
Usai sarapan, Dion pamit karena harus ke kantor sesegera mungkin. Dia menyalami sang ayah mertua dan mencium punggung tangannya, kemudian berjalan bersama sang istri yang ikut mengantarkannya sampai halaman rumah.
"Kak Dion hati-hati ya, jangan pulang terlalu sore!" ucap Maura melepas kepergian suaminya.
Mendengar itu, Dion menggulingkan senyumannya. Dia mengecup ujung kepala Maura, kemudian mengesap bibir merekah itu dengan lembut. Hal itu membuat sang istri tersipu malu dengan wajah merah merona.
"Kenapa, apa mulai takut jauh dariku?" goda Dion.
"Tidak, siapa yang takut?" bantah Maura.
"Oh, kalau gitu aku pulang malam saja. Dari kantor aku langsung ke bar, mungkin pulangnya tengah malam. Di sana banyak gadis cantik..., au, sakit sayang."
Belum sempat Dion menyelesaikan ucapannya, tangan Maura sudah lebih dulu berlabuh di perutnya dan memutar kulitnya dengan kuat.
"Ayo, lanjutkan! Gadis cantik apa hah?" ketus Maura dengan tatapan membunuhnya.
"Ti, tidak jadi. Lepaskan dulu dong, sakit tau!" pinta Dion.
"Awas saja kalau berani macam-macam di luar sana. Jangan harap bisa masuk lagi ke rumah ini!" ketus Maura sembari melepaskan cubitan nya.
Mendengar itu, Dion terkekeh dengan sendirinya. Kemudian membawa Maura ke dalam pelukannya.
"Jangan marah! Aku hanya bercanda. Yakinlah padaku, di hati ini hanya ada kamu seorang. Tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun." ucap Dion meyakinkan istrinya.
Mendengar ucapan Dion, Maura melingkarkan tangannya dengan erat dan menempelkan hidungnya di bawah belahan ketiak suaminya. Aroma khas yang dia hidu membuatnya enggan sekali melepaskan pelukannya.
"Janji,"
"Iya sayang, aku janji. Untuk apa wanita lain kalau yang satu ini saja sudah membuatku tergila-gila. Apalagi mengingat yang semalam, aku rasanya ingin lagi." bisik Dion yang membuat Maura tersipu malu.
"Sssttt, cukup! Jangan membahas itu lagi!" cetus Maura sembari menenggelamkan wajahnya di ketiak sang suami.
"Kenapa malu, kita bahkan sudah melihat semuanya dan merasakannya bersama-sama." ucap Dion dengan santainya.
"Cukup Kak Dion! Semakin lama bicaramu semakin ngawur saja." ketus Maura melepaskan diri dari pelukan suaminya.
"Tapi sayang...,"
"Pergilah, aku tidak ingin mendengar ocehan mu lagi!" Maura mendorong tubuh Dion sembari mengulum senyumannya.
Melihat wajah Maura yang begitu, Dion terkekeh. Dia kemudian menjauh dan masuk ke dalam mobil dengan senyuman yang masih mengambang di wajahnya.
__ADS_1
Setelah mobil Dion hilang dari pandangannya, Maura kembali masuk sembari mengulum senyumannya mengingat kekonyolan suaminya tadi.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Doni yang sudah berdiri di depan pintu.
Maura terlonjak kaget mendengar suara ayahnya. Dia tergugu menatap wajah sang ayah yang membuat senyumannya lenyap seketika.
"Sejak kapan Ayah berdiri di sini?" tanya Maura gugup.
"Cukup lama," sahut Doni mengukir senyuman di wajahnya.
Melihat reaksi Doni yang begitu, Maura pun memeluk ayahnya dengan erat. Dia merasa malu karena sang ayah sudah melihat kebersamaannya dengan sang suami.
"Ayah menguping pembicaraan kami?" tanya Maura sembari menyandarkan kepalanya di dada Doni.
"Sedikit," jawab Doni terkekeh.
Doni mengayunkan kakinya membawa Maura menuju sofa yang ada di ruang tamu. Mereka berdua duduk bersebelahan dengan kepala Maura yang menempel di lengan sang ayah.
"Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini?" tanya Doni mencari tau.
"Kenapa Ayah bertanya seperti itu?" jawab Maura dengan pertanyaan pula.
"Kenapa diam saja, jawab dong?" tanya Doni lagi.
Maura mengangguk pelan, hal itu menandakan kalau dia bahagia bersama Dion. Seketika, Doni pun menghela nafas lega.
"Ayah tau Dion itu pria yang baik, Nek Ida sudah menceritakan semuanya pada Ayah. Meskipun Ayah tidak tau asal usulnya, tapi Ayah yakin dia adalah pria yang tepat untukmu. Belajarlah mencintainya, bantu dia melupakan kesakitan nya di masa lalu!" pinta Doni.
