Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 39.


__ADS_3

Dion tengah bersiap-siap, pagi ini ada pertemuan penting dengan beberapa klien bisnisnya di kantor. Sebenarnya dia malas sekali untuk hadir, tapi karena Samuel tidak sanggup meng-handle semuanya sendiri, dia pun terpaksa turun tangan.


Usai sarapan, Dion pamit dan mencium ujung kepala Maura dengan sayang. Tak lupa dia melabuhkan kecupan lembut di bibir merekah sang istri. Hal itu membuat wajah Maura memerah menahan malu mengingat posisi mereka masih berada di ruang makan.


"Kak Dion, jaga sikapmu! Ada Ela dan Nisa di sini." bisik Maura gelagapan.


Dion menggulingkan senyumannya. Setelah apa yang terjadi diantara mereka berdua, Maura masih saja malu-malu berhadapan dengan dirinya.


"Tidak apa-apa sayang, mereka pasti mengerti." sahut Dion dengan santainya, lalu mengusap ujung kepala Maura dengan lembut.


Melihat itu, Ela dan Nisa tersenyum sumringah. Keduanya ikut bahagia menyaksikan perubahan Maura. Tak ada lagi wajah murung yang sering diperlihatkannya selama ini. Dia tampak lebih ceria dari sebelumnya.


Setelah Dion menghilang dari pandangannya, Maura kemudian mengajak Ela dan Nisa ke kamarnya.


Maura membuka salah satu koper yang berisikan oleh-oleh dari Bandung kemarin, lalu menyisakan beberapa untuk dibawa pulang ke rumahnya. Selebihnya dia berikan kepada 2 wanita cantik itu dan memintanya membagikan kepada pekerja yang lain.


Ela dan Nisa tersenyum bahagia, dia tak menyangka sang nyonya benar-benar menepati janjinya.


"Terima kasih Nyonya, padahal kemarin kami cuma bercanda loh." ucap Ela, dia pun mengukir senyum di wajahnya. Begitupun dengan Nisa.


"Tidak apa-apa. Bercanda atau tidak, aku akan tetap membawakannya untuk kalian semua." jawab Maura.


Hal itu membuat Ela dan Nisa tersentuh. Duo yatim piatu itu beruntung memiliki majikan seperti Dion dan Maura. Mereka merasa dihargai meskipun hanya seorang pelayan di rumah itu. Apalagi selama ini Dion juga menganggap keduanya seperti adiknya sendiri.


Siang harinya, Maura kembali turun dan duduk di meja makan. Berhubung sang suami tidak pulang untuk makan siang, Maura pun mengajak Ela dan Nisa makan bersama.


Kesempatan kali ini Maura manfaatkan sebaik mungkin. Dia menanyakan berbagai macam pertanyaan menyangkut suaminya yang belum banyak dia ketahui. Dia ingin tau jejak langkah sang suami sebelum mereka berdua menikah.

__ADS_1


Ela dan Nisa melempar senyum di wajah masing-masing, tatapan keduanya saling bertemu. Satu persatu dari keduanya mulai buka suara, menceritakan keseharian Dion jika berada di dalam rumah. Tidak ada yang aneh dengan penjelasan mereka berdua.


"Apa Kak Dion tidak pernah membawa seseorang ke rumah ini, pacarnya mungkin?" tanya Maura penasaran.


Ela dan Nisa terkekeh mendengar pertanyaan Maura, keduanya sangat paham maksud pertanyaan tersebut.


"Tidak Nyonya, setau kami Tuan Dion tidak pernah membawa wanita ke rumah ini. Tapi kalau pria ada, dia adik angkatnya Tuan yang datang dari desa." jawab Nisa menjelaskan.


"Oh, kalau Miko aku juga kenal." sahut Maura, dia pun memanyunkan bibirnya sebab tak mendapatkan jawaban apa-apa dari pertanyaannya.


Di kantor, Dion baru saja menyelesaikan meeting nya. Satu persatu dari rekan bisnisnya sudah berpamitan dan meninggalkan kantor. Kini hanya tinggal dirinya, Samuel dan juga Silvi yang masih sibuk membereskan meja.


Dion kembali ke ruangan dan duduk di depan layar laptopnya yang terbuka di atas meja. Sesaat, dia pun menggulingkan senyumannya menatap foto sang istri yang dia jadikan sebagai wallpaper. Tiba-tiba saja dia merasa rindu dan ingin pulang sesegera mungkin.


