Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 65.


__ADS_3

Tak terasa sudah dua tahun waktu berlalu. Maura yang selama ini sangat terpukul dengan kepergian Dion, kini mulai bangkit dan melanjutkan kehidupannya bersama putri kecilnya yang sudah berusia satu setengah tahun.


Disaat kehamilannya menginjak usia 3 bulan, Maura meninggalkan rumah Dion dan kembali tinggal bersama ayahnya Doni.


Kenangan di rumah Dion membuatnya hancur, setiap sudut yang dia jelajahi selalu mengingatkannya akan sosok pria yang sangat dicintainya itu.


Maura hampir saja menyerah dengan kehidupannya, namun bayi yang ada di dalam kandungannya membuat dirinya kuat dan bertahan hingga detik ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maura keluar dari kamar sembari menggendong putri kecilnya. Gadis cilik itu bernama Diona Queen Adriano. Nama yang diambil dari nama Papinya sendiri, Dion Adriano.


Meskipun Dion sudah tak bersama dirinya, namun cinta itu tidak akan pernah hilang dari hati Maura. Satu-satunya pria yang sangat dia cintai seumur hidupnya, tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.


"Pagi Yah," sapa Maura, kemudian mendudukkan Diona di atas kursinya, lalu dia sendiri duduk di sebelahnya.


"Pagi sayang, cucu Opa cantik sekali pagi ini. Mau kemana sayang?" tanya Doni, kemudian mengecup pipi tembem Diona dengan sayang.


"Diona rewel Yah, Maura juga tidak tau kenapa? Sejak tadi subuh, Diona maunya gelayutan terus sama Maura."


"Biasa itu Nak, namanya juga anak kecil. Tingkahnya kadang masih suka berubah-ubah." balas Doni.


"Ayah benar, hari ini Diona ikut Maura saja ke kantor. Maura tidak tega meninggalkannya dalam keadaan seperti ini." ucap Maura.


"Ya sudah, bawa saja! Bawa juga Tuti bersama kalian. Kalau Diona rewel lagi, Tuti bisa membantu kamu menjaganya!" balas Doni.


Sejak Diona berusia 6 bulan, Maura memutuskan bekerja di perusahaan. Keadaan Doni yang mulai sakit-sakitan, membuatnya tak tega membiarkan ayahnya bekerja seperti biasa.


Maura mulai mengambil alih tampuk kekuasaan ayahnya. Sebagai satu-satunya pewaris harta kekayaan Doni, dia tentunya tak bisa membiarkan perusahaannya hancur begitu saja.


Doni hanya sesekali mengunjungi perusahaan, namun dia tetap mengawasi kinerja Maura dari rumah. Mengajari Maura jika menemukan berbagai macam kesulitan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Usai sarapan pagi dan berpamitan dengan Doni, Maura meninggalkan rumah bersama Tuti yang merupakan baby sister putrinya.


Maura mengendarai mobilnya memasuki jalan raya, sementara Tuti duduk di sebelahnya memangku Diona yang tengah asik memainkan bonekanya.


Setibanya di parkiran kantor, Maura mengambil Diona dari tangan Tuti. Maura menggendong Diona menuju ruangannya, sementara Tuti mengikuti dari belakang sembari membawa sebuah tas yang berisi perlengkapan Diona.


"Pagi Buk," sapa karyawan kantor menyambut kedatangan Maura.


"Pagi semuanya," sahut Maura ramah.


Sebagian dari mereka mendekat dan menyapa Diona. Ada yang menciumnya, ada juga yang mencubit pipinya gemas. Maura hanya bisa tersenyum melihat itu.


"Bolehkah kami bermain sebentar dengan Diona Buk?" tanya Nia yang merupakan sekretaris Maura.


"Jangan sekarang Nia, Diona pagi ini sangat rewel. Nanti saja ya kalau suasana hatinya sudah membaik!" jawab Maura.


"Apa Diona sakit Buk?" tanya Nia khawatir.


"Oh, syukurlah kalau begitu. Nanti kalau Ibu kerepotan, kami siap membantu menjaga Diona." tawar Nia, dia benar-benar gemas melihat pipi gembul Diona yang seperti bakpao.


