Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 46.


__ADS_3

Pukul 1 dinihari Dion dan Maura tiba di rumah. Gara-gara keasikan ngobrol, mereka bertiga jadi lupa waktu. Untung saja Maura membawa kunci cadangan, jadi keduanya masih bisa masuk ke dalam rumah.


Kini posisi keduanya sudah berbaring di atas tempat tidur. Maura mengenakan lingerie tipis berwarna maroon, sementara Dion hanya mengenakan boxer mini berwarna hitam nan ketat. Benda pusaka miliknya tampak menonjol dan sangat menggoda.


Seperti biasa, Maura melingkarkan tangannya di dada Dion sembari menghidu belahan ketiak sang suami. Semakin hari dia semakin candu, rasanya ada yang kurang jika belum mencium aroma itu.


Dion memejamkan matanya, sementara Maura masih asik menatap lekat wajah suaminya. Entah apa yang dia pikirkan, tiba-tiba tangannya bergerak mengelus dada bidang yang menggoda di depan matanya. Dia pun memainkan tahi lalat berwarna coklat itu dengan jari jemarinya.


"Geli sayang," gumam Dion terkekeh, dia kembali membuka sepasang matanya.


Menyadari Dion belum tertidur, Maura mengulum senyumannya. Malu rasanya ketahuan bermain curang di belakang suaminya. Dia kembali menjauhkan tangannya dan membenamkan wajahnya di belahan ketiak sang suami.


"Kenapa wajahnya ditutupi, malu?" goda Dion terkekeh.


Maura menggelengkan kepalanya, wajahnya memerah, namun dia masih betah menempel di ketiak suaminya.


"Sayang, lihat aku! Tidak perlu malu, aku ini suamimu. Semua yang ada padaku adalah milikmu, begitupun sebaliknya. Kamu berhak melakukan apapun pada tubuh ini." jelas Dion sembari membelai rambut istrinya.


Maura mengangkat kepalanya, dia melemparkan senyumannya sembari menatap sang suami dengan tatapan yang tak biasa. Dion pun membalasnya dengan senyum yang sangat manis.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Dion penasaran.


"A, aku...," Maura tergugu, bibirnya kelu untuk berkata-kata.


"Kenapa sayang, katakan saja!" potong Dion, dia pun mengecup dagu istrinya dengan lembut.


Maura mengulum senyumannya, tangannya bergerak menyentuh permukaan dada bidang sang suami. Pelan-pelan, gerakan itu semakin turun hingga perut kotak Dion dan berakhir pada Meriam Belanda milik suaminya.

__ADS_1


Dion menelan ludahnya kasar, sentuhan tangan sang istri membuatnya ngilu. Baru kali ini Maura berani menyentuh benda itu, membuat jantungnya berdegup kencang sekencang petir menyambar.


Tak kuasa menahan has-rat yang berkecamuk di jiwanya, Dion pun menarik pinggul istrinya. Kini bibir mereka saling menempel satu sama lain. Dion menyusup melahap habis bibir Maura dengan rakus.


Keduanya saling melu-mat hingga deru nafas mereka saling bertabrakan. Maura lebih agresif tidak seperti biasanya . Dia naik dan duduk di atas paha suaminya, lututnya bertumpu pada kasur dan membusungkan dadanya hingga menempel dengan dada sang suami. Tangannya bergerak *******-***** rambut suaminya, menikmati hisapan yang kini mulai masuk mengobrak-abrik rongga mulutnya.


Maura tak tinggal Diam, dia membalas Dion dan mengulurkan lidahnya menyerang pertahanan suaminya. Dia menghisapnya dengan gai-rah yang semakin menggebu, hingga Dion pun terkejut menikmati kelihaian sang istri. Dia benar-benar suka melihat istrinya seperti ini, apalagi mendengar desa-han Maura yang menggoda, membuat tubuhnya benar-benar ngilu.


Kini pakaian yang ada di tubuh Maura sudah terbang entah kemana. Maura kembali membusungkan dadanya memberi celah pada sang suami menguasai roti O miliknya. Jakun Dion pun naik turun menelan ludahnya kasar. Pemandangan bukit barisan itu membuat tubuhnya kembali ngilu hingga menjalar ke pangkal pahanya.


