
Dion sedang berbicara dengan seseorang di dalam sebuah ruangan, sepertinya sesosok pria. Tapi wajah pria itu bahkan tak tampak batang hidungnya sama sekali, hanya punggungnya saja yang terlihat saat itu.
Dalam percakapan yang cukup panjang itu, tampak Dion memberikan sesuatu kepada pria misterius itu. Entah siapa pria itu dan entah apa yang Dion berikan kepadanya. Semua seperti sebuah teki-teki yang sulit dipecahkan.
"Pergilah, lakukan tugasmu dengan baik!" perintah Dion kepada pria itu.
Pria itu mengangguk, lalu dia pun berlalu meninggalkan ruangan tersebut sambil menundukkan kepalanya. Lagi-lagi wajah pria itu tak tampak sama sekali.
Di ruangan lain, seorang wanita cantik berpenampilan seksi datang menghadap Dion dengan beberapa berkas yang ada di tangannya. Bahasa tubuh wanita itu terlihat sedikit berbeda, ada aura genit yang tertanam dari cara dia berjalan, bahkan cara dia berbicara dan menatap wajah Dion pun tampak membagongkan.
"Tuan, tumben anda datang sendiri ke kantor. Apa anda sudah tidak ingin main petak umpet lagi?" tanyanya dengan alunan suara nan menggoda.
"Bukan urusanmu, sini berkasnya!" ketus Dion.
Wanita itu tersenyum sambil mengulum bibirnya, wajah Dion yang dingin membuatnya semakin tertantang untuk menggodanya. Bahkan dadanya mulai naik turun melihat kancing kemeja Dion yang separuh terbuka. Dion pun mengangkat sebelah alisnya, menatap geli wanita itu sambil menyunggingkan senyuman miringnya.
"Apa yang kau lihat? Kalau tidak ada urusan lagi, pergilah keluar!" bentak Dion.
Wanita itu merungut kesal, dia pun merentakkan kakinya dan melangkah cepat meninggalkan Dion sendirian.
"Dasar pagar beton!" umpat nya.
Setelah kepergian wanita itu, Dion mulai membuka satu persatu dari berkas yang sudah menumpuk di atas meja kerjanya. Matanya menggelinding tajam membaca setiap tulisan yang tersurat di atas kertas putih tersebut. Seketika, senyumannya mulai mengambang. Sepertinya dewi fortuna sedang memihak kepada dirinya.
Dion keluar dari ruangannya dengan sebuah map berwarna hitam yang ada di tangannya. Dia pun melemparkan map itu tepat di atas meja kerja Silvi yang tak lain adalah sekretaris yang tadi membuat ulah di dalam ruangannya.
"Atur pertemuan dengan perusahaan itu!" perintahnya.
Silvi melotot kan matanya, dadanya masih berdegup kencang. Entah angin apa yang membuat Dion tampak begitu bersemangat, hingga seenak jidatnya main lempar lemparan di hadapannya.
__ADS_1
"Tak bisakah Tuan bersikap lembut sekali saja padaku!" keluhnya.
Dion menautkan sepasang alisnya, garis bibirnya mulai menyatu hingga membuat Silvi akhirnya terperdaya dan tersenyum seketika.
"Begitu dong, kalau gitu kan terlihat lebih tampan!" tambah Silvi sambil menumpukan sepasang sikunya di atas meja.
"Dasar genit!" ketus Dion.
Sore harinya, Dion sudah berada di dalam kamarnya. Matanya terasa sangat mengantuk, bahkan mulutnya sudah menguap berulang-ulang kali. Namun karena tubuhnya sudah basah bermandikan keringat, dia pun memutuskan untuk berendam sejenak di dalam bathtup.
Di tempat lain, Maura masih saja mengurung dirinya di dalam kamar. Wajahnya tampak pucat, makanan yang ada di atas meja bahkan tak dia sentuh sama sekali. Dia lebih memilih mati kelaparan dari pada harus menikah dengan pria yang tak dia cintai.
Dalam ketidakberdayaan nya itu, tiba-tiba Nek Ida masuk ke dalam kamarnya menggunakan kunci cadangan. Mata Nenek tua itu tampak sendu, hatinya teriris melihat cucunya kehilangan semangat untuk hidup.
"Maura sayang...!" sapa Nek Ida.
Maura mendongakkan kepalanya, matanya yang sudah sangat sembab kembali basah saat melihat wajah Neneknya.
