Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 25.


__ADS_3

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan sudah berganti bulan. Dan hari ini tepat 1 bulan pernikahan mereka. Namun, belum ada sedikitpun tanda-tanda perubahan yang ditunjukkan oleh Maura. Dia masih tetap saja bersikap dingin terhadap suaminya.


Sekitar pukul 2 siang, Dion sudah pulang ke rumah. Dia sengaja pulang lebih awal karena urusannya di kantor sudah selesai. Sisanya, dia serahkan kepada Silvi dan Samuel. Dia tidak ingin berlama-lama di luar karena rasa rindunya terhadap sang istri sudah memuncak.


Setibanya di rumah, mata Dion menggelinding menyisir setiap sudut ruangan mencari keberadaan Maura. Namun dia tak menemukan istrinya sama sekali. Bahkan setelah dia masuk ke dalam kamar, dia masih saja tak melihat batang hidung sang istri. Hal itu tentu saja membuatnya panik dan kembali turun dengan terburu-buru.


"Ela, dimana istriku?" tanya Dion setelah tiba di paviliun belakang.


Ela terlonjak, suara sang tuan yang besar dan lantang membuatnya tergelinjang hingga dia pun memegangi dadanya yang seakan ingin tumpah.


"Ya ampun, kenapa Tuan tiba-tiba datang dan mengagetkan ku?" tanya Ela, dia pun menghela nafas berat.


"Maafkan aku, apa kau melihat istriku?" tanya Dion lagi, kini dia bertanya dengan nada sedikit lunak.


Ela mengukir senyum di wajahnya, muka panik sang tuan membuatnya tergelak, seketika itu juga dia menutup mulutnya agar suaranya tak didengar oleh Dion.


"Tuan jangan panik dulu, Nyonya ada di kolam renang." jelas Ela.


Tak ingin menunggu lagi, Dion pun berlalu meninggalkan Ela. Hingga pada saat dia tiba di kolam renang, dia pun menyunggingkan senyumannya.


Maura kala itu tengah duduk di pinggir kolam dengan kaki yang terjuntai ke dalam air. Raut wajahnya datar saja seakan sedang memikirkan sesuatu, membuat Dion tak sabar ingin memeluknya.


Dion membuka pakaiannya dan melemparnya ke sembarang tempat. Kini, dia hanya mengenakan boxer berwarna hitam saja. Membuat dada bidang dan perut kotaknya terpampang dengan nyata.


Dion mulai mendekat, dia menganga kan kakinya lebar dan duduk di belakang Maura. Hal itu membuat pinggul Maura terjepit diantara kedua pahanya. Bahkan, tangannya ikut melingkar di perut rata itu dengan wajah yang mulai tenggelam di tengkuk sang istri.


"Kak Dion, apa yang kamu lakukan?" tanya Maura kaget, dia pun menghela nafas berat.


"Sssttt, biarkan aku memelukmu sebentar!" pinta Dion, dia pun mulai mencari celah. Tangannya menyelinap masuk ke baju sang istri dan menggerayangi perut tipis itu. Bahkan hidungnya ikut bergerak menggelitik daun telinga istrinya.


Sesaat Maura terdiam, kakinya mulai bergetar dengan jantung berdegup kencang. Sentuhan itu membuatnya sesak, hingga dadanya naik turun mencuri nafas. Ada sengatan yang menjalari tubuhnya hingga membuatnya lemah, panas, bahkan dia ingin bersuara tapi suara itu tertahan.

__ADS_1


Semakin lama, Dion semakin berani. Kini tangannya mulai naik dan menyentuh permukaan roti O milik istrinya, membuat Maura menggeliat dan menutup kedua matanya pelan.


"Kak Dion, jangan lakukan ini padaku!" gumam Maura dengan nafas yang memburu.


Sesaat Dion berhenti, kemudian mengangkat tubuh Maura, membawa sang istri terjun ke dalam air. Lalu mendorong tubuh Maura hingga tersandar di sisi kolam. Dion yang sudah di luar kendali, tak sanggup lagi meredam hasrat yang mulai bergejolak di jiwanya. Bahkan matanya mulai memerah menahan keinginannya.


"Kak Dion, sudah cukup!" pinta Maura yang kini sudah terkunci di dalam kungkungan sang suami.


Dion menatap lekat wajah sang istri, matanya tampak sayu melawan keinginannya yang belum tersalurkan. Namun dengan lembutnya, dia melabuhkan bibirnya di bibir sang istri yang merekah. Mengulumnya dengan penuh perasaan, membuat Maura terdiam untuk sesaat.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu!" ucap Dion setelah luma-tan itu terlepas.


