Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 22.


__ADS_3

Sudah hampir setengah jam Maura di dalam kamar mandi, tapi hingga saat ini dia belum juga keluar. Hal itu membuat Dion benar-benar cemas dan khawatir memikirkan keadaan istrinya di dalam sana.


"Maura, keluarlah. Aku mohon, jangan membuatku takut!" teriak Dion sembari menggedor-gedor pintu.


Lagi-lagi tak ada sahutan sama sekali dari dalam sana, hingga Dion pun memutuskan untuk membuka paksa pintu itu.


"Braaak..."


Seketika, pintu itupun terbuka lebar. Namun, Maura tak kunjung keluar. Dion pun melangkah masuk dan saat itu juga dia terkejut mendapati Maura yang sudah terkulai lemas di bawah guyuran air.


"Maura...," pekik Dion.


Dion berlari menghampiri tubuh istrinya yang sudah bergetar hebat, sebelah tangannya dengan cepat mematikan shower hingga air pun berhenti mengalir.


"Maura, apa yang terjadi. Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Dion sambil memeluk erat tubuh Maura di dalam dekapannya.


"Kak Dion...?"


Belum selesai Maura berbicara, tubuhnya sudah terkulai lemah di dalam pelukan suaminya.


"Maura, Maura, buka matamu sayang. Aku mohon!" pinta Dion yang mulai menitikkan air matanya. Dia benar-benar tak sanggup melihat istrinya tak berdaya seperti itu.


Tanpa berpikir panjang, Dion membopong tubuh istrinya keluar dari kamar mandi dan membaringkannya di atas tempat tidur. Dia kemudian mematikan ac dan meraih handuk untuk mengelap tubuh Maura yang sudah basah kuyup.


Pelan-pelan, Dion menutup tubuh Maura dengan selimut dan membuka pakaian basah istrinya itu satu persatu. Tak peduli nantinya Maura akan marah atau membencinya, yang penting baginya saat ini Maura bisa segera sadar.


Setelah mengganti pakaian baru untuk Maura, Dion kembali memeluk tubuh istrinya dengan erat. Membiarkan wajah Maura tenggelam di dadanya dan mengusap punggung istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Sayang, bangunlah. Aku mohon!" rintih Dion dengan derai air mata.


Tak lama kemudian, Maura akhirnya membuka matanya kembali dan mendongakkan kepalanya menghadap wajah Dion.


"Kak Dion...?" gumam Maura.


Melihat Maura yang sudah sadar dan memanggil namanya, Dion dengan cepat menyeka air matanya agar tak dilihat oleh Maura.


"Kak Dion, tolong lepaskan aku!" pinta Maura dengan lirih.

__ADS_1


"Ssssttt, biarkan saja seperti ini!" sahut Dion.


Dion semakin mengencangkan pelukannya, sesekali dia mengusap ujung kepala istrinya dan mengecupnya dengan lembut hingga Maura pun tak berdaya mengelak nya. Entah kenapa tiba-tiba saja Maura merasa nyaman dengan sentuhan itu.


Hampir satu jam mereka berdua saling memeluk satu sama lain, hingga pada akhirnya Maura pun mendorong dada Dion dan menjarak dari tubuh suaminya.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud kurang ajar!" ucap Dion.


Maura hanya diam dan memalingkan wajahnya seolah-olah tak melihat Dion sama sekali. Dia sendiri tak mengerti dengan dirinya dan apa yang dia inginkan.


Melihat diamnya Maura, Dion pun bangkit dari kasur dan berjalan meninggalkan kamar menuju ruang makan. Meskipun perutnya sudah sangat lapar, tapi dia lebih memilih mengambilkan makanan untuk Maura dan membawanya ke dalam kamar tanpa mempedulikan perutnya sendiri.


Setibanya di dalam kamar, Dion duduk di sisi ranjang tepat di samping istrinya yang tengah bersandar di tampuk ranjang.


"Kamu makan dulu ya, biar aku suapi." ucap Dion.


Dion mulai menyendok makanan yang ada di dalam piring, kemudian mengarahkan sendok yang berisi nasi dan lauk itu ke mulut Maura.


"Aku tidak lapar." kilah Maura sembari memalingkan pandangannya.


"Biarkan saja, memangnya aku peduli?" balas Maura yang kemudian terkekeh dengan sendirinya.


