
Miko dan Dira sudah tiba di perusahaan Adila, keduanya duduk di ruang tunggu menanti kedatangan pemimpin perusahaan itu. Menurut informasi, Adila sudah bergerak menuju kantor.
Sementara di tempat lain, Maura tengah sibuk menyiapkan keperluan Diona. Keadaan gadis cilik itu mulai membaik, sejak semalam dia tidak rewel lagi.
Maura sudah bisa meninggalkannya bersama Tuti dan Doni di rumah. Bik Sam turut membantu menjaganya, dia sudah menganggap Diona seperti cucunya sendiri.
"Yah, Maura berangkat dulu ya. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi Maura!" Maura mencium pipi ayahnya, kemudian menyalami dan mencium punggung tangan Doni.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di rumah sakit, keadaan pria yang belum diketahui namanya itu sudah mulai membaik setelah Dokter memberinya suntik penenang.
Dia belum bisa mengingat apa-apa, namun nama Star Group masih terngiang jelas di telinganya. Nama yang sangat familiar, dia merasa tidak asing dengan nama itu.
Setibanya di rumah, pria itu meminta Jeny mengambilkan laptop di kamarnya. Dia masih penasaran, barangkali nama itu ada kaitannya dengan masa lalunya.
Setelah mendapatkan laptop tersebut, pria itu duduk bersila di atas karpet yang terbentang di ruang tengah. Dia mulai membukanya, berharap menemukan jawaban dari pertanyaannya selama ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adila sudah tiba di kantor, dia menghampiri Miko dan Dira yang masih setia menunggunya. Ramainya lalu lintas pagi ini membuatnya sedikit terjebak macet, jarak antara kantor dan rumahnya juga lumayan jauh.
"Selamat pagi, maaf membuat kalian menunggu lama." sapa Adila dengan nafas sedikit terengah.
"Pagi Buk, tidak masalah. Senang bertemu dengan anda."
"Saya Dira, dan ini rekan kerja saya Miko."
Dira menjabat tangan Adila, Miko pun melakukan hal yang sama.
Setelah saling berkenalan, Adila membawa keduanya ke dalam ruangan. Membicarakan perihal kerja sama yang pernah dibicarakan tempo hari.
Perusahaan Adila bergerak di bidang marketing dan pemasaran, Star Group membutuhkan perusahaan itu untuk mempromosikan produk baru mereka.
Beberapa hari lalu, Star Group baru saja merilis produk barunya. Sebuah smartphone pintar yang memiliki keunggulan tertentu. Berbeda dengan produk yang mereka luncurkan sebelumnya.
Kurang lebih satu jam bernegosiasi di dalam ruangan tersebut, pertemuan itupun membuahkan hasil yang cukup menjanjikan. Dua perusahaan itu berharap kerja sama kali ini bisa menguntungkan bagi kedua belah pihak.
__ADS_1
Setelah mencapai kesepakatan, Adila menandatangani kontrak yang dibawa oleh Dira. Mereka bertiga saling berjabat tangan setelah itu.
"Saya tidak menyangka wanita muda seperti anda mampu membangun bisnis sebesar ini. Jujur saya salut dengan anda." sanjung Adila mencairkan suasana.
"Jangan berlebihan Bu, saya hanya perantara di sini. Perusahaan ini bukan milik saya, saya hanya melanjutkan kerja keras Kakak saya yang membangun perusahaan ini mulai dari nol." jawab Dira.
"Wow, kerja sama yang apik. Pasti Kakak anda sangat bangga dengan kinerja anda." sanjung Adila lagi.
"Saya berharapnya juga begitu Bu, sayangnya Tuhan berkehendak lain." jawab Dira, wajahnya mulai terlihat sendu.
"Maafkan saya, saya tidak bermaksud membuat anda sedih." Adila merasa bersalah atas ucapannya.
"Tidak apa-apa, takdir sudah menentukan jalannya sendiri. Kita tidak tau kapan, dimana, dan dengan cara apa Tuhan mengambil miliknya kembali."
