Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal

Belenggu Cinta Sang Pewaris Tunggal
Bab 77.


__ADS_3

Setelah memanggil Miko dan Dira, keduanya membantu Maura mengangkat tubuh Andra dan membaringkannya di atas tempat tidur.


Andra masih memegangi kepalanya, rasanya sangat sakit bak ditusuk seribu paku.


Kali ini dia menemukan secercah harapan. Bayangan masa lalunya terlintas dalam sekejap.


Dia melihat seorang anak laki-laki yang ditinggal mati ibu tercintanya. Meratapi pusara sang ibu yang masih basah.


"Aku melihat sesuatu," gumam Andra, suaranya terdengar berat.


Semua orang terkejut dengan mata membulat besar, terlebih Maura. Perasaannya jadi tak menentu, berharap pria itu benar-benar Dion suaminya.


"Apa yang kamu lihat? Katakan padaku!" Maura menggenggam tangan Andra penuh harap.


"Tidak jelas, tapi aku melihat seorang anak yang ditinggal oleh Ibunya. Anak laki-laki itu duduk bersimbah air mata di atas pusara Ibunya."


Mata Andra berkaca-kaca, dia terus saja memegangi kepalanya. Berusaha keras mengingat hal lainnya.


Maura tak kuasa menahan dirinya, sebenarnya bukan itu yang ingin dia dengar. Tapi setidaknya dia merasa lega karena Andra mulai mengingat sesuatu.


Andra kembali memegangi kepalanya, bayangan lain mulai muncul di ingatannya. Satu persatu nampak jelas hingga membuatnya mengerang menahan sakit yang entah.


"Andra, kamu baik-baik saja kan?" tanya Maura cemas.


Andra menatap Maura dengan sendu, lalu menarik tangan Maura dan membawanya ke dalam dekapan dadanya.


"Aku ingat siapa diriku, aku ingat Maura." lirih Andra sembari mengusap punggung Maura.


Maura membuka matanya lebar, air matanya jatuh bercucuran. Dia membalas pelukan Andra, lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu.


"Apa kamu mengingatku? Apa kamu ingat kalau aku adalah istrimu?" Tangisan Maura pecah, berharap hal itulah yang akan dikatain oleh Andra.


"Maafkan aku Maura, aku belum bisa mengingatmu. Aku hanya ingat kalau namaku adalah Dion. Kalian benar, aku Dion. Pria desa yang mengadu nasib di rantau orang."


Semua orang tercengang, Miko dan Dira tak kuat menahan rasa harunya. Keduanya ikut memeluk Dion. Tubuh keempatnya menyatu seiring tangisan yang menggema memenuhi ruangan.


"Kak Dion, ini benar kamu Kak." isak Dira.


"Kak Dion, Kakak ku yang pemarah. Kamu Kakakku, Kak Dion ku." isak Miko.


Rasa haru di ruangan itu menyelimuti hati semua orang. Keyakinan seorang istri terjawab sudah, suaminya masih ada, suaminya masih bernafas hingga detik ini.

__ADS_1


Maura melepaskan pelukannya, dia melangkah mundur. Tangisannya pecah, bukan tak bahagia. Tapi hatinya terluka karena Dion tak mengingatnya.


Maura berlalu meninggalkan kamar, berlari meninggalkan resort. Langkah kakinya goyah, dia merutuki nasib dirinya. Kenapa Tuhan memberinya cobaan seberat ini.


Di tengah gelapnya keadaan di luar sana, Maura terus saja berjalan tanpa tau kemana kakinya harus melangkah. Pikirannya kosong, air matanya tak henti menetes.


"Kenapa semua ini terjadi padaku? Apa salahku? Kenapa?" teriakan Maura seakan mengguncang pepohonan di sekitarnya. Daun-daun berguguran, burung-burung yang hinggap di dahan berterbangan seakan tau perasaan Maura saat ini.


Maura tersungkur lesu diantara rerumputan yang menghijau. Raganya seakan mati untuk yang kedua kalinya.


Di dalam resort, Miko dan Dira berkeliling mencari keberadaan Maura. Sementara Andra yang kini sudah tau kalau dia adalah Dion, berlari mencari keberadaan Maura ke segala arah.


"Maura, dimana kamu?" teriak Dion penuh kekhawatiran.


Meskipun Dion belum bisa mengingat Maura, tapi dia sudah yakin kalau Maura adalah istrinya. Hanya waktu saja yang akan mengingatkannya.


Setelah cukup lama berkeliling, Dion menghentikan langkahnya. Isak tangis Maura terdengar jelas di telinganya. Maura meringkuk memeluk kakinya di balik batu besar. Dion mendekat, tangisan Maura membuat hatinya hancur.


Dion menekuk kakinya, kemudian membawa Maura ke dalam pelukannya. Air matanya tumpah begitu saja.