Melihat senyum dan tawa istrinya yang begitu lepas, Dion pun merasa bahagia hingga dia pun ikut terkekeh, lalu mengusap ujung kepala istrinya dengan sayang.


"Ya sudah, cepat buka mulutnya!" pinta Dion yang kembali mengarahkan sendok nya ke mulut Maura.


Maura yang tadinya membangkang, kini mulai menurut dan menerima suapan dari suaminya itu. Dia bahkan mulai merasa nyaman dengan perlakuan Dion terhadap dirinya.


Setelah makanan di piring itu habis, Dion kembali meninggalkan kamar. Sekarang gilirannya untuk mengisi kampung tengahnya yang sudah sedari tadi memberontak.


Setelah menyantap makan siangnya, Dion memilih duduk di ruang tengah sembari menghisap sebatang rokok. Namun sesaat, tiba-tiba saja raut wajahnya berubah aneh memikirkan kejadian di kamar tadi.


Meskipun dia sudah mendengar cerita tentang masa lalu istrinya dari Miko, tapi tetap saja semua itu masih mengganjal di hatinya.


Setelah rokoknya habis, Dion kembali bangkit dari duduknya dan berjalan mencari keberadaan Ela yang ada di paviliun belakang.


"Ela, tolong hubungi jasa servis! Pintu di kamar rusak." titah Dion.

__ADS_1


"Baik Tuan," sahut Ela sembari mengangguk pelan.


Dion kembali ke kamar dan duduk di samping Maura yang tengah berbaring di atas kasur. Meskipun Maura tak merespon kehadirannya, tapi dia tak mempermasalahkannya sama kali.


Waktu semakin berjalan, puas memandangi wajah istrinya yang tengah terlelap, dia pun ikut tertidur dalam posisi saling berhadapan satu sama lain.


Sekitar pukul 7 malam, ponsel Dion berdering hingga membuatnya terbangun dari mimpi indahnya. Diraihnya ponsel tersebut dan mendapati nama Miko yang terpampang di layar ponsel tersebut.


Dion bangkit dari kasur dan menjarak dari tempat tidur. Sesaat setelah telepon itu terhubung, Dion membulatkan matanya mendengar penjelasan dari Miko yang membuatnya menggertakkan giginya.


Setelah sambungan telepon itu terputus, Dion bergegas masuk ke dalam kamar mandi membersihkan tubuhnya.


Usai mandi, Dion keluar mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Hal itu membuat mata Maura melotot tajam hingga akhirnya gadis cantik itu melemparkan pandangannya ke arah lain.


"Kenapa berpaling?" goda Dion, dia pun mendekat dan berdiri tepat di hadapan istrinya.


"Kak Dion, cepat pakai pakaianmu!" ketus Maura sambil menutup matanya.


Dion terkekeh, dia benar-benar gemas melihat tingkah istrinya yang selalu berubah-ubah layaknya seekor bunglon.


"Jangan takut, lihat saja kalau kamu ingin melihatnya. Bahkan jika kamu ingin menyentuhnya, aku sama sekali tidak keberatan. Semua ini milikmu." goda Dion lagi hingga membuat pipi Maura merah merona saking malunya.


"Cukup Kak Dion, jangan menggodaku terus!" cetus Maura sembari meraih bantal dan memukulinya ke arah Dion.


Lagi-lagi Dion pun terkekeh, senang rasanya membuat istrinya kesal seperti itu.


Sadar karena dirinya sedang ditunggu oleh Miko, Dion menghentikan aksinya menggoda sang istri. Dia melangkah menuju lemari dan bergegas mengenakan pakaiannya.


"Aku keluar sebentar ya, ada sedikit masalah di bar. Miko sedang menunggu di sana. Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal?" tanya Dion menjelaskan.


"Ada masalah apa?" tanya Maura ingin tau.


"Hanya masalah pengunjung saja." sahut Dion berbohong, dia tidak mungkin menceritakan semuanya pada Maura.


"Oh, pergilah!" ucap Maura.


Dion mengukir senyum di wajahnya, kemudian mengusap ujung kepala Maura dengan sayang. Dia pun berlalu meninggalkan kamarnya setelah mendapatkan izin dari Maura.

__ADS_1


__ADS_2