
Setelah menceritakan apa yang terjadi dan berbicara panjang lebar, Miko dan Dira mulai mengerti dan memahami semuanya.
Meskipun pria itu mengaku sebagai Andra, paling tidak ketiganya merasa senang karena masih bisa melihat sosok Dion di tengah mereka.
Sebelum pamit, Andra dan Miko duduk terpisah dari Maura dan Dira. Keduanya duduk di balkon sembari menikmati secangkir kopi yang diseduh oleh Dira.
"Aku tidak menyangka, ternyata Miko yang aku hubungi waktu itu adalah kamu." ucap Andra memulai percakapan.
"Maaf, aku tidak tau kalau yang meneleponku waktu itu adalah Kak Dion, eh Kak Andra. Jika aku tau, mungkin sudah lama kita bertemu." jawab Miko.
"Sudahlah, semua sudah berlalu. Aku hanya ingin mengingat semuanya, siapa aku, dari mana asal ku, dan bagaimana aku?"
"Tapi yang paling penting, aku ingin mengingat tentang wanita cantik itu. Apa benar dia istriku? Aku merasakan sesuatu saat berada di dekatnya, berbeda dengan Adila. Aku tidak merasakan apa-apa saat bersama wanita itu," jelas Andra.
"Yakin saja! Jika kamu benar Kak Dion, berarti kamu adalah suaminya Kak Maura dan juga Papinya Diona. Kasihan gadis kecil itu. Sejak dalam kandungan, dia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah." lirih Miko.
Mata Andra berkaca-kaca mendengar itu, dia sayang dengan Diona. Bahkan sejak pertama bertemu di mall tempo hari, dia sudah merasakan ada ikatan diantara mereka.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu. Tidak enak, sudah larut. Wanita itu pasti mencari ku." Andra menghela nafas berat.
"Oh ya, tolong rahasiakan semua ini dari Adila. Aku tidak ingin dia tau tentang ini, dia berusaha kerat menjerat ku di dalam genggamannya." pinta Andra.
"Baiklah, kamu bisa percaya pada kami. Mana mungkin kami rela melepaskan Kakak kami padanya? Apalagi Kak Maura, dia sangat mencintaimu, eh maksudnya Kak Dion." ucap Miko.
"Aku tau itu, aku bisa melihat dari tatapan matanya."
Andra bangkit dari duduknya, kemudian melangkah ke dalam kamar. Saat hendak pergi, dia menatap Maura yang tengah terlelap di samping Diona.
Meskipun belum bisa mengingat apa-apa, tapi dia juga yakin kalau mereka semua adalah keluarganya.
Andra mengecup pipi Diona dengan sayang, kemudian mengusap kepala Maura dengan lembut. Entah kemana, hatinya terasa berat meninggalkan keduanya.
Setelah kepergian Andra, Miko pun membaringkan tubuhnya di sofa. Dia malas kembali ke kamarnya, mengingat ada Tuti di dalam sana. Dia tidak tega mengganggu istirahat pengasuh Diona itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam berlalu begitu cepat, bias sinar mentari pagi membuat satu persatu dari mereka terbangun.
__ADS_1
Dira membulatkan matanya lebar, pandangannya mengarah pada sofa yang tengah ditiduri Miko.
"Ya ampun. Dia malah tidur di sini, bukannya kembali ke kamarnya." ketus Dira kesal.
"Biarkan saja Dira! Apa salahnya? Ada Kakak juga di sini. Mana mungkin dia berani mengganggumu, kecuali kalau kamu juga mau di ganggu olehnya." canda Maura.
"Apaan sih Kak? Gak lucu tau," Dira bangkit dari kasur dan masuk ke dalam kamar mandi.
Usai mandi dan berganti pakaian, Dira menghampiri Miko yang masih tertidur dengan lelap.
"Hei, Miko, bangun!" Dira mengguncang lengan Miko kasar.
"Hmmm, kenapa membangunkan aku pagi-pagi begini? Biarkan aku tidur sebentar, aku masih ngantuk!" gumam Miko dengan mata yang masih terpejam.
"Bangun Miko! Ini sudah jam berapa? Katanya mau mengajak kami berlibur," tegas Dira menagih janji Miko.
