
Tepat pukul 3 sore, mobil Dion sudah terparkir di garasi. Dia masuk ke dalam rumah dengan wajah lesu, bahkan matanya masih memerah menahan air mata yang sejak tadi ingin tumpah.
Sesampainya di ruang tengah, Dion mendapati Maura yang tengah duduk menonton televisi. Dia mendekat, lalu memeluk sang istri dengan erat. Tubuhnya bergetar bak diguncang gempa berkekuatan besar. Hal itu membuat Maura bingung, dia khawatir terjadi sesuatu kepada suaminya.
"Kak Dion, apa yang terjadi?" tanya Maura menautkan alisnya.
Dion tak menyahut, butiran bening itu akhirnya tumpah menggenangi pundak sang istri.
"Kak Dion, jangan diam saja! Katakan padaku apa yang terjadi, jangan membuatku takut!" desak Maura dengan suara bergetar, dia hampir menangis melihat keadaan suaminya.
Mendengar itu, Dion segera melepaskan pelukannya, lalu bangkit dari duduknya. Dia meraih tangan Maura dan membawanya naik menuju kamar mereka.
Kini keduanya sudah berada di dalam kamar. Maura duduk di atas sofa, sementara Dion berbaring dan menjadikan paha Maura sebagai bantalannya. Dengan mata yang masih basah, dia menatap lekat wajah sang istri dengan lirih.
"Jika suatu saat nanti aku meninggalkanmu tanpa kabar, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dion berandai-andai.
Maura melotot kan matanya kaget, denyut nadinya seakan berhenti untuk sesaat. Pertanyaan Dion barusan membuat air matanya tergenang memenuhi kelopak matanya.
"Kak Dion, apa yang kamu katakan? Kamu ingin pergi meninggalkan aku?" tanya Maura lirih, butiran bening itu pun akhirnya jatuh tepat di wajah suaminya.
"Jangan menangis! Aku hanya bertanya." jelas Dion, dia pun menyeka pipi Maura dengan tangannya.
"Pertanyaan macam apa itu, jika dibalik bagaimana. Apa yang akan kamu lakukan jika aku meninggalkanmu?" jawab Maura dengan pertanyaan pula, dia kemudian mendorong kasar kepala Dion dan bangkit dari sofa.
Dion bangkit dan menghadang langkah Maura yang hendak pergi meninggalkan kamar. Dia memeluk sang istri dengan erat, lalu mengecup ujung kepala Maura dengan sayang.
__ADS_1
"Jangan marah! Aku akan mati jika kamu meninggalkan aku." ucap Dion dengan suara terdengar berat.
Mendengar itu, Maura tak kuasa menahan air matanya. Isak tangisnya pecah memenuhi seisi kamar. Begitupun dengan Dion yang tak sanggup menahan dirinya, isak keduanya saling bersahutan satu sama lain.
"Sudah, jangan menangis lagi! Selama aku masih bernafas, itu semua tidak akan terjadi." ucap Dion, dia melepaskan pelukannya. Kemudian menyeka pipi Maura dengan tangannya, Maura pun melakukan hal yang sama.
Setelah tangisan keduanya mereda, Dion kembali membawa Maura duduk di sofa. Kali ini Dion memangku sang istri di atas kedua pahanya.
"Apa yang terjadi, kenapa Kak Dion bisa bicara seperti tadi?" tanya Maura meminta penjelasan.
"Banyak hal yang belum kamu ketahui tentang aku, aku tidak tau cara menjelaskannya padamu. Bahkan aku sudah menggunakan cara kotor hanya untuk menjadikanmu istriku." jawab Dion mengakui kebenarannya.
Lagi-lagi Maura melotot kan matanya mendengar pengakuan Dion, dia penasaran cara kotor apa yang sudah suaminya lakukan demi untuk mendapatkan dirinya. Dia memang harus mengetahui semua itu.
Dion menghela nafas panjang, lalu membuangnya kasar. Dia menceritakan semua yang sudah dia lakukan terhadap Darma dan David beberapa bulan yang lalu. Semua dia ceritakan tanpa ada yang ditutupi, sudah saatnya Maura tau kebenarannya.
"David mencintaimu sudah sejak lama, tapi aku datang menghancurkan impiannya dalam sekejap. Dia tidak salah, dia tidak meninggalkanmu di acara pernikahan waktu itu. Tapi akulah dalang dibalik semuanya, aku yang membuatnya tidak bisa datang. Maafkan aku, aku sudah menghancurkan semuanya." jelas Dion dengan mata berkaca-kaca.
