
Maura yang baru saja menginjakkan kakinya di rumah, merasakan sesuatu yang aneh di dalam hatinya. Perasaannya tiba-tiba resah dan teringat dengan Dion yang belum menghubunginya setelah tadi pagi.
Dadanya mendadak sesak, dia tidak bisa melanjutkan langkahnya dan memilih duduk di ruang tengah. Matanya berkaca-kaca, bola matanya bergerak liar dengan tangan yang menempel di dadanya.
"Kak Dion," gumam Maura menahan sesak.
Maura tak bisa mengendalikan perasaannya, detak jantungnya seakan berhenti untuk sesaat.
"Kak Maura, apa yang terjadi?" tanya Dira cemas.
"Apa yang sakit Kak?" tambah Miko khawatir.
"Miko, Dira, apa sesuatu terjadi pada Kakak kalian? Aku merasakannya, tolong hubungi dia! Aku takut," Suara Maura terdengar berat, hembusan nafasnya mulai tersendat.
"Apa yang Kakak pikirkan? Kak Dion pasti baik-baik saja!" ucap Miko.
Maura tak bisa tenang memikirkan Dion, dia bergegas mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Tangannya bergetar hebat saat berusaha keras menghubungi suaminya.
Maura semakin gelisah saat nomor yang dia tuju berada di luar jangkauan. Tidak biasanya Dion mematikan ponselnya kecuali kehabisan baterai.
"Nomornya tidak aktif, apa yang terjadi dengannya?" lirih Maura yang kini mulai terisak.
"Kakak tenang dulu ya! Mungkin sinyal di sana tidak bagus." ucap Dira menenangkan Maura.
"Bagaimana aku bisa tenang?" bentak Maura yang kehilangan kendalinya.
Miko meraih pundak Dira, matanya mengisyaratkan agar Dira memberi ruang bagi Maura menenangkan hatinya.
"Coba hubungi Samuel!" pinta Miko kepada Dira.
Dira mengangguk pelan, kemudian mengeluarkan ponselnya. Sayangnya, ponsel Samuel juga tidak bisa dihubungi. Dira menggelengkan kepalanya menatap wajah Miko.
Miko menghela nafas panjang, lalu membuangnya kasar. Kemana mereka harus menghubungi Dion, sementara Maura sudah tak bisa dibujuk lagi.
Dira membuka matanya lebar, dia teringat dengan Bima. Kemarin dia sempat teleponan dengan pria itu, kebetulan dia sudah menyimpan nomor itu di kontaknya.
"Halo Dira, ada apa?" sapa Bima dari Bandung sana.
__ADS_1
"Halo Bima, maaf mengganggu waktunya sebentar. Apa Kak Dion ada bersamamu?" tanya Dira langsung pada intinya.
"Tuan Dion sudah kembali ke Jakarta bersama Samuel. Aku rasa mungkin sebentar lagi dia sampai," jawab Bima.
"Ok baiklah, terima kasih untuk informasinya. Selamat malam," ucap Dira, kemudian mematikan sambungan teleponnya.
Dira mengusap punggung Maura perlahan, dia mengerti kecemasan yang dirasakan Maura terhadap suaminya. Apa lagi dalam keadaan berbadan dua seperti ini, tentunya Maura lebih sedikit sensitif dari biasanya.
"Kak Maura sabar dulu ya! Kata Bima, Kak Dion sudah kembali ke Jakarta. Mungkin sebentar lagi mereka sampai." ucap Dira.
Maura menyeka wajahnya kasar, dia mencoba menghilangkan pemikiran buruknya. Berharap suaminya pulang tanpa kurang satu apapun jua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di waktu yang bersamaan, mobil polisi sudah berserakan di tempat kejadian. Samuel sudah di bawa ke rumah sakit, nyawanya masih sempat tertolong. Hanya saja dia belum sadar sebab kehilangan begitu banyak darah di tempat kejadian.
Polisi mulai melakukan olah TKP. Dari kasus kecelakaan ini, mereka dengan cepat menemukan kejanggalan. Dari sini mereka bisa menyimpulkan kalau kecelakaan ini merupakan faktor kesengajaan.
Di bawah sana, beberapa polisi dan tim SAR sedang berjuang keras melakukan penyelamatan. Dari informasi seorang saksi, ada dua orang di dalam mobil tersebut.