"Aku tau kamu sedih, aku tau kamu kecewa. Tapi setidaknya kamu sudah tau siapa aku. Aku Dion, itu artinya aku suamimu. Pria yang sangat kamu cintai."


Maura meraung sejadi-jadinya, kemudian memeluk Dion dengan sangat erat.


"Maafkan aku Maura, maafkan aku. Aku tidak tau apa yang terjadi sebelumnya." Dion mengusap belakang kepala Maura lembut.


"Berhentilah menangis, aku mohon!" Dada Dion sesak melihat keadaan Maura seperti ini.


Hampir satu jam Maura tenggelam di dalam dekapan Dion. Tangisannya mulai mereda, hatinya merasa nyaman setelah sekian lama tak mencium aroma tubuh suaminya.


"Sudah ya, jangan menangis lagi! Sekarang kamu sudah tau siapa aku, bantu aku memulihkan semua ingatanku. Aku yakin ingatan itu akan kembali." Dion menyeka wajah Maura yang sudah sembab, kemudian mengecup ujung kepala Maura dengan lembut.


"Jangan tinggalkan aku lagi! Aku tidak sanggup hidup tanpamu. Selama ini aku bertahan hanya demi Diona, putri kita, buah cinta kita." Maura kembali mempererat pelukannya.


"Aku tidak akan kemana-mana, aku janji!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini keduanya sudah kembali ke dalam resort. Berhubung malam semakin larut, Miko pun menutup pintu utama.


"Dira, panggil Tuti dan bawa dia tidur bersamamu di kamar! Biarkan Kak Dion tidur bersama Kak Maura! Aku bisa tidur di sofa." ucap Miko.

__ADS_1


Dira mengangguk kecil, lalu melangkah menuju kamar utama. Setelah Tuti keluar, keduanya masuk ke kamar tengah. Sementara Dion dan Maura masuk ke kamar utama.


Tidak lama, Dira keluar membawakan selimut dan bantal untuk Miko. Sebelum kembali ke kamar, Dira duduk di samping Miko. Tatapannya terlihat sendu.


"Jangan sedih, setidaknya Kak Dion sudah kembali kepada kita." Miko memeluk Dira erat, entah kenapa hatinya terasa nyaman bersama gadis itu.


"Aku tidak sedih, aku sangat bahagia. Ternyata aku tidak sendirian, Kak Dion masih ada bersamaku. Satu-satunya keluarga yang aku miliki." lirih Dira.


Miko melepaskan pelukannya, kemudian menatap Dira dengan intens. Hatinya tiba-tiba sakit mendengar itu.


"Apa yang kamu katakan? Jadi selama dua tahun terakhir ini, aku tidak berarti apa-apa bagimu?" tanya Miko dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Bukankah kenyataannya begitu. Kita tidak punya hubungan apa-apa kan?" lirih Dira dengan tatapan tak biasa.


Miko mengeratkan rahangnya kuat, pernyataan Dira membuat dadanya berdenyut nyeri.


"Apa aku harus melakukan sesuatu padamu agar hubungan kita menjadi nyata?" tanya Miko geram.


"Apa maksudmu?" Dira menautkan alisnya.


Miko meraih pundak Dira, lalu mendekatkan wajahnya. Tanpa ragu, Miko mengecup bibir mungil Dira lalu mengesapnya penuh kelembutan. Dira tergugu sembari membulatkan matanya lebar.


Dira mendorong dada Miko hingga tautan bibir keduanya terlepas. "Miko, apa yang kamu lakukan?" bentak Dira meninggikan suaranya.


Dira bangkit dari duduknya, dia kecewa mendapat perlakuan tak senonoh dari Miko. Namun Miko dengan cepat meraih tangannya, lalu memeluk Dira dari belakang.


"Aku mencintaimu Dira, aku sangat mencintaimu." Miko mempererat pelukannya, lalu menciumi pundak Dira.


"Apa yang kamu katakan Miko?" tanya Dira, dia tak percaya Miko memiliki perasaan itu untuknya.


"Maafkan aku Dira, aku memang pengecut. Sudah lama aku memendam perasaan ini untukmu, tapi aku takut mengatakannya. Aku takut kamu menolak ku dan menjauhiku."


"Sejak pertama kita bertemu, aku sudah memendam rasa itu. Namun aku juga menyadari dimana posisiku. Aku hanya orang kampung, pelayan bar, mana mungkin aku bisa meraih hatimu."


"Deg Deg"


Pengakuan Miko itu membuat Dira bergeming, jantungnya berdegup kencang.


Dira berbalik, lalu memeluk Miko dengan erat. Air matanya jatuh begitu saja.


"Aku juga mencintaimu Miko, kenapa tidak mengatakan ini sejak lama?"

__ADS_1


"Deg Deg"


Dada Miko berdenyut nyeri, dia tak menyangka Dira memendam perasaan yang sama untuknya. Pelukan keduanya semakin erat.


__ADS_2