Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 43.


__ADS_3

Setibanya di dalam kamar, Dion kembali menatap lekat wajah istrinya. Kedua tangannya bergerak membersihkan wajah Maura yang penuh dengan tepung.


"Apa-apaan ini? Lain kali tidak perlu belajar masak lagi!" ucap Dion yang tidak suka melihat wajah istrinya cemong-cemong begitu.


Mendengar itu, Maura menekuk wajahnya sembari memanyunkan bibirnya. Dia pikir Dion akan senang melihat perjuangannya, namun dia salah. Ucapan sang suami malah membuatnya kecewa. Dia pun beranjak dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.


Usai membersihkan tubuhnya, Maura keluar dan bergegas mengenakan pakaiannya. Setelah semuanya rapi, dia melangkah menuju pintu tanpa menghiraukan sang suami yang menunggunya di sofa.


"Mau kemana?" tanya Dion menahan langkah Maura seketika.


"Ya mau makan lah, kemana lagi?" ketus Maura.


Melihat sang istri yang begitu, Dion bangkit dari duduknya dan mendekat hingga keduanya saling berhadap-hadapan satu sama lain.


"Kamu tidak mengajakku makan bersama? Aku juga lapar." tanya Dion menautkan alisnya.


"Untuk apa mengajakmu makan bersama? Cari saja makanan lain di luar sana!" ketus Maura kesal.


Melihat sang istri yang benar-benar marah, Dion pun memeluknya dengan erat. Dia sadar ucapannya tadi mungkin sudah membuat istrinya tersinggung. Dia sama sekali tidak bermaksud seperti itu, dia tidak ingin melihat istrinya kerepotan mengurus dapur yang sebenarnya tidak perlu dia lakukan.


"Maafkan aku, aku tidak marah. Aku hanya takut terjadi apa-apa denganmu saat di dapur." ucap Dion menjelaskan.


"Jangan mencari-cari alasan, katakan saja kalau kamu tidak suka aku memasak untukmu. Walaupun masakan ku tidak seenak masakan orang lain, setidaknya hargailah usahaku. Sudah capek-capek seharian di dapur malah kena omel." gerutu Maura dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang, kamu salah paham padaku. Bukan itu maksudku."

__ADS_1


"Alah, tidak perlu membujukku. Aku bukan anak kecil lagi. Pergi saja beli makanan untuk dirimu sendiri!" ketus Maura, kemudian meninggalkan Dion begitu saja.


Tiba di meja makan, Maura duduk dengan wajah lesu. Hal itu membuat Bik Sam mengerutkan keningnya bingung melihat wajah Maura yang berubah dalam sekejap.


"Non Maura kenapa, Tuan mana? Kenapa hanya turun sendirian?" tanya Bik Sam bingung.


"Biarkan saja dia kelaparan di atas sana, bukannya senang melihat usahaku, malah dapat omelan yang tidak jelas." ketus Maura menitikkan air matanya.


"Non Maura jangan sedih, mungkin maksud Tuan bukan begitu. Tapi...,"


Bik Sam menjeda ucapannya saat matanya menangkap keberadaan Dion yang sudah berdiri di belakang Maura. Dia memilih pergi karena tidak ingin ikut campur terlalu dalam masalah mereka berdua.


Kini di ruang makan tinggal Dion dan Maura berdua saja. Melihat sang istri yang menangis hingga tersedu, Dion pun memeluknya dari arah belakang.


"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku menghargai semua usahamu ini, tadi aku benar-benar cemas mendengar teriakan mu. Aku pikir terjadi sesuatu padamu. Tolong jangan marah lagi padaku, aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Jika mau marah, maka pukul saja aku sepuas hatimu. Aku lebih baik menahan rasa sakit daripada melihatmu seperti ini." ucap Dion dengan mata berkaca-kaca.


Dion sudah kehilangan akal membujuk sang istri yang masih marah kepada dirinya. Dia pun menarik kursi dan duduk bersebelahan dengan istrinya.


"Apa aku boleh mencicipi masakan istriku?" tanya Dion meminta izin.


