
Malam berlalu begitu cepat, kini pagi telah datang menyambut senyuman indah sepasang suami istri yang tengah berbahagia itu.
Keduanya bangkit dari pembaringannya dan bersandar pada tampuk sofa dengan tubuh yang masih saling menempel bak terekat kuat satu sama lain.
Maura masih enggan melepaskan kalungan tangannya dari dada Dion, sepertinya aroma tubuh sang suami sudah membuatnya candu dan ingin terus menempel di bawah ketiak berbulu lebat itu. Hal itu membuat Dion mengukir senyum dengan rahang terpahat dengan sempurna.
"Kenapa memelukku seperti ini?" tanya Dion, dia pun terkekeh saat Maura menggerakkan hidungnya di bawah belahan ketiaknya.
"Kenapa tertawa, apa aku tidak boleh memeluk suamiku sendiri?" jawab Maura dengan pertanyaan pula, kini bibirnya mulai manyun menanggapi pertanyaan suaminya.
Dion kembali terkekeh melihat reaksi Maura yang terlalu mengambil hati ucapannya.
"Bukannya tidak boleh sayang, tapi hidungmu membuat aku geli." ucap Dion menjelaskan, dia kemudian menarik hidung istrinya dengan sayang.
Seketika, Maura pun mengukir senyum di wajahnya. Penjelasan Dion barusan membuatnya berpikir licik untuk mengerjai sang suami. Dia mengangkat kepalanya dari dada Dion dan menyelipkan tangannya sembari menggelitik belahan ketiak suaminya tanpa henti. Hal itu membuat Dion terlonjak kaget dan terkekeh menahan geli yang tidak sanggup dia tahan.
"Cukup sayang, aku mohon. Aku tidak kuat menahan geli!" kekeh Dion sembari menggeliat menggerakkan tubuhnya ke sana kemari.
"Hahaha, emang enak. Siapa suruh jadi pria penggeli?" ledek Maura yang terus saja menggelitik suaminya tanpa ampun.
"Sayang, cukup! Aku benar-benar tidak kuat." pinta Dion memelas, kini butiran keringat kecil mulai bercucuran di pelipis dahinya. Dia tidak sanggup, rasanya ingin kencing di celana menahan ngilu yang menjalar hingga pangkal pahanya.
Karena Maura tak mau menghentikan aksinya, Dion bergegas menangkap kedua tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat. Seketika, Maura pun membatu menatap wajah suaminya yang sudah memerah. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa takut melihat tatapan suaminya yang seperti serigala kelaparan.
"Kak Dion, a, aku..." Ucapan Maura pun terhenti di tengah jalan.
Melihat wajah Maura yang ketakutan, Dion kembali terkekeh dengan sendirinya. Namun dia tidak tinggal diam, kini gilirannya mengerjai sang istri, memberi sedikit pelajaran agar istrinya tidak mengulangi hal itu lagi.
__ADS_1
Dion menekan tubuh Maura hingga terbaring di atas kasur, dia tak melepaskan tangannya yang masih menggenggam erat pergelangan tangan istrinya.
Dengan nafas yang memburu, dia membungkam bibir merekah Maura dan melu-matnya tanpa ampun. Kali ini tempo permainannya sedikit cepat dari biasanya. Dia bahkan tak memberi celah untuk sang istri mencuri nafas.
Lagi-lagi Maura hanya pasrah menikmati sentuhan bibir suaminya yang kini sudah masuk semakin dalam. Bahkan Dion dengan santainya menelan ludah mereka yang sudah membaur di dalam sana.
Niat hati ingin mengerjai sang istri, justru dia sendiri yang terjerat dalam permainan yang dia ciptakan.
Kini Meriam Belanda nya ikut bereaksi, benda itu mengeras hingga membuat dadanya kembali sesak dengan tarikan nafas yang terdengar semakin berat.
Sesaat, Dion melepaskan luma-tannya dan menatap lekat wajah sang istri dengan mata sayu nya. Hal itu membuat Maura terkekeh menyaksikan wajah suaminya yang begitu menggemaskan.
"Kenapa?" tanya Maura.
