
Pagi harinya, Dion terbangun lebih dulu. Dia sangat enggan bangkit dari tempat tidur mengingat tubuh Maura yang saat ini masih menindih sebagian tubuhnya. Melihat wajah sang istri yang masih tertidur lelap, Dion pun mengukir senyum di wajahnya.
Dion terus saja menatap lekat wajah Maura sambil sesekali mengecup ujung kepala istrinya dengan sayang. Deru nafas Maura yang meniup dadanya, membuat Dion mulai merasa gerah. Ingin sekali dia membawa sang istri berpetualang, namun niat itu kembali dia urungkan. Dia tak ingin memaksa sebelum istrinya benar-benar siap untuk melakukannya.
Tak lama, Maura menggeliat dan membuka matanya perlahan. Saat itu juga dia tersenyum melihat wajah suaminya yang sangat dekat dengan wajahnya.
"Sudah bangun?" tanya Dion yang sedari tadi tak berhenti memandangi muka bantal sang istri.
Maura mengangguk pelan, lalu mengucek kedua matanya. Dia kemudian bergeser dan bangkit dari tidurnya. Saat hendak turun dari ranjang, Dion menahan tangan istrinya dan menariknya hingga terjatuh di atas tubuhnya.
"Mau kemana?" tanya Dion sembari mengunci tubuh sang istri di atas tubuhnya.
"Mandi, memangnya kenapa?" jawab Maura gugup.
"Kenapa buru-buru? Aku masih ingin memelukmu, mencium mu dan...,"
Seketika, Dion menghentikan ucapannya. Hampir saja dia keceplosan meminta hak nya sebagai seorang suami. Untung saja dia cepat sadar, dia tidak ingin istrinya salah paham dan menjaga jarak lagi dengannya. Maura yang seperti saat ini saja sudah membuatnya begitu bahagia, tinggal menunggu waktu saja baginya untuk memiliki sang istri seutuhnya.
"Kenapa bengong? Ayo, lanjutkan! Dan apa?" tanya Maura penasaran.
"Tidak jadi, cuma itu saja!" jawab Dion, dia pun menelan ludahnya kasar saking gugupnya menjawab pertanyaan sang istri.
Mendengar itu, Maura mengukir senyum di wajahnya. Dia sebenarnya tau maksud ucapan suaminya. Hanya saja dia tak ingin membahas itu mengingat dirinya yang belum siap melakukannya.
"Maafkan aku," ucap Maura, dia kemudian menenggelamkan wajahnya di atas dada bidang sang suami.
"Tidak perlu meminta maaf, bukankah aku pernah bilang bahwa aku tidak akan pernah menyakitimu, apalagi memaksamu. Begini saja sudah membuatku bahagia, apalagi yang aku harapkan?" jawab Dion, dia pun membelai rambut sang istri dengan lembut.
__ADS_1
Mendengar itu, Maura tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Bagaimana bisa dia memiliki suami seperti itu, terbuat dari apa hati suaminya yang begitu sabar menghadapi sikapnya selama ini. Bahkan Dion tidak pernah menuntutnya sama sekali. Maura pun mengecup dada suaminya dan memeluknya dengan erat.
Sekitar pukul 8, pelukan mereka terlepas saat mendengar bunyi bel dari arah luar. Maura bergegas masuk ke dalam kamar mandi, sementara Dion berjalan ke arah pintu dan membukanya lebar.
"Pagi Tuan, maaf mengganggu waktunya. Kami hanya ingin mengantarkan sarapan pagi untuk anda dan sang istri." ucap seorang karyawan yang bekerja di hotel tersebut.
"Tidak apa-apa, masuklah, letakkan saja di samping ranjang!" jawab Dion.
Dion memang sengaja meminta staf hotel mengantarkan sarapan pagi ke kamarnya. Karena hari ini tidak ada kegiatan, dia ingin menghabiskan waktunya bersama sang istri di dalam kamar.
Setelah karyawan hotel tersebut meninggalkan kamar, Dion kembali menutup pintu dan memilih duduk di sofa sembari menunggu istrinya keluar dari kamar mandi.
Usai membersihkan tubuhnya, Dion keluar dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Namun saat melihat Maura tengah duduk merias wajahnya di depan cermin, Dion pun segera mendekat dan memeluknya dari belakang.
