Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 47.


__ADS_3

Pagi ini Dion memutuskan untuk tinggal, dia ingin menghabiskan waktunya lebih banyak bersama sang istri. Tugas di kantor pun tidak ada yang mengharuskannya untuk datang, dia memilih berkomunikasi dengan Samuel lewat telepon genggam seperti biasanya.


Usai sarapan bersama, Doni sudah menghilang meninggalkan rumah. Sementara Bik Sam juga pergi mengunjungi keluarganya untuk beberapa hari. Kini tinggal Dion dan Maura saja di rumah itu.


Dion duduk di ruang tengah dengan laptop yang menyala di depan matanya, jari jemarinya sibuk mengotak-atik keyboard tersebut. Tidak lama, Maura datang membawakan secangkir teh dan duduk di samping suaminya.


"Sibuk amat, lihat apaan?" tanya Maura, dia pun melingkarkan tangannya di pinggang Dion dengan bibir yang menempel di lengan suaminya.


"Tidak ada, ini lagi balas pesan dari Samuel." jawab Dion yang masih fokus dengan layar laptopnya.


Tak ingin mengganggu suaminya, Maura kembali melepaskan tangannya dari pinggang Dion, kemudian menyalakan televisi. Dia pun bersandar pada tampuk sofa sembari menonton film yang tengah berlangsung pada layar berukuran besar itu.


Usai berbalas pesan dengan Samuel, Dion menutup laptopnya kembali. Dia pun bersandar di samping Maura dan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Serius sekali, nonton apaan?" tanya Dion, dia pun merebahkan kepalanya di pundak Maura.


"Suami kejam, untuk apa menikahi anak orang kalau hanya untuk disakiti?" gumam Maura yang masih fokus menatap layar televisi.


Seketika, Dion pun terperanjat kaget. Dia menautkan sepasang alisnya bingung mendengar kata-kata istrinya.


"Siapa yang kejam, kapan aku menyakitimu?" tanya Dion dengan mata terbuka lebar.


Mendengar itu, Maura menoleh ke arah Dion. Dia pun terkekeh mendengar pertanyaan suaminya, apalagi melihat raut wajah Dion yang berubah dalam sekejap. Gelak tawanya pecah hingga menggema memenuhi seisi ruangan.


"Kenapa tertawa, apa yang salah denganku?" tanya Dion begitu polosnya.


"Hahaha, aku bukan mengatai Kak Dion. Tapi aku kesal melihat film itu. Mau enaknya saja, tapi istrinya disakiti terus." jelas Maura yang belum bisa menahan tawanya.


Mendengar penjelasan Maura, Dion pun tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.


"Oh, jadi sedang bahas film. Aku pikir kamu mengatai aku tadi." ucap Dion, dia pun mengacak rambut istrinya gemas.

__ADS_1


***************


Siang harinya, Dion dan Maura bersiap-siap usai mandi bersama. Berhubung Bik Sam tidak di rumah, Dion ingin mengajak istrinya makan siang di luar. Dan setelah keduanya rapi, mereka pun melangkah meninggalkan rumah.


Kini mobil mewah Dion sudah melaju menyusuri jalan raya. Dion yang duduk di bangku kemudi, tak henti-hentinya melirik ke arah Maura. Senyumannya mengambang mengingat kejadian semalam. Membuat rasa cintanya semakin hari semakin bertambah untuk istrinya.


Tak berselang lama, Dion memutar stir mobilnya ke arah parkiran sebuah restoran. Setelah turun, Maura melingkarkan sebelah tangannya di lengan Dion. Keduanya melangkah masuk sembari melempar senyum di wajah masing-masing.


Kini keduanya sudah duduk di sofa yang ada di pojok ruangan. Dion memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka berdua.


Sembari menunggu makanan datang, keduanya asik bercengkrama dengan tubuh saling menempel satu sama lain. Bahkan tangan Dion tak lepas dari pinggang istrinya.


Di tempat yang sama, ada Giska yang duduk tidak jauh dari meja mereka. Mata wanita itu membulat menyaksikan pemandangan yang membuat dadanya kepanasan. Dia mengepalkan tangannya dan tersenyum dengan licik.


