
Esok harinya, Dion dan Maura memutuskan meninggalkan resort dan kembali ke kediaman mereka. Pagi tadi Dira berhasil menghubungi Dion dan menceritakan semuanya.
Meskipun kebersamaan keduanya cukup singkat, namun momen romantis itu tidak akan pernah terlupakan.
Berenang di dalam kolam yang dipenuhi bunga mawar, makan malam bersama di bawah langit yang dipenuhi bintang. Bahkan keduanya sempat berdansa di bawah terangnya sinar sang rembulan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 4 sore, mobil yang dikendarai Dion sudah terparkir di garasi rumahnya.
Setibanya di dalam rumah, keduanya disambut oleh Dira yang juga baru pulang dari kantor.
"Kak Dion, Kak Maura, akhirnya kalian pulang juga." sapa Dira dengan wajah lelahnya.
Dira memeluk keduanya bergantian, kemudian ketiganya duduk di ruang tamu.
Dira mulai menceritakan semuanya kepada Dion. Bima baru saja menelepon dirinya, pria itu kesulitan mengatasi masalah di perusahaan cabang sendirian.
Setelah mendengar semua penjelasan dari Dira, Dion mengusap wajahnya kasar. Tidak ada cara lain, sore ini dia harus berangkat ke Bandung untuk menyelesaikan semua masalah yang terjadi.
Dira bangkit dari duduknya, dia meninggalkan Dion dan Maura berdua di sana. Tubuhnya sangat lelah dan ingin beristirahat untuk sejenak.
"Sayang, aku harus ke Bandung sore ini juga. Sepertinya ada yang sengaja menyabotase perusahaan." Dion menggenggam tangan Maura erat, berniat meminta izin.
Maura menekuk wajahnya, dia sedih harus ditinggal oleh Dion. Sejak menikah, dia tak terbiasa berjauhan dengan suaminya itu.
"Aku ikut ya!" pinta Maura memelas, entah kenapa hatinya sangat berat berpisah dengan Dion.
Dion membawa Maura ke dalam dekapan dadanya, dia mengusap lengan Maura pelan dan mencium ujung kepala istrinya dengan sayang.
"Aku ingin sekali membawamu bersamaku, tapi situasi kali ini berbeda. Aku harap kamu bisa mengerti." ucap Dion, dia sebenarnya juga tidak ingin meninggalkan Maura. Tapi keadaan memaksanya melakukan itu.
Maura menelan air matanya kembali, dia tidak ingin merusak suasana hati Dion. Perasaan takutnya dia tahan sendiri agar tidak membebani pikiran Dion.
Kini keduanya bangkit dan melangkah menuju anak tangga. Pelukan mereka tidak terlepas dari pinggang masing-masing.
Sesampainya di dalam kamar, Dion bergegas masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Sementara Maura membuka pintu lemari dan menyiapkan pakaian yang akan dibawa Dion.
Setelah mengenakan pakaiannya, Dion memeluk Maura yang masih berdiri di sampingnya. Tatapan mata Maura terlihat sendu.
"Jangan sedih sayang, aku janji tidak akan lama! Setelah semua masalah selesai, aku akan kembali secepatnya!" ucap Dion, kemudian mengecup ujung kepala Maura dengan sayang.
__ADS_1
Maura semakin mempererat pelukannya, entah kenapa hatinya sangat berat melepas kepergian Dion.
"Aku takut, perasaanku mengatakan kalau...,"
"Sssttt, jangan berpikir yang aneh-aneh!" potong Dion, kemudian mengesap bibir Maura dan melu-matnya dalam.
Maura membalas luma-tan Dion, keduanya larut untuk sesaat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sekitar pukul 6 sore, Samuel datang membawa sebuah koper. Sebelumnya Dion sudah menghubunginya dan mengajaknya berangkat bersama.
Samuel memindahkan kopernya ke dalam mobil Dion, kemudian mengambil koper Dion dan menatanya di dalam bagasi.
"Aku pergi dulu, kamu hati-hati ya di rumah. Nanti aku akan menghubungi Miko dan memintanya menemani kalian."
Dion memeluk Maura erat, kemudian mengesap kembali bibir istrinya lembut. Setelah itu Dion memeluk Dira dan mengacak rambutnya pelan.
