Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 53.


__ADS_3

Sore hari, Maura terbangun mendengar dengkuran Dion yang sangat mengganggu. Sesaat setelah membuka mata, dia tersenyum menatap wajah suaminya yang begitu lelap.


Maura mengusap kepala Dion dengan sayang, kemudian bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya.


Keganasan Dion tadi membuatnya sangat lelah, dia berendam di dalam bathtup agar tubuhnya kembali segar.


Belum lama Maura merebahkan tubuhnya, tiba-tiba pintu kamar mandi kembali terbuka. Sontak saja Maura terperanjat kaget mendapati Dion yang sudah berdiri di depan matanya.


Dion memasang wajah datarnya melihat Maura yang masih polos di dalam sana. Dia masuk dan ikut berendam bersama Maura.


"Kenapa meninggalkan aku sendirian?" tanya Dion, dia duduk di belakang Maura dengan wajah cemberut nya.


"Aku tidak meninggalkan Kak Dion, aku masih di sini. Ditinggal mandi saja kok gitu?" jawab Maura bingung.


"Jangan jauh-jauh dariku!" ucap Dion, kini dagunya bertumpu pada pundak Maura. Sementara tangannya bergerak menyentuh dada Maura yang ternganga.


Posisi Dion saat ini membuatnya kembali bergai-rah. Bahkan Meriam miliknya sudah bereaksi hanya karena satu gerakan saja.


"Kak Dion, apa yang terjadi denganmu? Lepaskan tanganmu!" ketus Maura, dia menarik tangan Dion agar lepas dari dadanya.


"Aku ingin sayang, tubuhmu sudah membuatku kecanduan. Apa lagi yang bisa ku lakukan?" jawab Dion, lalu mengecup tengkuk Maura bertubi-tubi.


"Ya ampun, kenapa kamu jadi seperti ini? Baru beberapa jam lalu kita melakukannya. Apa kamu tidak lelah?" balas Maura menautkan sepasang alisnya.


"Tidak ada kata lelah jika sudah bersamamu. Keinginan itu selalu ada, apa aku salah?" tanya Dion, suaranya terdengar berat.


Maura menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Percuma juga beradu mulut dengan Dion yang sudah kehilangan akal sehatnya. Entah apa yang merasuki otak suaminya itu, dia hanya bisa geleng-geleng kepala.


Maura membalikkan tubuhnya, keduanya saling berhadap-hadapan satu sama lain. Kini Maura sudah duduk di pangkuan Dion. Hembusan nafas Maura yang hangat membuat Dion tak sanggup lagi menahan dirinya.


Dion mengecup bibir Maura yang basah, lalu mengulumnya penuh kelembutan. Hal itu membuat Maura terpancing lalu membalas luma-tan suaminya. Kini keduanya masuk semakin dalam dan saling membelit lidah hingga kesulitan mencuri nafas.


Setelah puas bermain di atas sana, Dion melepaskan tautan bibirnya dan fokus pada sepasang benda yang tergantung di tengah-tengah sana. Deru nafasnya kian memburu hingga Maura berinisiatif membusungkan dadanya.


Melihat Maura yang memberi angin segar, Dion dengan cepat melahap benda kenyal itu. Kini pipinya menggembung sebab hampir separuh dari benda itu masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Pelan-pelan saja sayang!" gumam Maura, lalu terkekeh melihat ekspresi suaminya yang tak biasa.


"Aku tidak tahan melihatmu seperti ini, lama-lama aku bisa gila karena mu." Dion menghela nafas berat.


"Hey, jangan gila dulu sayang! Aku tidak ingin bolak-balik ke rumah sakit jiwa." canda Maura, dia kembali terkekeh di atas tubuh suaminya.


Melihat tawa Maura yang begitu lepas, Dion jadi gemas sekaligus kesal. Dia mengangkat tubuh Maura dan bangkit dari duduknya.


Kini posisi Maura menghadap bawah dengan tangan yang bertumpu pada sisi bathtub. Dion datang dari belakang, namun tetap di jalur yang lurus tanpa bengkok.


Pelan-pelan pusaka milik Dion menerobos masuk, membuat Maura mengulum bibirnya sendiri. Ada rasa yang entah yang dia rasakan mengguncang sekujur tubuhnya. Lain posisi, lain pula nikmat yang dia rasakan.


Kini Dion mulai berpacu dengan kekuatannya. Air yang tadinya tenang, kini sudah berombak mengikuti gerakannya yang keluar masuk dengan leluasa. Hal itu membuat Maura mende-sah tiada henti.