Miko bergegas membuka kelopak matanya, menatap Dira dengan muka bantalnya.
"Sorry, aku lupa. Kalau begitu aku mandi dulu, sebentar saja!" ucap Miko, dia bergegas bangkit dari sofa.
"Tidak perlu terburu-buru Miko, ini baru jam 7. Dira nya aja yang berlebihan, Kakak sama Diona saja belum mandi." sambung Maura yang masih berbaring menyusui Diona di atas kasur.
"Gadis gila! Awas ya, tunggu pembalasanku!" umpat Miko kesal, lalu melangkah meninggalkan kamar.
Dira dan Maura sama-sama terkekeh melihat ekspresi Miko yang tak biasa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tuti sudah kembali ke kamar yang ditempati Maura. Setelah semuanya beres, mereka turun menuju restoran yang ada di bawah sana. Miko menyusul setelah Dira mengirim pesan kepadanya.
Usai menikmati sarapan pagi, mereka semua meninggalkan hotel dan masuk ke dalam mobil. Miko pun melajukan mobilnya memasuki jalan raya.
"Om Miko, kemarin katanya kita mau berlibur. Memangnya kita mau kemana?" tanya Dira mengatasnamakan Diona yang ada di pangkuannya.
"Memangnya Diona mau kemana sayang? Om Miko siap membawa Diona kemana saja, yang penting Diona senang." jawab Miko yang masih fokus dengan stir mobilnya.
Maura hanya bisa tersenyum mendengar itu. Secara tidak langsung, Miko mengatakan sayang pada Dira.
__ADS_1
"Ehem, sayangnya buat siapa nih? Diona atau Aunty Dira?" sambung Maura terkekeh.
"Apaan sih Kak? Buat Diona lah, mana mungkin buat gadis gila itu?" balas Miko menyindir Dira.
"Hei, siapa yang kamu bilang gila? Kamu tuh yang gila, bukan aku!" ketus Dira kesal.
"Loh, apa-apaan kalian ini? Kok malah bertengkar?" tanya Maura heran.
"Miko tuh yang duluan," kesal Dira.
"Kok aku, kamu tuh yang duluan." geram Miko.
"Sudah, sudah, jangan ribut dong! Apa kalian tidak kasihan dengan Diona? Kalau mau ribut, mending kita pulang saja!" tegas Maura.
Miko langsung terdiam mendengar itu, begitupun dengan Dira.
"Jangan pulang ya Kak! Jarang-jarang loh kita bisa berlibur seperti ini." pinta Dira.
"Huh, cengeng!" cela Miko.
"Cukup Miko!" tekan Maura.
"Iya, iya, aku diam." Miko menjahit mulutnya rapat, dia tak bicara sepatah katapun hingga mobil mereka berhenti di parkiran sebuah tempat wisata.
Miko memilih puncak sebagai tempat berlibur kali ini, sudah lama dia tak menghirup udara segar. Maura pun sangat setuju dengan Miko, hal itu mengingatkannya dengan sang nenek dan pemandangan desa yang begitu indah.
"Miko, next kita pulang ke desa ya. Kakak rindu dengan Nek Ida dan juga pemandangan di sana." pinta Maura.
"Ok kak, kemana pun Kak Maura ingin pergi, Miko siap membawa Kakak ke sana. Tapi kalau bisa jangan bawa gadis gila itu, menyebalkan!" canda Miko.
"Ya sudah, kalau begitu jangan bawa aku! Siapa juga yang ingin pergi sama kamu?"
Dira memanyunkan bibirnya kesal, kemudian turun lebih dulu dari mobil membawa Diona bersamanya.
"Ya ampun Miko, kalian ini kenapa sih? Bukankah kita ke sini mau berlibur?" Maura menggeleng-gelengkan kepalanya, pusing melihat tingkah keduanya.
"Kak Maura jangan marah gitu dong! Aku cuma bercanda, dia saja yang terlalu sensitif jadi orang." jelas Miko.
__ADS_1
Setelah semuanya turun dari mobil, Miko memesan satu resort. Sebuah bangunan yang terdapat 2 kamar di dalamnya. Satu kamar keluarga dan satunya kamar biasa.