
Hari yang di tunggu-tunggu sudah tiba, sebuah pelaminan megah sudah berdiri indah lengkap dengan pernak-perniknya, dekorasi bernuansa minimalis dengan tema putih gold yang sangat mewah tapi tetap terlihat natural. Senada dengan baju pengantin yang akan dikenakan oleh Maura malam ini.
Di dalam kamar, Maura masih terpaku duduk di depan meja riasnya. Membiarkan beberapa MUA memoles wajahnya begitu saja tanpa ada perlawanan sama sekali. Tubuhnya sudah lelah, hingga tak ada daya dan upaya lagi baginya untuk melakukan apa-apa. Bahkan air matanya sudah mengering, tak ada lagi yang bisa dia keluarkan. Pasrah tapi tak rela, kiasan itulah yang sangat pas untuk menggambarkan perasaannya saat ini.
Di tempat lain, Miko tengah bersiap di dalam kamarnya. Wajahnya terlihat begitu tampan dengan setelan jas berwarna coklat muda yang dikenakannya.
Setelah penampilannya dirasa rapi, Miko keluar meninggalkan kamar. Namun saat hendak menuruni anak tangga, tiba-tiba bayangan Dion terlintas dari sudut matanya, hingga dia memilih acuh tak acuh seakan tak melihat apa-apa.
"Mau kemana kau?" tanya Dion dengan dinginnya.
Seketika, langkah Miko terhenti. Meskipun amarahnya masih memuncak, tapi bagaimanapun juga, dia tetaplah seorang tamu di rumah itu.
"Apa peduli mu?" jawab Miko ketus.
Dion tampak geram melihat tingkah Miko yang semakin hari semakin membangkang terhadapnya. Tak ada lagi Miko yang lugu dan penurut seperti dulu. Dion seperti tak kenal lagi dengan adik angkatnya itu.
"Sebentar lagi, aku akan menyaksikan kehancuran seorang gadis. Aku tidak sabar ingin melihat kehancuran mu setelah itu," ejek Miko, yang kemudian berlalu pergi begitu saja.
Sesampainya di depan pagar rumah Maura, tampak para tamu yang sudah ramai berdatangan. Dada Miko berdenyut, bahkan terasa sesak saat hendak masuk ke dalam rumah itu. Pernikahan putri seorang konglomerat terkenal yang begitu mewah, tapi pengantinnya wanitanya sendiri tidak bahagia. Membuat wajah Miko berubah aneh.
Sungguh cantik Maura kala itu, makeup nya tidak terlalu mencolok, bibir mungilnya juga terlihat begitu seksi. Bahkan tubuh indahnya terpampang nyata dengan balutan gaun berwarna gold lengkap dengan manik-manik yang berkilauan. Tidak ada yang kurang pada diri gadis itu, semua tampak begitu sempurna.
Di bawah sana, semua orang sudah menunggu, tapi calon pengantin pria belum juga terlihat batang hidungnya. Doni yang mulai resah, mencoba menghubungi Darma, tapi teleponnya tidak diangkat sama sekali. Doni hanya bisa menghela nafas dan membuangnya kasar.
Waktu semakin berjalan, para tamu sudah lelah menunggu. Keributan tak bisa dielakkan lagi, mulut para tamu mulai nyinyir membicarakannya. Pak Penghulu juga sudah berulang kali menghampiri Doni, menanyakan apakah pernikahan itu akan dilanjutkan atau tidak. Bahkan, Nek Ida yang baru saja turun dari kamar Maura, tampak kebingungan melihat suasana yang mulai tidak terkendali.
"Apa yang terjadi?" tanya Nek Ida.
__ADS_1
"Mereka tidak datang Bu, bagaimana ini?" sahut Doni lirih, hingga membuat Nek Ida menelan ludahnya dengan kasar.
Doni kembali menghubungi Darma, tapi kali ini ponsel calon besannya itu sudah tidak aktif. Dadanya terasa sesak, dia benar-benar tak sanggup menahan rasa malu di hadapan semua orang yang mulai mencemooh dirinya.
