Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 29.


__ADS_3

Siang harinya, Dion dan Maura tengah menikmati makan siang di meja makan. Tidak lama, ponsel Dion berdering, dia menerima panggilan masuk dari Samuel yang merupakan tangan kanannya di kantor.


Saat Dion mengangkat telepon tersebut, dia hanya diam mendengar Samuel yang tengah bicara dari ujung sana. Hingga dalam waktu yang cukup lama, dia pun memutus sambungan telepon tersebut hanya dengan satu kata saja.


"Baiklah!" sahut Dion.


Maura menatap wajah Dion dengan intim, dia sepertinya penasaran. Namun dia tidak berani bertanya dan memilih melanjutkan makan tanpa harus tau urusan suaminya.


Usai makan, Dion memilih duduk di ruang tengah sambil menghisap sebatang rokok. Maura pun ikut menemaninya di sana.


"Aku harus ke Bandung untuk 3 hari, ada lauching produk baru di kantor cabang. Jika kamu ingin ikut, aku akan membawamu. Tapi jika tidak...,"


"Aku ikut!" potong Maura sebelum Dion menyelesaikan ucapannya.


Seketika, Dion pun tersenyum mendengar jawaban Maura. Dia benar-benar bahagia karena istrinya mau menemani dirinya menghadiri acara penting itu.


"Kamu serius?" tanya Dion memastikan, dia pun mematikan rokoknya yang masih menyala.


Maura tidak menyahut, namun dia menganggukkan kepalanya pertanda dia benar-benar ingin ikut bersama suaminya.


"Kalau begitu kemari lah!" pinta Dion, dia pun menarik tangan istrinya dan memangku nya di atas kedua pahanya.


Maura terpaku menahan nafasnya yang mulai tersendat, kelakuan Dion saat itu membuatnya malu mengingat mereka masih berada di ruang tengah. Bahkan pelayan pun masih lalu lalang di hadapan mereka berdua.


"Lepaskan aku Kak Dion, malu tau!" bisik Maura dengan wajahnya yang tampak merah merona.


"Kenapa musti malu, apa salahnya jika aku memeluk istriku sendiri?" jawab Dion dengan santainya.


"Tidak salah, tapi kita kan masih di bawah. Ayo, lepaskan. Atau Kak Dion pergi saja sendiri, aku tidak jadi ikut!" ancam Maura, hal itu membuat Dion langsung melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang sang istri.


Maura terkekeh melihat wajah suaminya yang langsung berubah saat itu juga. Dia bangkit dari paha sang suami dan berlalu pergi sambil mengulum senyumannya.


"Mau kemana?" tanya Dion sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

__ADS_1


"Bersiap-siap, memangnya mau kemana lagi?" sahut Maura sambil melenggang menuju anak tangga.


Sesampainya di dalam kamar, Maura kembali mengukir senyum di wajahnya. Dia mengambil koper yang ada di dalam lemari dan mulai menyiapkan pakaiannya beserta pakaian suaminya. Menyusun pakaian mereka dengan rapi di dalam koper tersebut.


Tidak lama, Dion datang dan menghampiri sang istri yang masih bersila di atas lantai sembari menutup koper yang sudah terisi penuh.


"Kenapa membawa begitu banyak pakaian?" tanya Dion, dia pun ikut duduk di samping istrinya.


"Tidak banyak kok, hanya beberapa saja. Katanya di sana 3 hari." sahut Maura sembari memanyunkan bibirnya.


Dion menggulingkan senyumannya melihat Maura yang sangat antusias ingin pergi bersamanya. Apalagi melihat bibir merekah sang istri yang manyun, membuatnya kembali tergoda. Dia pun mendatangi bibir sang istri dan melu-matnya dalam. Membuat Maura lagi-lagi terdiam menikmati hisapan suaminya yang begitu lembut.


Setelah puas menyesap bibir sang istri, Dion pun melepaskan tautan bibir mereka. Namun Dion masih penasaran, karena hingga detik ini Maura tak pernah membalasnya, dia hanya diam menikmatinya.


"Kamu marah?" tanya Dion mencari tau.


"Tidak," sahut Maura singkat.


"Tidak, aku hanya belum terbiasa dengan itu. Dan aku tidak tau caranya." sahut Maura sembari menekuk wajahnya. Dia benar-benar malu membahas hal itu dengan suaminya.