Terlepas Maura bisa menerima atau tidak, semuanya Dion kembalikan lagi kepada istrinya. Setidaknya dia sudah berani mengakui kesalahan yang sudah dia perbuat.
"Kenapa Kak Dion melakukan itu semua?" tanya Maura penasaran.
"Aku membenci Darma, rasa benci itu semakin menjadi saat aku tau kamu akan menikah dengan anaknya. Aku ingin dia hancur sehancur hancurnya. Ini adalah dosa yang harus dia tanggung, bahkan semua ini belum cukup melepaskan rasa sakit hatiku padanya. Aku ingin dia lebih menderita lagi dari ini." ucap Dion dengan mata merah menyala.
Maura menelan ludahnya kasar, dia tidak menyangka suaminya juga menyimpan dendam masa lalu kepada seseorang. Hal itu kembali mengingatkannya akan rasa sakit yang pernah dia rasakan sebelumnya.
__ADS_1
"Jadi Kak Dion menikahi ku hanya untuk membalaskan dendam itu?" tanya Maura meninggikan nada bicaranya.
"Tidak sayang, hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan itu. Aku menikahi mu karena aku mencintaimu, kebetulan saja calon suamimu waktu itu adalah dia." jelas Dion.
Mendengar penjelasan itu, Maura pun menghela nafas lega. Dia sempat berpikir kalau Dion menikahinya hanya dijadikan alat untuk membalaskan dendamnya kepada Darma.
"Apa aku bisa mempercayai kata-kata itu?" tanya Maura meyakinkan dirinya sendiri.
Dion meraih kepala Maura dan menempelkan nya tepat di dadanya. Dia ingin sang istri mendengar suara jantungnya yang berdetak dengan cepat dan mencari tau kebenarannya di sana.
"Sejak kalian duduk di bar malam itu, aku diam-diam memperhatikanmu dari kejauhan. Besoknya kita bertemu lagi di parkiran mall, kamu menghindar dan pergi begitu saja. Dan saat di desa, aku sangat senang melihatmu pertama kalinya di sana. Lagi-lagi kamu menghindar dariku. Aku sampai bingung memikirkan mu waktu itu. Aku pikir ada yang salah pada diriku sehingga membuatmu takut melihatku. Setelah Miko menceritakan semua tentangmu, aku baru paham. Tapi kamu tidak memberiku kesempatan untuk mendekatimu. Dan saat kamu menangis di dalam pelukan Miko malam itu, aku benar-benar marah. Makanya pagi itu aku tidak menatapmu sama sekali, tapi saat kamu melambaikan tangan dan menyebut namaku dengan bibir manis ini, aku sangat senang dan ingin sekali memelukmu saat itu. Tapi aku tidak berdaya melakukannya. Bahkan saat aku tau kamu sudah bertunangan, dadaku rasanya sesak. Pada saat aku tau siapa calon suamimu, aku mulai mengatur rencana itu dengan baik. Meskipun caraku mendapatkan mu salah, aku tidak peduli." jelas Dion panjang kali lebar.
Mendengar penjelasan sang suami, hati Maura terenyuh hingga kembali menitikkan air matanya. Dia tak menyangka Dion sudah memendam perasaan itu sejak pertama mereka bertemu. Dia pun menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu dan memeluknya dengan erat.
"Maafkan aku untuk semuanya, aku tidak peka. Aku tidak tau cara mencintai dan juga dicintai. Aku selalu takut berhadapan dengan laki-laki manapun, bukan dengan Kak Dion saja." isak Maura sesegukan.
"Tidak perlu meminta maaf, aku mengerti. Mulai sekarang, belajarlah mencintaiku. Hanya itu yang aku harapkan darimu, tidak ada yang lain!" pinta Dion, dia kemudian mengecup kening Maura dengan sayang.
Maura mengangguk pelan, dia tidak peduli dengan apa yang Dion lakukan sebelumnya. Itu tidak penting lagi baginya, semua sudah terjadi. Dan kini dia sudah menerima sang suami sepenuh hati.
"Lalu apa yang membuat Kak Dion menyimpan kebencian yang begitu dalam terhadap ayahnya David?" tanya Maura mencari tau.
Dion menghela nafas berat, lalu mengangkat tubuh Maura dan mendudukkan nya di atas sofa. Dia kemudian bangkit dan mengambil sebuah kertas kecil di dalam laci.
Dia memperlihatkan kertas itu kepada Maura dan menceritakan semuanya dengan jelas. Tidak lama, air matanya kembali jatuh berderaian. Dia tak kuat menahan perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya. Bahkan Maura pun tak kuasa mendengar cerita suaminya. Dia pun menitikkan air matanya dan memeluk sang suami dengan erat.
__ADS_1