Tidak lama, ponsel di tangannya berbunyi. Ada pesan masuk yang membuatnya sedikit bernafas lega, berharap ada kabar baik yang datang dari Darma. Tapi ternyata tidak, pesan itu justru membuatnya tumbang, tak disangka Darma akan mempermalukannya seperti ini. Tidak hanya mencoreng wajahnya saja, tapi Darma juga melemparkan kotoran ke wajahnya.
Doni meremas dadanya yang mulai terasa nyeri, sakit yang teramat sangat membuatnya tak sanggup lagi untuk berdiri. Hal itu membuat semua tamu undangan terkejut, bahkan ada pula yang merasa iba.
"Ma, maafkan saya, pernikahan ini tidak jadi dilangsungkan." ucap Doni menautkan telapak tangannya sambil merintih kesakitan.
Mendengar semua itu, satu persatu dari para tamu undangan mulai balik badan hendak meninggalkan pesta tersebut. Membuat Nek Ida menitikkan air matanya.
"Tunggu...!"
"Siapa bilang pernikahan ini tidak jadi dilangsungkan?" ucap seorang pria yang datang dari balik pintu utama.
"Dion...?" gumam Nek Ida dengan mata melotot tajam.
Dengan santainya, Dion melenggang menghampiri Nek Ida yang saat itu masih berjongkok di lantai, memegangi lengan Doni yang masih terduduk lemah.
Seperti biasa, Dion menyalami tangan Nek Ida dan menciumi punggung tangan Nenek itu sebagai bentuk rasa hormatnya. Setelah itu, dia membopong tubuh Doni dan mendudukkannya di atas kursi.
"Dion, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Nek Ida dengan mata yang masih melotot tajam.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Nek Ida, Dion memberi titah kepada semua orang untuk tidak meninggalkan rumah itu sebelum acara selesai. Dia juga menyuruh semua tamu undangan untuk mencicipi hidangan yang sudah disediakan sembari menunggunya berbicara dengan Nek Ida dan Doni.
"Kenapa Nenek menatap Dion seperti itu?" tanya Dion terkekeh.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nenek hanya sedikit terkejut." sahut Nek Ida.
Melihat Ibu mertuanya yang sangat akrab dengan Dion, Doni jadi penasaran. Dia sama sekali tidak mengenal pria yang ada di hadapannya itu.
"Apa Ibu mengenal pria ini?" tanya Doni yang masih memegangi dadanya dengan kuat.
"Tentu saja Ibu kenal, sama seperti Miko, Dion ini juga cucuku." sahut Nek Ida dengan gamblang nya.
Kata-kata Nek Ida barusan membuat Dion terenyuh, dia sampai tak kuasa menahan rasa haru di hatinya. Hingga dia meraih punggung Nek Ida dan memeluknya dengan erat.
"Sudah, lepaskan Nenek! Kamu belum menjawab pertanyaan Nenek." cetus Nek Ida.
Dion melepaskan pelukannya dari tubuh renta itu dan bergegas menyeka air mata yang menetes di pipinya.
"Jika kedatangan Dion ke sini untuk meminta cucu kesayangan Nenek bagaimana, apa Nenek mau memberikannya?" ucap Dion tanpa ragu sedikitpun.
Seketika, Nek Ida terdiam membisu. Dia menoleh ke arah Doni yang tengah menatap dirinya dengan heran. Tatapan kedua orang tua itupun saling menyelidik satu sama lain.
"Kamu jangan bercanda Dion!" ucap Nek Ida yang sama sekali tidak percaya dengan kata-kata yang baru saja dia dengar.
"Tidak Nek, Dion tidak bercanda. Jika kalian berdua merestui, detik ini juga Dion akan menikahi Maura." tegas Dion.
Nek Ida jadi bingung sendiri, dia bahkan tidak berhak memutuskan apa-apa tentang kehidupan cucunya. Semua dia kembalikan kepada Doni yang merupakan Ayah kandung dari cucunya itu.
"Apa maksudmu, kenapa kau ingin menikahi putri ku?" tanya Doni meninggikan nada bicaranya.
Percakapan itu mulai memanas, hingga menimbulkan perdebatan yang cukup lama. Pada akhirnya Doni pun luluh, dia menyuruh Bik Sam menjemput Maura di kamarnya dan membawanya turun ke bawah.
__ADS_1