
Sepanjang perjalanan pulang, mereka berdua tampak seperti tom and jerry yang saling bermusuhan. Maura hanya diam sambil menatap lirih jalanan yang mereka lalui. Sementara Dion, dia hanya fokus dengan stir mobil tanpa mempedulikan Maura yang duduk di sampingnya.
Kurang lebih satu jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di depan rumah Dion. Maura yang kala itu masih bersedih, seketika tergugu menatap rumah Dion yang sama sekali tidak seperti perkiraannya.
"Ayo, turunlah!" ajak Dion.
Dion turun lebih dulu dan mengeluarkan koper yang ada di dalam bagasi. Namun, dia tiba-tiba mengeratkan rahangnya saat menyadari istrinya masih membeku di dalam mobil.
"Ya Tuhan, wanita ini!" umpat Dion, dia melangkah ke arah pintu dan membukanya sambil menatap Maura dengan tajam.
Bukannya turun, Maura malah memalingkan wajahnya. Sikap acuh tak acuhnya itu benar-benar membuat Dion geram.
Dion mendekat, dia menumpukan kedua tangannya pada sisi jok yang membuat tubuh Maura terkunci di dalamnya. Hal itu membuat kaki Maura mulai bergetar hingga titik peluh pun mengucur deras di dahinya.
"Kak Dion, apa yang kamu lakukan? Menjauh lah dariku!" bentak Maura, dia pun menelan ludahnya dengan kasar.
Dion menyunggingkan senyuman miringnya, wajah Maura yang gelagapan membuatnya ingin sekali berlama-lama berada di posisi itu.
"Kenapa takut, bukankah aku ini suamimu?" ucap Dion, dia semakin mendekat hingga wajah mereka berdua nyaris saja bersentuhan satu sama lain.
Maura menutup matanya, deru nafasnya yang memburu membuat jantung Dion berdegup kencang seakan tubuhnya sedang merespon. Bahkan aroma tubuh Maura, seperti menuntunnya untuk menjelajahi leher mulus istrinya itu.
"Jangan Kak Dion, aku mohon!" pinta Maura yang mulai meneteskan air matanya.
Melihat Maura yang benar-benar ketakutan sampai menangis, Dion menghentikan aksinya itu seketika.
"Sudah, jangan menangis. Aku tidak akan menyakitimu!" ucap Dion, dia kemudian menyeka air mata istrinya dan mengusap ujung kepala Maura dengan lembut.
Maura menghela nafas dan membuangnya kasar, dia pikir Dion benar-benar akan menyentuhnya. Ternyata tidak, Dion malah melepaskan kuncian itu hingga membuatnya bernafas lega.
"Ayo, turunlah!" ajak Dion lagi, lalu dia melangkah ke arah koper dan mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Dasar bodoh, apa yang kau lakukan Dion?" batinnya menggerutu pada dirinya sendiri.
Perlahan, Maura mulai turun dan mengikuti langkah kaki suaminya. Keduanya masuk ke dalam rumah dan disambut hangat oleh para pelayan yang melihat kedatangan mereka.
"Selamat siang Tuan," sapa Ela dan Nisa bersamaan. Mereka pun menatap bingung ke arah gadis cantik yang datang bersama Dion.
"Siang, tolong antar Maura ke kamar!" titah Dion sambil meletakkan koper yang dia bawa di hadapan pelayan itu.
Ela dan Nisa saling melirik satu sama lain, mereka berdua mulai penasaran karena sebelumnya Dion tak pernah membawa wanita manapun masuk ke rumah itu.
"Maaf Tuan, ke kamar mana kami harus mengantar Nona ini?" tanya Ela memastikan.
Pertanyaan Ela itu tiba-tiba membuat Dion terkekeh, dia pun meletakkan tangannya di ujung kepala Maura dan mengusapnya dengan pelan.
"Dia Maura, Istriku, Nyonya kalian. Ayo, antar dia ke kamar!" jelas Dion hingga membuat Ela dan Nisa terkejut dengan mata melotot tajam.
Setelah mengetahui siapa gadis cantik itu sebenarnya, Ela bergegas membawanya naik ke lantai atas sesuai permintaan Dion. Sementara itu, Nisa juga beranjak menuju dapur untuk menyiapkan makan siang.