Maura memalingkan wajahnya tanpa menjawab pertanyaan suaminya. Entah kenapa, air matanya terus saja menetes meskipun dia sudah berusaha sekuat hati menahannya. Bahkan kini dia sudah terisak hingga membuat nafasnya tersendat.


"Cukup sayang, apa yang terjadi denganmu sebenarnya? Kenapa jadi seperti ini?" tanya Dion, dia tak kuasa melihat sang istri yang sampai sesegukan menangisi kesalahpahaman ini.


Dion bangkit dari duduknya, kemudian mengangkat tubuh Maura. Dia kembali memeluk sang istri dan menyeka wajah cantik yang sudah banjir dengan air mata itu. Setelah itu, Dion pun meraih tangan Maura dan memukulinya ke wajahnya sendiri berulang kali.

__ADS_1


"Pukul saja aku sepuas hatimu, tapi jangan diamkan aku seperti ini." ucap Dion yang terus saja memukuli wajahnya dengan kuat.


"Cukup Kak Dion! Apa yang kamu lakukan?" bentak Maura, dia pun menahan tangannya.


Dion terduduk lesu sembari menyeka wajahnya dengan punggung tangannya. Bahkan cairan di hidungnya ikut keluar saking tak sanggup menahan dirinya yang sudah tersulut emosi. Pada akhirnya dia memilih kembali ke dalam kamar, dia takut lepas kendali dan menyakiti istrinya tanpa di sengaja.


Setibanya di dalam kamar, Dion melayangkan tinjunya ke dinding. Hal itu membuat tangannya terluka dan mengeluarkan darah segar seketika.


"Dasar bodoh! Suami macam apa kau ini Dion, bahkan untuk menjaga perasaan istrimu sendiri saja kau tidak bisa." umpat Dion menyalahkan dirinya sendiri.


Dion terduduk lesu di atas lantai, dia memukulkan kepalanya ke dinding berulang kali saking kesalnya dengan dirinya sendiri.


"Maafkan aku Maura, maafkan aku. Aku yang salah, aku tidak tau diri. Aku bukan suami yang baik untukmu. Aku yang salah, aku salah." teriak Dion, dia kembali menghantam dinding dengan tinjunya sekuat tenaga.


Kali ini Dion tak sanggup lagi bergerak, tenaganya terkuras habis hingga dia pun terduduk lesu dan tersandar di dinding. Bahkan darah di tangannya semakin mengucur hingga berceceran di atas lantai. Di tambah lagi perutnya yang masih kosong membuatnya tak berdaya lagi untuk bangkit.


"Mati saja kau Dion, tidak ada gunanya kau hidup di dunia ini!" gumamnya menyumpahi dirinya sendiri.


Tidak lama, Maura masuk ke dalam kamar membawakan makanan untuk suaminya. Sesaat, dia pun tertegun karena tak melihat Dion di mana-mana. Dia melangkah ke arah meja dan meletakkan piring itu di sana, kemudian membuka pintu kamar mandi yang ternyata juga kosong. Namun saat hendak melangkah menuju pintu, matanya melotot tajam menangkap suaminya yang tersandar lesu di dinding.


"Kak Dion," teriak Maura lantang.


Maura berlari mendekati suaminya, hatinya hancur melihat keadaan Dion yang sudah lemah tak berdaya. Air matanya kembali berjatuhan, dia takut terjadi hal buruk kepada suaminya.


"Kak Dion, apa yang kamu lakukan. Kenapa menyiksa diri sendiri seperti ini?" tanya Maura cemas.

__ADS_1


Jantung Maura seakan berhenti berdetak, apalagi melihat darah yang menetes di punggung tangan suaminya, membuatnya kalut hingga bibirnya kelu untuk berbicara.


Maura berlarian mengambil kotak p3k di dalam laci, dia bergegas mengobati luka Dion, kemudian membalutnya dengan perban. Setelah itu, Maura membantu Dion bangkit dan memapah tubuh suaminya menuju kasur dan membaringkan nya di sana.


__ADS_2