
Setelah membersihkan tubuhnya, Dion keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Karena kepalanya masih pusing, dia duduk di sisi ranjang sembari menekan pelipis dahinya pelan.
Melihat keadaan suaminya yang tidak baik, Maura kemudian mendekat dan duduk di sampingnya. Dia menatap lekat wajah Dion dengan tatapan yang sulit diartikan.
Perlahan, tangan Maura mulai bergerak dan menguasai kepala suaminya. Dia mengurut nya dengan pelan agar sang suami tidak merasakan sakit.
"Apa yang kamu lakukan? Menyingkir lah, aku tidak membutuhkan bantuan mu!" ketus Dion, dia pun menghalau tangan Maura dari kepalanya.
Maura mendengus kesal menerima perlakuan suaminya, ternyata reaksi Dion tidak sama dengan apa yang dia bayangkan sebelumnya.
"Kak Dion masih marah padaku?" tanya Maura, dia kembali menatap wajah sang suami dengan intim.
Dion memalingkan wajahnya, dia bangkit dan berjalan menuju lemari pakaian tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Maura.
Usai mengenakan pakaian dan menyisir rambutnya, Dion berjalan ke arah pintu tanpa mempedulikan sang istri yang masih menunggunya untuk berbicara.
"Kak Dion mau kemana? Aku belum selesai bicara." teriak Maura menahan langkah Dion seketika.
"Untuk apa menanyai aku? Kemana aku pergi tidak ada urusannya denganmu!" ketus Dion semakin dingin.
Maura terdiam, jawaban Dion barusan seperti serangan balik untuknya yang selama ini tidak mempedulikan suaminya. Kini dia merasakan hal yang sama, dia pun menghela nafas dan membuangnya kasar.
"Ya sudah, kalau begitu pergi saja. Bila perlu, jangan kembali lagi!" gertak Maura mengikuti kemauan suaminya.
Mendengar itu, Dion pun membalikkan tubuhnya seketika. Dia tidak percaya sang istri tega mengusirnya begitu saja dari rumahnya sendiri.
"Kamu mengusirku?" tanya Dion sembari menautkan sepasang alisnya.
"Kalau iya kenapa? Tidak ada gunanya mempunyai suami sepertimu." gerutu Maura kesal.
"Maura, tolong jaga bicaramu! Jangan sesekali menguji kesabaran ku! Atau...,"
__ADS_1
"Atau apa, mau memukulku atau malah mengusirku dari rumah ini. Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang pergi." tantang Maura, dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
Dion kebingungan melihat sikap Maura yang berubah 360 derajat. Istri yang biasanya pendiam, hari ini bicara terlalu banyak. Bahkan dia berani mengancam ingin pergi dari rumah, membuat Dion benar-benar kesal hingga mengepalkan tangannya erat.
Saat Maura hendak keluar dari kamar, Dion dengan cepat menangkapnya. Dia memeluk sang istri dengan erat dan menguncinya dengan kedua tangannya, hal itu membuat Maura kesulitan untuk bergerak melepaskan diri.
"Lepaskan aku, biarkan aku pergi!" bentak Maura, dia meronta dengan daya dan upaya yang bisa dia lakukan.
"Jangan mimpi! Selama kamu masih sah menjadi istriku, jangan harap bisa pergi dariku!" tekan Dion, dia pun menggertakkan giginya geram.
"Kenapa tidak diakhiri saja? Lagian pernikahan ini tidak ada artinya sama sekali untuk kita." jawab Maura memancing emosi sang suami.
Dion mengeratkan rahangnya kuat, ucapan Maura barusan membuat darahnya mendidih. Entah apa yang dipikirkan oleh istrinya hingga berani bicara seperti itu. Bahkan dia sendiri tidak pernah berpikir untuk mengakhiri pernikahan mereka.
"Cukup Maura, cukup! Aku tidak ingin mendengar kata-kata itu lagi dari mulutmu!" bentak Dion dengan suara yang mulai bergetar.
"Apa yang salah dengan ucapan ku? Bukankah aku mengatakan kebenaran." tanya Maura tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Ya ampun Maura, bagaimana cara menjelaskannya padamu? Berhentilah menguji kesabaran ku, aku mohon!" pinta Dion melunak, dia sudah kehilangan akal menghadapi sikap keras kepala sang istri.
