
Sore hari, keduanya tiba di kamar hotel tempat mereka menginap. Dion melempar jas nya ke sembarang tempat dan membanting tubuhnya di atas kasur. Kejadian tadi benar-benar membuatnya lelah dan mengantuk.
Sementara Dion tengah beristirahat, Maura masuk ke dalam kamar mandi. Tenaganya sudah terkuras sehabis menangis, lalu dia pun berendam di dalam bathtub untuk menyegarkan tubuhnya kembali.
Setelah cukup lama berendam, Maura keluar dengan wajah lebih segar dari sebelumnya. Namun kali ini tampilannya sedikit berbeda, tubuhnya dibaluti lingerie yang dibelikan oleh suaminya semalam. Lekuk tubuhnya terpampang indah, memperlihatkan bagian intinya yang menonjol di dalam lingerie transparan tersebut.
Melihat sang suami yang sudah terlelap, Maura pun tak ingin mengganggu. Dia tau suasana hati suaminya sedang tidak baik saat ini.
Maura duduk di meja rias sembari menyisir rambut panjangnya. Wajahnya merah merona memandangi pantulan tubuhnya sendiri di depan cermin. Meskipun ada perasaan malu, tapi dia pun menepis nya dalam sekejap. Setelah itu, dia berpindah ke sofa dan memainkan layar ponselnya di sana.
Tidak lama, Dion menggeliat sembari membuka matanya perlahan. Seketika, dia pun tergugu menatap lekat ke arah sofa. Ada pemandangan indah yang terpampang di depan sorot matanya, pemandangan yang selama ini ingin dia jelajahi, namun belum juga kesampaian hingga detik ini. Dia pun menelan ludahnya kasar sembari mengucek matanya yang masih separuh terbuka.
Dion menghela nafas berat, ada dorongan dari hatinya untuk segera mendekati Maura. Dia kemudian bangkit dan berjalan menuju sumber godaan.
Dari arah belakang, Dion melingkarkan tangannya di perut Maura. Dia menciumi tengkuk istrinya bertubi-tubi, sementara tangannya mulai bergerak meraih roti O milik sang istri dan meremas nya dengan lembut.
Maura terlonjak kaget menerima sentuhan Dion yang begitu tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang seakan ingin tumpah. Dia pun menelan ludahnya kasar sembari menahan sesak di dadanya. Sentuhan itu membuatnya melayang hingga dia pun memejamkan matanya perlahan.
"Kak Dion," gumam Maura, suaranya terdengar berat.
Sadar akan reaksi Maura yang sudah terbawa suasana, Dion pun berpindah dengan cepat. Kini dia sudah berada di hadapan Maura, dia pun menempelkan dadanya ke dada istrinya hingga punggung sang istri tertumpu pada sandaran sofa.
Tanpa berbasa-basi, Dion dengan sigap mendatangi bibir Maura. Dia membungkam bibir merekah itu dan melu-matnya dengan rakus. Tak ada satu inci pun yang dia lewatkan saking tak kuasanya menahan has-rat kelakiannya yang mulai bergejolak.
Kini bibir mereka sudah menyatu, hal itu membuat Maura tak bisa berkutik. Dia pun tak sungkan membalas isapan suaminya dan melu-matnya dengan nafas yang mulai memburu.
Mereka berdua tenggelam di dalam permainan panas itu. Maura kemudian membuka mulut, memberi celah untuk sang suami masuk semakin dalam. Dia juga tak canggung memainkan lidahnya menggelitik lidah suaminya dan menghisap nya dalam. Bahkan air ludah mereka sudah menyatu tanpa ada rasa jijik sedikitpun.
__ADS_1
Puas mengesap bibir istrinya yang manis, kini Dion turun dan menciumi leher sang istri yang ternganga di depan matanya. Dia menjilati setiap inci nya dan menggigitnya penuh gai-rah. Hal itu membuat leher mulus Maura penuh dengan tanda merah buatannya.
"Akhh,"
Lenguhan manja Maura membuat Dion semakin menggila. Tangannya tak tinggal diam dan bergerak menggerayangi setiap lekuk tubuh istrinya.
Kini perhatian Dion mulai teralihkan, dia menatap lekat sepasang roti O milik sang istri yang menyembul di balik kacamata pelindungnya.
Dion menelan ludahnya kasar, dia tak sanggup lagi menahan dirinya. Seketika, dia pun melepas kaitan pelindung itu hingga pemandangan indah tersebut semakin nyata menggoda pandangannya.
Dengan nafas yang semakin memburu, Dion menenggelamkan wajahnya di tengah-tengah benda kenyal itu. Mulutnya menganga lebar melahap habis sebelah roti O milik istrinya, sesekali lidahnya menari-nari memainkan biji kismis yang menghias di atasnya. Sementara yang lain tak luput dari pergerakan tangannya yang terus saja meremas benda kenyal itu bergantian.