Sesampainya di depan pintu kamar, Ela meraih kenop pintu dan membukanya dengan lebar.
"Ini kamar Nyonya Maura dan Tuan Dion, silahkan masuk!" ucap Ela.
"Baiklah, terima kasih," sahut Maura.
Setelah Maura menginjakkan kakinya di dalam kamar tersebut, Ela menyusul masuk dan meletakkan koper yang dia bawa di sudut lemari.
"Nyonya istirahat saja di sini, saya turun dulu menyiapkan makan siang. Kalau Nyonya butuh sesuatu, panggil saya saja!" ucap Ela, dia pun meninggalkan kamar dan menutup kembali pintu itu.
Sesaat setelah Ela pergi, Maura mulai menyisir setiap sudut kamar yang luas itu. Dia benar-benar tak menyangka, ternyata kehidupan suaminya lebih baik dari yang dia pikirkan sebelumnya.
Puas memandangi dan menjelajahi setiap sudut, Maura kemudian membuka kopernya dan mulai menyusun pakaiannya ke dalam lemari.
__ADS_1
Sekitar pukul 1 siang, Dion pulang dan bergegas masuk ke dalam kamar. Sesaat, senyuman di wajahnya mulai mengambang mendapati Maura yang tengah terlelap di atas tempat tidur. Tak tega membangunkan Maura, Dion pun ikut berbaring di samping istrinya itu.
Tak berselang lama, Maura menggeliat dan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Dion. Saking pulas nya tidur, dia bahkan tak menyadari kalau saat ini bibirnya sudah menempel di dada suaminya.
Di bawah sana, Ela dan Nisa sudah selesai memasak dan menghidangkannya di atas meja makan. Berhubung Dion dan Maura tak kunjung turun, Ela pun memutuskan untuk memanggil mereka ke kamarnya.
Tok, tok, tok
"Tuan, Nyonya, sudah waktunya makan siang." panggil Ela sembari mengetok pintu.
Entah sudah berapa kali Ela mengetuk pintu dan memanggil majikannya itu, tapi sama sekali tak ada jawaban dari dalam sana. Hingga dia pun memutuskan untuk kembali ke bawah.
Maura kembali menggeliat, dia sepertinya mendengar suara itu dan membuka matanya dengan pelan. Namun apa yang terjadi, saat itu juga dia menjerit dan mendorong tubuh Dion hingga terguling ke lantai.
Dion terkejut saat tubuhnya membentur benda keras, dia kembali bangkit dan menatap wajah Maura dengan tatapan nanar.
"Maura, apa yang terjadi. Kenapa mendorongku?" tanya Dion sambil mengusap bahunya yang terasa sakit.
"Apa yang terjadi? Seharusnya aku yang bertanya, apa yang Kak Dion lakukan padaku, kenapa Kak Dion memelukku?" bentak Maura.
Dion terdiam sesaat, dia pun duduk di sisi ranjang dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Aku tidak melakukan apa-apa padamu, kalaupun aku tak sengaja memelukmu, apa yang salah dengan itu?" jawab Dion.
Maura melompat turun dari tempat tidur dan berlari masuk ke dalam kamar mandi. Entah Dion yang salah, ataukah dia yang terlalu takut menghadapi semua ini. Dia hanya bisa menangis mempertanyakan sikapnya sendiri.
Sejak malam kelam yang hampir merenggut kesuciannya itu, dia tidak pernah lagi berhubungan dengan yang namanya laki-laki. Dia benar-benar menutup diri. Jangankan berpacaran, mencintai, menatap laki-laki saja dia tidak sanggup. Bagaimana bisa dia melewati pernikahan ini. Dia tak bisa begitu saja mempercayai seseorang, bahkan jika orang itu adalah suaminya sendiri.
"Maura, buka pintunya!" teriak Dion.
Maura tak menyahutnya apalagi membukakan pintu. Dia hanya bisa menangis di bawah guyuran air sembari mencengkram lengannya dengan kuat. Dia benar-benar bingung menghadapi semua ini.
__ADS_1