
Pagi hari, Maura terbangun saat mentari menembuskan sinarnya melalui sela-sela jendela kamar. Kicauan burung yang bernyanyi terdengar merdu di telinganya.
Maura membuka matanya perlahan, sesaat dia tergugu melihat wajah Dion yang sangat dekat dengan dirinya. Kehadiran Dion bagaikan mimpi baginya, dia tidak ingin terbangun jika semua ini memang mimpi semata.
"Pagi Maura, bagaimana tidurnya semalam?" sapa Dion yang ternyata sudah lebih dulu bangun, namun dia sangat enggan bangkit dari tidurnya.
Maura mengucek matanya pelan, lalu mengukir senyum di wajah bantalnya.
"Apa aku sedang bermimpi?" gumam Maura dengan suaranya yang serak.
Mendengar itu, Dion pun tersenyum, lalu mendekap Maura dengan erat. Mengusap kepalanya, lalu mencium ujung kepala Maura penuh perasaan.
"Tidak ada mimpi, ini semua nyata." ucap Dion sembari tersenyum lebar.
Meskipun Dion belum bisa mengingat kenangannya bersama Maura, tapi cinta itu mulai tumbuh di dalam hatinya. Maura membuat hatinya bergetar, tatapan mata Maura membuat jantungnya berdebar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usai mandi, Maura membangunkan Diona yang masih terlelap. Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan bagaimana perasaannya saat ini.
"Diona sayang, bangun Nak! Mandi sama Mami dulu ya!" ajak Maura sembari mengecup pipi gembul putrinya.
Diona terkekeh merasakan sentuhan bibir Maura yang lembut, gadis kecil itu merasa geli. Dia membuka matanya perlahan, lalu memeluk Maura dengan tangan mungilnya.
Saat menggendong Diona dan membawanya turun dari tempat tidur, tiba-tiba gadis kecil itu berteriak melihat Dion yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Pi, pi, ndon."
Diona mengangkat kedua tangannya, merentangkan nya ke arah Dion. Tubuhnya menggeliat minta digendong oleh Dion. Ikatan batinnya terhadap sosok sang papi sepertinya sangat kuat.
"Diona, gendong sama Papinya nanti aja ya. Sekarang Diona mandi dulu sama Mami, Papi belum berpakaian Nak!" ucap Maura.
"Da au," jawab Diona, tubuhnya menggeliat kuat menggapai tubuh Dion.
Melihat putrinya yang sangat ingin bersama dirinya, Dion pun mengambilnya dari gendongan Maura.
__ADS_1
"Sini sayang, anak Papi yang cantik." Dion meletakkan tubuh mungil Diona di dadanya yang masih setengah basah.
Diona tersenyum dengan manisnya, lalu mengalungkan tangan mungilnya di leher Dion. Wajahnya menempel lekat di pundak sang Papi.
Melihat putrinya yang begitu mendambakan kasih sayang seorang ayah, mata Maura berkaca-kaca dibuatnya. Hatinya terenyuh, sedih bercampur bahagia.
"Diona sayang Papi ya?" tanya Dion sembari mengusap punggung putrinya lembut.
Diona mengangguk tanpa bersuara, gadis kecil itu menikmati sekali pelukan dan sentuhan hangat dari papinya.
"Sudah ya Nak, gendongnya nanti lagi! Mandi dulu yuk!" ajak Maura, dia berusaha keras mengambil putrinya dari dekapan Dion.
"Da au, au ndi api." jawab Diona, maksudnya mau mandi sama papi. Pelukannya semakin erat mendekap tubuh Dion.
"Oh, Diona mau mandi sama Papi ya? Baiklah kalau begitu, lets go!" ajak Dion, lalu memutar tubuhnya kembali ke kamar mandi.
Maura tertegun di tempatnya berdiri, perasaannya semakin berkecamuk. Benar suaminya telah kembali, tentu saja dia sangat bahagia.
Tapi bagaimana dengan wanita itu, wanita yang mengaku sebagai istri suaminya. Apa benar wanita itu istrinya, apa benar mereka sudah menikah? Ada anak juga diantara mereka, hati Maura berdenyut ngilu memikirkan semua itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maura duduk di sebelah Dion, Dira duduk di sebelah Miko. Sementara Diona sedang makan bersama Tuti di taman.
