
"Untuk apa membantuku, biarkan saja aku mati menyusul Ibuku. Orang sepertiku tidak pantas hidup di dunia ini." gumam Dion dengan mata semakin sayu.
"Cukup Kak Dion, apa kamu ingin meninggalkan aku sendiri?" tanya Maura, air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
"Itu lebih baik. Aku suami yang buruk, aku tidak pantas untukmu. Kamu berhak bahagia bersama David, aku yang salah telah membawamu masuk ke dalam hidupku. Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Aku janji, setelah ini aku akan memperbaiki kesalahan yang sudah aku lakukan. Aku akan mengembalikan semuanya seperti semula." gumam Dion dengan mata berkaca-kaca.
Bak ditusuk pisau beribu-ribu kali, hati Maura teriris mendengar semua itu. Entah apa yang Dion pikirkan hingga semudah itu berkata-kata. Tidak ada lagi yang bisa diperbaiki, semua sudah terjadi, nasi sudah jadi bubur.
"Lalu bagaimana dengan tubuhku? Apa kamu bisa mengembalikannya seperti semula?" tanya Maura.
Dion terdiam mendengar pertanyaan istrinya, dia tidak bisa menjawab karena memang tidak bisa melakukannya. Dia menghela nafas berat dan membuang pandangannya ke arah lain.
"Kenapa diam saja? Jika kamu bisa melakukannya, maka aku akan melepaskan mu dan kembali bersama David." tantang Maura.
Mendengar itu, Dion menelan kembali air matanya yang hampir tumpah. Darahnya mendidih mendengar ucapan istrinya yang bersedia kembali bersama David. Membuatnya berpikir jauh hingga dadanya terasa sesak.
"Apa kamu mencintai David?" tanya Dion mencari tau.
"Tidak penting aku mencintainya atau tidak. Semua itu tidak ada urusannya denganmu." ketus Maura.
Lagi-lagi dada Dion semakin sesak, bahkan terasa panas seperti terbakar di atas bara api. Sekuat hati dia mencoba menahan diri agar tak terpancing di depan sang istri.
Dion mencoba bangkit dari pembaringannya, pelan-pelan dia turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu.
"Kamu mau kemana?" tanya Maura ingin tau.
"Menyelesaikan semuanya hari ini juga." jawab Dion sembari terus berjalan tertatih-tatih.
__ADS_1
Mendengar itu, Maura berlari menghadang langkah suaminya. Dia berdiri tepat di depan pintu sehingga menghalangi Dion meraih kenop pintu tersebut.
"Menyingkir lah Maura, biarkan aku lewat!" pinta Dion dengan suara bergetar.
"Tidak mau," jawab Maura.
"Tolong jangan menguji kesabaran ku lagi! Aku sudah lelah, aku tidak ingin berdebat lagi denganmu. Biarkan aku menyelesaikan semuanya, aku tidak ingin melihatmu menderita bersamaku!" ucap Dion dengan suara semakin melemah.
Maura mencoba menahan cairan bening yang sudah tergenang di kelopak matanya, hatinya benar-benar hancur mendengar ucapan suaminya. Bagaimana mungkin Dion bisa menyelesaikan semuanya, lalu bagaimana dengan hatinya. Apa Dion bisa mengembalikan hatinya seperti dulu.
"Bajingan! Apa kamu pikir aku ini barang yang bisa dilempar ke sana kemari begitu saja hah?" isak Maura pecah memenuhi seisi kamar, dia pun memukuli dada Dion bertubi-tubi tanpa ampun.
Dion tak bereaksi sama sekali, tubuhnya membatu menerima pukulan demi pukulan yang dilayangkan oleh istrinya. Dia pasrah, dia memang pantas mendapatkan itu semua.
"Maafkan aku Maura, aku harus melakukan ini untukmu. Aku tidak ingin kamu menderita di sisiku, aku ingin melihatmu bahagia." ucap Dion sembari mengusap kepala Maura lembut.
