
Keadaan Doni saat itu sudah mulai membaik, dadanya tidak lagi terasa sesak, hanya menyisakan sedikit rasa nyeri. Hal itu membuatnya harus duduk di atas kursi, didampingi Nek Ida yang masih setia menemaninya.
Sementara itu, Dion mulai duduk di altar pernikahan menunggu calon istrinya turun dari kamar. Wajahnya tampak berbinar, tak tau apakah dia sedang sedih atau tengah bahagia di detik-detik pernikahan itu, hanya Tuhan lah yang tau isi hatinya.
Dari lantai atas, sang pengantin wanita sudah berdiri di ujung tangga. Dia didampingi Ayu dan Dinda, ada Miko, Bik An dan Bik Sam juga mengiringinya.
Sorot mata semua orang mengarah pada gadis cantik itu. Semua tamu berdecak kagum, terpesona melihat kecantikan sang ratu sehari itu. Namun, sang pengantin hanya menundukkan kepalanya, tak ada senyum apalagi tawa di wajahnya.
Setibanya di altar pernikahan, semua pengiring pengantin terbelalak kaget. Tak terkecuali Miko, matanya melotot tajam hingga tak berkedip sekalipun.
"Bukankah dia itu pria mesum yang ada di bar tempo hari?" bisik Ayu.
"Dion...?" gumam Bik An.
"Kak Dion, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Miko tergugu.
Seketika, Maura terkejut mendengar nama itu dan mendongakkan kepalanya. Menatap lirih wajah calon suami yang ternyata bukanlah David, lalu menoleh ke arah Doni yang tengah duduk di hadapan Dion.
"Ayah, apa yang terjadi?" tanya Maura dalam kebingungan.
Doni menganggukkan kepalanya pelan, dia memberi isyarat pada putrinya untuk menurut. Bahkan Nek Ida ikut mengangguk dan perlahan menghampiri cucunya yang masih ternganga itu.
"Nenek, apa yang terjadi sebenarnya. Apa Maura...?"
"Duduklah sayang, jangan banyak tanya! Ayahmu sudah cukup menanggung malu, jangan membuatnya semakin kehilangan muka di hadapan semua orang!" pinta Nek Ida memotong ucapan Maura, lalu menuntun cucunya duduk di samping Dion.
"Tapi Nek...,"
"Cukup sayang! Jika kamu menyayangi kami semua, tolong selesaikan ijab kabul ini!" pinta Nek Ida yang kembali memotong ucapan Maura.
Maura kembali tertunduk, tak ada lagi yang bisa dia lakukan selain pasrah menerima pernikahan itu. Meskipun semua ini sangat mengejutkan, dia hanya bisa patuh dan menurut. Dia tidak ingin mempermalukan Ayahnya di hadapan semua orang. Hingga pada saat Dion berjabat tangan dengan Doni, dia hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar.
"Saya terima nikah dan kawinnya Maura Pratiwi binti Doni Hardiansyah dengan mas kawin tersebut, tunai!" ucap Dion dengan jelas dan lantang.
__ADS_1
Para saksi menganggukkan kepala mereka.
"Sah...,"
"Sah...,"
"Sah...," tambah para tamu yang membuat ruangan itu bergemuruh.
Dion menarik nafasnya kasar, dia tak menyangka bisa selancar itu mengucap ijab. Hanya dalam satu tarikan nafas saja, membuat semua orang ikut bernafas dengan lega.
Usai pesta berlangsung, keadaan rumah kembali sepi dan hanya menyisakan keluarga inti saja.
"Ayah, Nenek, Maura ingin bicara dengan kalian berdua." pinta Maura dengan tatapan yang tak biasa.
Gadis cantik yang kini sudah sah menjadi istri Dion, membawa Ayah dan Neneknya ke sebuah kamar yang ada di lantai bawah. Dadanya terasa sesak, seolah-olah dia hanyalah sebuah boneka yang mudah dilempar ke sana kemari oleh Ayah kandungnya sendiri. Hingga perdebatan kecil terjadi di dalam kamar tersebut.
Sementara itu, Miko menarik tangan Dion dan membawanya ke taman belakang. Mencari tau apa yang sebenarnya terjadi, dan kenapa tiba-tiba Dion lah yang menjadi mempelai pria itu. Semua ini sangat membingungkan bagi Miko.