Dion kemudian memeluk tubuh Maura dengan erat, dia pun melabuhkan kecupan sayang di ujung kepala istrinya. Meskipun dia ingin sekali berpetualang, tapi niat itu kembali dia urungkan mengingat sang istri belum siap menerimanya.


"Ayo naik, kita ke kamar saja!" ajak Dion sambil membenarkan posisi Meriam Belanda nya yang sudah berdiri tegak.


Setibanya di kamar, Maura masuk ke kamar mandi membersihkan tubuhnya yang sudah basah kuyup. Sementara Dion, dia memilih duduk di beranda kamar sambil menunggu sang istri keluar dari kamar mandi.


Laki-laki mana yang tahan setiap hari hanya bisa memandangi kemolekan tubuh sang istri tanpa bisa menyentuhnya. Tapi tidak untuk Dion, sekuat hati dia belajar menerima itu meskipun setiap kali dia menginginkannya, kepalanya berasa mau pecah menahannya.


Usai membersihkan tubuhnya, Dion memilih tidur di atas kasur. Dia meredam semua keinginannya dan menutup tubuhnya dengan selimut. Tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain memejamkan matanya agar semua itu lenyap dari pikirannya.


Sekitar pukul 5 sore, Dion terbangun dari mimpi indahnya. Kini tubuhnya terasa lebih fresh dari sebelumnya. Dia pun naik ke lantai 3 dan memilih membentuk ototnya di dalam sebuah ruangan yang lengkap dengan peralatan olahraga.


Setengah jam sudah cukup baginya berolahraga sore itu. Kini tubuhnya sudah banjir dengan keringat, membuatnya risih dan bergegas turun untuk membersihkan tubuhnya.


Hari sudah mulai gelap.


Sembari menunggu waktu makan malam tiba, dia menyalakan televisi dan berbaring di atas sofa. Tidak lama, Maura keluar dari kamar mandi dan duduk di sisi ranjang sembari menekuk wajahnya.


"Ada apa?" tanya Dion saat menyadari istrinya seperti memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Tidak ada," sahut Maura singkat.


Dion mengernyitkan keningnya, dia tau kalau istrinya tengah berbohong. Dia pun mendekat dan mendekap tubuh Maura ke dalam pelukannya.


"Ada apa? Ayo, katakan padaku!" tanya Dion sambil mengecup ujung kepala sang istri dengan sayang.


Maura mendongakkan kepalanya, matanya menatap lirih wajah sang suami hingga dia pun tak sanggup berkata-kata.


"Kenapa menatap ku seperti itu, apa aku terlihat begitu tampan?" goda Dion sambil menggulingkan senyumannya.


Melihat senyuman Dion yang begitu tulus, Maura pun ikut mengukir senyum di wajahnya. Bahkan dia tak segan mencubit perut sang suami yang terlalu kepedean di depannya.


"Au, kenapa mencubit ku?" rintih Dion, kemudian terkekeh dengan sendirinya.


"Sudah, lepaskan aku!" ketus Maura, dia pun mendorong dada Dion dengan tangannya.


Bukannya melepaskan, Dion malah semakin mengencangkan pelukannya. Hal itu membuat Maura tak bisa berkutik, dia hanya pasrah menikmati sentuhan sang suami yang kini tengah membelai lembut rambut panjangnya.


"Ayo, bicaralah! Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Dion yang belum mendapatkan jawaban sedari tadi.


"Tidak ada, aku hanya rindu dengan Ayah." sahut Maura lirih.


Dion kembali menggulingkan senyumannya, dia kemudian mengangkat dagu sang istri dan menggigitnya gemas.


"Dasar bodoh! Kalau rindu dengan Ayah, kenapa tidak mengatakannya padaku?" cetus Dion.


Maura kembali menatap wajah sang suami, kali ini dia seperti mencari tau maksud ucapan Dion, dia belum bisa mencernanya.


Melihat tatapan Maura yang tak biasa, Dion pun semakin gemas. Hingga akhirnya, dia kembali mendatangi bibir sang istri dan menghisapnya dalam. Membuat Maura kembali terdiam untuk sesaat.


"Kalau begitu bersiaplah, malam ini kita pulang ke rumah Ayah!" ajak Dion sesaat setelah melepaskan isapan nya.

__ADS_1


Mendengar itu, Maura pun tersenyum sumringah. Tanpa dia sadari, dia pun memeluk tubuh sang suami saking bahagianya.


__ADS_2