Miko menggenggam tangan Dira erat, mengerti perasaan Dira saat ini. Dia juga merasakan hal yang sama, kehilangan itu membuat banyak perubahan di dalam hidup mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, pria tadi baru saja menutup laptopnya. Tatapan matanya mengisyaratkan sesuatu yang aneh. Setelah mencari tau tentang Star Group dari berbagai macam sumber, dia memutuskan untuk mendatangi perusahaan tersebut.
Dari semua data yang dia kumpulkan, tidak ada satupun yang mengungkapkan siapa pemilik dari perusahaan tersebut.
Tanpa mencurigai apapun, dia masuk ke dalam gedung dengan gagahnya. Berjalan mendekati seorang wanita yang duduk di meja resepsionis.
"Siang Nona, apa aku bisa bertemu dengan pimpinan perusahaan ini?" tanyanya dengan wajah dingin.
"Apa Tuan sudah memiliki janji?" tanya resepsionis itu, dia tidak mengenali pria itu sama sekali. Dia baru bekerja selama 6 bulan di sana.
"Tidak, tapi saya ada keperluan yang mendesak." jawab pria itu.
"Maaf Tuan, silahkan membuat janji dulu. Saat ini Bos kami sedang sibuk." balas wanita itu.
"Jadi kapan saya bisa bertemu dengannya?" Pria itu sangat kaku seperti tembok beton.
"Tunggu sebentar,"
Wanita itu mencoba menghubungi Dira, namun gadis itu tak mengangkat sambungan teleponnya.
__ADS_1
"Maaf Tuan, Bos kami tidak bisa dihubungi. Kalau Tuan tidak keberatan, tinggalkan saja nomor telepon yang bisa saya hubungi!" ucap wanita itu sembari menyodorkan secarik kertas.
Setelah menulis nomor teleponnya, pria itu berlalu begitu saja. Namun sebelum keluar dari lobby, dia memandangi setiap sudut dengan tatapan yang aneh.
"Hufft," Hembusan nafasnya terdengar berat. Dia melanjutkan langkahnya dan berjalan menuju parkiran.
Mobil mewah itu keluar dari gerbang, mobil lainnya masuk dan berhenti di depan gedung. Dira turun lebih dulu, sementara Miko melajukan mobilnya menuju parkiran.
"Siang Bu, tadi ada seorang pria yang datang mencari Ibu" ucap resepsionis itu.
"Siapa?" tanya Dira penasaran.
"Saya juga tidak tau, pria itu terlihat aneh."
"Aneh bagaimana?" tanya Dira menautkan alisnya.
"Pokoknya aneh deh Bu, tatapan matanya sangat tajam. Sebelum pergi, dia memandangi ruangan ini dengan seksama. Kaku seperti semen,"
"Apaan sih? Ada-ada saja kamu tuh." Dira terkekeh mendengar itu.
"Loh, kenapa Ibu malah ketawa? Saya serius loh Bu,"
"Jangan kebanyakan nonton film! Kamu sendiri juga aneh," Dira kembali terkekeh dan melanjutkan langkahnya menuju lift.
Wanita itu menghela nafas berat, lalu kembali duduk di kursinya. Dia baru menyadari kalau di atas mejanya ada secarik kertas yang bertuliskan nomor HP dan nama pria tadi.
Saat hendak menyusul Dira, Miko masuk dan berpapasan dengan dirinya.
"Hufft, kebetulan sekali ada Tuan Miko," ucap wanita itu.
"Kenapa, apa kamu mencari ku?" tanya Miko menautkan alisnya.
"Tidak, tapi aku mau memberikan kertas ini kepada Bu Dira. Aku titip sama Tuan saja ya," jawab wanita itu.
"Kertas apa ini?" tanya Miko penasaran.
"Tadi ada yang mencari Bu Dira, pria itu meninggalkan nomor teleponnya di sini. Apa pria itu pacarnya Bu Dira?" Wanita itu mulai kepo dengan urusan atasannya.
__ADS_1
"Jangan bergosip pada jam kerja seperti ini!" ketus Miko kesal, dia mengambil kertas itu dan melanjutkan langkahnya menuju lift.
Sesampainya di ruangan kerja, Miko duduk di kursinya. Dia membuka kertas yang tadi sempat dia remuk, entah kenapa dia merasa kesal mengingat ucapan resepsionis di bawah tadi.