"Lalu aku harus bagaimana, katakan apa yang kamu inginkan? Bahkan jika kamu menginginkan nyawaku sekalipun, aku akan memberikannya padamu. Asalkan kamu bahagia aku rela mati untukmu, tapi tolong jangan menangis lagi. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini, tubuhku rasanya remuk melihat air matamu. Kenapa aku mencintaimu sedalam ini Maura, kenapa? Apa salahku, kenapa menghukum ku seberat ini." isak Dion, dia terduduk lesu dengan lutut yang bertumpu pada permukaan lantai.
Maura menekuk kakinya, lalu merentangkan kedua tangannya dan memeluk Dion dengan erat. Seketika Dion pun terduduk dengan dengan posisi sang istri yang bertumpu di atas pahanya. Isak kedua pecah saling bersahutan memenuhi seisi kamar.
Maura mendekap tubuh Dion seerat-eratnya, tangannya meremas punggung suaminya dengan kuat. Deru nafasnya kembali tersendat, dia tak kuasa menahan isak nya yang semakin menjadi-jadi.
"A, a, aku mencintaimu, a, aku sangat mencintaimu. Ja, jangan tinggalkan aku, aku tidak sanggup hidup tanpamu." isak Maura mengakui perasaannya.
Mendengar pengakuan Maura, detak jantung Dion seakan berhenti untuk sesaat. Cairan bening itu semakin berguguran membasahi pundak sang istri. Bahkan cairan di hidungnya kembali mengalir menahan sesak di dadanya.
Kini tangannya bergerak meraih kepala sang istri, dikecup nya ujung kepala Maura bertubi-tubi. Dia kemudian mengecup kening, mata, hidung, pipi, bibir, dan dagu sang istri bertubi-tubi tiada henti.
__ADS_1
"Aku juga sangat mencintaimu sayang, jangan menangis lagi. Aku rasanya ingin mati melihatmu seperti ini." gumam Dion dan kembali memeluk sang istri sekencang-kencangnya.
Keduanya larut di dalam pelukan itu, tangan mereka saling meremas punggung diantara satu dengan lainnya. Hingga dalam waktu yang cukup lama, isak keduanya pun mulai mereda.
"Berjanjilah padaku, jangan menangis lagi di hadapanku!" pinta Dion, dia pun menyeka wajah sang istri yang sudah sembab karenanya.
Maura menganggukkan kepalanya pelan, dia pun melakukan hal yang sama. Mengusap wajah suaminya dengan lembut, hingga akhirnya bibir keduanya saling menempel dan saling melu-mat satu sama lain.
Dion kemudian bangkit dan membopong tubuh Maura ke atas kasur. Di sana, dia kembali mendekap tubuh istrinya dan menempelkan bibirnya di kening Maura. Begitupun dengan Maura yang menempelkan bibirnya di dada bidang Dion.
Mengingat hari sudah semakin sore, Maura melepaskan tangannya yang melingkar di dada suaminya. Dia bangkit dan berjalan mengambil piring yang dia bawa tadi.
"Kak Dion makan dulu ya, maafkan aku sudah membuatmu kelaparan." ucap Maura yang kini tengah duduk di sisi ranjang.
Dion menggulingkan senyumannya, dia tau sang istri tidak akan membiarkannya mati kelaparan begitu saja. Dia pun mengusap ujung kepala istrinya dengan sayang.
"Aku akan makan jika tangan ini yang menyuapiku." jawab Dion sembari menggenggam tangan istrinya erat.
Maura mengukir senyum di wajahnya, dia kembali bangkit dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi mencuci tangannya. Setelah itu, dia menyuapi sang suami dengan penuh kesabaran.
Suapan pertama Maura membuat air mata Dion kembali menetes. Rasanya begitu nikmat hingga dia pun tak kuasa menahan dirinya. Dia kembali memeluk sang istri sembari mengunyah makanan yang kini memenuhi mulutnya.
"Enak, apa ini makanan yang kamu masak tadi?" tanya Dion ingin tau.
Maura menganggukkan kepalanya, hal itu membuat Dion terenyuh. Jika saja dia bisa menjaga ucapannya, semua ini tidak akan terjadi begitu saja.
"Maafkan aku ya, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu tadi, aku hanya...,"
__ADS_1
"Sssttt, makan saja! Tidak perlu membahas itu lagi!" potong Maura sebelum Dion menyelesaikan ucapannya.