Tanpa basa-basi Dion meraih kedua bukit itu dengan tangannya. Dia meremas keduanya dan melahap satu persatu dengan rakus. Sementara yang satu ada di dalam mulutnya, yang lain tidak lepas dari cengkraman tangannya.


Saat Dion menghisap dan memainkan tahi lalat berwarna pink muda itu dengan lidahnya, Maura pun menggeliat dan mende-sah dengan manja. Membuat Dion menggila dengan nafas semakin memburu.


"Sayang, akhh,"


Kini wajah Dion sudah tenggelam di V milik istrinya. Lidahnya asik memainkan dan memutar-mutar inti itu, namun tangannya tetap fokus meremas sepasang gunung yang ada di tengah sana.


"Akhh,"


Desa-han Maura semakin menjadi-jadi, tubuhnya mengejang menikmati kerakusan suaminya. Deru nafasnya semakin memburu merasakan nikmat yang sungguh luar biasa. Bahkan V nya sudah berulang kali mengeluarkan sesuatu hingga tubuhnya melemah seketika.


Melihat sang istri yang sudah tak berdaya, Dion bangkit dan menyandarkan punggungnya pada tampuk ranjang. Saat itu juga Maura naik dan kembali melu-mat bibir suaminya.


Pelan-pelan, tangannya bergerak menyentuh Meriam suaminya yang sudah mengeras. Sentuhan tangannya membuat Dion mengerang dan kembali melahap bukit barisan milik istrinya tanpa ampun.


Maura mundur dan memainkan tangannya pada benda keras itu. Tanpa ragu dia pun mengulumnya, hal itu membuat Dion membelalakkan matanya kaget. Dia tak menyangka sang istri berani melakukannya tanpa jijik sedikitpun. Maura tersenyum, membuat tubuh Dion ngilu dan mengerang hebat. ******* Maura membuatnya melayang setinggi-tingginya.

__ADS_1


Puas bermain-main di tengah sana, Maura kembali naik dan menuntun senjata suaminya menuju pintu masuk. Seketika, dia pun menjerit saat benda keras itu menerobos ke dalam sarangnya.


"Au, akhh,“


Maura mengayunkan pinggulnya, gerakannya yang pelan membuatnya mengulum bibirnya sendiri. Ada sensasi tersendiri yang dia rasakan hingga kembali mende-sah tiada henti.


"Akhh,"


Dion tak tinggal diam. Sementara Maura asik berlenggak lenggok di atas tubuhnya, tangannya kembali bergerak meremas pegunungan kembar yang terpampang di depan matanya. Sesekali dia melahapnya tanpa ampun. Membuat sang istri menggeliat manja menikmati rasa yang entah bagaimana.


Semakin cepat gerakan sang istri menekan tubuhnya, semakin gencar pula Dion mengangkat pinggulnya naik turun, membuat Maura berteriak memenuhi seisi kamar.


"Sayang, akhh,"


Melihat istrinya mengulum bibir, Dion segera mengambil alih kendali. Kini gilirannya menyerang V itu membabi buta. Hentakan demi hentakan yang dia layangkan membuat Maura kembali menjerit dan berkali-kali menikmati pencapaiannya.


"Sayang, akhh,"


Desa-han dan erangan Maura membuat Dion semakin gencar menggoyangkan pinggulnya, tempo permainannya semakin cepat hingga akhirnya susu kental manis itu meleleh menyebar benih Dion di dalam sana.


"Akhh," erang Maura, sekujur tubuhnya bergetar menikmati pencapaiannya.


"Akhh," erang Dion tak kalah dahsyatnya.


Keduanya terbaring lemas bermandikan keringat. Dion kemudian mendekap Maura dengan erat, mengecup ujung kepala istrinya dan mengesap bibir merah itu dengan lembut.


Sekitar setengah jam berlalu, kini Dion bangkit dari tempat tidur. Dia membopong tubuh sang istri ke kamar mandi dan membersihkan sisa-sisa perjuangan mereka tadi.

__ADS_1


Usai membersihkan diri, Dion kembali membopong tubuh Maura dan mendudukkannya di sisi ranjang. Kemudian memungut pakaian yang berserakan di mana-mana. Setelah pakaian itu menempel di tubuh sang istri, Dion pun mengenakan boxer nya kembali. Kini keduanya berbaring di atas kasur dengan posisi saling memeluk satu sama lain.


__ADS_2