"Cantik sekali, memangnya mau kemana?" bisik Dion tepat di daun telinga Maura, membuat sang istri menggeliat geli sebab hembusan nafasnya yang menggelitik.
"Tidak perlu, nanti juga terhapus!" balas Dion sembari tersenyum.
Maura membulatkan matanya lebar, ucapan suaminya barusan membuatnya malu hingga dia pun bangkit dan mencubit perut suaminya kesal.
"Au, kenapa mencubit ku?" rintih Dion.
Maura tak menyahut, namun sesaat dia pun terkekeh melihat wajah suaminya yang berubah dalam sekejap. Hal itu membuat Dion gemas, kemudian menarik tangan istrinya hingga tubuh mereka saling menempel satu sama lain.
Dion kembali mendatangi bibir istrinya dan melu-matnya dengan rakus. Membuat Maura tak berkutik hingga akhirnya dia pun mengalungkan tangannya di leher sang suami.
Kini ciuman itu tak lagi membuat Maura canggung, dia bahkan sudah lihai mengulum bibir Dion dan memainkan lidahnya mengobrak-abrik rongga mulut sang suami.
__ADS_1
Permainan Maura yang halus membuat Dion semakin menggila, bahkan suara lenguhan mereka menahan sesak, menggema memenuhi seisi kamar.
Tak berdaya menahan hasratnya yang semakin memuncak, Dion pun mulai menggerayangi tubuh Maura dengan kedua tangannya. Bahkan dia tak sungkan meremas roti O milik sang istri yang begitu kenyal seperti squishy. Membuat gai-rah kelakiannya timbul hingga lu-matan mereka terlepas seketika.
Kini Dion tak lagi fokus pada bibir Maura. Namun ada yang lebih menantang dari itu, hingga Dion pun menenggelamkan wajahnya di tengah-tengah roti O milik istrinya dan terus meremas nya dengan lembut.
Seketika, Maura menggeliat geli. Sentuhan tangan Dion membuatnya lemah tak berdaya. Bahkan saat Dion mulai menghisap biji kelereng miliknya, tubuhnya mulai kejang bak tersengat aliran listrik.
Semakin Dion mengulum dan memainkan biji kelereng miliknya, semakin bergetar pula sekujur tubuhnya. Hingga tanpa dia sadari, mulutnya pun melenguh dengan deru nafas yang semakin memburu.
Melihat Maura yang semakin tak berdaya, Dion pun menghentikan aksinya sejenak. Ditatapnya wajah sang istri dengan mata yang memerah menahan has-ratnya, lalu mengecup bibir istrinya dengan lembut.
"Maafkan aku, aku terbawa suasana." ucap Dion, dia pun menghela nafas dan membuangnya kasar.
Maura menatap lekat wajah Dion, dia tau suaminya sedang menahan sesuatu. Bahkan Maura tak sengaja melihat Meriam Belanda sang suami yang sudah berdiri tegak di balik handuk yang melilit di pinggang suaminya.
"Kak Dion, kamu...,"
"Tidak apa-apa, aku bisa mengendalikannya." jawab Dion berbohong.
Padahal selama ini, Dion selalu tersiksa menahan rasa sakit saat has-ratnya tak bisa dia salurkan. Namun dia tak mau istrinya mengetahui itu semua. Dia ingin mendapatkan hak nya disaat sang istri sudah benar-benar siap menerimanya.
"Makanlah dulu, aku ke kamar mandi sebentar!" ucap Dion dengan suara yang terdengar berat.
Setibanya di dalam kamar mandi, Dion segera mengunci pintu dan menyalakan kran hingga tubuhnya kembali basah di bawah guyuran air.
Matanya semakin memerah, bahkan kepalanya seakan ingin pecah menahan keinginannya yang sama sekali tidak bisa dia salurkan.
__ADS_1
Dalam kesakitan yang semakin menyiksa itu, Dion pun mencoba lebih tenang sambil membayangkan kejadian yang baru saja terjadi. Perlahan, dia mulai menggerakkan tangannya memainkan Meriam Belanda miliknya yang semakin mengeras. Hingga pada saat susu kental manis itu tumpah, dia pun mengerang dengan dahsyatnya.