Semakin Dion mengencangkan isapan nya pada permukaan benda kenyal itu, semakin menggeliat pula Maura dibuatnya. Sekujur tubuhnya mulai bergetar bak disengat aliran listrik hingga dia pun tak kuasa menahan suaranya.
"Akhh,"
Dion menghentikan aksinya sejenak, dia menatap lekat wajah sang istri dengan mata yang terlihat sayu. Seakan sedang meminta izin untuk berpetualang menjelajahi tubuh sang istri.
Melihat itu, Maura mengukir senyum di wajahnya. Kini dia sudah siap menyerahkan semuanya untuk sang suami. Kepalanya mengangguk pelan pertanda dia setuju melakukannya. Membuat Dion menggulingkan senyumannya dan mencium kening sang istri dengan sayang.
Dion bangkit dari sofa dan membopong tubuh istrinya menuju ranjang. Satu persatu dari pakaiannya pun terlepas hingga tak menyisakan sehelai benangpun di tubuhnya.
Melihat tubuh Dion yang polos, Maura pun mengulum senyumannya. Dia benar-benar malu menyaksikan senjata sang suami yang memiliki ukuran di atas normal. Jantungnya berdegup kencang dengan dada naik turun mencuri nafas.
Dion menggulingkan senyumannya melihat wajah Maura yang merah merona, dia pun bergegas naik dan mengunci tubuh istrinya di bawah kungkungan nya. Hal itu membuat Maura membatu menahan sesak.
Sebelum menguasai tubuh Maura, Dion kembali melayangkan sebuah kecupan sayang di kening istrinya. Perlahan dia mulai turun dan kembali mengulum bibir Maura yang merekah.
__ADS_1
Kini lingerie berwarna kuning itu sudah terlepas dari tubuh Maura, tak ada satupun yang tersisa di tubuhnya. Hal itu membuat Dion kembali merasakan ngilu dan panas yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Dion kembali melahap roti O milik istrinya bergantian. Tangannya tak berhenti meremas benda gembul itu dengan nafas yang mulai tersendat. Membuat Maura kembali menggeliat dan melenguh manja menahan rasa yang entah bagaimana.
Kini Maura sudah tak berdaya di bawah kungkungan suaminya, tubuhnya kembali bergetar menerima sentuhan yang bertubi-tubi dilayangkan sang suami. Bahkan saat Dion menenggelamkan wajahnya di V miliknya, dia pun menjerit sembari mengulum bibirnya menahan nikmat yang tiada tara.
"Akhh,"
Lagi-lagi Maura mengerang hebat, hisapan sang suami di bagian intinya membuat sekujur tubuhnya kembali bergetar. Ada rasa yang entah yang menguasai tubuhnya kala itu. Hingga Dion pun tak kuasa mengulur waktunya lebih lama.
Dion kemudian mengarahkan Meriam Belanda nya yang sudah mengeras tepat ke arah sasarannya. Hal itu membuat Maura menjerit menahan sakit yang luar biasa di bagian intinya. Tak terasa air matanya menetes menjalar hingga telinganya, membuat Dion terenyuh dan menghentikan aksinya sejenak.
Namun pada saat Dion mengangkat senjatanya, Maura dengan cepat menarik tubuh suaminya. Dia mengangguk pelan pertanda siap menerima serangan dari sang suami. Hal itu membuat Dion tersenyum dan kembali melu-mat bibir sang istri dengan rakus.
Tanpa melepaskan luma-tannya, Dion kembali menekan pinggul Maura dengan kuat. Sesaat, benda keras itupun menerobos masuk ke dalam sarangnya. Membuat Maura menjerit dan menggigit bibir suaminya tanpa di sengaja.
Kini tak ada lagi penghalang diantara mereka. Pergumulan itupun berlangsung mengguncang ranjang empuk saksi bisu penyatuan mereka berdua. Bahkan rasa sakit itu tak lagi terasa, yang ada hanya nikmat yang sungguh luar biasa.
Hentakan demi hentakan yang dilayangkan Dion membuat Maura tak sanggup menahan suaranya. Dia terus saja mengerang mengikuti tempo permainan sang suami yang semakin lama semakin bergerak dengan cepat.
"Akhh,"
Erangan Maura membuat Dion semakin menggila. Dia terus saja menggempur V istrinya tanpa ampun. Hingga sekitar kurang lebih satu jam berlalu, susu full cream itupun meleleh menyemaikan benih Dion di dalam sana. Membuatnya mengerang hebat dan Maura pun menjerit menikmati pencapaiannya.
Dion tersungkur lemah di atas tubuh Maura. Dia kemudian mengecup bibir istrinya dengan lembut sebelum akhirnya berpindah membaringkan tubuhnya di samping sang istri yang sudah terkulai lemas.
Kini keduanya berbaring di dalam satu selimut, tubuh mereka saling memeluk satu sama lain. Dion bahkan tak henti-hentinya mengukir senyum di wajahnya. Akhirnya penantian itupun berakhir, Dion benar-benar bahagia dan mengecup ujung kepala istrinya dengan sayang.
__ADS_1