Dia menutup laptopnya dan bersiap untuk pulang. Namun saat kakinya baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Silvi mendorong pintu dari luar hingga membuat langkahnya terhenti.


"Kau, kenapa tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" ketus Dion kesal.


"Untuk apa orang itu kemari? Aku tidak punya urusan lagi dengan mereka." tanya Dion sembari menautkan alisnya.


Namun sebelum Silvi menjawab, Darma sudah berdiri di depan pintu ruangannya. Hal tersebut membuat wanita cantik itu terdiam dan memilih pergi meninggalkan mereka di sana.


Dion mengeratkan rahangnya kuat, matanya memerah menatap benci pada pria paruh baya itu. Dia tidak ingin melihat wajah itu lagi, kebenciannya akan pria itu semakin mendalam menggerogoti hatinya.


"Aku sibuk, pergilah dari sini sebelum aku mengusir mu!" ketus Dion.


"Kenapa, kau takut menghadapi kami?" tanya David yang tiba-tiba muncul di belakang ayahnya.

__ADS_1


Dion menyeringai melihat kekompakan ayah dan anak itu. Meskipun sebenarnya dia tidak mempunyai masalah dengan David, tapi tetap saja dia tidak suka melihat kedua pria itu.


"Katakan tujuan kalian datang ke sini, aku tidak punya banyak waktu!" ketus Dion lagi.


Sebelum Darma dan David mengutarakan maksud kedatangannya, pria paruh baya itu dengan santainya melenggang ke dalam ruangan Dion dan menekuk kakinya di atas sofa. Hal itu membuat Dion mengepalkan tangannya kuat.


Kini mereka bertiga duduk saling berhadapan, mata Dion semakin memerah melihat wajah Darma. Namun dia mencoba menahan diri sebab penasaran dengan kedatangan keduanya.


"Aku tau semua yang terjadi beberapa bulan lalu bukanlah kecelakaan murni, ada campur tanganmu di sana. Kau bahkan rela kehilangan uang ratusan juta secara percuma, kau juga mencuri wanita yang dicintai David dan menjadikannya istrimu. Apa yang kau inginkan sebenarnya, kenapa kau begitu tega menghancurkan kami?" ucap Darma panjang lebar.


Dion menyunggingkan senyuman miringnya, matanya menilik tajam kedua pria itu secara bergantian.


"Bagus kalau kau sudah tau. Jadi apa yang ingin kau lakukan setelah ini, apa kau ingin melaporkan aku ke pihak yang berwajib? Lakukan saja jika kau mempunyai bukti yang cukup!" tantang Dion tanpa gentar sedikitpun.


Melihat reaksi Dion yang begitu santai, David mulai tersulut emosi. Dia mengepalkan tangannya erat, ingin sekali dia menghajar Dion saat itu juga. Namun Darma dengan cepat menahannya.


"Bajingan! Apa kesalahan yang sudah kami perbuat padamu, kenapa kami harus membayar mahal atas perbuatan mu yang tidak manusiawi?" gerutu David meninggikan nada bicaranya.


"Tanya sendiri kepada ayahmu itu! Apa semua yang aku lakukan sudah sebanding dengan dosa yang sudah dia lakukan di masa lampau?" jawab Dion melemparkan pertanyaan David kepada ayahnya sendiri.


Darma terdiam, dia tidak mengerti maksud ucapan Dion sebenarnya. Bahkan tatapan David, membuatnya bingung karena dia sama sekali tidak tau apa-apa. Dia juga tidak mengenali Dion sebelumnya.


"Kenapa kau diam saja hah? Darmawan!" gertak Dion yang membuat Darma tersentak kaget.


"Bagaimana kau bisa tau namaku?" tanya Darma, dia mengerutkan keningnya menatap wajah Dion. Ada banyak pertanyaan yang mengganjal di benaknya.


"Tidak penting dari mana aku tau. Namun satu hal yang perlu kau ingat, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang. Aku akan menghancurkan mu hingga berkeping-keping. Bahkan sampai air mata darah keluar dari matamu, aku tidak akan mengampuni mu dengan mudah!" ancam Dion dengan tatapan membunuhnya.

__ADS_1


Mendengar itu, David semakin kebingungan. Dia marah melihat Dion mengancam ayahnya, namun dia juga penasaran dengan sang ayah yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


Karena tak mengerti dengan apa yang terjadi sebenarnya, David pun membawa sang ayah meninggalkan ruangan itu. Dia ingin menanyakan semuanya kepada sang ayah sebelum menyelesaikan urusannya dengan Dion.


__ADS_2