Jawaban Maura itu tiba-tiba membuat Dion terkekeh, apalagi melihat wajah istrinya yang merah menyala menahan rasa malu. Membuat Dion tak sanggup menahan tawanya.


"Jangan menertawai aku! Aku tau kamu sudah terbiasa dengan itu. Dan entah berapa banyak wanita yang pernah kamu cium sebelumnya. Tapi, jangan pernah samakan aku dengan mereka!" ketus Maura, dia pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah sofa.


Melihat kemarahan di wajah istrinya, Dion pun terdiam seketika. Dia sama sekali tak berniat membandingkan istrinya dengan wanita lain. Tapi Maura justru salah paham terhadap dirinya.


Dion bangkit dan menghampiri Maura yang membuang mukanya menghadap jendela. Dia pun ikut duduk dan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.


"Jangan marah, aku tidak bermaksud seperti itu. Kalaupun aku pernah mencium wanita lain, itu jauh sebelum kita bertemu." jelas Dion agar istrinya tidak salah paham.


"Sama saja, intinya kamu sudah sering melakukannya dengan wanita lain. Maka dari itu kamu menertawakan aku yang bodoh ini. Jika saja aku tidak menutup diri dari laki-laki, pasti aku juga bisa sepertimu, bahkan lebih pandai darimu." tambah Maura memperkeruh suasana.


"Cukup Maura, apa yang kamu katakan? Tidak ada seorang pria pun yang boleh menyentuhmu selain aku. Hanya aku saja, tidak ada orang lain!" balas Dion, dia benar-benar kesal mendengar pernyataan istrinya itu.

__ADS_1


"Kenapa aku tidak boleh, sementara kamu boleh? Itu tidak adil." tanya Maura.


"Sudahlah, tidak usah membahas itu lagi. Sekarang aku suamimu, dan kamu istriku. Hanya aku yang berhak menyentuhmu, begitupun sebaliknya. Tidak usah mengungkit yang sudah-sudah!" jawab Dion, dia tidak ingin berdebat dengan istrinya.


Dion semakin mengencangkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di pundak Maura. Menikmati aroma tubuh sang istri yang mulai menjadi candu untuknya.


"Apa kamu pernah melakukan itu dengan wanita lain?" tanya Maura mencari tau.


Seketika, Dion pun terdiam mendengar pertanyaan yang tidak masuk akal seperti itu. Dia tak menyangka, bagaimana bisa Maura menanyakan hal itu kepada dirinya.


Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Dion, Maura pun melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya. Dia kemudian berlalu dan memilih duduk di balkon sendirian.


"Apa yang terjadi dengannya, kenapa hari ini dia begitu aneh?" batin Dion yang tidak mengerti perubahan sikap sang istri yang begitu tiba-tiba.


Tak ingin permasalahan ini berlarut-larut, Dion pun menyusul Maura ke balkon untuk memberi penjelasan kepada sang istri.


"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya Dion.


"Tidak ada, aku hanya memastikan saja!" jawab Maura.


Dion menekuk kakinya dan bersimpuh di hadapan Maura. Tangannya meraih dagu istrinya dan menatap lekat wajah sang istri.


"Lihat aku, percayalah padaku! Aku memang pernah mencium wanita lain, tapi aku tidak pernah melakukan itu dengan wanita manapun. Aku bersumpah demi Ibuku." jelas Dion dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar pengakuan Dion, Maura pun menitikkan air matanya. Ada perasaan lega di hatinya meskipun hal itu sebenarnya tidak perlu dia tanyakan.


"Ma, maafkan aku, aku tidak bermaksud menyudutkan mu. Aku hanya ingin meyakinkan diriku sendiri. Aku masih takut, aku benar-benar takut." isak Maura sembari menggenggam erat tangan suaminya.


"Tidak apa-apa, tolong jangan menangis. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini!" balas Dion yang ikut menitikkan air matanya.


Dion bangkit dan mengangkat tubuh Maura dari duduknya. Membawa sang istri ke dalam dekapannya hingga tangis mereka pun pecah bersamaan.


"Aku tau kamu masih takut menghadapi semua ini. Aku akan membantumu melupakan trauma itu, percayalah padaku. Aku tidak akan pernah menyakitimu." ucap Dion, dia pun mengecup ujung kepala Maura berulang-ulang kali.

__ADS_1


__ADS_2