Dion tak menyahut, namun mulutnya mengisyaratkan kode alam dan melirik ke arah senjatanya yang sudah berdiri tegak menekan perut istrinya di bawah sana.
Seketika Dion pun menggulingkan senyumannya, dia tau Maura tak akan tega membiarkan dirinya tersiksa. Dia kembali mengulum bibir sang istri dan masuk semakin dalam melu-mat setiap inci bagian bibir istrinya yang begitu menggoda.
Puas mengesap bibir manis itu, Dion kembali turun menguasai leher istrinya. Namun kali ini dia tidak ingin membuat tanda merah di sana, sisa kemarin saja sudah bertebaran memenuhi leher sang istri.
Dion perlahan turun dan bergelayut menguasai roti O milik istrinya yang tampak semakin menantang.
Tangannya bergerak meremas benda kenyal itu, sementara bibirnya asik menghisap dan memainkan lidahnya pada biji kismis yang menghias di ujung sana. Dia melakukannya secara bergantian agar tak ada yang merajuk diantara keduanya.
Pagi ini Maura kembali dibuat melayang oleh suaminya, gerakan lidah Dion yang menggelitik benda kenyal itu lagi-lagi membuat tubuh Maura berguncang. Ada rasa yang entah menguasai tubuhnya, membuatnya mengerang hebat hingga memenuhi seisi kamar.
"Akhh,"
__ADS_1
Kini wajah Dion sudah tenggelam di V milik istrinya. Entah kenapa, dia tiba-tiba merasa candu memainkan lidahnya di inti tersebut. Aroma yang khas dari bawah sana membuatnya menggila. Lidahnya bergerak semakin cepat hingga membuat tubuh Maura menggelinjang hebat.
"Akhh,"
Maura tak kuasa menahan nikmat yang diciptakan oleh suaminya. Berkali-kali dia merasakan hawa panas dari intinya, hingga tubuhnya mengejang menikmati sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan. Bahkan Dion tanpa jijik menyedot cairan yang dia keluarkan dari dalam sana.
Melihat sang istri yang sudah tak berdaya, Dion pun melepaskan pakaiannya dan membuangnya ke sembarang tempat.
Kini senjatanya sudah bergerak menanduk mangsanya, membuat Maura menjerit saat benda keras itu menerobos masuk ke dalam sarangnya.
Maura menggeliat menerima hentakan demi hentakan yang dilayangkan Dion di atas tubuhnya, suara desa-han pun keluar dari mulutnya tanpa henti. Tangannya kemudian meremas lengan Dion menahan gempuran yang bertubi-tubi menghantam V miliknya.
Tak ada lagi rasa sakit, semua berubah menjadi nikmat yang tiada tara. Bahkan kini Maura sudah bisa menggerakkan pinggulnya mengikuti permainan sang suami. Membuat Dion semakin candu dan mulai mempercepat tempo permainannya.
Melihat roti O milik istrinya yang mengejang dengan biji kismis yang membulat, Dion kembali melahap nya dengan rakus. Hal itu membuatnya tak kuat menahan benihnya yang sudah ingin keluar. Semakin Dion menghisap kuat biji kismis itu, semakin gencar juga pinggulnya menekan tubuh sang istri.
"Kak Dion, akhh,"
Maura menjerit menikmati pencapaiannya, tubuhnya mengejang di bawah kungkungan suaminya yang masih keluar masuk dengan cepat. Hingga pada akhirnya, susu full cream itu meleleh menyebar benih Dion di dalam sana.
"Akhh," erang Dion dengan dahsyatnya.
Dion tersungkur lemas di atas tubuh sang istri tanpa mencabut senjatanya yang masih tertanam di dalam sana.
Tatapan keduanya bertemu dan saling mengukir senyum di wajah masing-masing. Dion kemudian beranjak dan mencium kening sang istri dengan lembut.
"Terima kasih sayang," gumam Dion, dia pun memejamkan matanya sejenak.
__ADS_1
Keduanya terkulai lemas tanpa ditutupi sehelai benang pun. Untuk sesaat, tak ada satupun dari mereka yang sanggup bangkit dari tempat tidur. Tenaga keduanya benar-benar terkuras setelah melakukan penyatuan pagi ini.