"Baiklah, kami masuk dulu ya."


Maura melanjutkan langkahnya, dia sangat senang sebab putrinya mendapat kasih sayang yang berlimpah dari semua orang. Namun sedikit disayangkan, Diona tidak sempat mendapatkan kasih sayang dari papinya sendiri.


Di dalam ruangan, Diona asik bermain boneka bersama Tuti. Senyuman gadis cilik itu membuat Maura teringat kembali akan sosok Dion, senyuman yang sama. Bahkan bibir dan mata yang sama pula.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Maura bergabung bersama putrinya. Mereka asik bermain sembari menunggu jam makan siang tiba.


"Mi, nen." ucap Diona sembari meraih dada Maura.


"Kenapa sayang, Diona haus ya?" tanya Maura terkekeh.


Maura membuka beberapa kancing kemejanya, lalu menyusui putri kecilnya itu. Setelah beberapa saat, Diona akhirnya tertidur tanpa melepaskan kenyotannya dari dada maminya.

__ADS_1


Melihat buah hatinya yang tumbuh dengan sehat, hati Maura terenyuh. Matanya berkaca-kaca memandangi wajah putri kecilnya itu.


"Kak Dion, apa kamu bisa melihat kami dari atas sana? Aku merindukanmu sayang,"


Maura tak bisa berhenti memikirkan Dion meskipun hanya sesaat. Setiap memandangi wajah putrinya, bayangan Dion selalu saja terlintas di dalam ingatannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sekitar pukul 12.30, Maura mengajak Tuti makan siang di luar. Maura menggendong Diona yang masih tertidur dengan lelap. Tuti kembali menenteng tas yang berisi keperluan Diona. Kemana pun mereka pergi, tas itu tidak pernah ketinggalan.


Maura mengendarai mobilnya mencari tempat makan. Dimana pun, dia pasti mencari tempat yang memiliki kids area. Selain untuk kenyamanan Diona, hal itu juga baik untuk perkembangan putrinya.


Setelah sampai di tempat yang dia cari, Maura turun dari mobil bersama Tuti. Diona juga sudah terbangun dari tidurnya. Mereka melangkah masuk ke dalam sebuah restoran yang cukup terkenal di daerah itu.


Di dalam sana, Maura melihat banyaknya mainan edukasi anak di bagian belakang. Maura memilih duduk di area tersebut dan memesan makanan untuk mereka bertiga.


Maura dan Tuti makan secara bergantian. Saat Maura makan, Tuti lah yang bermain bersama Diona, begitupun sebaliknya.


Selesai menyantap makanan, Maura mengajak Tuti kembali ke kantor. Diona pun sudah tampak lelah sehabis bermain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat lain, Dira dan Miko sedang asik membahas pekerjaan di dalam ruangan. Ruangan yang dulunya ditempati Dion, kini sudah diambil alih oleh Dira.


Dira sudah pernah meminta Maura mengambil alih kekuasaan Dion, karena satu-satunya yang berhak mendapatkan itu hanyalah Maura, istri sah dari Dion.


Maura menolak dan mempercayakan semua itu pada Dira, dia juga meminta Miko membantu Dira di perusahaan. Bagaimanapun, perusahaan itu harus tetap berdiri kuat. Hal itu demi suaminya yang sudah berjuang keras mendapatkan semuanya.


Sejak Miko bekerja di perusahaan, hubungannya dengan Dira menjadi semakin dekat. Namun diantara Miko maupun Dira, tidak ada yang berani bertindak lebih jauh. Keduanya menganggap hubungan itu hanyalah sebatas hubungan adik dan kakak saja.


Miko harus membagi waktunya dengan baik. Pada jam kantor, dia terlihat sangat berwibawa sesuai jabatannya. Namun saat sore tiba, dia kembali lagi menjadi Miko yang apa adanya. Bekerja di bar dan melayani para tamu seperti biasanya.


Semua penghasilan bar, sudah Miko kelola dengan baik. Dia membuatkan rekening khusus atas nama Maura, semua itu nantinya akan menjadi milik Diona yang merupakan pewaris tunggal semua kekayaan Dion. Sementara Miko, dia hanya mengambil gaji sesuai aturan Dion sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2