Mendengar itu, Maura kembali memeluk sang ayah dengan mata berkaca-kaca.
"Maura mencintainya Ayah, Maura sangat mencintainya. Terima kasih karena Ayah sudah memberinya kesempatan menikahi Maura waktu itu." ucap Maura menitikkan air matanya.
Mendengar pengakuan Maura, Doni kembali mengukir senyum di wajahnya. Tidak ada lagi yang dia inginkan selain melihat putrinya hidup bahagia bersama pria yang dia cintai.
"Sudah, kenapa menangis?" tanya Doni, dia pun menyeka pipi Maura dengan tangannya.
"Maura menangis karena bahagia Ayah, tidak ada pria sebaik dan sesabar dia. Bahkan dia tidak pernah menyakiti Maura sedikitpun meski Maura sudah kasar dan mengabaikannya selama ini." jelas Maura.
"Belajarlah memahaminya, dia hanya membutuhkan seseorang yang bisa berdiri tegak bersamanya. Apapun yang akan terjadi dimasa depan, jangan pernah melepaskan tangannya apalagi berniat meninggalkannya. Dia sudah cukup menderita selama ini, jangan membuatnya kembali terluka!" pesan Doni.
"Iya Ayah, Maura janji." jawab Maura.
__ADS_1
"Ya sudah, masuklah ke dalam! Ayah harus ke kantor sekarang." ucap Doni, dia pun mengecup ujung kepala Maura dengan penuh kasih sayang.
Setelah Doni menghilang dari pandangannya, Maura masuk ke dapur. Dia ingin belajar masak bersama Bik Sam. Meskipun di rumah mereka ada Ela dan Nisa, namun dia juga ingin suaminya menyicipi masakannya sendiri. Tidak harus bergantung dengan masakan pelayan setiap harinya.
"Bik, ajarin Maura masak dong!" pinta Maura dengan gamblang nya.
"Loh, tumben Non Maura berminat belajar masak. Dulu-dulu kemana aja?" jawab Bik Sam yang sedikit terkejut mendengar itu.
Maura mengukir senyuman di wajahnya, meskipun terlambat, tapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali. Dia pun mulai fokus dan memperhatikan Bik Sam dengan seksama.
Hari ini Maura tidak menginjakkan kaki lagi di kamarnya. Dia benar-benar sibuk di dapur mencoba memasak berbagai macam masakan. Jika gagal, dia akan mengulanginya lagi dan lagi sampai benar-benar berhasil membuat masakan yang enak.
"Sudah Non, jangan dipaksain! Besok kan masih bisa." ucap Bik Sam, dia kasihan melihat Maura sedari tadi mondar-mandir seperti setrikaan rusak.
"Tidak apa-apa Bik, Maura masih sanggup. Nanti kalau capek, pasti Maura berhenti." sahut Maura yakin.
Tepat pukul 1 siang, Dion pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Namun saat hendak menaiki anak tangga, tiba-tiba langkahnya terhenti mendengar teriakan Maura dari arah dapur.
Raut wajahnya berubah cemas dalam sekejap, dia berlari menuju dapur karena takut sesuatu terjadi kepada istrinya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dion, dia pun memeluk tubuh Maura dengan erat.
Sesaat, Maura terdiam mendapatkan pelukan yang tiba-tiba dari suaminya. Dia bingung melihat reaksi Dion yang seperti mencemaskan sesuatu.
"Kak Dion, kamu kenapa tiba-tiba memelukku?" tanya Maura.
Menyadari istrinya yang baik-baik saja, Dion pun melepaskan pelukannya. Dia menatap lekat wajah sang istri yang dipenuhi keringat, bahkan banyak tepung yang menempel di sana.
"Apa yang terjadi, kenapa kamu berteriak seperti tadi?" tanya Dion.
Maura terkekeh, begitupun dengan Bik Sam yang tidak kuat menahan tawanya. Membuat Dion menautkan sepasang alisnya sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Tidak apa-apa Tuan, Non Maura baru saja selesai memasak. Makanya dia berteriak saking senangnya." jelas Bik Sam menahan tawanya.
"Ya ampun Maura, hampir saja jantungku copot karena mu. Untuk apa belajar masak segala?" tanya Dion.
"Untuk apa lagi kalau bukan untuk suamiku ini." jawab Maura menyeringai.
Mendengar itu, Dion mengukir senyum di wajahnya. Kemudian menghela nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Bik, tolong di hidangkan ya. Kami mau ke kamar dulu bersih-bersih." pinta Maura, dia pun melingkarkan tangannya di lengan Dion dan melangkah bersamaan menuju kamar mereka.
__ADS_1