
Bik An mengantarkan Dion sampai ke pintu kamar Maura, kemudian meninggalkan pria yang sudah seperti anaknya itu sendirian di sana.
Hal itu membuat Dion gugup dengan derai peluh yang mulai bercucuran di dahinya. Namun apa boleh buat, mau tidak mau dia harus masuk karena saat ini dia sudah sah menjadi suami Maura.
Pelan-pelan, tangannya bergerak meraih kenop pintu, menekannya kuat hingga pintu itu terbuka lebar. Dion menghela nafas dan membuangnya kasar sambil menutup pintu itu kembali.
Sesaat, mata Dion terkesima melihat kamar yang sudah dihias sedemikian rupa, cahaya lampu yang redup membuat jantungnya berdegup kencang.
Tanpa berpikir panjang, Dion naik ke atas tempat tidur yang ditaburi bunga mawar berwarna merah. Karena tubuhnya terasa lelah dan matanya sudah sangat mengantuk, dia pun berbaring dengan leluasa dan mulai memejamkan matanya di atas ranjang empuk itu.
Tak lama berselang, Maura keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah dibaluti baju tidur. Namun saat melihat Dion berbaring di atas kasur, tangannya mengepal erat menahan rasa kesal di hatinya.
"Kak Dion, apa yang kamu lakukan di atas tempat tidurku?" teriak Maura dengan lantang.
Sesaat Dion terperanjat kaget, dia pun membuka matanya kembali, teriakan Maura yang cempreng benar-benar membuat telinganya sakit.
"Kenapa berteriak? Apa salahnya berbicara sedikit lembut padaku? Atau kamu lupa siapa aku?" jawab Dion dengan berbagai macam pertanyaan.
Dion menyunggingkan senyuman di wajahnya, raut muka sang istri yang tengah kesal seperti ini, membuatnya merasa gemas.
"Bukan begitu, maksudku...,"
Sebelum Maura selesai bicara, Dion sudah lebih dulu turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Tidak lama, pintu kamar mandi itu terbuka sedikit ternganga, tapi hanya kepala Dion sajalah yang menyumbul dari balik pintu.
"Maura, hei, Maura,!" panggil Dion dengan sedikit berbisik.
Maura tengah asik memainkan ponselnya di atas sofa. Namun karena terusik dengan suara Dion yang terus saja memanggilnya, dia pun menoleh dengan malas.
"Ada apa?" tanya Maura dengan muka cemberut nya.
"Tolong, ambilkan handuk untukku! Di sini benar-benar dingin." pinta Dion dengan suara yang mulai bergetar.
"Ambil saja sendiri! Kak Dion punya tangan kan?" jawab Maura yang masih sibuk mengotak-atik layar ponselnya.
"Kamu yakin?" balas Dion.
__ADS_1
"Iya, ambil saja sendiri! Handuknya ada di dalam lemari." jawab Maura lagi.
"Ya sudah kalau begitu, tapi kalau lihat yang aneh-aneh jangan teriak lagi ya!" balas Dion menggoda.
Sesaat, Maura terdiam menelaah kata-kata sang suami barusan. Namun, dalam sekejap dia pun langsung bangkit dan melotot kan matanya tajam.
"Tunggu, jangan keluar dulu! Kak Dion di sana saja!" sahut Maura sambil berlari menuju lemari pakaian.
"Kenapa wajahmu jadi panik begitu?" tanya Dion berpura-pura tidak tau.
"Ti, tidak, pokoknya jangan keluar dulu!" sahut Maura yang kelimpungan mencari letak handuk yang entah dimana.
"Tapi aku ingin keluar sekarang, boleh ya?" goda Dion.
"Jangan, aku mohon! Tunggu di sana saja!" teriak Maura gelagapan.
Melihat wajah sang istri yang begitu panik, Dion pun terkekeh dengan sendirinya.
Usai mengenakan baju tidur, Dion kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Matanya menatap lekat wajah istrinya yang masih berdiam diri di atas sofa.
"Kenapa masih di situ? Ayo, kemari lah!" pinta Dion sambil mengusap permukaan bantal yang ada di sebelahnya.
"Belum ngantuk apa takut?" balas Dion menggoda.