Langkah kaki Maura mulai goyah, tubuhnya tampak oleng, berat baginya untuk melangkah menghampiri Neneknya yang masih berdiri di depan pintu. Namun, dia pun berusaha kuat agar sampai di dalam dekapan Neneknya secepat mungkin.
Dipeluknya tubuh Nek Ida dengan erat, matanya semakin tak kuasa membendung bongkahan bening yang terus saja mengalir tiada henti. Isak tangisnya menggelegar memecah suasana.
"Nek, bawa Maura pergi dari sini. Maura mohon!" pintanya terisak-isak.
Nek Ida pun menitikkan air matanya, dia benar-benar tak sanggup melihat cucunya seperti ini. Tapi apa daya yang bisa dilakukan oleh wanita tua sepertinya. Dia tak tau bagaimana cara membantu cucunya lepas dari belenggu itu.
"Maafkan Nenek sayang, Nenek tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu. Kalaupun Nenek membawamu kembali ke desa, Ayahmu pasti akan menemukanmu di sana!" ucap Nek Ida.
Di tempat lain, Dion baru saja keluar dari kamar mandi. Namun karena matanya semakin berat, dia pun merebahkan tubuhnya yang hanya mengenakan segitiga berwarna abu-abu ke atas kasur. Hal itu tentu saja membuat sesuatu yang aneh tampak menonjol dari dalam sana.
__ADS_1
Baru beberapa menit meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah notifikasi pesan masuk tampak dari layar ponselnya. Dion pun membuka matanya kembali, diraihnya ponsel tersebut lalu dibukanya gembok yang terpampang dari layar ponsel tersebut.
Seketika, matanya melotot tajam tak berkedip. Sebuah foto yang tadinya lusuh, sekarang tampak seperti baru. Wajah yang tadinya kusam, kini sudah terlihat dengan jelas. Dia pun tak bergeming sama sekali saat memandang lekat foto tersebut.
"Tidak sia-sia aku membayar mahal untuk semua ini!" gumamnya dalam hati.
Dion menyunggingkan senyuman miringnya, sepertinya kali ini dia benar-benar sedang beruntung. Pencariannya selama bertahun-tahun akhirnya kandas seiring berjalannya waktu.
Malam harinya, Dion menyusul Miko yang tengah berada di bar miliknya. Penampilannya terlihat begitu santai dengan kaos putih dan celana jeans biru tua yang dikenakannya. Raut wajahnya tampak bersemangat, bahkan senyumannya yang khas tak lepas dari permukaan wajahnya. Entah angin apa yang merasuk ke dalam tubuhnya, hingga Miko pun kebingungan melihat gelagat Kakak angkatnya itu.
"Ada apa Kak? Sepertinya Kakak tampak begitu bahagia malam ini!" tanya Miko.
"Tidak usah banyak tanya, cepat ambilkan aku minuman!" titahnya dengan santai.
Ditengah hingar bingar nya suasana bar malam itu, tiba-tiba Giska muncul di hadapannya. Seketika raut wajahnya pun kembali masam, sebelah bibirnya mulai tersungging menatap malas gadis itu.
"Sayang, kenapa menatapku seperti itu?" tanya Giska.
Dion benar-benar merasa muak melihat gadis itu, bahkan dia rasanya ingin muntah menyaksikan penampilan seksi Giska yang terlalu berlebihan, wanita itu terlalu berani menonjolkan bagian-bagian tertentu tubuhnya hingga jadi tontonan para pria yang ada di dalam bar itu.
"Pergilah, kita sudah tidak ada urusan lagi!" ketus Dion sambil memalingkan wajahnya.
"Hei, apa kau masih marah padaku?" tanya Giska.
Giska semakin mendekat, dia pun berdiri di samping Dion sambil menekuk sepasang kakinya. Tangannya mulai menyentuh pundak Dion dan perlahan bergerak hingga permukaan dada bidang pria itu.
"Hentikan, apa yang kau lakukan?" bentak Dion sambil menghalau tangan Giska yang terlalu lancang menggerayangi tubuhnya.
Dion tampak sangat kesal hingga dia pun menggertakkan giginya dengan kuat. Wanita itu benar-benar merusak mood nya malam itu.
__ADS_1
Dari sudut lain, ternyata Miko tengah memperhatikan Kakak angkatnya itu dari kejauhan. Sambil menyandarkan punggungnya, dia pun melipat kedua tangannya dan menaruhnya di bawah dadanya, sebelah kakinya di tekuk hingga telapak sepatunya menyentuh permukaan dinding. Bahkan kepalanya tampak menggeleng-geleng menyaksikan pemandangan itu.
"Oh, jadi ini alasannya." batin Miko.