Keadaan pagi ini tampak begitu canggung, mereka berempat asik menikmati sarapan tanpa ada yang bersuara.
Usai sarapan, Maura menyusul putrinya ke taman. Dia mengambil Diona dan menyuruh Tuti sarapan lebih dulu.
Maura duduk di sebuah bangku kayu sembari memangku Diona. Wajahnya terlihat sendu, bingung memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Dion.
Dalam kegundahan yang tengah menerpa pikiran dan relung hatinya, Dion datang dan duduk di samping Maura.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Dion dengan tatapan tak biasa.
"Entahlah, aku bingung." jawab Maura, kemudian menghela nafas berat.
__ADS_1
"Bingung kenapa? Apa kamu tidak bahagia dengan kehadiranku?" tanya Dion menerka.
"Tentu saja aku bahagia, tapi sekarang keadaannya sudah berbeda. Suamiku kembali, tapi kenyataannya dia sudah menjadi suami orang lain."
Maura menekuk wajahnya, matanya berkaca-kaca memikirkan kemungkinan yang sudah terjadi.
"Maura, aku akan menyelesaikan semuanya secepat mungkin. Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak memiliki perasaan apa-apa pada Adila." jelas Dion.
"Memiliki perasaan atau tidak, tapi kenyataannya dia adalah istrimu. Kalian juga memiliki seorang putra, aku tidak bisa menghancurkan hubungan kalian. Cukup Diona saja yang menderita kehilangan Ayahnya, jangan sampai anak itu merasakan hal yang sama seperti Diona!" jelas Maura.
"Maura, jangan bicara seperti itu! Kita belum tau kenyataannya seperti apa. Bersabarlah, bila perlu aku akan melakukan tes DNA." ucap Dion.
"Entahlah, aku benar-benar bingung." Maura menatap Dion dengan intens, lalu tersenyum kecil.
Puas menatap wajah Dion, Maura bangkit dari duduknya. Dia melangkah ke dalam resort dan mengemasi barang bawaannya. Dia ingin pulang lebih awal, terlalu lama bersama Dion membuat hatinya semakin galau.
Sementara di tempat lain, Miko tengah duduk bersama Dira di sebuah ayunan kayu. Sejak semalam, keduanya masih menutup diri. Tidak ada yang berani membuka suara terlebih dulu.
"Aku masuk dulu, mau mengemasi barang." ucap Dira, lalu meninggalkan Miko begitu saja.
Miko tak memberi respon apa-apa, dia terdiam memandangi punggung Dira yang semakin menjauh. Dia sendiri bingung memikirkan kejelasan hubungan mereka.
Untuk sementara waktu, Miko ingin membantu Dion dulu memulihkan ingatannya. Mengenai perasaannya, mungkin bisa dibicarakan lain hari.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Jakarta, Adila sudah kehilangan akal mencari keberadaan Andra yang tak lain adalah Dion. Dia gagal melacak ponsel suaminya karena GPS yang di pasang sudah dimatikan.
"Kau tidak boleh meninggalkan aku seperti ini Andra! Aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku begitu saja!"
Adila mengamuk dan menghancurkan semua perkakas yang ada di atas meja kerjanya. Dia bertingkah layaknya orang stress, emosinya sudah di atas normal. Dia bahkan memarahi semua karyawan dengan kasar.
Tidak ada yang berani mendekatinya, semua karyawan terdiam tanpa berkata sepatah katapun.
Sementara di puncak sana, semuanya sudah masuk ke dalam mobil. Karena Dion membawa mobilnya sendiri, mereka pun berbagi menjadi dua mobil.
__ADS_1
Maura yang tadinya enggan satu mobil dengan Dion, akhirnya menurut karena Diona tidak mau jauh dari papinya. Di dalam mobil itu ada Tuti juga yang menemani mereka. Sementara di mobil lain, ada Miko dan Dira berdua saja.
Dua mobil itu melaju beriringan, mobil Dion di depan dan mobil Miko menyusul di belakang.