Kakek tua itu membenarkan hasil kerja polisi, dia sempat mendengar seseorang berteriak meminta tolong. Namun sebelum sempat membantu, mobil lainnya mendorong mobil tersebut hingga terguling ke jurang.
Sayangnya mobil itu sudah tak bisa dikenali. Kondisinya sangat miris, ditambah dengan ditemukannya tulang belulang yang ikut hangus terbakar di samping mobil tersebut. Tak ada petunjuk satupun yang mereka temukan.
Kabar kecelakaan itu merebak ke setiap penjuru negeri, para reporter TV sudah meliputnya melalui siaran langsung. Berita itu menjadi tranding 1 di setiap media.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maura mengotak-atik layar ponselnya dalam keadaan gelisah, dia tak bisa tenang sebelum Dion mengabari dirinya.
"Katanya Kak Dion sudah mau sampai, kenapa belum juga datang?" tanya Maura yang kini tengah bersandar pada tampuk ranjang.
"Sabar Kak, mungkin Kak Dion terjebak macet." jawab Miko.
Dira terperanjat kaget ketika melihat berita yang tersebar di akun sosial medianya, berita itu membuat tangannya bergetar. Meskipun tidak ada penjelasan terkait korban, tapi dia mulai takut memikirkan keadaan Dion saat ini.
"Miko, kemari lah!" pinta Dira dengan tatapan tak biasa.
__ADS_1
Miko mendekat, dia membulatkan matanya lebar saat Dira menyodorkan ponselnya. Dengan cepat Miko meraihnya dan berusaha menyembunyikannya agar Maura tak melihatnya.
"Apa yang kalian sembunyikan?" tanya Maura penasaran.
"Tidak ada, Kak Maura istirahat saja! Kami keluar sebentar mengambil makanan."
Miko menggenggam tangan Dira dan membawanya ke luar kamar. Di depan pintu, Miko kembali melihat berita tersebut. Dia tak bisa berkata-kata sebab ciri-ciri mobil tersebut sama persis dengan mobil yang dibawa Dion.
Setelah cukup lama merenung, Miko meraih pundak Dira dengan kedua tangannya.
"Ambilkan makanan untuk Kak Maura, pastikan dia meminum obat dan vitaminnya setelah itu!"
"Jangan biarkan Kak Maura melihat berita ini, simpan saja ponselnya!"
"Aku pergi dulu, aku akan menyusul ke sana. Semoga saja itu bukan mobilnya Kak Dion."
Setelah mengatakan semuanya, Miko mengecup kening Dira tanpa sadar. Dia berlalu meninggalkan Dira yang masih terpaku menatap kepergiannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sekitar pukul 10 malam, Miko sudah berada di TKP. Dia tampak gelisah dan takut melihat banyaknya mobil polisi yang masih berjejer di sana.
"Permisi Pak, perkenalkan saya Miko. Apa korban kecelakaan ini sudah diketahui identitasnya?" tanya Miko menuntut penjelasan.
"Maaf, kami tidak bisa memberi informasi apa-apa untuk saat ini." sahut seorang Polisi.
"Sebelumnya saya mohon maaf Pak, saya tidak bermaksud meliput berita ini. Saya bukan reporter, wartawan atau apapun." Miko menjeda ucapannya sejenak.
"Dari berita yang saya lihat, mobil itu memiliki ciri-ciri yang sama dengan mobil Kakak saya. Dia dan asistennya juga menempuh jalan ini, kami tidak bisa menghubunginya sejak tadi." jelas Miko.
Pak Polisi menatap Miko dengan intim, raut wajah Miko menunjukkan kalau dia benar-benar khawatir memikirkan keberadaan Kakaknya saat ini.
"Tidak ada petunjuk yang kami temukan hingga detik ini, mobil itu masuk jurang. Hangus bersama seseorang di bawah sana."
"Jika ingin mengetahui siapa korban dari kecelakaan ini, pergilah ke rumah sakit Bhayangkara! Salah satu korban dibawa ke sana, namun kondisinya masih kritis." jelas Pak Polisi.
"Baik Pak, terima kasih untuk informasinya. Saya jalan dulu Pak!"
__ADS_1
Setelah menjabat tangan Polisi itu, Miko berlari menuju mobilnya. Dia masih berharap ada keajaiban yang datang dari semesta untuknya.