matanya masih mengantuk hingga dia tak peduli dengan pandangan orang-orang di sekelilingnya.


Pak Asep sudah menunggu di depan bandara. Saat matanya menangkap keberadaan sang tuan, dia pun mendekat dan berdiri tepat di hadapan majikannya.


"Selamat datang Tuan," sapa Pak Asep, dia pun tersenyum menyambut kedatangan tuannya.


"Pak, tolong ambilkan koper kami! Aku tidak bisa bergerak." perintah Dion meminta tolong, dia tidak bisa bergerak mengingat sang istri tengah bertumpu pada tubuhnya.


Pak Asep menganggukkan kepalanya, dia bergegas mengambil koper milik tuannya yang sekarang sudah beranak. Ya, saat sang tuan berangkat, kopernya cuma 1. Kini sudah berkembang biak jadi 2.


Setelah Pak Asep mendapatkan koper tersebut, dia pun menariknya dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


Sementara itu, Dion tidak tega membangunkan istrinya yang masih terlelap. Dia kemudian membopong sang istri masuk ke dalam mobil. Kini posisi Maura ada di atas pangkuannya, dia pun memeluknya erat agar tidak menggelinding ke bawah jok.

__ADS_1


Setibanya di depan rumah, Dion kembali membopong sang istri masuk menuju kamar mereka. Kamar yang sudah beberapa hari mereka tinggalkan. Dia pun membaringkannya di atas kasur empuk miliknya dan menyelimuti tubuh Maura agar tidak kedinginan.


__ADS_2