"Kak Dion, aku ke kamar kecil sebentar ya." ucap Maura, dia pun bangkit dari duduknya.


"Mau aku temani." tawar Dion.


"Tidak usah, Kak Dion di sini saja! Sebentar lagi makanannya datang." balas Maura menolak tawaran suaminya.


Prok, prok, prok


Maura terkejut mendengar tepuk tangan dari arah belakang. Saat dia menoleh dan membalikkan tubuhnya, seorang wanita seksi sudah berdiri di hadapannya.


"Maura Pratiwi binti Doni Hardiansyah, senang melihatmu ada di sini." sapa Giska dengan senyuman liciknya.


"Siapa kau?" tanya Maura menautkan sepasang alisnya.


"Cih, jangan berpura-pura bodoh di depanku!" ucap Giska dengan tatapan tajamnya.


"Untuk apa aku berpura-pura bodoh? Kenal saja tidak." ketus Maura dengan tatapan tak kalah tajamnya.

__ADS_1


Mendengar itu, Giska semakin mendekat dan menjambak rambut Maura. Hal itu membuat Maura kesal dan mendorong tubuh Giska hingga tersandar di dinding.


"Wanita sialan! Setelah mencuri Dion dariku, sekarang kau berani mendorongku hah." bentak Giska dengan lantangnya.


"Mencuri Dion? Hahahaha, apa kau sudah gila?" tanya Maura terkekeh.


Mendengar itu, Giska semakin meradang dan kembali meraih rambut Maura. Dia juga mendorong tubuh Maura hingga tersandar di sisi wastafel.


"Kembalikan Dion padaku! Jika tidak, aku tidak akan segan menghancurkan wajah cantikmu ini!" ancam Giska dengan tatapan membunuhnya.


Kesal mendengar ancaman Giska, Maura pun meraih gelas berisi air yang ada di permukaan wastafel. Dia tidak ragu sedikitpun menyiram wajah wanita itu hingga cengkraman tangannya terlepas dari rambutnya.


"Jangan mengancam ku dengan mulut busuk mu itu! Jika kau menginginkan suamiku, dekati saja dia! Kita lihat, siapa yang dia pilih? Kau atau aku istri sahnya." jawab Maura tegas, dia pun mendorong dada Giska dan berlalu meninggalkan tempat itu.


"Jangan senang dulu, aku tidak akan membiarkanmu bahagia bersamanya!" teriak Giska sekencangnya, entah Maura dengar atau tidak.


Setibanya di depan Dion, Maura tetap berdiri dan menatap suaminya dengan wajah cemberut. Hal itu membuat Dion bingung dan menautkan sepasang alisnya.


"Ayo kita pergi! Aku tidak mau makan di sini." ketus Maura sembari meraih tangan Dion.


"Ada apa sayang? Kita belum makan loh, ini makanannya sudah datang." jawab Dion bingung.


"Ayo cepat! Kasih sama pelayan saja makanannya, selera makan ku sudah hilang." ketus Maura bersikeras ingin pergi.


Tak ingin membuat keributan di sana, Dion pun mengikuti kemauan istrinya. Dia memanggil pelayan dan menyuruhnya memakan makanan tersebut. Dan setelah membayar tagihan, keduanya berlalu meninggalkan restoran itu.


Setelah keduanya duduk di dalam mobil, Dion menggenggam tangan Maura dan menatapnya penuh tanda tanya. Dia benar-benar bingung melihat sikap istrinya yang tiba-tiba berubah dalam sekejap.


"Katakan padaku! Apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba mengajakku pergi?" tanya Dion mencari tau.


Maura menghalau tangan Dion yang menempel di tangannya, kemudian membuang muka menghadap jendela dengan bibir manyun nya.

__ADS_1


"Sayang, bicaralah padaku! Kalau seperti ini aku jadi bingung sendiri." pinta Dion sembari mengacak rambutnya hingga kusut.


Maura masih kesal, dia sangat enggan menatap wajah suaminya. Matanya bahkan sudah berkaca-kaca menahan cairan bening yang tergenang di kelopak matanya.


__ADS_2