Kesal karena Maura terus saja bersikeras ingin pergi, Dion kemudian mendorongnya hingga tersandar di dinding. Dion menahan tangan istrinya dan dengan cepat membungkam bibir merah jambu itu dengan mulutnya.
Dion melu-mat bibir Maura dengan rakus bak mengulum permen lolipop, bahkan dia tidak memberi celah bagi sang istri untuk menghindar. Hal itu membuat Maura membeku menerima sentuhan bibir sang suami yang sangat lembut.
Semakin lama, Dion semakin tak kuasa mengendalikan dirinya. Tangannya mulai bergerak menyentuh dada sang istri dan meremas pegunungan kembar itu tanpa ampun.
"Apa aku harus memaksamu melakukan ini agar mulutmu tidak berani lagi mengancam ku seperti tadi?" tanya Dion setelah menghentikan aksinya.
Maura mengukir senyum di wajahnya, dia tau Dion tidak akan membiarkannya pergi begitu saja. Semalam saat Dion tidur, Maura terus saja menatap lekat wajah suaminya. Bahkan saat Dion mengigau sekalipun, Maura bisa mendengar semuanya dengan jelas. Hal itu membuat Maura sadar akan perasaan sang suami terhadap dirinya.
Pagi ini Maura mencoba membenahi dirinya, dia ingin belajar menerima Dion sepenuh hati. Namun niatnya itu pupus karena reaksi suaminya sangat dingin, hal itu membuatnya kesal hingga timbul lah ide untuk memancing emosi sang suami.
__ADS_1
"Kenapa tersenyum?" tanya Dion kebingungan.
"Tidak ada, siapa yang tersenyum?" jawab Maura, dia pun menjauh dan duduk di sofa sembari mengulum senyumannya.
Melihat itu, Dion tampak seperti orang bodoh. Ada yang aneh dengan Maura pagi ini. Dia menyadari itu semua, tapi tidak tau penyebabnya.
Dion kembali mendekat dan duduk di samping Maura sembari mengerutkan keningnya. Dia masih bingung dengan sikap sang istri yang tiba-tiba saja berubah layaknya seekor bunglon.
"Tidak jadi pergi?" tanya Dion mencari tau.
"Jika Kak Dion menginginkan itu, maka aku akan pergi sekarang juga." jawab Maura.
"Tidak, bukan begitu. Tapi tadi...,"
"Sssttt, sudah cukup. Aku sudah lelah berdebat denganmu." potong Maura.
Maura bangkit dari duduknya dan berjalan mengambil piring yang tadi dia letakkan di atas meja.
"Makanlah dulu!" ucap Maura sembari meletakkan piring berisi nasi goreng itu di telapak tangan suaminya.
Meskipun sikap Maura hari ini berbeda dari biasanya, Dion tak ingin lagi mempermasalahkannya. Dia juga sudah lelah berdebat terus dengan sang istri.
Selesai makan, Dion menaruh piring kotor di atas meja. Dia kembali duduk di samping Maura dan menatap lekat wajah sang istri penuh tanya.
"Kenapa Kak Dion malah duduk di sini? Tadi katanya mau pergi." tanya Maura mengingatkan suaminya.
"Tidak jadi, aku di sini saja!" jawab Dion, dia kemudian berbaring di atas sofa dan menjadikan paha Maura sebagai bantalannya.
Dion meraih tangan Maura dan menempelkan nya pada permukaan bibirnya. Kemudian meletakkan tangan itu tepat di atas dadanya yang kini tengah berdetak dengan kencang.
"Berjanjilah padaku! Apapun yang terjadi, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku lagi!" pinta Dion lirih.
__ADS_1
Mendengar itu, Maura mengangguk pelan. Kini tangannya yang lain mulai bergerak menyentuh permukaan wajah suaminya, lalu mengusapnya dengan lembut.
Dion pun tersenyum, kemudian memejamkan matanya menikmati sentuhan pertama dari tangan sang istri yang membuatnya begitu nyaman.