"Apa yang terjadi, kenapa Kak Dion bisa ada di sini dan menikahi Kak Maura?" tanya Miko sambil menautkan sepasang alisnya bingung.
"Kenapa, bukankah ini yang kau inginkan?" jawab Dion dengan santainya.
Miko menelan ludahnya dengan kasar, dia memang ingin Maura terlepas dari belenggu itu, tapi dia tak pernah menyangka sampai sejauh ini.
"Tapi bukan dengan cara seperti ini Kak." sahut Miko kesal.
"Sudahlah, apa lagi yang kau ributkan. Sekarang aku sudah sah menjadi suaminya, itu artinya aku juga resmi menjadi Kakak Ipar mu!" ucap Dion sembari tersenyum lebar.
Miko menghela nafas dan membuangnya kasar, sesekali tangannya bergerak mengacak-acak rambutnya sendiri. Dia masih belum percaya dengan semua ini.
"Lalu bagaimana dengan pria itu, apa Kakak melakukan sesuatu kepadanya?" tanya Miko sambil mengernyitkan keningnya mencari tau.
"Tidak, hanya sedikit permainan kecil saja." jawab Dion begitu santai.
__ADS_1
Flashback...
Sehari setelah Darma keluar dari rumah sakit, Dion menemuinya dengan membawa sebuah map berwarna hitam yang tak lain adalah kontrak kerja sama mereka.
Sesuai isi yang tertulis di dalam kontrak tersebut, jika ada kesalahan atau apapun yang membuat Star Grup rugi, tentunya ada konsekuensi yang harus Darma tanggung.
Saat Dion memaparkan isi di dalam kontrak tersebut, Darma kembali merasa sakit di jantungnya. Bagaimana mungkin dia sanggup mengembalikan dana sebanyak itu hanya dalam tempo satu minggu saja, sementara asetnya yang tersisa tidak sebanding dengan kerugian yang ditanggung oleh Star Grup.
Melihat Darma yang sudah kehilangan akal, Dion kemudian mengajukan tawaran kepada pria paruh baya itu. Ingin kasus ini dinaikkan ke meja hijau atau menyuruh David meninggalkan Maura di acara pernikahan.
Dua pilihan yang benar-benar sulit bagi Darma dan David kala itu. Namun, karena tidak ingin melihat Ayahnya membusuk di dalam penjara, David akhirnya memilih untuk melepaskan Maura meskipun terasa berat.
Flashback Selesai...
Dion merentangkan tangannya sambil menghela nafas dengan pelan. Menikmati angin sepoi-sepoi yang tengah membelai tubuhnya dengan lembut. Sementara, Miko masih terpaku setelah mendengar penjelasan dari Kakak angkatnya itu.
***************
Setelah berdebat panjang dengan Ayah dan Neneknya, Maura kembali ke dalam kamar dengan raut wajah penuh kebimbangan. Di satu sisi, dia mengerti dengan keadaan Ayahnya saat itu, di sisi lain dia tidak siap menerima Dion di dalam hidupnya, apalagi sebagai suaminya.
Tak berselang lama, Dion dan Miko kembali ke dalam rumah sesaat setelah pembicaraan mereka selesai.
"Dion, kenapa kamu masih di sini?" tanya Nek Ida saat melihat Dion dan Miko berjalan beriringan.
"Iya Nek, kami baru saja dari belakang. Memangnya kenapa Nek?" tanya Dion mencari tau.
Nek Ida pun terkekeh, begitupun dengan Doni yang saat itu masih duduk bersama Ibu Mertuanya itu.
"Kenapa masih bertanya? Masuklah ke kamarmu! Maura sudah menunggu di atas sana." tambah Doni dengan gamblang nya.
Sesaat, wajah Dion berubah memerah bak udang rebus. Entah apa yang dipikirkan orang-orang itu, hingga Dion tak kuasa menahan rasa malu di hadapan semuanya.
"Kak Dion pergilah, tapi tolong perlakuan Kak Maura dengan baik layaknya seorang istri. Kalau Kak Dion berani menyakitinya, awas saja!" sambung Miko terkekeh.
__ADS_1
Tidak hanya Miko saja yang terkekeh saat itu, bahkan semua orang yang ada di sana juga ikut terkekeh melihat reaksi Dion yang tampak membagongkan.