Kali ini Maura terdiam, dia tak tau harus menjawab apa lagi untuk meredam ketakutannya pada sang suami.
Melihat wajah Maura yang tampak pucat, Dion kembali bangkit dari tempat tidur dan berjalan menghampiri sang istri.
Dion mengelus ujung kepala istrinya dengan lembut. Namun Maura yang tidak terbiasa dengan itu, segera menghalau tangan Dion dari kepalanya. Membuat Dion menelan ludahnya dengan kasar.
"Aku tau, diantara kita tidak ada yang menginginkan pernikahan ini terjadi. Kak Dion menikahi ku untuk menutupi aib keluargaku. Sedangkan aku, aku tidak ingin mengecewakan Ayah. Pernikahan ini hanyalah sekedar status semata. Jadi, sebaiknya kita tidak perlu terlalu dekat!" tekan Maura, dia pun memalingkan wajahnya.
Dion menghela nafasnya dengan kasar, menatap lekat wajah sang istri yang tidak menganggap pernikahan ini ada sama sekali. Dia pun duduk di samping Maura dan menyandarkan punggungnya setengah berbaring.
"Atas dasar apa kamu mengambil kesimpulan seperti itu?" tanya Dion sambil menatap langit-langit kamar.
"Tentu saja berdasarkan fakta dan kenyataan yang ada," sahut Maura dengan gamblang nya.
__ADS_1
Lagi-lagi Dion hanya bisa menghela nafas dan membuangnya kasar.
"Ya sudah, kalau begitu pergilah tidur. Biar aku saja yang tidur di sini!" sahut Dion sambil memejamkan matanya yang sudah sangat mengantuk.
***************
Esok paginya, semua orang sarapan bersama di meja makan. Baik Dion maupun Maura tidak ada yang bersuara sama sekali, mereka hanya sibuk menikmati makanan yang ada di piring masing-masing. Hal itu membuat Nek Ida dan Doni saling menatap satu sama lain.
"Ada apa dengan kalian berdua, apa kalian sedang bertengkar?" tanya Nek Ida bingung.
"Tidak ada apa-apa Nek, kami hanya belum terbiasa saja dengan status baru ini." sahut Dion sebelum Maura menjawab lebih dulu.
Usai sarapan, Dion kembali ke dalam kamar mengambil ponselnya yang sedang dicas. Karena di sana tidak ada pakaiannya, dia pun mengenakan kembali pakaian yang semalam dia pakai, lalu berpamitan kepada sang istri.
"Aku pergi dulu!" pamit Dion.
"Kak Dion mau kemana?" tanya Maura mencari tau.
"Pulang ke rumahku, memangnya kenapa?" jawab Dion dengan dinginnya.
Maura terdiam karena memang sudah tidak ada lagi yang ingin dia tanyakan kepada suaminya itu.
Melihat Maura yang tidak ada reaksi apa-apa, Dion pun berlalu pergi dari hadapan sang istri tanpa sepatah katapun.
Sesampainya di ruang tengah, Dion tak sengaja berpapasan dengan Doni yang akan berangkat ke kantor. Dia pun menyapa mertuanya sekaligus berpamitan.
"Om, Dion pulang ke rumah dulu ya." pamit Dion sembari mencium punggung tangan mertuanya.
"Kenapa masih panggil Om, kamu ini sudah jadi menantuku. Belajarlah untuk memanggilku Ayah!" pinta Doni.
"Iya, baiklah. Kalau begitu Dion pamit dulu ya Yah!" ucap Dion sesuai keinginan Doni.
Saat Dion hendak melangkah pergi, Doni kembali menahan langkahnya.
"Kamu tidak membawa Maura bersamamu?"
"Tidak Yah, sepertinya dia belum siap. Biarkan saja!" jawab Dion, kemudian berlalu pergi begitu saja.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang, Dion teringat kembali dengan ucapan Maura semalam. Entah kenapa, hatinya tiba-tiba terasa panas.
Bagaimana mungkin pernikahan ini hanya sebatas status semata. Sedangkan dirinya sudah menghalalkan berbagai macam cara untuk mengikat sang istri agar tidak jatuh ke tangan orang lain. Hal itu membuat dadanya sesak.