"Jaga Kakakmu dengan baik!" pinta Dion.
Saat Dion hendak masuk ke dalam mobil, Maura berlari dan memeluknya erat. Air matanya tiba-tiba jatuh berderai.
Dion merasa sesak melihat istrinya yang seperti itu, matanya ikut berkaca-kaca. Entah kenapa, kakinya terasa berat untuk melangkah.
"Jangan seperti ini sayang! Aku tidak bisa pergi jika kamu seperti ini." ucap Dion menahan tangisannya.
Maura melepaskan pelukannya, kemudian menyentuh wajah berbulu suaminya dengan lembut. Tatapan keduanya tampak sendu.
Setelah mengecup bibir ranum Maura, Dion masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya.
Maura membalas lambaian tangan Dion hingga mobil itu menghilang dari pandangannya.
Maura memegangi dadanya yang kian sesak, dia terisak melepas kepergian suami yang sangat dicintainya itu.
Dira yang melihat itu bergegas menghampiri Maura. Kemudian membawanya masuk ke dalam rumah.
"Kak Maura jangan sedih! Kak Dion pergi tidak akan lama." ucap Dira menenangkan Maura.
"Aku tau, tapi ini kali pertamanya kami berpisah. Aku tidak sanggup," isak Maura.
"Aku mengerti, tapi keadaan memaksa kalian berpisah untuk sementara. Jangan berpikir yang tidak-tidak, semuanya pasti baik-baik saja!" ucap Dira.
__ADS_1
Maura menyeka wajahnya kasar, dia berusaha keras menahan air matanya. Namun butiran bening itu tak sanggup dia bendung.
Di dalam mobil, Dion segera menghubungi Miko. Dia ingin Miko menjaga kedua wanitanya selama dia tak di rumah. Miko pun mengiyakan perintah Dion.
Pada jam makan malam tiba, Miko sudah standby di kediaman mewah itu. Mereka bertiga duduk di meja makan.
Maura tak berselera mencicipi makanannya, dia mengacak-acak makanan yang ada di piringnya dengan sendok, tak satupun masuk ke dalam mulutnya.
Miko dan Dira saling melirik, keduanya saling menautkan alisnya bingung.
"Kak Maura, kenapa makanannya tidak di makan?" tanya Miko.
"Aku tidak berselera," jawab Maura datar.
"Jangan seperti ini Kak, Kak Maura bisa sakit kalau tidak makan. Makanlah sedikit, setelah itu Kakak bisa beristirahat di kamar." ucap Miko.
"Aku tidak bisa makan tanpa Kakakmu, aku sangat merindukannya." jawab Maura dengan mata berkaca-kaca.
Miko menghela nafas berat, kemudian membuangnya kasar. Dia bingung harus berkata apa untuk membujuk Maura.
Maura bangkit dari duduknya, dia meninggalkan Miko dan Dira berdua saja di sana.
Sesampainya di dalam kamar, Maura menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Air matanya kembali tumpah membasahi bantal guling yang dipeluknya.
Di bawah sana, Dira dan Miko baru saja selesai menikmati makan malamnya. Keduanya berpindah ke ruang tengah.
"Apa yang terjadi sebenarnya, kenapa Kak Dion pergi begitu mendadak?" tanya Miko penasaran.
"Ada masalah di perusahaan cabang, Kak Dion harus meng-handle semuanya. Sebab itu dia tak bisa membawa Kak Maura bersamanya." jawab Dira.
Miko mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, dia paham maksud ucapan Dira. Sebelumnya dia sempat berpikir ada masalah diantara keduanya.
"Aku ke atas dulu melihat Kak Maura," ucap Miko, kemudian bangkit dari duduknya.
Setelah Miko menghilang dari pandangannya, Dira menyalakan televisi untuk mengisi malamnya.
Di atas sana, Miko mengetuk pintu kamar Maura berulang kali. Karena tak ada jawaban dari dalam sana, Miko memutuskan masuk tanpa izin.
Saat menapakkan kakinya di kamar tersebut, Miko tersenyum kecil melihat Maura yang sudah tertidur di atas kasur.
Miko mendekat dan berdiri di sisi ranjang, dia meraih selimut dan menutupi tubuh Maura agar tidak kedinginan.
__ADS_1