"Ah, sayang, pelan-pelan sedikit!" pinta Maura, deru nafasnya kian memburu hingga berpacu dengan erangan nya.


Dion berpegangan pada benda kenyal yang menggantung di dada istrinya. Tangannya asik memainkan ujung benda itu, sementara pinggulnya bergerak semakin menekan.


"Ah, cukup sayang! Aku tidak kuat lagi."


Mendengar itu, Dion mencabut senjatanya perlahan. Dia kembali duduk dan membawa Maura ke pangkuannya.


"Maafkan aku, aku terlalu bersemangat. Apa kamu kesakitan?" tanya Dion mengernyitkan keningnya.


"Tidak sakit, tapi aku tidak kuat menahan tubuhmu. Kamu terlalu keras menekan pinggulku." jawab Maura jujur.


Dion tersenyum, lalu melu-mat bibir basah Maura penuh kelembutan. Dia sadar, kegilaannya tadi bisa saja menyakiti istrinya tanpa disengaja. Tentu saja dia tak mau hal itu terjadi.


"Kalau begitu bermainlah sepuasnya di atas sini!" pinta Dion, dia ingin Maura mengambil alih tugasnya.


Maura tersenyum malu, dia benar-benar gemas melihat suaminya yang kian hari kian lengket dengannya. Apalagi gai-rah keduanya semakin menjadi-jadi tanpa bosan sedikitpun.


Maura sudah naik, junior Dion mulai tenggelam di dalam sana. Keduanya berpacu hingga desa-han dan era-ngan mereka menggema memenuhi kamar mandi.


"Akhh,"

__ADS_1


Keduanya saling berpelukan saat mencapai puncaknya bersamaan. Tubuh Maura bergetar hebat, dia menggigit pundak Dion hingga merah.


Setelah kurang lebih 10 menit saling memeluk, kini pelukan keduanya terlepas. Dion membuang air bekas penyatuan mereka, lalu mengisinya kembali dengan yang baru.


Keduanya berendam sejenak sebelum akhirnya membilas diri di bawah guyuran shower. Dion juga menyabuni dan menggosok tubuh Maura penuh kelembutan.


Usai mandi Dion membopong tubuh Maura, dia mendudukkan nya di sisi ranjang lalu mengambil baju di dalam lemari.


Setelah mengenakan pakaiannya, Dion membantu Maura memakai bajunya. Maura tersenyum, dia benar-benar beruntung mempunyai suami seperti Dion.


Hal itu semakin memantapkan hatinya, dia yakin cinta sejati itu memang ada. Hanya saja tidak semua orang seberuntung dirinya.


"Kenapa tersenyum, mau lagi?" goda Dion saat menangkap senyuman yang mengambang di wajah Maura.


Maura melotot kan matanya, bibirnya mengoceh mengomeli Dion. Saking kesalnya, dia memilin pusar suaminya geram.


"Mau berapa kali lagi?" tanya Maura, dia semakin memperkuat cubitan nya.


"Ti, tidak sayang, aku cuma bercanda. Lepaskan dulu!" rintih Dion, wajahnya memelas menahan panas di kulitnya.


Maura terkekeh, wajah lugu Dion membuatnya gemas. Akhirnya cubitan itu terlepas, Dion menghela nafas panjang sembari mengusap perutnya pelan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini keduanya duduk di balkon kamar sembari menunggu waktu makan malam tiba. Maura nemplok di pangkuan Dion, tangannya melingkar di leher suaminya.


Sementara Dion, dia melingkarkan tangannya di pinggang Maura. Kepalanya bersandar di dada istrinya.


Keduanya asik mengobrol. Maura penasaran, dia ingin tau tentang Dira yang kini tinggal bersama mereka. Dengan senang hati Dion menceritakan semuanya, bagaimanapun juga Maura berhak mengetahuinya.


Dion berbicara panjang lebar. Seperti yang pernah Dion ceritakan sebelumnya, dia tidak bisa meninggalkan gadis itu sendirian mengingat janjinya kepada ayah angkatnya.


Dira hidup sebatang kara setelah kepergian ayahnya yang sudah lebih dulu menghadap Sang Pencipta. Dia memang terlihat tegar dan kuat, namun dalam hati kecilnya dia juga rapuh, sama seperti Dion.


Dion juga menceritakan kalau ayah angkatnya pernah memintanya menikahi Dira. Tentu saja Dion menolaknya, dia tidak ingin terikat dengan gadis yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri.

__ADS_1


Bagi Dion pernikahan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jika hati tak bisa menerima, bagaimana sebuah pernikahan akan bertahan. Dia tidak ingin menyakiti Dira nantinya.


__ADS_2